
Hari sudah mulai gelap namun lampu ruang ekstrakurikuler terlihat masih menyala. Sayup-sayup terdengar suara desahan nafas berat dan musik yang diulang-diulang di bagian yang sama. Seorang gadis berperawakan kecil memegang tab nya dengan serius.
“Kau.. Naomi, kan?” tanya Yohan yang mebuat Naomi terlonjak kaget
“Kyaaaaa” hampir saja tab yang dipegang Naomi terjatuh.
“Ah, maaf, kak. Maaf, 5 menit lagi aku selesai, tolong tunggu sebentar.” Ucap Naomi yang tergesa membereskan
barang-barang nya.
“Santai saja, pakailah sampai selesai. Aku tidak ada latihan hari ini. Oh iya, ngomong ngomong ini sudah malam, kau tidak pulang?”
Naomi melirik jam dinding, dan benar saja ini sudah hampir jam sepuluh malam.
“Ah, seperti nya aku terlalu fokus latihan hingga tak sadar sudah malam.” Ucap Naomi sambil tersenyum dan terus menyibukkan tangan nya dengan barang-barang nya yang berserakan.
Yohan yang awalnya hanya penasaran kenapa ruang ekstrakurikuler menyala sekarang malah masuk dan duduk di lantai di depan cermin besar. Naomi menatap Yohan bingung.
“Tunjukkan padaku koreo nya, akan kubantu sebisa ku.”
“Ma-maaf? Gimana kak?”
“Yah, mungkin aku bisa membantu mu. Aku agak ahli sih sebenarnya.” Ucap Yohan menyombongkan diri
“Te-terima kasih kak.” Ucap Naomi sambil menyerahkan tab nya pada Yohan.
Yohan menatap layar tab putih itu dengan serius. Naomi yang duduk di dekatnya hanya diam saja sambil menyeka keringat yang membanjiri tubuhnya sambil sesekali melirik Yohan.
“Di bagian mana yang kamu belum bisa?” tanya Yohan tiba-tiba
“Di bagian setelah Bridge kedua, aku selalu terlambat beberapa beat.”
Yohan mengangguk lalu mulai menari persis seperti yang Naomi lakukan namun lebih baik.
Naomi hanya terkagum dalam diam, mulut nya otomatis terbuka saking kagumnya.
‘Bagaimana dia bisa mengingat semua gerakan itu hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit?’ batin Naomi.
Pukul sebelas malam, kedua muda-mudi itu mengakhiri latihan mereka. Mereka berdua membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.
“Terima kasih banyak, kak. Berkat bantuannya aku bisa lebih baik.” Ucap Naomi sopan
“Eiiii, sudahlah jangan sungkan. Tanyakan saja padaku kalau kau butuh bantuan lagi. Oiya, Kau mau ikut dengan
ku, Naomi?”
“ma-maaf?” tanya Naomi bingung
“Sebenarnya tadi aku ada janji dengan Hans, Jeff dan Made, pesta kecil-kecilan menyambut kedatangan Jeff. tapi aku lupa mengabari mereka. Sudah lewat satu jam tapi seperti nya tidak apa-apa jika aku menyusul mereka sekarang.”
“Maaf, kak. Gara-gara aku kau melewatkan janji dengan teman-teman mu.” Ucap Naomi sedih
“Eiy, tidak apa-apa. Jika kau mau, kita bisa kesana sekarang.” Ajak Yohan lagi
“Boleh?”
“Tentu saja, kalau kau ikut aku juga tidakakan kena marah. Hahahahahaa.”
“Baiklah kalau begitu.”
Mereka tiba di restoran ayam 24 jam yang berada tidak begitu jauh dari kampus. Made dan Jeff sudah berada
disana dengan mimik muka sangar saat Yohan menghampiri mereka. Berpura-pura merajuk. Sedangkan Hans sudah pulang terlebih dahulu karena rumahnya yang cukup jauh.
“Maaf aku terlambat teman-teman.”
“Hei Yohan, 1 jam itu bukan lagi terlambat. Kau sengaja membuat kami menunggu?” marah Made. Tapi Yohan tahu jika dia hanya berpura-pura
“maka dari itu aku membawa sesuatu, ah bukan, seseorang yang pasti membuat kalian tak lagi marah sebagai
__ADS_1
permintaan maaf.” Lalu Yohan keluar dan memanggil seseorang itu
“Mari kita sambut, the one and only cute girl in our area. Naomi.”
“Selamat malam kak.” Sapa Naomi sopan kepada Jeff dan Made yang duduk berhadapan
NAomi tersenyum cerah, pun dengan Jeff dan Made.
“Maaf mu kami terima.”ucap Made yang langsung menarik tangan Naomi untuk duduk di sebelahnya. “Dek Naomi, boleh foto bareng?”
Naomi mengangguk
“Yohan bisa tolong fotokan aku dengan NAomi?”
Yohan mengambil foto mereka dengan wajah kecut. “Dasar Kadal.”
Yohan melemparkan handphone kepada pemilik nya setelah selesai mengambilkan foto mereka.
“Nice, Bro. Uwuu, Naomi imut sekali. Pengen cubit pipinya.” Ucap Made gemas
“Hei. Mad. Mad, Kadal darat. Bisa tolong jaga tangan nya?” timpal Yohan sok cemburu
Mereka tertawa dengan perilaku dua orang bobrok yang heboh dimanapun mereka berada.
Siapa yang tak mengidolakan Naomi? Adik kelas, kakak kelas hingga kakak-kakak di universitas pasti mengenal Naomi. Dia adalah siswa paling imut di kelas tiga, selain berprestasi, sikapnya juga sopan dan ramah pada
siapapun, selalu tersenyum dan tentu saja dia yang paling imut di seluruh yayasan (catatan : mayoritas murid adalah laki-laki), sedikit berlebihan tapi memang itulah kenyataan yang bergaung di sekolah tersebut.
“Bagaimana kau bisa sampai disini, Naomi? Kau tidak diancam oleh Yohan, kan?” tanya MAde yang terus tersenyum,pandangan nya tak lepas dari gadis imut tersebut.
“Ah, tidak-tidak, aku tidak diancam. Kak Yohan terlambat kemari gara-gara aku, jadi sebagai permintaan maaf padanya dan pada kalian juga aku mau diajak kemari.” Terang NAomi
“Uwuuu~ baik hati sekali ya adek kita ini.” Ucap Made sambil mencubit pipi tembam Naomi dengan gemas.
“Woi, itu tangan ga ada etika nya, ya? Main cubit pipi anak orang.” Kata Yohan sedikit berdiri sambil mencoba mengelus pipi Naomi “Ututututu, kasian. sampai merah begini.”
“Wooooiiii, itu tangan lebih ga ada akhlak nya itu itu itu.” Balas Made sambil manyun
Malam semakin larut dan duo kakak senior receh sudah kehabisan energi, entah karena kekenyangan atau memang karena lelah . Sementara Naomi hanya menyesap softdrink nya sedikit demi sedikit dan Jeff yang daritadi diam saja sambil menyesap bir kaleng nya menjadi canggung karena dua teman nya yang selalu mencairkan suasana dengan lelucon dan obrolan asyik sudah pulas tertidur di kursi. Suasana begitu sepi dan dingin, kecuali suara dengkuran Made.
“Kau bisa pulang dulu kalau mau.” Jeff memecah keheningan,
“Maaf?” ulang Naomi
“Kau bisa pulang duluan, ini sudah larut malam.”
“Seperti nya aku akan tidur di kafe komik atau akan tetap disini sampai pagi, kak.” Ucap Naomi lirih
“kau tak punya rumah?”
“Bu-bukan. Tempat tinggal ku agak jauh dari sini. Dan karena tadi aku terlalu lama berlatih sampai lupa waktu,
mungkin pemilik kost sudah menutup pintu gerbang daritadi,aku agak takut jika ketahuan pulang selarut ini.” Terang Naomi takut-takut
“Kalau begitu kau bisa menginap di apartemen ku. Kalau kau mau.”
Naomi menatap Jeff lama.
“Tenang saja, aku tidak akan memperkosa mu. Meskipun di Amerika pergaulan sangat bebas tapi aku masih punya
sopan santun. Lagipula ada asisten rumah tangga disana.” Kata Jeff to the point
“Ah, maafkan aku. Kalau begitu, Bo-bolehkah?”
Jeff mengangguk. Naomi tersenyum lebar lalu menyesap softdrink nya.
“Oh iya, kau tahu rumah kedua orang ini?” Kata Jeff sambil menunjuk Made dan Yohan dengan Kaleng bir nya.
__ADS_1
Naomi mengingat-ingat dalam diam.
“Sepertinya kak Yohan dan kak Made tinggal di kontrakan di area tempat tinggalku. Aku beberapa kali melihat mereka disana.”
“Baiklah kalau begitu, kita tinggalkan saja mereka berdua disini. Kau tidak keberatan berjalan ke apartemenku, kan? Agak sedikit jauh, sih.”
“ Tidak apa-apa, kak. Aku juga ingin sedikit berjalan-jalan”
Mereka berdua akhirnya meninggalkan Yohan dan Made dengan berjingkat, tentu saja agar mereka berdua
tidak terbangun.
Malam terasa agak dingin, dan sepi tentu saja. Ruko dan gedung-gedung perkantoran telah ditutup rapat dan dengan penerangan yang sedikit remang di sepanjang trotoar.
Apartemen Jeff berjarak 15 menit dengan berjalan kaki dari tempat mereka makan tadi. Komplek apartemen yang tergolong mewah di area itu. Dengan Hotel di sisi kanan dan Mall di sisi kiri nya. Setelah naik ke lantai
lima dan berjalan kearah kanan melewati tiga kamar, mereka sampai di depan apartemen Jeff. Terlihat jauh lebih mahal dari kost tempat tinggal Naomi saat ini ketika Jeff membuka pintu. Mungkin karena Jeff baru pindah, di dalam apartemen terlihat berantakan. Beberapa box berwarna coklat bertumpuk di segala penjuru rumah. Namun tak menutupi kesan mewah dari apartemen tersebut.
“Duduklah dimanapun kamu mau. Maaf, aku belum sempat membereskan semua barang-barang ini.” Kata Jeff santai sambil membuang tas nya ke sofa.
“i-iya..” jawab Naomi canggung
“Kau mau minum air mineral? Hanya ini yang aku punya.” Lanjut nya sambil menyodorkan sebotol air kepada Naomi kemudian berlalu lagi keluar-masuk beberapa ruangan.”
“Terima kasih..”
Jeff duduk di sofa, berhadapan dengan Naomi yang duduk sopan di kursi kayu yang berhadapan dengan sofa.
“Aku minta maaf sebelumnya, ternyata asisten rumah tangga ku pulang ke rumahnya. Maaf sekali lagi jika kau
merasa tidak nyaman.”
“I-iyaa, kak. Tidak apa-apa, maaf sudah merepotkan.”
Jeff duduk kembali di sofa sambil membuka kaleng bir dan menyesap nya.
‘Bir lagi?’ batin Naomi sambil menatap Jeff yang menyesap bir layaknya menyesap softdrink.
“Boleh kutanya sesuatu? Apa kesan pertama mu ketika bertemu dengan ku, apa kau takut?”
Pertanyaan Jeff sukses membuat Naomi tersedak air yang diminumnya. Jeff menyodorkan sekotak tisu pada Naomi sambil tersenyum.
“Ma-maaf. Sebenarnya..” Naomi mengatupkan telunjuk dan ibu jari nya “sedikit..”
Jeff tertawa terbahak-bahak. Naomi bingung dengan sikap Jeff yang tiba-tiba tertawa.
“Sudah kuduga. Kau tahu, bahkan hari ini teman sekelas ku menyebutku preman karena wajah ku ini. Bukan hal baru untuk ku, tapi tetap saja ini lucu bagi ku.”
Naomi ikut tersenyum
“Yohan dan Made yang bersikap paling biasa pada ku, bahkan aku tidak sadar jika hari ini adalah hari pertama
kami berteman. Mereka sungguh orang-orang yang menyenangkan. Kau tahu, mereka mendapat julukan duo receh” cerita Jeff sambil terkekeh
“Kak Yohan dan kak Made memang orang yang menyenangkan bahkan pada junior nya di sekolah.”
“Hmmm,” Jeff mengangguk-angguk tanda setuju
Jeff membuka bir ketiga nya nya sambil terus bercerita tentang kedua teman baru nya, tentang kehidupan nya di
Amerika dulu, bahkan tentang anjing poodle peliharaan nya yang terlihat sangat mirip dengan Naomi ketika dia berlari. Hingga mereka tak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi.
“Sudah selarut ini, Aku mandi dulu, jika kau butuh apa-apa ambil saja sendiri. anggap saja seperti rumah mu sendiri.Atau jika kau mau tidur silahkan tidur saja duluan. Pakai saja kamar yang berwarna biru.” kata Jeff setelah melirik jam di handphone nya dan tergesa-gesa masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Jeff yang keluar dari kamar mandi terdiam sesaat di depan sofa, kemudian tersenyum.
“Bagaimana bisa dia semanis ini bahkan saat tertidur.” Ucapnya lirih sambil berjongkok di depan Naomi yang sudah terlelap sambil memeluk botol air mineral di sofa.
“Bukan hanya gemas, bahkan orang-orang yang melihatnya pun bisa jatuh cinta pada mu, Naomi.” Ucap Jeff sangat lirih sembari menutupi tubuh gadis mungil tersebut dengan selimut.
__ADS_1
Jeff menarik karpet coklat berbulu tepat didepan sofa, mengambil bantal kecil yang berserakan di lantai dan menyelimuti tubuhnya dengan coat panjang berwarna khaki yang tersampir di kursi kayu. Matanya tak bisa terlepas dari wajah imut Naomi.