ADORE YOU

ADORE YOU
Episode 9


__ADS_3

Made tetap tinggal di apartemen Jeff ketika Hans dan Yohan berpamitan pulang. Dia beralasan akan menginap


karena sudah sangat mengantuk, padahal dia berencana  akan menginterogasi Jeff yang bersikap tak


seperti biasanya. Seperti yang dilihatnya beberapa sat yang lalu saat Jeff


terdengar sangat kesal pada candaan Yohan yang biasanya dan mengambil ponselnya dengan kasar.


Made merangkul bahu Jeff dan menariknya untuk duduk di sofa. Jeff yang kebingungan hanya mengikuti Made dan duduk dalam diam.


“Ceritakan semuanya.” Ucap Made tanpa basa-basi


Kedua alis Jeff terangkat karena kebingungan oleh ucapan Made. Seolah tahu bahwa temannya itu kebingungan, Made mulai menceritakan kecurigaan nya pada sikap tak biasa Jeff.


“Kau bersikap tak seperti biasanya, Jeff. Beberapa waktu yang lalu, aku tidak bermaksud mengikuti mu waktu kau sedang menerima telepon. Tapi sejauh yang aku tahu, kau tidak pernah bersikap kasar pada orang lain, apalagi teman mu sendiri. Maaf jika aku lancang menguping pembicaraan mu tadi. Kita bertiga, Aku, kau dan Yohan sangat sering bercanda hingga saling umpat bahkan kata-kata kotor sangat sering kita


lontarkan dan kita dengar, saling pukul dan bersikap seolah-seolah kita marah, tapi itu semua hanya sebuah candaan. Hari ini kau terlihat sangat jelas sedang tidak bercanda. Kau kenapa?”


Jeff terdiam, sepertinya dia ragu-ragu untuk mulai bercerita. Tapi tatapan Made seolah menuntut nya untuk bercerita.


“Aku tidak kenapa-kenapa.” Sangkal Jeff


Made menatap Jeff lama, lalu tersenyum sambil mengusap kepala Jeff, memberantakan rambut Jeff tepatnya.


“Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Aku akan ada untuk mendengarkan semua ceritamu, saat kau mau


bercerita tentu saja.”


“Sebenarnya...”


Jeff ragu-ragu sejenak untuk melanjutkan kalimatnya, namun pandangan Made seolah menuntut penjelasan yang


lebih.


 “Baiklah, aku pikir ini memalukan untuk diakui, tapi hal ini sangat membuatku marah. Bukan marah pada Yohan maupun yang lain, aku marah pada diriku sendiri.”


“Kenapa?” tanya Made lagi


“Seminggu yang lalu, Yohan datang kemari untuk meminta bantuan ku untuk menuliskan kata-kata romantis dalam


bahasa inggris, aku pikir itu untuk merayu gadis, karena dia terlihat begitu gugup ketika aku membacakan isi beserta arti dari kata-kata yang kebanyakan adalah lirik sebuah lagu.”


“Lalu, bagaimana hal itu membuatmu marah?”


“Aku tahu untuk siapa surat-surat itu ditujukan. Kepada Naomi.”


“Kepada Naomi? Kau marah untuk hal remeh seperti itu? Kalian kekanakan sekali.”


“Kau pikir ini kekanakan, Huh?”


Nada bicara Jeff naik setingkat lebih tinggi dari biasanya, raut wajahnya mengeras seperti sedang menahan


marah.


“Kau pikir Yohan akan tahu tentang perasaan mu pada Naomi jika kau diam saja dan tak memberitahunya? Naomi


juga bukan pacarmu, kan? Jadi sebenarnya siapa yang kekanak-kanakan disini? Kau hanya cemburu, Jeff.”


Jeff langsung terdiam mendengar kata-kata Made, dia baru saja menyadari betapa pengecutnya dia yang secara


tidak langsung telah cemburu dan melemparkan amarah pada teman baiknya.


Made mengusap punggung Jeff dengan lembut, persis seperti kakak yang ingin menghibur adik nya yang sedang


bersedih.


“Kau tidak sepenuh nya salah. Yohan juga tidak salah. Kalian hanya salah paham. Sebenarnya dari hal ini kau


bisa mengambil sisi positif nya, karena kau mengetahui bahwa dia menyukai Naomi tapi tidak dengan Yohan, kau bisa mencuri start untuk mendekatinya terlebih dahulu.”


Jeff menatap Made dengan ekspresi kaget yang dibuat-buat, tak disangka saran dari Made membuat raut wajah Jeff yang awalnya kecut menjadi lebih cerah, Made yang gemas pada sikap temannya itu hanya tersenyum sambil mencubit pipi Jeff.


“Aku akan memulai nya hari ini.”


Made sedikit memiringkan kepalanya karena agak bingung dengan kalimat yang baru saja diucapkan Jeff.


“Kenapa tiba-tiba...”


“Aku akan terang-terangan menunjukkan bahwa aku juga menyukai Naomi.”


Made menghela nafas dengan berat lalu memukul lengan Jeff dengan gemas bercampur frustasi. Sepertinya dia salah menilai. Meskipun terlihat garang dengan badan tegap, atletis dan wajah yang


preman-able, nyatanya Jeff hanya lah seorang laki-laki biasa yang berada di usia awal duapuluhan yang baru pertama kali jatuh cinta.


“Akan aku ajarkan cara mendekati seorang gadis dengan benar, sepertinya kau butuh penasehat khusus dalam hal

__ADS_1


percintaan.”


***


“Aku akan terang-terangan menunjukkan bahwa aku juga menyukai Naomi.”


Seseorang berjaket navy yang lewat di depan apartemen Jeff terhenti saat mendengar kata-kata Jeff tersebut.


Pintu apartemen yang tidak tertutup dengan rapat membuat percakapan Jeff dan temannya tersebut  dapat didengar jelas oleh orang itu. Tanpa mendengarkan keseluruhan percakapan, seseorang dengan


jaket navy tersebut bergegas pergi meninggalkan apartemen dengan langkah besar dan terlihat tergesa-gesa. Kertas koran bekas yang seperti nya akan dibuang ke tempat sampah, dilempar begitu saja di lorong didepan lift.


***


“AAKH!”


Naomi berteriak tertahan sesaat setelah memakai sepatu putih nya di depan loker ruang tari. Setelah dilepas, ternyata ada jarum yang entah sengaja atau tidak diletakkan di dalam sepatu tersebut yang mengakibatkan kaki Naomi berdarah. Kaos kaki yang juga berwarna putih memperjelas noda darah yang merembes pada kaos kaki tersebut.


Wisnu yang datang setelah Naomi berlari menghampiri gadis berambut sebahu yang meringis memegangi kaki nya


tersebut.


“Naomi, kau kenapa?” tanya nya setengah khawatir


Dilihatnya kaos kaki Naomi yang basah oleh darah. Wisnu bergegas menggeledah lokernya dengan tergesa, mencari beberapa plester luka dan obat merah yang sebelumnya dia letakkan disana.


“Kau bisa berjalan, biarkan aku membantu memapahmu ke dalam.”


Naomi hanya mengangguk sambil berjuang untuk berdiri, dibantu oleh Wisnu.


“Kenapa bisa sampai terluka seperti ini?” tanya Wisnu lagi sambil membantu Naomi berjalan ke dalam ruangan


“Entahlah, ketika memakai sepatu tiba-tiba saja kaki ku berdarah. Ternyata ada jarum di dalamnya.”


Wisnu membantu Naomi duduk dan melepaskan kaos kakinya yang sudah basah oleh darah. Luka di kaki Naomi


ternyata lebih lebar dari yang dia kira. Bukan hanya lecet, namun jarum itu telah menggores kaki putih Naomi.


“Siapa yang sudah iseng kepada mu? Apakah akhir-akhir ini kau sedang dalam masalah dengan seseorang?”


Naomi menggeleng sambil menahan perih ketika Wisnu mengusapkan obat merah ke lukanya dan menutupnya dengan plester luka.


“Aku tidak tahu, sepertinya aku tidak melakukan sesuatu yang memicu kemarahan seseorang. Tapi mungkin saja aku yang ceroboh, hingga ada jarum masuk ke dalam sepatu ku.”


“Bagaimana bisa kau berpikiran positif setelah ada yang menjahati mu seperti ini? Jelas-jelas ada yang sengaja


“Tidak usah. Aku benar-benar tidak apa-apa. Jika yang lain tahu, bisa jadi mereka akan ikut khawatir dan


parahnya, latihan kita tidak akan maksimal. Jadi aku mohon, rahasiakan saja kejadian hari ini.”


Sambil menghela nafas berat, Wisnu akhirnya mengalah karena permintaan Naomi.


“Baiklah jika itu mau mu, tapi jika aku menemukan hal seperti ini lagi, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan


mengejarnya dan memberikan pelajaran pada orang itu.”


“Hai kalian berdua, kenapa pagi-pagi begini sudah ada disini?”


Tanya Yohan yang baru saja datang ke ruang tari dengan celana pendek dan kaos hitam polos.


Naomi yang menyadari kehadiran Yohan segera menutupi kaki nya yang terluka dengan jaket yang dipakai nya tadi.


“Kami baru saja mau mulai latihan, kak.” Jawab Naomi dan Wisnu hampir bersamaan


“Aku akan mengambil sepatu ku dulu.” Kata Naomi


“Kalau begitu biar aku ikut berlatih bersama kalian, rasanya sudah lama aku tidak menggerakkan badan. Kenapa kalian diam saja?”


Wisnu membantu Naomi berdiri dari bangku panjang yang berada di pinggir ruangan. Dengan sedikit pincang, Naomi berjalan ke tempat loker.


Yohan yang memperhatikan cara berjalan Naomi mulai bertanya kepada gadis itu.


“Kaki mu kenapa?”


Naomi yang bersusah payah terlihat biasa terdiam.


“Mmm.. ti-tidak apa-apa, kak. Hanya sedikit lecet karena tadi terjatuh.” Ucap Naomi masih berusaha menyembunyikan kaki nya yang dibalut plester luka.


Yohan hampir berlari menghampiri Naomi, tapi Wisnu yang berada disamping nya mencoba menghentikan.


“Kak, lebih baik kak Yohan teruskan saja latihan nya, biarkan aku yang mengantarkan Naomi ke ruang kesehatan. Kakak tidak usah cemas.”


Yohan menatap mereka yang perlahan menghilang dari pandangan nya dalam diam. Susah sekali mendekati Naomi ketika ada bocah itu disekitarnya.


 “Cha, kau tahu dimana buku tugas ku yang aku taruh di laci meja?”

__ADS_1


Tanya Naomi pada Echa yang baru saja datang dari membeli minum di kantin.


“Mana aku tahu, kan aku baru saja datang. Memang nya tadi kau taruh dimana?”


“Aku yakin sebelum istirahat, aku menaruhnya di laci.”


Naomi mulai panik karena setelah ini ada pelajaran musik, jika tidak mengumpulkan tugas itu pasti nilai nya akan


kosong dan berpengaruh pada nilai raport semester ini.


“Aku bantu cari, mungkin ada yang meminjam dan lupa mengembalikan.”


Mereka berdua sibuk mengobrak-abrik hampir seisi kelas dan tidak menemukan apapun. Sebentar lagi jam pelajaran dimulai, tapi buku yang dimaksud Naomi belum ketemu juga. Wisnu yang baru saja masuk ke kelas pun turut membantu mencari buku tersebut setelah Echa menceritakan kronologi kejadian.


Echa yang berinisiatif membuka tempat sampah diluar kelas menemukan buku bersampul coklat yang hampir hancur.


“Naomi, apakah ini.. buku mu?” tanya Echa ragu-ragu


Naomi hampir berlari menghampiri Echa, tapi langsung  meringis kesakitan setelah sadar bahwa telapak kaki nya terluka. Dengan tertatih, Naomi menghampiri dan membuka buku yang dipegang Echa tersebut dan membolak-balik halaman demi halaman.


“Astaga... ini benar buku ku, tapi siapa yang tega membuangnya?” tanya Naomi hampir menangis saat


membuka-buka buku yang tak berbentuk itu.


MATI SAJA KAU!!


JANGAN SOK CANTIK\, KAU TAK LEBIH DARI PE***UR!!


BODOH!!


PEREMPUAN GILA!!


“Dia gila, benar-benar gila. Aku akan menghajarnya jika aku menemukan siapa pun yang menulis ini. Aku juga yakin, orang yang melakukan ini pasti adalah orang yang sama yang sengaja meletakkan jarum di dalam sepatu mu tadi pagi.” Kata Echa pada Naomi yang ketakutan.


“Untuk sementara kita biarkan dulu saja, tapi tetap waspada dan jangan sampai lengah hingga membahayakan Naomi. Sekarang kita pindah ke kelas musik dulu, bel sudah berbunyi.”


Saran Wisnu disetujui oleh dua gadis itu. Mereka mengambil barang-barang yang akan dibawa ke ruang musik dan


bergegas keluar kelas sebelum guru musik mereka tiba lebih dulu ke dalam kelas.


***


Jeff, Made dan Yohan baru saja menyelesaikan kuliah mereka siang ini, mereka bertiga sedang mempersiapkan


bahan presentasi untuk kelas berikutnya di taman, yang berada di dekat kantin. Hans yang akhir-akhir ini sering bersama mereka tak ikut berdiskusi karena harus mempersiapkan bahan untuk mata kuliah Grafis Digital. Dia adalah asisten Dosen tersebut.


“Kita mulai darimana?” tanya Jeff datar


Made mengambil lembar tugas yang dipegang Jeff  lalu membaca nya dengan lirih.


“Kemampuan akhir yang diharapkan, Dapat menjelaskan tahapan perancangan panggung. Bahan kajian: Tahap persiapan. Tahap konsep perancangan. Tahap prarancangan. Tahap pengembangan rancangan dan gambar kerja. Kriteria penilaian :


1. Kekayaan sumber


2. Kemampuan menjawab.


3. Kemampuan mengidentifikasi


4. Kemampuan menganalisis


Hmmm.. seperti nya kita harus membagi tugas lebih dulu. Jeff dan Yohan, kalian bertugas mencari sumber-sumber


terkait bab ini. Kalian cari di internet saja biar lebih cepat, kalau bisa harus lebih dari lima sumber. Untuk pertanyaan biar nanti aku dan Hans yang mengurus.”


Yohan mengangguk setuju sementara Jeff hanya diam saja sambil memainkan ponsel nya. Made tahu, pasti Jeff masih merasa sebal pada Yohan masalah surat kemarin, hingga bertingkah seperti ini.


“Kau mendengarkan aku, Jeff?” tanya Made


“Hmm? Ah.. iya.. aku mendengarkan. Silahkan lanjutkan.”


Jeff melihat ke sekitar dan menemukan sosok Naomi dan Echa yang berjalan melewati lapangan basket, sepertinya


baru saja dari ruang musik di ujung lorong. Namun ada yang aneh dengan cara berjalan Naomi.


“Dia kenapa?” tanya Jeff pelan, namun Yohan tak sengaja mendengarnya


“Seperti nya kaki nya terluka, tadi pagi saat di ruang tari aku melihat telapak kakinya dibalut plester luka.”


Jeff kaget mendengar jawaban dari Yohan, tidak menyangka bahwa gumaman nya di dengar oleh teman nya itu.


“Itu siapa, yang ada di lantai dua. Bukankah itu kelas Naomi?”


Tunjuk Made yang tidak sengaja melihat seseorang yang mengarahkan balon berisi entah air ataupun yang lainnya,


balon tersebut terlihat berat dan diarahkan ke arah Naomi.

__ADS_1


Jeff dan Yohan berlari hampir bersamaan menghampiri Naomi.


“NAOMI, AWAS!” teriak Jeff


__ADS_2