
Sekolah masih sangat sepi, hanya beberapa anak laki-laki dari klub basket yang terlihat sedang berlari mengelilingi lapangan basket di samping kantin. Siswa lainnya mungkin belum datang karena kegiatan sekolah masih akan berlangsung lebih dari sejam lagi.
Pagi ini Naomi datang lebih awal ke ruangan tari untuk berlatih gerakan yang baru beberapa hari diajarkan oleh Guru Kim. Karena tidak ingin kejadian yang sebelumnya terulang, Naomi ingin berlatih lebih keras agar tidak
mengecewakan Guru Kim dan berimbas pada teman-temannya yang lain. Tinggal beberapa bulan lagi sampai waktu kejuaraan tari internasional, kesempatan terakhirnya sebagai ace di sekolahan ini.
Dia langsung menuju ke tempat loker di gedung tengah, gedung ekstrakurikuler yang berdekatan dengan kantin di antara gedung SMA dan Kampus Seni.
“Apa ini?” tanya Naomi yang melihat secarik kertas biru yang terselip d lokernya
‘Sepagi ini siapa yang menaruh kertas disini?’ tanya nya dalam hati.
Dibukanya pelan-pelan kertas itu..
“Wow.. rajin sekali, sepagi ini sudah datang.”
Suara laki-laki mengejutkan Naomi, buru-buru disembunyikannya kertas tersebut kedalam saku jaket merahnya.
“Oh.. Wisnu.. Selamat pagi, tumben sudah datang? Kau juga akan memakai ruang tari?” tanya Naomi yang tidak bisa menyembunyikan rasa kaget nya
Laki-laki yang bernama Wisnu tersebut berjalan lurus ke loker nya yang berada tepat di depan loker milik Naomi.
“Tidak.. tidak. Aku hanya mau mengambil jaket ku yang tertinggal. Kau mau latihan sepagi ini?”
“Emm.. Kau tahu,kan. Aku harus banyak berlatih, Guru Kim tidak akan mengampuni ku jika aku melakukan kesalahan lagi. Jujur aku takut.” Jawab Naomi
“Andaikan aku bisa, aku pasti akan menemanimu berlatih sekarang. Tapi sayangnya aku harus bergegas menyalin tugas matematika yang kemarin belum sempat aku kerjakan. Maafkan aku.” Kata Wisnu yang cemberut
“Hei.. kau tidak perlu minta maaf.” Jawab Naomi sambil memukul pelan lengan Wisnu sambil
“Kalau begitu aku pergi ke kelas duluan, ya. Semangat, Naomi!” pamit Wisnu
Naomi tersenyum sambil melambaikan tangan nya kepada laki-laki tersebut.
Setelah memastikan sudah tidak ada orang lain disekitarnya, Naomi mengambil kertas yang diselipkannya ke dalam jaket dan dibacanya dalam hati,
***
To falling petals
No one reaches their hand With a cold smile, like mixed with sadness Slowly falling
As the wind blows Slowly falling
Where the fallen heart goes is at least warmer than here
Enduring the summer, Getting wet with light rain
Never thought I would want to fall for someone
I was living instantly but I met you, and I realized that everything has a reason
I’m falling to you I want to see you right now
Someday you might be in my heart...
I am a flower I am a flower
I’ll bloom a beautiful flower
I will always believe in you
Now I’m Fallin’ Fallin’ Fallin’ Fallin’ Fallin’ Fallin’ to you
I am a flower I am a flower
Now I’m Fallin’ Fallin’ Fallin’ Fallin’ Fallin’ Fallin’ to you
When you call me I’m Fallin’ to your warm arm
Obscure future becomes clear as I meet you Slowly falling
As the wind blows Slowly falling
Where the fallen heart goes was the happiest in the world
Gazing the blue sky Blooming again
I want to be someone’s everything
I was living instantly but I met you, and I realized that everything has a reason...
While flower blooms and falls scars cure and buds shoot
We are living our first and last moment
So I won’t take you for granted
Because you loved me as I am
*Seventeen-Falling Flower
***
“Selamat pagi, semua. Silahkan keluarkan buku paket halaman delapan puluh sembilan. Kita akan membahas tentang novel dan cerita.” Kata Bu Dewi, guru Bahasa Indonesia setibanya di kelas
“Echa, tolong dibaca sampai halaman sembilan puluh satu. Yang lain harap disimak. Silahkan.” Kata beliau lagi
Echa berdiri sambil merapikan rambut panjang nya yang diikat kebelakang, lalu mulai membaca sesuai perintah bu Dewi.
"TEKS CERITA ATAU NOVEL SEJARAH
1. Pengertian Novel Sejarah
Novel sejarah adalah novel yang di dalamnya menjelaskan dan
menceritakan tentang fakta kejadian masa lalu yang menjadi asal-muasal atau
latar belakang terjadinya sesuatu yang memiliki nilai kesejarahan, bisa
bersifat naratif atau deskriptif, dan disajikan dengan daya khayal pengetahuan
yang luas dari pengarang.
2. Struktur Teks Cerita/Novel Sejarah
a. Pengenalan situasi cerita (ekspostion, orientasi)
Dalam bagian ini, pengarang memperkenalkan latar cerita baik waktu, tempat maupun peristiwa. Selain itu, orientasi juga dapat disajikan dengan mengenalkan para tokoh, menata adegan, dan hubungan antartokoh.
b. Pengungkapan peristiwa
Dalam bagian ini disajikan peristiwa awal yang menimbulkan berbagai masalah, pertentangan, ataupun kesukaran-kesukaran bagi para tokohnya.
__ADS_1
c. Menuju konflik (rising action)
Terjadi peningkatan perhatian kegembiraan, kehebohan, ataupun keterlibatan berbagai situasi yang menyebabkan bertambahnya kesukaran tokoh
d. Puncak konflik (turning point, komplikasi)
Bagian ini disebut pula sebagai klimaks. Inilah bagian cerita yang paling besar dan mendebarkan. Pada bagian ini pula, ditentukannya perubahan nasib beberapa tokohnya. Misalnya, apakah dia kemudian berhasil menyelesaikan masalahnya atau gagal.
e. Penyelesaian (Evaluasi, resolusi)
Sebagai akhir cerita, pada bagian ini berisi penjelasan ataupun penilaian tentang sikap ataupun nasib-nasib yang dialami tokohnya setelah mengalami peristiwa puncak itu. Pada bagian ini pun sering pula dinyatakan
wujud akhir dari kondisi ataupun nasib akhir yang dialami tokoh Utama.
f. Koda
Bagian ini berupa komentar terhadap keseluruhan isi cerita, yang fungsinya sebagai penutup. Komentar yang dimaksud bisa disampaikan langsung oleh pengarang atau dengan mewakilkannya pada seorang tokoh. Hanya saja tidak setiap novel memiliki koda, bahkan novel-novel modern lebih banyak menyerahkan
kesimpulan akhir ceritanya itu kepada para pembacanya. Mereka dibiarkan menebak-nebak sendiri penyelesaian ceritanya.
3. Ciri Kebahasaan Novel Sejarah
Beberapa ciri kebahasaan novel sejarah adalah sebagai Berikut
a. Menggunakan banyak kalimat bermakna lampau
Contoh: Prajurit-prajurit yang telah diperintahkan membersihkan gedung bekas asrama telah menyelesaikan tugasnya.
b. Banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi kronologis, temporal), seperti: sejak saat itu, setelah itu, mula-mula, kemudian.
Contoh: Setelah juara gulat itu pergi, Sang Adipati bangkit dan berjalan tenang-tenang masuk ke Kadipaten.
c. Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu tindakan (kata kerja material).
CONTOH:
1). Di depan Ratu Biksuni Gayatri yang berdiri, Sri Gitarja duduk bersimpuh.
2). Ketika para Ibu Ratu menangis yang menulari siapa pun untuk menangis, Dyah Wiyat sama sekali tidak menitikkan air mata.
d. Banyak menggunakan kata kerja yang menunjukkan kalimat tak langsung sebagai cara menceritakan tuturan seorang tokoh oleh pengarang. Misalnya, mengatakan bahwa, menceritakan tentang, menurut menggungkapkan, menanyakan, menyatakan, menuturkan.
CONTOH:
!). Menurut Sang patih, Galeng telah periksa seluruh kamar Syahbandar dan ia telah melihat banyak botol dan benda-benda yang ia tak tahu nama dan gunanya.
2). Riung Samudera menyatakan bahwa ia masih bingung dengan semua
penjelasan kendit Galih tentang masalah itu.
e. Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh (kata kerja mental). Misalnya, merasakan, mengingikan, mengharapkan, mendambakan, menganggap.
Contoh:
1). Gajah Mada sependapat dengan Jalan pikiran Senopati Gajah Enggon.
2). Melihat itu, tak seorang pun yang menolak karena semua berpikir Patih Gajah Mada memang mampu dan layak berada di tempat
f. Menggunakan banyak dialog. Hal ini ditunjukkan oleh tanda petik ganda (‘..”) dan kata kerja yang menunjukkan tuturan langsung.
Contoh:
“Mana surat itu?”
“Ampun, Gusti Adipati, Patik takut maka Patik bakar.”
g. Menggunakan kata-kata sifat (descriptive language) untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana
Contoh
beberapa prajurit harus mengakui wibawa yang dimiliki Gajah Mada jauh lebih
besar dari wibawa Jayanegara. Sri Jayanegara masih bisa diajak bercanda, tetapi
tidak dengan Patih Gajah Mada, sang pemilik wajah yang amat beku itu.
3. Menyusun Novel Sejarah
Langkah-langkah menyusun novel sejarah adalah sebagai Berikut.
a. Menentukan peristiwa sejarah yang akan menjadi bahan penceritaan
Langkah pertama dalam menyusun novel sejarah seseorang atau diri
sendiri adalah menentukan peristiwa sejarah (peristiwa yang terjadi pada masa
lalu) yang akan dikembangkan menjadi novel sejarah.
Dalam novel sejarah, penulis menceritakan peristiwa-peristiwa yang
dialami para tokohnya dengan menggunakan latar peristiwa sejarah. Menulis novel
sejarah berarti mengemas fakta sejarah dengan rekaan penulis. Wujudnya dapat
berupa peristiwa yang berkaitan dengan hidup orang banyak atau hidup seseorang.”
“Naomi, tolong berikan contoh Menggunakan kata-kata sifat (descriptive language) untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana.” Perintah Bu Dewi tiba-tiba kepada Naomi yang memang dari tadi sangat terlihat tidak fokus.
Echa yang belum selesai membaca langsung menatap temannya tersebut. Seisi kelas kompak melihat ke arah Naomi. Naomi yang dari tadi melamun sontak kaget dan terlihat jelas sangat kebingungan.
“Emm.. contoh menggunakan kata-kata sifat...” Naomi terdiam lama sambil sesekali melirik ke arah Echa
Echa yang sudah kembali duduk dibangku nya bergumam pelan namun tetap saja tidak terdengar jelas.
“Kamu tidak mendengarkan?” tanya bu Dewi singkat namun terdengar sangat menakutkan
“Ma-maaf.. Bu..” jawab Naomi takut
“Silahkan berdiri diluar kelas sampai pelajaran saya selesai. Yang lain, jika ada yang mau mengikuti silahkan
keluar sekarang. Kita lanjutkan halaman selanjutnya.”
‘Gara-gara memikirkan surat tadi, aku jadi tidak bisa fokus.’ Batin Naomi sambil keluar kelas dengan wajah tertunduk.
Naomi yang berdiri membelakangi ruang kelasnya sambil memainkan kaki nya kaget setengah panik, saat sesosok
yang dia kenali berjalan mendekat.
“Astaga, itu kak Jeff. Bagaimana jika dia melihatku seperti ini?” bisik Naomi yang kebingungan karena Jeff yang
berjalan mendekat ke arah nya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam hoodie hitam nya.
Naomi kemudian berbalik menghadap tembok, meminimalisir kemungkinan Jeff akan melihatnya. Jeff melewatinya, Naomi tahu dari bayangan yang terlihat melintas di lantai ketika Naomi menunduk.
“Untung saja.” Kata Naomi pelan sambil berbalik membelakangi tembok lagi.
“Ternyata benar itu kamu, kau sedang apa disitu?” tanya Jeff santai sambil menyenderkan badannya di pembatas
__ADS_1
lantai dua
Naomi terbelalak kaget, ternyata Jeff belum pergi dari sana, Jeff berjalan mendekati Naomi dan sekarang malah
berhenti tepat di depan Naomi.
Naomi menunduk diam saja, seolah-olah dia tidak mendengar bahwa Jeff sedang berbicara dengan nya. Jeff yang semakin penasaran bertanya sekali lagi dengan suara agak keras.
“Hei, Kau sedang apa disini?”
“Ehemmm.. Yang diluar tolong jangan berisik.” Kata guru bahasa Indonesia tersebut dengan suara yang keras
sehingga Naomi refleks menunduk, sambil menarik tangan Jeff untuk ikut menunduk.
“Kau dihukum?” tanya Jeff lagi, sambil menahan untuk tidak tertawa
Naomi hanya mengangguk pelan, wajahnya cemberut sambil memeluk lututnya
“Aku malu dilihat kak Jeff dalam keadaan seperti ini.” Kata Naomi lirih setengah berbisik
Jeff setengah mati menahan tawanya, imut sekali gadis ini, pikirnya.
“Kenapa kau dihukum? Kau tidak tidur di dalam kelas, kan?” tanya Jeff lagi tapi kali ini lebih pelan
“Tidak.. tidak. Ceritanya panjang, kak. Oh, iya. Kak Jeff mau kemana? Kenapa berada di gedung SMA?”
Jeff menepuk dahi nya pelan, “Astaga, aku lupa. Aku harus menemui Daniel sekarang. Handphone nya tertukar
dengan milik ku saat di mobil tadi. Aku pergi dulu, Naomi.” Kata Jeff pelan sambil berjalan jongkok.
“Kak Jeff...” panggil Naomi pelan tapi masih bisa didengar oleh Jeff
“Kenapa? Maaf aku buru-buru sekarang. Jika ada yang ingin dibicarakan, nanti saja setelah pulang sekolah.”
“Aku hanya mau bilang, tidak perlu berjalan jongkok seperti itu, kau bisa berjalan seperti biasa saja.” Ucap
Naomi sambil tertawa kecil.
Jeff langsung berdiri dan terdiam sejenak, lalu berjalan agak cepat menjauhi Naomi.
Naomi cekikikan di tempat nya.
***
Wisnu menghampiri Naomi yang berada di meja kedua dari belakang tepat setelah guru matematika keluar dari
kelas.
“Naomi, Kau tidak apa-apa?” tanya Wisnu pada Naomi yang sedang membereskan barang-barang diatas mejanya
“Hmm? Aku tidak apa-apa. Kenapa?” jawab nya pada Wisnu, tangannya masih sibuk merapikan barang-barang dan buku yang berserakan di atas meja dan di dalam laci.
“Yah.. baru kali ini aku melihatmu tidak fokus, bahkan sampai dihukum oleh Bu Dewi. Kau ada masalah?”
tanya nya perhatian
“Ehemmm.. permisi, disini masih ada orang, ya. Kalau mau flirting mohon maaf, nanti saja kalau aku sudah pergi, okay!” kata Echa sok galak
Dari awal Echa memang tidak terlalu suka pada Wisnu, saat ditanya oleh Naomi, Echa hanya menjawab, tidak ada
alasan khusus, hanya sekedar tidak suka saja melihat Wisnu berada disekitar Naomi.
“Maaf, aku akan segera pergi. Naomi, aku tunggu di ruang tari, ya.” Kata Wisnu pada Naomi yang disambut dengan
anggukan dan senyum manis
“Kalau bisa, sih. Jangan berhubungan dengan nya.” Kata Echa to the point sesaat setelah Wisnu menghilang
dari balik pintu
Naomi yang bingung dengan ucapan Echa berbalik menghadap teman baiknya tersebut.
“Jangan tanya apapun, kumohon jangan.” Sambung Echa lagi
“Aku belum bertanya apapun.” Kata Naomi polos
“sudahlah, ayo kuantar ke ruang tari. Kau ada latihan hari ini, kan? Sementara kau latihan aku akan menunggu mu
di kantin.”
Naomi mengangguk setuju.
***
Beberapa kali Jeff melihatnya keluar-masuk ruang tari, tapi baru kali ini dia melihatnya dengan mata ku sendiri, gadis yang selama ini terlihat imut dan ceria, berubah menjadi gadis yang serius, keren dan
menakjubkan ketika dia mulai menari. Dengan celana panjang ketat berwarna hitam, crop top berwarna khaki yang memperlihatkan pinggang kurusnya,serta sepatu putih dan rambut diikat kebelakang, dia berubah menjadi Naomi yang berbeda. Anggun, elegan, misterius namun terlihat bersemangat. Suara musik yang
berdentum dan tariannya yang enerjik membuat ruang kelas tari seakan membeku.
Semua mata yang ada, tentu saja bukan hanya Jeff dan teman-teman nya yang tidak sengaja lewat dan berhenti karena suara musik yang bergema dari sana tertuju pada Naomi. Teman-teman nya yang
berada di kelas tari pun begitu diam ketika Naomi mulai menari. Tubuhnya seakan ringan sekali, gerakan-gerakan sulit menjadi terlihat sangat mudah ketika melihat dia melakukan gerakan tarian tersebut.
“Wow.. she is truly amazing.” Ucap Jeff lirih namun ternyata didengar oleh seseorang di sebelahnya
“Dia teman ku.” Jawabnya sambil berbisik di telinga Jeff
Jeff yang kaget sontak bergerak sedikit menjauh dari gadis berponi dan berambut panjang yang diikat kebelakang itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dia melihat kearah Jeff sambil tersenyum.
“Kau tidak ikut menari?” tanya nya lirih sedikit berbisik pada gadis yang ternyata adalah Echa, teman baik Naomi.
Dia menyilangkan tangannya, membentuk huruf X dan menggelengkan kepalanya sekuat tenaga hingga ikat rambut yang dipakainya melorot.
“Aku tidak pandai menari, daripada behadapan dengan gur Kim, lebih baik aku pensiun dini.” Jawab Echa sambil berbisik juga
Jeff hanya mengangguk pelan namun mata nya masih tertuju pada Naomi yang tubuhnya meliuk-liuk mengikuti alunan musik.
“Kau sudah jatuh cinta pada Naomi?” tanya Echa tiba-tiba
Pupil mata Jeff melebar, tidak berani menatap gadis itu.
“Ke-kenapa kau bertanya seperti itu?” kata nya tergagap
Dia mengangkat bahu tak acuh, “Siapa tahu.. seperti yang kakak lihat, hampir semua laki-laki yang berada disini, menyaksikan Naomi menari,mereka semua menyukai nya.” Ucapnya menunjuk para laki-laki yang berkerumun di ruang tari dengan stik coklat yang baru dikeluarkannya dari dalam kantong rok kotak-kotak merah nya.
Jeff menghela nafas lega, “Kukira kau tahu.”
“Hmm? Kak Jeff bicara sesuatu?”
“Aku? Tidak.. tidak bicara apa-apa.”
“Ada apa, ada apa?” tanya Made yang muncul entah darimana ke tengah-tengah Jeff dan Echa
Echa menunjuk Naomi yang masih menari di tengah ruang tari dengan stik coklat nya yang sudah pendek, hampir habis.
Mulut Made membentuk huruf O sambil melirik kearah Jeff. Made membuat isyarat detak jantung dengan tangan nya sambil memainkan alisnya. Jeff tahu dia pasti akan mengolok-olok nya ketika hanya tinggal mereka berdua saja nanti.
“Eh, Yohan kemana?” tanya Jeff pada Made yang sedang sibuk berebut stik coklat dengan Echa
__ADS_1
Made menunjuk ke arah depan, searah dengan tempat dia berdiri dengan dagu nya.
“Yohan ikut kelas tari?” tanya Jeff yang sudah sama sekali tak di hiraukan oleh Made dan Echa.