
Ah I just can’t do this
The moment I first saw you
Like a helicopter
You kept spinning around me
Whenever I let my guard down
You came in
I think we might get into trouble at this rate
Shout out
I wanna meet eyes with you
I wanna talk to you all day
I guess this is fine
Because I’m not that kinda guy
I wanna eat with you
I wanna watch fun movies with you too
What’s wrong? The girl I love
Is you
When I’m walking on an empty street
When I’m with my friends
I’m crushing on you
When you look at me indifferently
When you laugh over little things
I’m crushing on you
No no no no (Crush on you)
I’m pretending to look somewhere else
But my eyes are on you
No one will notice
Even if my friends catch me
I’ll just say I was just looking
I’m lying to myself
My heart is obvious, it’s all black inside
I know I’ll get in trouble
But my feet are already going to you
Just give me some time
To check up on my heart baby
When you look at me indifferently
When you laugh over little things
I’m crushing on you
I haven’t felt this in a long time
Honestly, before you came into my life
I didn’t know about these emotions
Hold on Hold on Hold on
Please end it here
But it’s not that easy
*Samuel Kim - Crush on You
****
Ku slalu memperhatikanmu
Tak henti menjadi teman berbagi
Semoga kau rasa apa yang kurasa
Dibalik senyumku ada cinta untukmu
Dibalik matamu ada hati yang menunggu
Aku diam diam suka kamu
Ku coba mendekat
Ku coba mendekati hatimu
Aku diam diam suka kamu
Semua kan indah seandainya aku bisa memilikimu
* diam-diam suka**
Echa meletakkan surat-surat berwarna biru yang baru saja selesai dibacanya diatas meja semen di sekitaran taman dekat dengan kantin dengan agak bingung. Berdasarkan informasi dari Naomi, si pemilik, surat-surat serupa terus datang selama tujuh hari berturut-turut. Surat berwarna biru yang berisikan penggalan puisi atau lirik lagu romantis yang hampir semuanya ditulis dalam bahasa inggris, serta beberapa tangkai bunga carnation tak lupa disematkan oleh si pengirim anonim. Loker milik Naomi malah sudah hampir mirip seperti toko bunga, karena banyaknya bunga yang dikirimkan kepadanya serta karena tidak tega membuang semua bunga-bunga yang diletakkan didalam loker nya tersebut. Bahkan beberapa bunga sudah tampak mengering.
Hanya anak-anak di kelas tari yang tahu letak loker masing-masing, jadi apakah si pengirim adalah salah satu teman nya di kelas tari? Pertanyaan itu terus mengganggu Naomi.
“Mungkin Wisnu yang mengirimnya, bukankah sudah jelas bahwa dia juga sedang mendekatimu?” tanya Echa sambil mengumpulkan kembali surat-surat yang berserakan tertiup angin.
“Aku rasa bukan Wisnu. Aku dan dia hampir setiap hari bertemu. Kau juga tahu, kan?”
Echa mengangguk-angguk setuju
“Lalu menurutmu siapa yang mengirimkan surat-surat ini selain Wisnu? Yang aku kenal di kelas tari hanya Doni, Juni, Ronald, Daniel dan kak Yohan. Karena Daniel dan kak Yohan jarang datang ke kelas tari kita bisa mengecualikan mereka. Apakah salah satu dari Doni, Juni dan Ronald?” tanya Echa sambil menyeruput es jus melon yang sudah hampir habis
__ADS_1
“Entahlah.” Kata Naomi mengangkat bahu nya dengan malas.
“Petunjuk paling utama adalah, orang ini mempunyai kemampuan bahasa inggris yang baik, Doni dan Juni sangat tidak mahir bahasa inggris, jadi mereka berdua otomatis gugur. Kedua, dia adalah tipe laki-laki romantis, Emmm. Aku rasa laki-laki di kelas tari tidak ada yang romantis. Ketiga, dia mengetahui segala hal tentang mu. Berarti dia adalah salah satu orang yang saat ini berada di sekitar mu.”
“Wow... “ Naomi bertepuk tangan ketika Echa menyelesaikan kalimat nya, “kemampuan analisa mu sama sekali tidak membantu ku, Cha. Orang yang tidak mengetahui pokok permasalahnnya pun bisa tahu analisa kasar seperti
itu.” Ejek Naomi dengan wajah datar
Dari kejauhan samar-samar terdengar suara laki-laki yang sedang bercanda dengan heboh, suara-suara yang sangat familiar bagi Echa dan Naomi.
“Kau hanya beralasan, jika takut kenapa tidak mau mengakuinya? Hahahhaha.” Goda salah satu suara laki-laki yang terdengar jelas meskipun di kejauhan
“Aku benar-benar tidak takut, percaya padaku.” Ucap laki-laki satunya
“Hei.. mengaku saja, kami tidak akan menertawai mu. Lagipula kami melihat sendiri.”
“HEI! KAK JEFF, KAK MADE, KAK YOHAN!” Teriak Echa sambil melambai-lambaikan tangan nya pada trio bobrok (panggilan yang diberikan oleh beberapa orang di kampus, dan junior untuk Made, Yohan dan Jeff karena kelakuan
mereka yang agak tidak normal). Sementara Naomi buru-buru membereskan kertas-kertas biru yang berserakan diatas meja taman yang terbuat dari semen ke dalam saku jaket nya.
“Seperti nya kalian sedang mempermasalahkan sesuatu, ada apakah?” tanya Echa to the point kepada ketiga laki-laki tampan yang sedang berjalan mendekat kearah mereka.
Yohan, Made dan Jeff langsung mengambil tempat duduk di antara Naomi dan Echa.
“Kami sedang menginterogasi Made, semalam...”
“Hei... aku bilang aku tidak takut, kenapa kamu mengungkit hal itu di depan gadis-gadis?”
Kata Made buru-buru memotong kalimat Yohan yang belum selesai
“Tapi memang kau terlihat ketakukan.” Giliran Jeff yang berbicara
“Sebenarnya ini tentang apa, sih?” tanya Echa ingin tahu
“Jadi ceritanya, semalam kami bertiga melakukan group video call.”
“Kalian bertemu setiap hari kenapa video call? Kalian yakin kalian normal? Bahkan pasangan kekasihpun tidak seperti itu.” Potong Echa lagi
Entah kenapa Yohan selalu saja menjadi korban, setiap berbicara pasti ada saja yang memotong kalimat nya yang belum selesai.
“Halah, ini baru saja aku mau mulai bercerita, kalau kau terus-terusan memotong kalimat ku, bagaimana aku menyelesaikannya, hah? Aku cium, nih.” omel Yohan yang disusul tawa oleh mereka yang berada disana, “Sekali lagi dipotong, aku akan langsung pergi. Jadi diam!” ancam Yohan
“Iya.. iya.. maaf.” Balas Echa tidak tulus
“Jadi, sewaktu kami bertiga video call, daripada terus berbicara dan bercerita yang bisa berakhir dengan saling umpat karena saking bosan nya, kami lebih memilih bernyanyi bersama via online.” Yohan berhenti
sejenak dan memandang Echa yang mengatupkan bibir nya rapat seakan mencegah dirinya sendiri untuk tidak berkomentar, lalu Yohan melanjutkan kalimatnya.
“Made sangat bersemangat hingga entah berapa lagu yang dia nyanyikan seorang diri, empat atau lima lagu kalau tidak salah. Bayangkan saja, saat itu sudah hampir tengah malam dan dia bernyanyi lagu rock and roll yang
super berisik, untung aku dan Jeff memakai earphone sehingga tidak ada yang mendengar suara berisik Made selain kami. Nah, pada saat dia bernyanyi lagu terakhir, Made terlihat ketakutan...”
“Kaget, bukan takut.” Kata Made mengoreksi kalimat Yohan
“Iya, iya. Kaget. Tiba-tiba saja dia berlarian sambil mengibaskan tangan nya, seperti ini.” Kata Yohan sambil menirukan Made yang membuat gerakan seperti sedang mengusir sesuatu.
“Aku tidak takut, ralat. Aku hanya kaget.. sekali lagi hanya kaget karena serangga itu muncul tiba-tiba di depan ku. Kalian juga,jika tiba-tiba melihat serangga dikamar kalian, apalagi serangga itu sebesar ini, seperti
“Woaahh” kalian juga pasti akan kaget.” Kata Made membela diri sambil mendeskripsikan ukuran serangga yang dilihatnya.
“Lalu, setelah itu ada lagi..” Giliran Jeff yang membuka suara, “Ketika sedang bernyanyi, hampir dipenghujung lagu. Made kembali ketakuan karena melihat serangga, padahal yang dilihatnya saat itu hanyalah debu, dan yang paling konyol, meskipun dia ketakuan, Made masih melanjutkan bernyangi padahal dia ketakuan dan bernyanyi sambil menjerit-jerit.”
“Setelah itu dia tertawa sendiri karena malu.” Tambah Yohan
Terima kasih pada kisah konyol ketiga pemuda ini, Naomi yang dari tadi cemberut kini tertawa terbahak-bahak mendengar cerita para senior nya itu. Apalagi Echa, dia bahkan sampai memukul lengan Made saking tidak bisa
menahan tawanya.
“Kalian.. kalian benar-benar ajaib. Bisa-bisanya melakukan hal konyol seperti itu.” Kata Naomi terbata karena banyak tertawa
Jeff berusaha mengalihkan pandangan nya kearah lain ketika Naomi mulai berbicara dan ikut tertawa meskipun agak canggung.
“Itu belum berakhir. Masih ada hal konyol lainnya.” Sambung Yohan
Yohan menarik nafas terlebih dahulu sebelum memulai bercerita, perutnya sakit karena terlalu banyak tertawa.
“Jadi, setelah kejadian serangga itu, pas lagu terakhir diputar,itu adalah lagu Adele, tapi aku lupa nama judul lagunya. Made menirukan gerakan seperti ini.” Ucap Yohan yang kini menirukan gerakan orang yang memainkan alat musik saxophone, “Coba tebak, dia menirukan nya dengan alat apa?” tanya Yohan pada para pendengar nya.
Gadis-gadis hanya menggeleng sambil tersenyum,
“Apa? Apa?” tanya Echa sangat ingin tahu
“Hahhahahhaaa... Vacuum cleaner! Dan bodohnya lagi, dia tidak sengaja menghidupkan tombol power di vacuum cleaner nya dan alhasil...hahahahhahahaaa... mulutnya.. mulutnya yang sedang dimonyongkan, terhisap oleh vacuum cleaner yang tidak sengaja dia hidupkan, bukan hanya sekali tapi dua kali. hahahahhhaaa”
Tawa kembali pecah di antara orang yang berada di lingkaran kecil itu. Echa bahkan sampai terduduk di rumput sambil memegangi perutnya.
“Aduh.. aduh... perut ku...adududuhh...” ucapnya sambil terus tertawa
“Aku merasa bodoh, sungguh. Bagaimana bisa mulutku tersedot vacuum cleaner itu? Apalagi setelah itu, aku dimarahi ibuku habis-habisan.” Ucap Made yang ikut menertawakan tingkah konyol nya sendiri.
“Aku bahkan heran jika kau tidak dimarahi oleh ibumu.” Kata Jeff sambil tertawa
“Kak Made?” tanya seorang gadis yang tiba-tiba mendekat. Sepertinya dia salah satu siswa di SMA tersebut
Made yang tadinya ikut tertawa karena cerita konyol tentang dirinya, langsung memasang wajah serius.
“Iya, ada apa, ya?”
“Ah! Ma-maaf kak jika saya mengganggu, saya adalah penggemar kak Made sejak debat bahasa inggris tahun lalu, apakah boleh saya minta nomor ponsel kakak?”
Jeff dan Yohan saling lirik, sudah bersiap mengejek Made, Naomi tersenyum malu sambil membekap mulutnya sendiri seakan dia lah gadis yang meminta nomor ponsel Made, sedangkan Echa yang tadi terduduk di rumput kembali ke tempat duduknya dengan diam sambil menyeruput gelas jus yang sudah kosong daritadi.
“Aduh, aku sungguh minta maaf, karena alasan privasi, aku tidak bisa memberi mu nomor ponselku. Aku hanya bisa memberimu username instagram ku. Kau bisa mem-follow nya jika mau. Aku benar-benar minta maaf.”
“Tidak apa-apa, kak. Say ayang minta maaf.” Ucap gadis itu sambil menunduk
“Tolong tetap dukung aku jika kita bertemu lagi di acara yang sama, ya.”
Made melambaikan tangan nya kepada gadis itu sampai ia menghilang dari pandangan mereka.
“Kau? Ikut debat bahasa inggris? Kenapa aku tidak tahu?” tanya Echa pada Made yang masih tersenyum sopan
“Kenapa kau harus tahu?” tanya Yohan balik kepada Echa
“Yah... aku kira dia hanya bisa bertingkah konyol.”
“Hahahahaa, meskipun model seperti ini, aku ini jago bahasa inggris, tahu. Bahkan tidak kalah bagus dari kemampuan berbahasa inggris Jeff yang lama tinggal di luar negeri.” Jawab Made cengengesan sambil mencubit kecil lengan Echa
Naomi menyenggol kaki Echa, dan bertatapan lumayan lama mengisyaratkan bahwa kata-kata Echa tentang analisa awalnya mungkin berhubungan dengan kakak-kakak senior yang berada di depan mata mereka. Echa menggeleng sekuat tenaga sambil mengedipkan matanya kepada Naomi.
“Kau kenapa?” tanya Made yang melihat Echa bertukar isyarat dengan Naomi
“Hmm? Apa?” jawab Echa kaget
“Kau mengedip-kedipkan mata,apakah mata mu sakit?”
“Ah.. A-ada debu masuk ke mata ku, tapi sekarang sudah tidak apa-apa.”
__ADS_1
Echa tersenyum canggung sambil mencubit paha Naomi, mengisyaratkan untuk tidak membahas hal tersebut untuk
sekarang ini.
***
“Jangan mentang-mentang melekat kata desain dan interior di jurusan ini lalu diidentikkan dengan arsitektur, tidak demikian lho! Jurusan desain interior tidak sama dengan dengan jurusan arsitektur, perbedaannya terletak pada beberapa hal walaupun sama-sama mengkaji tentang rancangan atau desain. Jurusan desain interior mempelajari perancangan dan perencanaan tata ruang dalam bangunan yang tidak terlepas dari unsur estetika, fungsi, dan
kenyamanan bagi pemilik atau pengguna ruangan tersebut. Sedangkan jurusan arsitektur mempelajari desain, kontruksi, dengan mempertimbangkan fungsi struktur dan estetika bangunan secara menyeluruh. Jadi cukup jelas ya perbedaan kedua jurusan tersebut, saudara-saudara! meskipun sama-sama memperhatikan unsur
estetika tapi objeknya berbeda yakni jurusan arsitektur mengkaji rancangan keseluruhan bangunan sedangkan desain interior mengkaji optimalisasi pemanfaatan ruangan. Tolong pertimbangkan hal-hal tersebut sebelum memulai proyek miniatur kalian. Sekian kelas hari ini, saya tunggu tugas kelompok kalian dua minggu lagi. Selamat siang.”
Made merentangkan tangan nya karena pegal setelah dosen Botak yang entah siapa namanya, dia lupa, pergi meninggalkan kelas dengan membawa buku-buku tebal. Padahal sudah semester kelima tapi tetap saja dia tidak
mengingat nama asli dosen-dosen yang mengajar di kampus ini. Kesalahannya karena selalu memanggil mereka dengan nama alias.
“Hoooaaaamm, berbaring sebentar di apartemen Jeff sepertinya bukan hal yang buruk.” Ucap Made sambil mencolek lengan kekar Jeff memberi isyarat. Sebulan terakhir ini Made dan Yohan sudah sangat biasa keluar-masuk apartemen Jeff seperti rumah mereka sendiri. Jeff pun sama sekali tidak keberatan kedua temannya tersebut sering menginvasi apartemen nya.
“Boleh, mau langsung pulang? Atau mampir dulu?” tanya Jeff yang sedang membereskan buku dan alat tulisnya ke
dalam tas ransel hitam nya.
“Langsung saja, deh. Aku terlalu lelah untuk sekedar mengantri di kedai kopi depan kampus.” Jawab Made malas
sambil menenggak air mineral milik Yohan yang disodorkan kepadanya.
“Oh, iya. Aku sudah lama tidak mendengar kau pergi bersama pacarmu. Apakah kalian sedang bertengkar?”
Pertanyaan Jeff sontak membuat Made tersedak oleh air yang di minun nya tadi
“Uhukkk.. uuhhukkk...”
Yohan memukul pelan punggung Made
“Aku baru tahu kalau kau punya pacar. Sepertinya kau tidak pernah terlihat pergi berdua dengan gadis manapun.”
Ucap Hans yang duduk tepat di depan Yohan
Jeff, Made dan Yohan selalu duduk sejajar di baris terakhir di dalam kelas. Sedangkan Hans yang biasanya duduk di barisan paling depan, akhir-akhir ini lebih sering duduk di barisan belakang, tepat di depan tempat duduk trio bobrok.
“Bukan hal yang patut disombongkan, aku hanya tidak terlalu suka mengekspos hubungan ku ke publik.
Lagipula akhir-akhir ini dia sedang sangat sibuk.” Jawab Made yang sudah sembuh dari tersedaknya
“HANS!” panggil seorang gadis kurus berambut pirang panjang dari depan pintu kelas
“Oh, sebentar! maaf, aku keluar terlebih dulu.” Pamit Hans pada Made dan yang lainnya.
“Siapa?” tanya Jeff pelan
“Pacar Hans, mahasiswi dari jurusan seni musik, dia biasanya mengikuti kelas ekstra musik bersama Daniel
juga. Kau sebaiknya tidak dekat-dekat dengan nya. Meskipun cantik, dia seperti ibu macan.” Terang Yohan sama pelannya
“Ibu macan? Maksud nya?”
Made membuat isyarat diam dengan telunjuknya saat Hans kembali ke tempat duduk nya.
“Jadi kalian mau kemana setelah ini?” tanya Hans
“Kami akan langsung ke apartemen Jeff, jika masih ada semangat kami akan sekalian mengerjakan tugas yang
barusan.” Terang Yohan
“Boleh ikut? Kimmy membatalkan rencana kencan kami karena harus melatih adik-adik dari SMA sebelah untuk
persiapan acara tahunan. Untuk masalah logistik biar aku yang mengurus.” Kata Hans sambil memamerkan dompet tebalnya
“Baiklah, kau dipersilahkan!” teriak Made
“Hei!!! Kau belum mendapat ijin dari pemilik rumah. Jangan seenaknya saja, WOI, AKU SEDANG BERBICARA DENGAN MU, WOIIII!!” teriak Yohan kepada Made yang sudah terlebih dulu berjalan keluar kelas tanpa memperdulikan Yohan yang meneriaki dirinya sambil melambaikan tangannya.
Jeff hanya tersenyum melihat tingkah kedua temannya itu.
Jeff dan Yohan tiba terlebih dahulu di apartemen Jeff dengan membawa beberapa kertas karton besar dan
beberapa kantong plastik dari toko alat tulis di seberang kampus. Sedangkan Made dan Hans masih berbelanja keperluan logistik di supermarket di sekitaran gedung apartemen tersebut. Seperti yang mereka bicarakan tadi saat kuliah usai, mereka berkumpul untuk mengerjakan tugas praktek (jika ada niat) dan sekedar numpang tiduran dan makan. Seperti biasa, Mbak Dian, si asisten rumah tangga yang mengurus apartemen Jeff, melemparkan
senyum dan salam kepada bos. Bukan. Atasannya. Jeff. Dengan sopan
“Selamat sore, Mas Jeff. Mas Yohan.”
“Sore, Mbak. Karena hari ini saya pulang agak lebih cepat, mbak Dian juga boleh pulang cepat.” Kata Jeff datar
Mbak Dian mengangguk, tak lupa tersenyum, sambil membereskan beberapa barang bawaan nya yang dia letakkan di meja dapur. Lalu berpamitan pulang.
“Mbak Dian pasti jaman sekolah pasti murid teladan yang taat pada guru.” Ucap Yohan tiba-tiba saat Mbak Dian
sudah berlalu pergi
“Hmm?” saut Jeff cuek
“Hampir tiap hari aku kemari, hampir tiap hari pula aku mendengar dan melihat nya mempraktekkan 5S.” Kata Yohan sambil membanting tubuhnya ke atas sofa di depan TV yang diikuti oleh Jeff yang duduk di kursi kayu di depannya.
“Ngomong apa, sih?” tanya Jeff bingung namun nada bicara nya terdengar kesal
“5S, Bro. Senyum. Sapa. Salam. Sopan. Santun.” Terang Yohan
“Terus hubungannya?”
“Yah... Dulu waktu SMA aku selalu tersenyum dan mengucapkan salam pada guru, tapi para guru tidak pernah
menganggapku murid teladan karena tidak punya sopan santun.”
“Kenapa?”
“Tanya terus, kayak Dora!”
“Heh! Makanya kalau bicara yang jelas, biar aku juga tidak perlu bertanya. Rugi banget mendengar ocehanmu yang tidak jelas itu. Dua menit ku yang berharga terbuang sia-sia.”
Jeff memilih pergi ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian sedangkan Yohan malah cengengesan mendengar
temannya tersebut kesal.
Trrrrrr.... Trrrrrr...
“JEFF, PONSELMU BERBUNYI.” Teriak Yohan tanpa melihat kearah sumber suara
“JANGAN TERIAK-TERIAK, KAMU PIKIR INI LAPANGAN BOLA?” saut Jeff dari dalam kamar
“SIAPA TAHU KAU TIDAK MENDENGAR.”
“Kenapa kalian teriak-teriak, sih?” tanya Made yang baru saja masuk ke dalam Apartemen dengan bingung diikuti
Hans dibelakang nya
Jeff buru-buru keluar kamar, masih memakai celana pendek dan kaos polos yang belum dia pakai dengan benar
__ADS_1
dan mengambil ponselnya dengan kasar.
Made yang merasa aneh dengan sikap Jeff, mengikutinya keluar dari apartemen diam-diam.