
Keesokan harinya
Naomi sudah bangun dari tadi, namun dia seakan tak bisa bergerak. Bukan tak bisa bergerak. Dia salah tingkah.
Bagaimana tidak? Ketika membuka mata Jeff yang berada di karpet tepat di depan
sofa sedang menatap lurus kearah Naomi dengan pandangan sayu. Tak tersenyum maupun cemberut, hanya menatapnya tanpa bicara apa-apa.
“Se-selamat pagi, kak.” Sapa Naomi setelah drama tatap-menatap yang cukup lama
“Ehmmm, pagi Naomi.” Ucap Jeff malas namun tetap masih menatapnya
“Se-setelah mandi aku akan langsung pulang. Terima kasih telah mengijinkan aku menginap disini.” Naomi kemudian membungkuk dengan sopan lalu berlari ke kamar mandi.
“Tidak usah terburu-buru pulang, disini saja tidak apa-apa. Ada Mbak Dian yang sebentar lagi datang. Oiya, Hari
ini aku akan pulang sebentar ke rumah nenekku untuk menemui nya dan menemui Niel.” Kata Jeff yang akhir nya terduduk dengan rambut acak-acakan
Naomi berhenti tepat di depan kamar mandi, “Terima kasih, kak.” Lalu tersenyum sembari masuk ke dalam mandi.
‘Ternyata kak Jeff imut’ Naomi tersenyum malu sambil mengulang momen ditatap pria keren tapi juga imut lalu menyenderkan kepalanya di dinding kamar mandi.
“Jantung ku bisa lepas ini, ya ampun.” Teriaknya tertahan.
Naomi keluar dari kamar mandi dan mendapati Jeff masih terduduk di atas karpet beberapa menit kemudian.
Jeff mengambil handphone yang berada di sampingnya dan mencari nomor telepon yang berada di kontak dengan
malas,
“Halo. Iya mbak. Ini ada teman saya disini, nanti tolong dibantu kalau dia butuh apa-apa, ya. Terima kasih.”
Jeff terdiam sejenak, menatap Naomi yang berdiri di depannya lalu secepat kilat mengulang kembali memori beberapa saat yang lalu.
‘Bagaimana bisa, saat tidurpun dia masih tetap semanis itu?’ Pikir Jeff sesaat setelah dia membuka mata dan menatap Naomi yang tertidur pulas di sofa. Rambut coklatnya tersibak ke belakang telinga, bulu matanya panjang
meskipun dilihat dari jarak yang tidak dekat, bibirnya yang berwarna merah muda agak manyun seakan sedang merajuk dalam mimpinya. Dia menatap Naomi lama sebelum akhirnya gadis itu membuka mata dan melihat dirinya tengah dipandangi oleh Jeff. Dia bingung harus berkata apa setelah tertangkap basah memandangi makhluk manis itu. Hingga mereka berdua terdiam dan canggung.
Jeff tersenyum sambil bergumam lirih, “Aku gila.”
“Kenapa kak?” pertanyaan Naomi sukses membuyarkan lamunan Jeff.
“Tidak apa-apa.”
Jeff sudah berpakaian rapi dengan ramput klimis yang disisir kebelakang dan tengah menyeruput secangkir kopi sambil memandangi keluar jendela besar yang menghadap langsung kearah gedung-gedung perkantoran.
Sementara Mbak Dian yang diceritakan Jeff tadi sudah berada di dapur, menyiapkan sarapan untuk mereka.
“Pagi, Mbak. Sudah selesai ganti bajunya?” tanya Mbak Dian dengan sopan namun berhasil mengagetkan Naomi
__ADS_1
“Pagi, mbak. Iya, maaf saya agak lama. Mbak kapan datangnya?” Sapa Naomi sambil duduk di depan meja makan yang berhadapan langsung dengan asisten rumah tangga tersebut.
“Barusan, mbak. Sebentar lagi sarapan nya matang. Tunggu sebentar,ya.”
Naomi mengangguk bersemangat. Sementara jeff masih asyik dengan kegiatan ngopi sambil memandangi dunia luar nya.
“Kak Jeff.” Panggil Naomi lirih namun Jeff tetap mampu mendengar nya.
“Ya?” jawab Jeff singkat
“Sarapan nya sudah hampir siap. Kau tidak..”
“Aku tidak sarapan, kau sarapan saja tidak usah sungkan. Aku harus pergi setelah ini.”
Raut kecewa tergambar jelas di wajah Naomi, apakah dia benar Jeff yang tadi malam bercerita panjang lebar dan tertawa bersamanya hingga larut malam?
Gadis manis itu menggigit sandwich nya dalam diam. Dan sesekali memandangi punggung Jeff yang terlihat sibuk memungut tas dan jaket yang tergeletak di sekitar kardus-kardus berwarna coklat.
“Aku pergi dulu.” Ucap jeff kepada entah siapa, Mbak Dian yang sibuk merapikan baju-baju Jeff yang belum di bongkar atau pada Naomi yang menggigiti sandwich nya dengan cemberut.
* * *
Dirumah nenek Jeff dan Daniel
“Pagi, Nek.” Sapa Jeff sambil memeluk nenek Ami yang sedang menyirami anggrek dan mawar yang sedang berbunga dengan indah di halaman depan rumah.
Ada banyak tanaman lainnya namun Jeff menyebut mereka semua rumput hias. Nenek nya selalu memberitahu nama-nama tanaman yang ada disana, seperti Ariocarpus, sejenis kaktus yang tidak berduri. Lalu bunga amarilis, bunga anggrek, bunga mawar, bunga lily putih, dan bunga begonia namun tetap saja dia menyebutnya rumput hias.
“Aku baru sehari kuliah, Nek. Belum sempat berkeliling kampus, apalagi menggoda
gadis-gadis. Dan perlu nenek tahu, di yayasan itu mayoritas laki-laki. Masa iya mau menggoda laki-laki?” balas Jeff cekikian disambut dengan cubitan di pipi Jeff hingga membuat nya mengaduh.
“Ayo, ayo. Masuk dulu. Kau pasti belum sarapan, kan?”
“Aku tidak pernah sarapan, apa nenek lupa?”
“Dasar kau ini. Sarapan itu penting untuk tubuhmu. Bagaim..”
Belum selesai berbicara, Jeff mencium pipi nenek Ami dan berlari kedalam rumah.
“Dasar kau anak nakal, nenek belum selesai berbicara. Hei Jepri...”
“Niel~..” teriak Jeff
“Hmm, ada apa kak?” balas Daniel yang sedang asyik menonton Spongebob sambil mengunyah cemilan nya tanpa melirik pada Jeff.
“Kau sedang apa?"
"Nonton." jawab Daniel singkat
__ADS_1
"Emmm, kau tau, Naomi. Teman mu yang kemarin..”
“Naomi? Tentu saja. Dia sangat imut kan, apalagi ketika dia tertawa, aku merasa sangat bahagia hanya dengan melihatnya senyum nya.” Kata Daniel cekikikan
“Hei, aku belum selesai berbicara. Kau menyukai nya?”
“Tentu saja. Bahkan kakak kelas yang ada di sekolah juga menyukainya. Jika dia mau mungkin aku sudah menjadikan nya pacarku.” Jawab Daniel polos sambil tersenyum lebar.
“Eh, Tapi Wisnu yang terang-terangan menunjukan kalau dia menyukai Naomi.”
Jeff terdiam sejenak, sebanyak itukah saingan nya?
Tunggu..
Tunggu..
Tunggu..
Tunggu..
Saingan?
Saingan??
Aku bilang saingan?
“Kenapa?” tanya DAniel memecah kegalauan Jeff.
“Bu-bukan apa-apa. Oh iya hari ini kau tidak mau pergi keluar?” tanya Jeff mengalihkan pembicaraan.
“Ehmmm, sebenarnya aku ingin pergi ke kafe yang baru buka minggu lalu, kata teman-teman ku makanan disana enak, kak.”
“Baiklah, ayo kita kesana.”
“Benarkah? Kau mengajakku keluar?” tanya Daniel membelalakkan mata bulatnya sambil melompat kegirangan dari sofanya
“Tentu saja, sudah lama aku tidak berjalan-jalan di Kota ini.”
“Beri aku duapuluh, tidak limabelas menit. Aku akan bersiap-siap dulu.”
Daniel yang kegirangan masuk ke dalam kamarnya dengan melompat-lompat kecil. Maklum, sudah tiga tahun dia tidak bertemu dan menghabiskan waktu dengan kakak kesayangan nya itu. Semenjak tinggal di indonesia bersama neneknya, Daniel sangat jarang pergi keluar rumah saat hari libur. Kecuali jika nenek nya mengajak ke supermarket. Daniel sangat suka menyendiri di kamarnya untuk membaca buku, berlatih dengan piano nya atau sekedar menonton televisi di ruang tamu sambil rebahan.
“Naomi?” bisik Hangyul saat melihat gambar Lock screen di handphone Daniel yang tergeletak di sofa yang menyala karena ada pesan masuk. Jeff terkekeh gemas, Daniel sepertinya benar-benar mengidolakan Naomi. “Imut sekali mereka berdua ini.”
Seperti diingatkan, senyum Jeff berganti menjadi wajah yang datar setelah menyadari bahwa dia bersikap tak seperti dia yang biasanya.
Apa yang aku lakukan? Aku gila..
Aku benar-benar sudah gila..
__ADS_1
"Aku gila." kata Jeff yang setengah frustasi sambil memukuli kepalanya sendiri.