ADORE YOU

ADORE YOU
Episode 6


__ADS_3

Langkah Jeff terhenti ketika hampir mendekati komplek sekolahan, dia melihat sesosok gadis berambut sebahu yang mengenakan seragam SMA terduduk di kejauhan. Gadis tersebut dikerumuni orang-orang, sepertinya


warga sekitar, membuat jalanan disekitar menjadi agak macet. Tampak seorang bapak-bapak tampak mondar-mandir sambil bertelepon, entah dengan siapa dan beberapa ibu-ibu membantu gadis tersebut meminum air yang disodorkan salah satu ibu-ibu tadi. Hatinya mencelos tidak karuan. Dengan nafas yang masih tersengal


dia mendekati gadis tersebut.


“Maaf, tolong beri saya jalan.” Ucap Jeff kepada orang-orang yang berkerumun


“Dia teman mu?” tanya seorang ibu-ibu. Jeff mengangguk perlahan


“Kau baik-baik saja, kan?” tanya nya khawatir sambil menepuk bahu gadis tersebut dari Belakang


Sontak gadis tersebut kaget dan menengok ke arah Jeff.


“I-iya.” Tanya nya kebingungan


Ternyata gadis tersebut bukan lah Naomi seperti yang dia kira, dia hanyalah salah satu siswa yang terlibat kecelakaan tunggal yang kebetulan bersekolah juga di SMA Yayasan.


 “Ah, ma-maaf. Saya kira teman saya. Maafkan saya sekali lagi.” Katanya sambil berjalan menjauh


Jeff terduduk di trotoar, pikiran nya sangat kacau sekarang. Lalu dimana Naomi sekarang? Bagaimana kalau berita yang didengar nya tadi menjadi kenyataan? Jeff memukul-mukul kepala nya dengan frustasi.


Jeff berjalan gontai sambil merasakan kaki nya yang perih karena berlari sekuat tenaga tanpa memakai alas kaki ke dalam ruang ekstrakurikuler, namun lampu di ruangan tersebut sudah padam. Tak ada murid lagi di sekolah ini.


“Kak Jeff?” tanya salah satu suara yang berasal dari ruang loker.


Jeff berbalik dan berlari menuju sumber suara tersebut.


“Kupikir terjadi sesuatu yang buruk padamu, Naomi. Aku khawatir setengah mati.” Ucap nya sambil menarik tubuh gadis kecil tersebut ke pelukannya.


Naomi yang bingung hanya diam saja


Jeff bernafas lega, dia tersenyum sambil memeluk gadis tersebut erat hingga seolah akan mematahkan tulang di tubuh gadis tersebut


“Aku lega, kau baik-baik saja. Syukurlah.”


“Ma-maaf, kak Jeff. Aku tidak bisa bernafas.” Ucapnya menyadarkan Jeff


Jeff tersadar akan apa yang dilakukan nya lalu melepas pelukannya.


“Maafkan aku. Aku reflek... Tapi, kau baik-baik saja, kan?” tanya Jeff


Naomi mengangguk bingung, “Iya... aku baik-baik saja.”


Jeff mengangguk dan tersenyum melihat Naomi. Dilihatnya lekat-lekat wajah gadis tersebut. Mungkin memang tak terjadi hal buruk  seperti yang dipikirkan nya.


“Kenapa kau masih disini sampai selarut ini?” tanya Jeff khawatir.


“NAOMI!!” panggil seseorang dari kejauhan


Naomi melambaikan tangan pada orang itu, “Tunggu sebentar.”


Jeff menyipitkan matanya, “Siapa?” tanya nya


“Oh, itu teman sekelasku, Wisnu. Dia membantuku mencari sepatu ku yang hilang. Jika tidak ada dia mungkin aku tidak akan bisa pulang sekarang.” Terang Naomi sambil tersenyum


“Kau menyukainya?” tanya Jeff singkat namun terkesan dingin


Naomi kaget mendapatkan pertanyaan tersebut dari Jeff,


“A-aku.. bukan seperti itu. Aku hanya se-sedikit mengagumi nya.” Jawab Naomi gagap


Jeff tersenyum getir, “Teman mu sudah menunggu mu, pulanglah. Lagipula ini sudah malam.”


“Tapi aku ada janji dengan kakak untuk belajar hari ini.”


“Sudahlah, tidak apa-apa. Kebetulan aku akan keluar dengan Yohan dan Made. Aku kesini untuk memberitahumu hal itu.”


“Benarkah tidak apa-apa?”


Jeff mengangguk lagi

__ADS_1


“Pulanglah, teman mu sudah menunggu.”


Naomi akhirnya berpamitan pada Jeff sambil berkali-kali berbalik dan mengucapkan maaf. Jeff hanya tersenyum tipis namun sesekali terlihat menahan sakit dari kaki nya yang mulai berdarah. Dilihatnya punggung


gadis tersebut yang perlahan mulai berjalan menjauh, sesekali didengarnya suara tawa Naomi yang riang bersama dengan laki-laki bernama Wisnu itu. Rasa sakit dikaki nya kini menjalar ke dada nya.


Jeff pulang ke apartemen nya dengan kaki penuh lecet dan berdarah. Teman-teman nya yang histeris mengetahui keadaan Jeff yang seperti itu, memeluknya bersamaan.


“Kau ikut marathon tanpa sepatu?” ejek Made sambil memapah Jeff ke sofa


Jeff hanya diam saja


“Kau membuat kami panik setengah mati, kupikir ada keadaan yang sangat gawat. Kau tahu. Aku sangat ketakutan saat kau berlari seperti sedang kesetanan seperti tadi.” Omel Made lagi


“Maaf.. tidak akan terulang lagi.” Ucap Jeff lirih


“Yohan, Daniel. Tolong belikan alkohol, obat merah, dan kasa. Tidak ada apapun disini untuk mengobati lukanya.” Perintah Made pada Yohan dan Daniel yang baru saja kembali dari mengambil air bersih.


“Baiklah, Apotek yang di seberang jalan, kan?” tanya Yohan memastikan


Made mengangguk. Yohan dan Daniel bergegas untuk membeli barang-barang yang dimaksud Made tadi.


“Ayo, Daniel. Temani aku ke bawah.”


“Tunggu sebentar, kak. Aku ambil jaket dulu.” Balas Daniel


“Kau sebenarnya  kenapa?” tanya Made lirih saat Yohan dan Daniel sudah pergi


Jeff menatap Made lama namun akhirnya menggelengkan kepalanya, “Tidak ada apa-apa.”


“Aku tahu semua nya, apa ini berhubungan dengan Naomi?” tanya Made yang sukses membuat Jeff kaget


“Bagaimana...”


“Aku sudah tahu sejak kalian bertemu pertama kali, ada sesuatu yang aneh saat kau menatap gadis itu. Aku memang baru bertemu dengan mu, tapi entahlah, rasanya seperti sudah menjadi temanmu sejak lama. Kalau kau


mau, kau boleh bercerita padaku. Tentang apapun.” Ucap Made memotong perkataan Jeff


masih banyak yang menyukai nya juga.”


Made mendengarkan Jeff dalam diam, mendengarkan semua perasaan Jeff yang  tidak diketahui bahkan oleh Jeff pada awalnya. Tentang bagaimana perasaan menggelitik itu datang saat gadis imut itu tersenyum saat memanggil nama nya. Tentang betapa terusiknya dia ketika mendapati gadis itu bersama orang lain yang tidak


dikenalnya. Tentang kekhawatirannya karena dia tahu, tidak hanya dia yang memiliki perasaan seperti itu.


Made mengelus punggung Jeff, “Sepertinya kau benar-benar jatuh cinta padanya.”


Jeff tertunduk lesu


“Tapi dia menyukai orang lain, dan laki-laki itu terlihat jauh lebih ramah daripada aku yang... yah.. muka ku jelas terlihat garang.”


“Terus, kenapa?”


Jeff menatap Made bingung


“Iyaa.. terus kalau Naomi menyukai orang lain, kenapa? Toh, mereka tidak sedang pacaran, kan?”


Jeff masih menatap Made dengan bingung, “Aku tidak mengerti.”


“Kau seperti remaja yang baru pertama kali menyukai perempuan, kau paham maksud ku, kan?”


“Aku memang baru pertama kali ini menyukai perempuan. Selain nenek dan ibuku, tentu saja.”


Made mengusap wajah Jeff dengan gemas, “Cuma muka yang garang!”


“HEI!” Teriak Jeff sambil menyingkirkan tangan Made dari wajahnya


“Bro, kalau kau benar menyukainya, usahakan! Jangan lemah!”


“Tapi dia menyukai laki-laki lain..”


“Terus kenapa? Buat saja Naomi menyukai mu. Beres, kan?”

__ADS_1


“Tapi bukankah kau, Daniel dan Yohan juga menyukai nya? Aku tidak ingin bersaing dengan kalian.”


Made mendengus gemas. Dia menatap Jeff lama. Heran, Jeff yang terlihat garang, dingin, cuek dan preman-able ternyata hanya laki-laki berusia duapuluh-an yang polos.


“Aku akan mengajari mu pelan-pelan. Tenang saja, kau berada di tangan yang tepat.”


“Tunggu, bukan kah punya pacar?” tanya Jeff yang sukses membuat Made terdiam


“Tunggu disini sebentar, sepertinya ada yang terlupa. Aku akan menyusul Yohan.” Ucap Made sambil berlari meninggalkan Jeff


“Hei.. hei.. Kau belum menjawab pertanyaanku! Made!  Ah, sial, kaki ku sakit untuk berjalan.”


 


***


Jeff duduk di kursi semen taman didekat kantin sambil menopang dagu, kantin masih dalam keadaan sepi karena siswa-siswa SMA masih melaksanakan kegiatan belajar, hanya ada beberapa mahasiswa yang berseliweran di sana karena tidak ada jadwal kuliah, termasuk Jeff.


 ‘Mencoba untuk bersikap biasa setelah pengakuan semalam (meskipun bukan kepada yang bersangkutan) memang bukan hal yang mudah. Mataku selalu mencari keberadaan nya, tersenyum ketika melihat nya


meskipun hanya dari kejauhan, jujur saja, saat ini aku ingin berganti posisi dengan teman sekelasnya  yang bisa


bertemu setiap saat. Senyumnya sangat manis apalagi ketika dia menyibakkan rambut coklatnya ketika angin meniupnya. Sungguh pemandangan yang hanya ingin kulihat sendiri.’


Jeff mengangguk-angguk sambil tersenyum memandangi Naomi yang sedang berada di kelas musik lantai dua.


‘Andaikan aku bisa kesana dan berdiri disamping gadis itu sambil menyibakkan rambut indah nya..’


“Jangan diteruskan, Mad.” Kata Jeff memotong narasi dari Made yang ikut menopang dagu di atas meja semen di


samping Jeff.


“Iya... iya... kau pasti malu. Lucu sekali.” Goda Made


“KAK JEFF...KAK MADE....” teriak salah satu siswa dari kelas musik sambil melambaikan tangan kearah mereka


berdua


Made yang kaget reflek berdiri sambil melambaikan tangan nya. Jeff menyipitkan mata nya untuk melihat seseorang yang berteriak sekencang itu.


“Naomi?” tanya Jeff pada Made yang sekarang sudah kembali duduk


Naomi yang tersenyum cerah sambil melambaikan tangannya kepada Jeff dan Made ditarik oleh teman nya, sambil


menutup mulut gadis itu.


“NAOMI, KAU BERISIK!”


“Kau juga berisik!”


“Hahahahahaa, mereka lucu.” Kata  Made yang gemas melihat kelakuan Naomi dan temannya tersebut sambil sesekali memukul lengan Jeff


“Aku akan kesitu. Tunggu ya.” Ucap Naomi pelan sambil mengisyaratkan akan bergabung bersama mereka.


Jeff mengangguk dan Made membuat tanda okay dengan ibu jarinya.


“Kalian tidak ada pelajaran lagi?” tanya Made pada Naomi dan temannya yang ikut bergabung dengan mereka.


‘’Setelah ini ada jam kosong, Bu Imelda, guru Matematika yang galaknya minta ampun itu sedang ada keperluan di


luar sekolah jadi kita disuruh belajar mandiri.” Terang Echa, teman Naomi yang ikut bergabung


“Belajar disini saja.” Kata Jeff


Naomi dan Echa buru-buru mengeluarkan buku yang ternyata sudah mereka bawa daritadi.


“Ehehe, daripada bolak-balik, kak.” Kata Naomi cengengesan


Dari lantai dua, sosok itu terus mengawasi Naomi dan Jeff yang sedang asyik bercanda sambil sesekali kembali


membuka-buka buku yang dibawa oleh Naomi. Sepertinya dia sangat marah, buku coklat yang dipegangnya, diremas sekuat tenaga hingga kumal.

__ADS_1


__ADS_2