
Daniel dan Jeff tiba di kafe yang dimaksud oleh Daniel, seperti yang telah diceritakan Daniel sebelumnya, kafe
itu memang sangat ramai karena masih dalam waktu promosi. Banyak anak-anak muda yang terlihat menghabiskan waktu mereka disana bersama pacar atau sekedar nongkrong dengan teman-teman nya.
Drrttt...
Jeff membuka pesan yang masuk di handphone nya.
Hei, Bro. Apakah ini kamu? Sedang apa dan
bersama siapa kau?
hahaha
*images*
Pesan dari Made membuat Jeff
celingak celinguk mencari si pengirim pesan dengan foto dirinya yang berdiri di belakang Daniel. Tapi nihil. Made tak terlihat dimanapun.
Jangan mencari ku, dasar bodoh. Aku
sedang bersama pacarku
Nanti ku hubungi lagi. Ceritakan semua
yaa nanti >.<
“Pacar? Bukannya dia yang paling girang saat bertemu Naomi kemarin?” gumam Jeff sedikit bingung lalu memasukkan handphone nya kembali kedalam saku celana nya.
Jeff dan Daniel mendapatkan bangku kosong di pojok depan kafe. Mereka duduk di bangku berwarna putih dengan
tanaman artifisial kecil berwarna ungu dan putih yang diletakkan di tengah meja, tepat di depan jendela besar dengan gorden renda berwarna kuning yang diikat dengan pita putih di bagian tengah nya. Spot yang sangat cocok dengan cuaca cerah hari ini. Tak hanya di dalam kafe, diluar pun terlihat jalanan ramai, mungkin karena ini hari libur. Beberapa pria paruh baya mengayuh sepeda dengan santai lengkap dengan alat pelindung diri. Beberapa anak muda duduk-duduk di bangku taman yang membelakangi jalan raya sambil sesekali mengambil foto selfie
bersama teman-teman mereka.
“Apakah selalu ramai seperti ini?” tanya Jeff sambil menyesap hot americano nya.
“Hmmm?” sahut Daniel yang sibuk menyendoki cheese cake
“Apakah disini selalu ramai? Dulu seingatku daerah ini tak seramai sekarang.”
“Oh, setahun terakhir ini memang ramai semenjak trotoar dan taman kota direnovasi.”
Jeff mengangguk-angguk malas. Mereka berdua sibuk dengan kegiatan mereka sendiri, Daniel yang sibuk menghabiskan makanan nya dan Jeff yang sibuk dengan buku yang tadi sengaja dia bawa.
“Hai, boleh aku duduk disini?” tanya seorang pria dengan setelan baju training merah, masker dan bucket hat hitam dan berperawakan tinggi yang tiba-tiba menghampiri mereka dengan segelas es kopi di tangan nya.
Jeff menurunkan buku yang sedari tadi dia baca dan menoleh kesekitar, dan memang kafe ini sedang
ramai sehingga tak ada tempat duduk yang tersisa. “Silahkan.” Kata nya mempersilahkan nya duduk di kursi kayu di sampingnya.
Jeff menyipitkan matanya, “Made?”
Pria itu tersenyum, meskipun mengenakan masker namun senyum nya terlihat dari matanya yang menyipit.
“Padahal aku ingin berpura-pura sebagai orang asing. Oiya, siapa dia?” tanya Made sambil menunjuk ke arah Daniel.
“Adik ku, Daniel. Niel, kenalkan ini teman ku Made. Beri salam dulu.”
__ADS_1
“Selamat siang, kak.”
“Halo, adikmu lucu sekali, Jeff. Pipinya gembul seperti hamster. Hahahahahhahaa.”
Daniel cemberut namun tetap terlihat lucu
“Apakah kau sedang menunggu seseorang?” tanya dia tiba-tiba
Jeff hanya menggeleng. “Cuma ada kami berdua.”
“Syukurlah, aku tidak perlu tergesa-gesa pergi.” Ucapnya sambil membuka masker hitam nya, tergambar jelas wajah tampan nya.
“Dimana pacarmu?” tanya Jeff
“Sudah pulang barusan, aku bilang aku ada janji dengan teman, jadi dia kusuruh pulang duluan.”
“Wow. Made. Benar-benar ya kau ini.”
“Kenapa?”
“Kau tidak ingat, siapa yang kegirangan karena bisa foto berdua dengan Naomi?”
“Naomi? Kapan?” tanya Daniel memotong percakapan Jeff dan Made
“Kemarin, waktu kami makan bersama di seberang kampus.” Jawab Jeff santai
“Yah, kakak. Kenapa aku tidak diajak?” rengek Daniel
“Sebentar, sebentar. Jangan bilang kau juga fans Naomi.” Tanya Made
“Iya. Kak Made juga?”
“Tentu saja. Aku tebak hampir seluruh pria di sekolah sudah menjadi fans nya.”
sedari tadi kubaca hingga tak menyadari bahwa waktu berjalan sangat cepat.
“Permisi, apakah kalian mahasiswa seni dari Universitas yayasan?” tanya seorang wanita yang menghampiri meja kami bersama teman nya yang terlihat malu-malu.
“Maaf?” tanya ku lagi karena tak terlalu mendengarnya.
“Ah, iya. Aku dan dia mahasiswa seni. “ kata Made sambil menoleh kearahku yang terlihat cuek.
“Aku Nuri.” Dia mengulurkan tangan nya
“Aku Made dan ini Jeff, dan dia Daniel.” Jawab Made ramah
“Kami tahu, kok. Kak Made dan Kak Yohan sangat terkenal di antara murid-murid di sekolah kami. Tapi baru kali ini kami melihat Kak Jeff. Kalian sangat tampan.”
Kedua wanita tadi, Kemungkinan adalah siswa SMA yang ada di wilayah lain. Setelah meminta foto mereka berdua pergi dengan agak heboh.
“Gimana, ya. Susah kalau punya wajah tampan seperti aku ini. Kemana pun pasti ada saja yang mengenali.” Ucap Made dengan percaya diri
Daniel yang notabene adalah anak rumahan, merasa kagum pada Made. Mereka berdua menjadi dekat layaknya teman yang sudah kenal sangat lama. Sama seperti yang aku rasakan waktu pertama kali mengenalnya kemarin.
“Woahhh, kak made hebat. Cocok jadi selebritis.”
“Iya, kan. Iya, kan. Aku sudah menduga bahwa sebenarnya aku cocok jadi selebritis.”
Jeff hanya tersenyum melihat kelakuan kedua orang itu. Dia mengedarkan pandangan nya dan menemukan sosok yang tidak asing melintas di depan kafe tersebut. Gadis berambut coklat sebahu, mengenakan kaos hijau polos
oversize, celana pendek putih dan slingbag kecil berwarna oranye berjalan bersama laki-laki berkemeja putih dan celana jeans panjang.
__ADS_1
“Naomi?” gumam Jeff
“Hmmm, siapa, siapa?” tanya Made
“Itu, bukankah itu Naomi?”
Made dan Daniel mendekatkan wajah mereka ke jendela kaca sambil menyipitkan mata, mencari tahu benarkan itu Naomi yang baru saja lewat di depan mereka. Meskipun di keramaian mereka masih bisa menemukan sosok gadis
yang bahkan terlihat manis dari belakang itu.
“Sialan, Wisnu bergerak cepat. Tidak bisa dibiarkan.” Daniel terlihat marah
“Benar, kita juga harus bergerak. Ini tidak bisa dibiarkan.” Timpal Made
Mereka berdua keluar dari kafe dengan tergesa setengah berlari, menyusul Naomi dan seorang laki-laki yang mereka sebut Wisnu. Namun aku tidak yakin mereka bisa mengejar. Jalanan sangat ramai dengan pejalan kaki
sekarang ini.
Tidakkah mereka terlalu terobsesi pada gadis itu?
Jeff melanjutkan acara membaca buku yang tadi terhenti. Membaca dalam diam di sudut ruangan, sambil sesekali menyeruput kopi nya yang belum habis dan sambil menyilangkan kaki panjangnya. Pengunjung kafe yang memasuki atau yang akan keluar selalu menoleh kearah Jeff yang duduk sendirian sambil
membaca buku yang tadi dia bawa. Wajah tampan namun dingin tak menghentikan mata para kaum hawa untuk tidak melihatnya. Siapa yang akan melewatkan pemandangan bak lukisan itu?
“Ternyata mereka hanya pergi belanja bahan-bahan untuk tugas kelompok.” Kata Daniel langsung duduk dan memberitahu Jeff
Daniel dan Made kembali dari mengejar Naomi, menenggak es kopi mereka karena hawa panas diluar.
“Kenapa memberitahu ku?” tanya Jeff heran
“Siapa tahu kamu juga penasaran.” Tambah Made
“Heiiii, aku tidak se-bucin kalian. Oiya kenapa Yohan tidak bersama mu?” tanya Jeff kemudian
“Dia pulang ke rumah orangtuanya setiap akhir pekan.” Made menghentikan perkataan nya
“Kenapa kita tidak kesana, kalian sedang senggang, kan?” tambah nya bersemangat
Jeff menutup buku nya dan menatap Daniel, “Gimana?”
“Ayo aja kalau aku, kak.”
****
Hanya butuh waktu kurang dari dua jam dari kota ke daerah rumah Yohan dengan kereta api. Sudah nampak banyak persawahan di sepanjang perjalanan yang menandakan tujuan mereka hampir sampai. Seperti kata Made,
daerah rumah Yohan berada di area pedesaan dengan sawah di kiri dan kanan nya. Tak begitu jauh dari stasiun, hanya berjalan sekitar sepuluh menit mereka tiba di rumah Yohan. Rumah paling besar di daerah itu.
“Sudah sampai, kawan.” Kata Made sambil meregangkan tubuhnya. “Langsung ke belakang saja.” Imbuh nya.
Made menunjukkan jalan kepada Jeff dan Daniel. Belakang rumah Yohan sangat luas, ada gudang tua beratap merah tepat searah dengan rumahnya, mengikuti jalan setapak yang berada di
ujung kebun. Kebun sebelah kanan ditanami tomat, dan entah sayuran apa. Sebelah kiri dibiarkan menghijau karena rumput liar, namun tetap dirapikan.
“Woiiiii, kok bisa sampai kemari?” teriak Yohan senang.
“Daniel, kenalkan, itu temanku. Yohan.”
“Halo, kak.” Sapa Daniel
“Ini adik mu, Jeff?” tanya Yohan sambil mencubit pipi Daniel, “Lucu sekali dia, pipinya gembul.”
__ADS_1
Daniel pasrah saja pipinya diuyel-uyel.