
geng SARDESFIK kinin berada di vila tepatnya di ruang tamu menikmati cemilan yang masih tersisa, waktu menunjukan pukul delapan empat puluh lima, Rina mencari sesuatu yang bisa menjadi makan malam, tapi tak urung ia temukan,
"Fik lo gk punya bahan makanan mentah ya gue laper nih" kata Rina sambil mengelus perutnya.
"coba lo liat di dalam kulkas Rin,! siapa tau ada" jawab Fika berteriak karna Rina sudah pergi menuju dapur kembali.
"gk ada Fik!" jawab Rina dengan nada yang sama karna jarak mereka cukup jauh,
Fika pun bangun dari tempatnya membantu Rina untuk mencari bahan makan malam mereka tapi tak juga menemukan.
"yah Rin, adanya cuman beras ma sirup gimana dong?" tanya Fika yang merasa pusing juga.
"gue gk tau Fik" jawab Rina tak kalah pusing.
sedetik kemudian.
"oya Fika tadi lo bawa bekal kan kesini"? tanya Rina dengan nada antusias.
"oya kok gk kepikiran ya!" sambung fika sambil menepuk jidatnya.
"ambil gih sana!" perintah Rina sambil mendorong Fika untuk mengambil rantang yang berisi bekal tadi siang, saat semua telah selesai Fika juga Rina memanggil kedua sahabatnya yang asyik menonton drama Bollywood yang selalu membuat mereka baper, menuju meja makan yang sudah siap.
"waaa gays lo dapet makanan enak kayak gini dari mana?" tanya Sary.
"ini bekal tadi siang yang lo remehin" jawab Fika.
"ok ok daripada debat terus kayak pilpres mending langsung makan aja, gue udah laper banget nih" sambung Desi sambil mengambil potongan ayam yang telah di bumbui tersebut. mereka makan dengan di selingi canda juga tawa siapa lagi yang memulai kalau buka Fika dan Sary. saat semua sudah beres mereka langsung menuju kamar untuk istirahat karna besok harus siap siap untuk ke pantai bersama Vino.
🌺🌺🌺
Mentari mulai menampakan sinarnya, membangunkan ke empat remaja yang masih terlelap dalam mimpi indah mereka, melalui sela sela tirai yang menutupi jendela kaca di ruangam tersebut. mereka pun mengerjapkan mata mereka karna silau mentari yang masuk kedalam kamar yang mereka tempati.
"gays bangun yuk kita kan harus siap siap mau ke pantai hari ini!" kata Rina,
sebenarnya ia sengaja bangun pagi karna selain membuat sarapan buat ketiga sahabatnya dia juga ingin tampil beda bertemu dengan kakak dari sahabatnya ini, entah sejak kapan ia merasa jantungnya selalu berdetak tak normal saat berada di dekat Vino yang tak lain adalah kaÄ·ak sahabatnya, jagankan dekat hanya mendengar nama dan membayangkan wajahnya saja jantungnya sudah tidak normal seperti sekrang ini.
Rina sudah selesai membangunkan ketiga sahabanya dia bergegas menuju dapur membuat nasi goreng sebagai sarapan sahabatnya entah karna dia yang hobby memasak atau karna hari ini Vino datang hatinya begitu bahagia,
"apa gue suka ya sama kak Vino"? gumamnya dalam hati sambil tersenyum sendiri.
terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga Rina yang sudah selesai membuat nasi gorengpun menyiapkannya di meja makan.
__ADS_1
"lo kenapa Rin?" tanya Desi curiga karna terlihat sekali raut bahagia di wajah sahabatnya ini
"gue gk papa kok, udah makan gih gk usah banyak protes udah syukur gue bikinin lo sarapan!" sanggah Rina yang memang memiliki sifat kadar kepedasan dalam hal bicara saat dia dalam posisi yang gawat darurat saperti saat ini karna jujur dia juga tidak tau kenapa dia begitu bahagia hari ini.
selesai sarapan dan membereskan ruang makan, mereka menuju ruang tamu menghilangkan suntuk dan menunggu Vino dkk datang. Fika yang tidak tau bahwa kakak tercintanya itu mengajak teman temannya juga, siapa lagi kalau bukan Band The Boy's.
waktu sudah menunjukan pukul dua lewat tapi Vino tak jua muncul. fika yang mulai khawatirpun menelpon kakaknya.
tapi dering telpon tersebut terdengar dari luar vila, Fika segera berlari ke pintu utama yang tak jauh dari ruang tamu karna hanya di pisahkan oleh dinding kaca. tak salah kakaknya memang ada di luar sedang mengeluarkan barang barangnya. Fika yang heran karna barang yang di bawa kakaknya itu terlalu banyakpun bertanya.
"kak kok barangnya banyak banget? terus kanapa kakak datengnya lama? kakak kesini ma siapa? kakak baik baik aja kan?" pertanyaan Fika membuat Vino terkekeh karna seperti rel kereta api bertanya tanpa jeda.
"satu satu dong dek nanyanya kan kakak pusing" jawab Vino sambil mencubit hidung mancung adiknya itu,
"yayaya deh kakak kenapa lama dateng?"
"tadi kaka nunggu temen dek!"
Fika sejenak berfikit temen.
"siapppppppp-..."
suara Fika mengantung di udara ketika melihat empat orang laki laki turun dari mobil yang ada di belakang mobil kakaknya itu yang baru saja memasuki pekarangan vila.
"itu cewek yang kemaren gue tabrak deh apa dia adeknya Vino?" gumam Ryan dalam hati*.
tatapan mereka pun beradu tak ada yang mau mengalah. sampai Dana menyenggol bahu Ryan.
"woow lo liat cewek matanya di kondisikan bro", gumam dana tepat di telinga Ryan agar tidak terdengar oleh kedua sahabtanya yang masih asyik mengeluarkan ransel di dalam bagasi.
"heh kalian mau berdiri kayak monas, disitu terus sini bantuin" kata Rio, menunjuk pada Dana dan Ryan. setelah semuanya beres merek masuk ke dalam vila dan betapa terkejutnya ketiga geng SARDESFIK melihat siapa yang datang menjadi tamu yang bisa di bilang istimewa tersebut.
"gila gue gk mimpi kan?" kata Sary yang masih terpaku melihat siapa orang yang datang bersama Vino.
"itu kan Band The Boy's say!" gumam Desi tak kalah terkejut. lain halnya dengan Rina yang masih mengontrol detak jantungnya saat melihat Vino.
"jantung bisakah kita bernegosiasi sekrang tolong kau berdetaklah normal, jangan sampai ada yang mendengarmu bisa malu aku" gumam Rina dalam hati.
"hey lo!"
vino menunjuk ke arah Sary,
__ADS_1
"apa? mau apa lo?" kata Sary dengan nada judes tentunya.
"bantuin napa!" kata vino
"ogah!!" kata Sary yang berlalu pergi menuju ke empat cogan yang ada di samping vino.
"ada yang bisa gue bantu gk" tawarnya
"lo bisa bantuin bawain ransel gue gk?" tanya Sandi.
"yang ini ya?" tanya Sary sambil menunjukan ransel yang berwarna abu abu tersebut.
sandi hanya menganggukkan kepalanya menandakan ia.
tiba tiba "sini kak biar Rina bantuin aja" tawar Rina.
vino yang hanya memandang Rina pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pertanda setuju mereka segera menuju kamar yang sudah geng SARDESFIK siapakan tadi siang.
saat sampai di kamar Vino.
"Rin bisa bantuin kakak rapiin baju gk?" tanya Vino.
Rina yang gugup pun hanya menganggikan kepalanya. segera ia merapikan baju Vino.
"kakak mandi bentar ya Rin soalnya gerah baget nih".
"ya kakak mandi aja dulu biar aku rapiin bajunya". jawab Rina dengan suara lirih karna masih mengontrol jantungnya.
"ya Allah ini kenapa jantungku apa aku bener bener suka ma kak Vino astaga!" gumamnya dalam hati.
hampir sekitar lima belas menit Rina merapikan baju vino suara pintu kamar mandipun terbuka, terlihat vino dengan kaos warna biru langit dan jelana pendek selutut membuat nya terlihat begitu tanpan memperlihatkan otot lengannya dan bulu bulu halus di sekitar tulang keringnya di kakinya, dengan susah payah Rina menelan salivanya.
vino yang melihat itupun hanya tersenyum ia tau sahabat adiknya ini mengaguminya sekaligus menyukainya semenjak hari ulang tahun Fika yang ke enam belas tahun lalu sikapnya mulai berubah terlihat canggung tapi Vino tau apa yang harus dia lakukan.
"kok bengong sih Rin? udah selesai apa belum?" tanya vino basa basi
"u..udah kak tinggal ini aja" jawab Rina yang menunjukan ke dalam koper yang berisi pakain dalam vino.
"ya udah makasih ya Rin" kata vino yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Rina pun bangun "sama sama kak, ya udah ya kalau gk ada lagi aku turun kebawah mungkin Fika sama yang lain nunggu di bawah" sambungnya.
__ADS_1
vino hanya menganggukan kepalanya. segera Rina keluar dari dalam ruangan yang bisa membuat jantungnya terlepas dari sarangnya. kok perasaan aku gini ya "ANEH apa aku jatuh cinta ma kak Vino tapi gk mungkin deh batinnya, dia selalu menyanggahnya tapi senyumnya tak bisa lepas dari bibir indahnya itu.