Afika

Afika
Rumah Sakit 2( dua)


__ADS_3

Vino yang masih tersulut emosi di tambah lagi dengan rasa khawatir pada Fika membuat otaknya menjadi pusing dengan kedatangan seorang pria yang berdiri di sampingnya kini.


"Lho mau apa lagi sih? gue enggak mau beratem disini! lebih baik lho pergi sekarang besok kita ketemu lagi". saran Vino mencoba bernegosiasi dengan pria tersebut.


"Gue enggak mau pergi sebelum gue tau keadaan Fika". jawab pria itu lagi.


Vino sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, tanpa berkata apapun tiba-tiba,


bruuuuuuuukkkk....!!!


Satu pukulan tepat mengenai rahang tampan pria itu tapi dia tak membalas pukulan Vino.


The Boy's pun mencoba melerai mereka agar Vino tak membuat masalah di rumah sakit.


"Lho kenapa sih Vin kok jadi gini? lho bisa kontrol emosi lho enggak? ini rumah sakit banyak orang yang terganggu karna ulah lho!" kata Dana.


Vino hanya bisa diam sambil menarik nafas beberapa kali untuk mengontrol emosinya. Lain halnya dengan pria yang baru beberapa menit yang lalu terkena bokeman dari Vino hanya diam memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.


"Kakak enggak papa kan?" tanya Sary pada pria itu.


"Kakak enggak papa kok Sar!" jawabnya.


"Kak Dedi kapan pulang dari Amrik?" tanya Desi tiba-tiba yang sudah tidak bisa menahan penasarannya. Karna sejak lulus SMA bersama Revan kakak pertama Fika dia pergi kuliah ke Amerika sedangkan Revan ke Singapore.


Sudah dua minggu yang lalu Des, tapi kakak masih di Bali ada hotel yang masih kakak urus, baru hari ini kakak bisa datang kesini". Jawab pria yang bernama Dedi tersebut.


"Enggak ada yang nyuruh lho dateng kesini!" sambung Vino tiba-tiba tanpa menolehnya.


"Gue kesini bukan buat lho tapi buat Fika". sambungnya lagi.


"Lho enggak usah banyak omong Ded! sebelum kesabaran gue abis". jawab Vino.


The Boy's pun hanya menjadi pendengar setia, mereka masih mencoba memahami kondisi yang ada. Belum ada penjelasan buat Vino kenapa Fika mengalami kecelakaan ini.


Hampir satu jam mereka menunggu di depan pintu IGD akhirnya dokterpun keluar.


"Bagaimana keadaan adik saya dok? tanya Vino yang langsung berdiri dan berjalan saat melihat dokter itu keluar.


"Saya perlu bicara dengan keluarga pasien, silahkan ikut saya ke ruangan". Jawab dokter laki laki yang menangngani Fika tersebut. Vino pun mengikuti langkah dokter di depannya. Berbeda dengan SARDESFIK dan The Boy's serta Dedi yang masih menuggu suster keluar.


"Sus bagaimana keadaan teman saya?" tanya Rina saat melihat perawat yang keluar dari ruangan tersebut.


"Beloh kami melihatnya?" tanya Ryan yang masih memakai baju basah kuyupnya yang sudah mulai kering di badan.


"Nanti kalian bisa menjenguknya saat kami pindahkan ke ruang rawat". kata suster tersebut kemudian berlalu.


mereka semua diam membisu tanpa ada yang saling bicara atau membuka suara sibuk dengan pikiran masing- masing hingga suara brangkar terdengar dari ruangan untuk memindahakan Fika ke ruang rawat.


"ini sudah ke tiga kalinya kamu kayak

__ADS_1


gini Fika!" gumam Dedi dalam hati.


"Lho pasti baik baik aj Fik!" kata Rina sambil terus memegang tangan fika samapi ke ruang rawat.


"Sus bisa tolong bawa teman saya ke ruang VIV biar urusan administrasi saya yang urus". kata Rina.


"Baiklah silahkan ke ruang administrasi mbak kami akan segera memindahkan pasien ke ruang yang anda minta." Jawab perawat itu.


Rina pun segera keluar untuk mengurus segala keperluan Fika untuk pindah ruang rawat.


****


"


"Yan lho mendingan ganti baju dulu deh, entar lho ikutan sakit kita enggak mau ngurusin lho!" kata Sandi.


"Entar aja deh gue tunggu Fika siuman dulu!" jawab Ryan seadanya.


Kalau lho enggak mau pulang ke vila, lho bisa ganti baju di mobil, gue ada bawa baju cadangan tadi sebelum berangkat, lho tinggal minta kunci nya ma Vino". usul Dana.


"Makasih ya gue mau cari Vino dulu". kata Ryan sambil bangun dari tempat duduknya saat ini mencari Vino.


"Kalian enggak ganti baju?" tanya Rio pada geng SARDESFIK.


"Ya udah kak kami ganti baju dulu ya! kami bawa baju ganti juga ada di mobil". sambung Sary.


"Kita ganti baju di toilet rumah sakit aja!" usul Desi.


Mereka pun hanya mengangguk dan mengekori Sary.


Setelah kepergian SARDESFIK dan Ryan, Dedi duduk di samping Fika sambil memegang tangannya, kini hanya tinggal Dana, Rio, Sandi dan Dedi


"Kalian bisa jelasin ke gue kenapa Fika sampai tenggelam?" tanya Dedi yang bertanya tanpa menoleh ke mereka dan masih terus memegangi tangan Fika.


"Kita enggak tau awalnya kayak gimana!" jawab Rio.


"Terus kalau kalian enggak tau kenapa kalian bisa sama Fika?" tanyanya lagi.


Diam tak ada yang bersuara.


"Apa hubungan kalian ma Fika?" tanyanya lagi karna pertanyaan ke duanya tak ada jawaban.


"Kita cuman temen doang!" jawab Sandi.


"Kita ada disini karna kita temen kampus Vino yang kebetulan libur disini, karna berhubung Fika yang champing di vila ma temen temennya dan mungkin karna mereka hanya cewek semua Fika nelpon Vino buat ngajak camping bareng yang kebetulan juga Vino ngajak kami". jelas Rio panjang lebar.


Dedi hanya diam mendengar penjelasan laki laki yang belum ia tau namanya itu.


"Lho siapanya Fika?" kata kata itu tiba-tiba keluar dari mulut Sandi.

__ADS_1


"Lho bisa tanya ma SARDESFIK kalau lho mau tau!" jawab Dedi.


"SARDESFIK! siapa?" tanya Rio yang memang belum tau nama gengnya Fika.


"Lho bener bener enggak tau?" tanya Dedi lagi.


mereka hanya menggeleng.


"Nama geng Fika adalah SARDESFIK, Sary Rina Desi dan Fika, nama itu mereka buat saat masih SMP." kata Dedi.


"Kok lho bisa tau?" tanya Dana yang sejak tadi hanya diam dan kini membuka suara.


"Gue tau semua tentang Fika, bahkan tentang keluarganya." jawab Dedi.


"Terus hubungan lho ma keluarga Fika apa? kenapa Vino kayak enggak suka gitu ma ma lho?" tanya Sandi yang super kepo kuadrat itu.


"Nanti juga lho bakalan tau sendiri". jawab Dedi.


Suara pintupun terbuka mereka melihat ke sumber suara ternyata Vino sudah kembali dari ruangan dokter yang tadi.


"Gimana Vin, apa kata dokternya?" tanya Dana.


"Baik kok enggak ada maslah serius". sambung Vino.


Tapi berbeda dengan raut wajah yang Vino tampilkan, terlihat jelas bahwa Fika tidak baik baik saja namun mereka tidak bisa bertanya lebih dari itu mungkin besok atau lusa Vino bisa menceritakan semuanya.


"Lho ngapain pegang tangan adek gua *******!" kata Vino saat melihat tangan Fika di genggam Dedi.


"Lho bisa enggak enggak cari masalah ma gue?" kata Dedi.


Dengan langkah lebar Vino menghampiri Dedi dan menarik kerah bajunya.


bukkkkkk....!!!


bukkkkkk.....!!!!


dua pukulan melayang pada Dedi tepat di luka yang sama dan di tambah pelipisnya. dengan cepat Dedi bangkit setelah tersungkur kesisi sofa ruangan itu dan


bukkkkkkkk....!!!


Satu pukulan tepat mengenai rahang Vino yang menyebabkan sudut bibirnya mengeluarkan darah


Rio dan Dana pun mencoba melerai mereka karna mereka berkelahi di ruangan Fika.


"stooooooppppp.....!!!!!!!


suara lirih itu membuat mereka menoleh....


hai say ketemu lagi nih, semoga masih ada yang baca ya😁 ngarep dikit enggak papa kan, moga happy raeding ya gays, kritik dan sarannya aku tunghu di kolom komentar ya😊

__ADS_1


💖💖 buat kalian yang udah sempetin baca ceritaku.


__ADS_2