
"Sebenarnya Fika dan kak Dedi itu...!"
" Ya! mereka kanapa?" tanya Sandi yang sudah mulai penasaran.
"Mereka dulu pacaran waktu kami masih SMP." jelas Desi.
"Tapi mereka putus setelah pacaran hampir satu tahun, karna kata Fika kak Dedi itu mesum, Fika bilang kak Dedi mencari bukti cinta dari Fika dan Fika bilang dia enggak bisa ngasih sesuatu yang enggak bisa dia di perbaiki seumur hidupnya."
The Boy's pun mengerti arah kemana perkataan bembuktian cinta yang di maksud Dedi karna sudah jelas hanya mahkota seorang perempuan yang hanya sudah rusak sekali tidak akan bisa ia kembalikan lagi.
Sebenarnya disini bulan salah Fika jika ia memutuskan hubungan dengan Dedi karna permintaan nya merupakan kesalahan besar wajar jika Fika menganggapnya mesum.
"Jadi itu alasan kenapa Vino sangat membenci Dedi?" tanya Dana lagi.
"Bukan! kak Vino punya masalah lain dengannya lagi."
"Apa??"
tanya Rio yang penasaran kembali .
"Sepertinya itu di luar masalah kami, kalian bisa tanya sama kak Vino sendiri." kata Rina.
"Hemmm!" baiklah kata Sandi.
Obrolan mereka terhenti karna makanan mereka telah datang setelah semua siap mereka pun makan dalam diam sampai selesai.
*** **rumah sakit***
__ADS_1
Vino POV**
Saat setelah kepergian mereka semua termasuk laki-laki ******** yang bernama Dedi itu juga akhirnya enyah dari hadapanku sungguh seandainya aku tidak memiliki RIKA sebagai kelemahanku dan Revan aku tidak segan- segan untuk membunuhnya dengan tanganku sendiri.
Masih jelas sekali di ingatanku kesalahan yang sangat fatal ia lakukan bahkan dengan kejinya tidak mengakui kesalahan nya dan dengan tanpa dosa kuga ingin merusak adikku sendiri. Sesaat aku terdiam ketika Ryan bertanya sesuatu padaku dan memegang sudut bibirku yang sobek akibat pukulan pria brengsek itu, aku pun merasakan sakit saat ia menyentuhnya tapi tak lebih sakit dari hatiku. Sejenak aku terdiam saat ia menanyakan alasan aku sangat membenvi Dedi, aku sempat berfikir apa aku tidak salah untuk menceritakan semuanya pada Ryan tapi sepertinya aku bisa percaya pada Ryan hingga aku menyanggupinya dengan hanya menggukan kepalaku.
Vino POV End
"Ada sesuatu yang perlu lho tau tenteng kehidupan gue Yan!"
jelas Vino sejenak ia berhenti dan menarik nafas untuk mengontrol emosinya karna ia harus mengenang masa lalu yang kelam dalam kehidupannya.
"Gue punya saudara selain Fika dia Revan sekarang dia kuliah di Singapore dan Dedi adalah temannya sejak SMP, Dedi merupakan anak pindahan sebelumnya tapi gue enggak tau dia pindahan dari mana, dia sering main kerumah bersama gue dan Fika persahabatan mereka baik sampai SMA tapi dia membuat kesalahan yang membuat gue benci banget sama dia, yaitu dia hamilin pacar gue sendiri, waktu itu gue masih duduk di bangku sekolah kelas sepuluh SMA dan dia kelas dua belas bersama Revan. Gue enggak tau sejak kapan pacar gue Fely kenal sama Dedi sampai tiba-tiba suatu hari dia minta putus ma gue karna dia mengaku udah hamil dan anak itu adalah anaknya Dedi, Feli dateng ke gue minta tolong karna Dedi enggak mau tanggung jawab, hati gue rasanya kayak tersayat belati di tambahin garam perih, sakit, sakit banget! bagaimana bisa cewek yang gue sayang minta tolong buat minta pertanggung jawaban dari laki-laki lain karna dia hamil
WAW!!
Gue enggak bisa maksain kehendak gue dan jawaban dia pun gue sampein ke Fely, entah apa yang dia pikirkan hingga dia nekat melakukan aborsi tapi dengan kecewa dia meninggal karna kehabisan darah, dan lebih parahnya lagi didalam situasi kayak gitu gue baru tau sebuah kebenaran bahwa adek gue pacaran ma dia dan ingin merusaknya juga sakit hati gue tambah sepuluh kaudrat Yan, bahkan samapai sekarang benci dan rasa sakit itu enggak bisa ilang." jelas Vino.
Ryan hanya menjadi pendengar setia bagi Vino dan hanya diam dengan penjelasan sekaligus alasan dia sangat membenci Dedi.
"Gue bisa paham Vin, jika gue dalam posisi lho mungkin gue bakalan lakuin hal yang sama."
"Makasih lho udah mau ngertiin gue Yan, sekarang lho aja yang masuk duluan gua masih mau disini bentar entar gue nyusul lho ke dalem."kata Vino dan diangguki oleh Ryan.
Setelah kepergian Ryan Vino hanya diam beberapa saat.
"Maafin gue Yan! gue enggak bisa buat ceritain alasan lebih dalam lagi kenapa gue makin benci ama Dedi selain masalah yang gue ceritain ke elo, mungkin suatu saat nanti saat waktunya udah tepat gue bisa cerita ma kalian tentang RIKA". gumam nya dalam hati.
__ADS_1
Saat beranjak dari duduknya geng SARDESFIK dan The Boy's pun tiba denfan membawa sebuah kantong plastik yang isinya pesanan dari Ryan karna tak melihat Ryan disana mereka hanya menitipkannya pada Vino dan kembali pulang karna besok mereka juga akan datang lagi.
Vino pun masuk ke ruang rawat Fika terlihat Ryan yang duduk di kursi samping ranjang Fika tertidur dengan memegang tangan adiknya tersebut.
tanpa ia sadari terukir senyum di bibir indah Vino.
"G**ue kok seneng ya liat Ryan deket ma Fika!" gumam nya dalam hati.
karna tak tega membangunkan Ryan dia pun merebahkan diri ke sofa dekat jendela ruangan itu. hingga entah sejak kapan ia mulai menjelajahi alam mimpinya.
Ryan yang merasa ada pergerakan dari tangan Fika pun terbangun.
"Air! aku haus!" kata Fika lirih.
Ryan bangun dengan wajah yang masih terlihat mengantukpun mengambil sebuah air mineral di samping brangkar.
"Nih lho bangun dulu ya sini biar gue bantuin duduk." kata Ryan.
Fika hanya menuruti kata Ryan. Ryan pun membuka tutup kemasan air tersebut dan meminumkannya pada Fika.
"Kok gue jagi deg degan gini ya deket nih cewek!" batin Ryan.
Fika yang tak sadar dengan gelagat Ryan pun hanya diam dan kembali tidur.
"Gila nih cewek dalam keadaan sakit kayak ginipun mukanya tetep cantik." batin Ryan kembali bermonolog.
"Eh bentar gue bilang apa tadi cantik sejak kapan gue punya hobby muji cewek, wah otak lho udah konslet Yan!" sambungnya lagi pada diri sendiri sekaligus berperang batin. tapi masih terukir seyum indah di bibirnya tanpa ia sadari.
__ADS_1
hay sobat ketemu lagi nih selamat membaca ya jangan lupa kritik dan sarannya ya aku tunggu😊