Afika

Afika
karat( kangen berat)


__ADS_3

Sejak hari itu kedekatan Fika da Ryan pun terlihat dan itu membuat Vino semakin mendukung mereka. Kini setelah hampir empat hari Fika di rawat di rumah sakit dia di perbolehkan pulang namun tetap harus istrahat cukup.


"Fik sini biar gue aja yang beresin!" tawar Ryan.


"Makasih ya selama gue disini lho udah baik banget jagain gue siang malam padahal kita baru kenal." kata Fika.


"Enggak papa lagian gue juga seneng bisa jagain lho siang malem." sambung Ryan sambil tersenyum.


"Lho ada-ada aja entar pacar lho marah lagi sama gue!"


"Enggak bakalan ada yang marah kok, gue belum punya pacar."


"Ya kali lho belum punya pacar!" Fika terkekeh dengan jawaban Ryan sambil terus berkemas karna sebentar lagi grup huru hara mereka akan segera menjemput.


"Serius Fik gue enggak punya pacar, ya kalau lho enggak keberatan dan mau jadi pacar gue sih enggak papa!" kata Ryan padahal dalam hatinya sangat berharap jawaban YA dari Fika walaupun waktunya enggak tepat juga dan dia hanya bisa tersenyum simpul untuk menghilangkan gugupnya.


"Masak nembak cewek enggak ada romantis romantisnya sih!" kata Fika. Dia berfikir apa yang dikatakan Ryan hanyalah sebuah candaan yang tak di ambil hati.


"Tapi kalau gue nembak lho dengan cara romantis lho mau enggak?" Tanya Ryan serius.


"Entar deh gue pikirin lagi!" jawab Fika yang membuat hati Ryan makin gundah gulana karna tak mendapat jawaban yang pasti.


"Tapiiii gue mau jawaban yang passs...-"


Belum sempat menyelsaikan kata katanya suara pintu terbuka menhentikan pembicaraan mereka. Dan benar saja teman teman mereka sudah sampai dan segera keluar dari rumah sakit. Selama di perjalanan perdebatan antara Rio dan Sary menjadi hiburan bagi mereka hingga sampai di depan vila dan semuanya turun dari mobil.


Saat hendak turun dari dalam mobil kaki Fika tak sengaja tersandung hingga terjatuh dan itu membuat mereka terkejut.


Ryan segera berlari menuju ke samping mobil dimana Fika kini.


"Lho enggak papa Fik? kok bisa jatuh sih! sini biar gue bantuin berdiri!" kata Ryan.


Diapun mengulirkan tangannya yang di sambut oleh Fika namun sayang kaki Fika sedikit terkilir.


"Auuuuuuu!!! hiks.... sakit...!" gumam nya.


"Ya ampun Fik mungkin kaki lho terkilir." kata Desi.


Ryan pun melihat kaki Fika sedikit memar karna tersandung dia dengan cepat menggendong Fika ala bridal style.


"Ehmmmmmm!! ingat wow dunia bukan milik lho berdua!" kata Rio.


"Berisik lho!" sambung Ryan yang terus berjalan masuk.


"Gila tuh anak kena bucin akut tingkat dewa kali ya!" kata Rio.


"Udah ahh berisik, mendingan lho bawa tuh barang." kata Dana menunjuk pada barang yang ada di dalam bagasi.


"Lho pikir gue pembantu lho apa?" tanya Rio.


"Anggap aja nabung buat akhirat!" sambung Sandi yang berkata tepat di telinga Rio dan segera berlari masuk kedalam.


"Wowwww!! kampret! sial lho pada gue di tinggal lagi!" kata Rio sambil berteriak.


Dengan berat hati Rio terpaksa mengangkat barang yang ada di bagasi tidak banyak hanya sebuah ransel dan dua kantong plastik.


"Sini biar gue urut aja ya!" tawar Ryan.


"Tapiiiii..-" kata Fika ragu.

__ADS_1


"Enggak pake tapi-tapian entar kaki lho bengkak, gimana, mau enggak bisa jalan hah?" tanya Ryan yang terus mengurut kaki Fika tanpa memperdulikan orang-orang di sekelilingnya.


"Tahan ya ini agak sakit tapi enggak lama kok!" dan dengan tiba-tiba dan tanpa aba-aba.


Kreeeeeeekkkkk


"Auuuuuuuu!!! sakit!!!" Kata Fika setitik embun menetes dari pelupuk mata Fika dan itu membuat hati Ryan sedikit nyeri ada rasa tak tega melihatnya menangis. Dan entah apa yang merasukinya dia membawa Fika dalam pelukannya.


"Udah jangan nangis dong! masak dah gede nangis!" Goda Ryan sambil mengelus selurai halus milik Fika.


"Itu sakit banget! kayak tulang aku mau patah!" Sambung Fika.


"Enggak entar juga ilang coba gerakin kakinya udah enggak sakit kan?"


Fika pun mencoba mengerakan kakinya memutar.


"Ya bener udah enggak sakit lagi makasih ya!" Kata Fika.


Dia tak sadar bahwa dari tadi dia berada dalam pelukan Ryan. Sedetik kemudian Fika mendongak menatap netra Ryan begitu juga sebaliknya.


"Ehmmmm!! halllooo!! masih ada orang disini!" Kata Rio yang hanya bisa menonton dari tadi adegan romantis mereka.


"Kalian pacaran ya?" Tanya Rina tiba- tiba. Dan itu membuat Fika juga Ryan menoleh secara bersamaan.


"Enggak kok!" Jawab Fika cepat.


"Enggak tapi sampe peluk peluk gitu!" Goda Desi.


Seketika Fika menjauh dari pelukan Ryan merasa malu sekaligus gugup.


"Kalau iya juga kakak enggak keberatan kok dek!" Sambung Vino.


"Kakak apaaan sih!" Kata Fika sambil menunduk malu dengan lampu hijau yang di berikan Vino buat Ryan. Berbeda dengan Ryan yang tersenyum summringah.


"Belum siap adek lho bro !"Kata Ryan.


"Pepet aja terus sampai mau" Kata Sandi.


"Hebat juga ya lho dapet naklukin monster betina gue!" Kata Vino.


"Mau gimana lagi adek lho udah buat gue luluh sama kecantikannya!"


"Baru nyadar lho kalau adek gue cantik?"


"Kayaknya sih iya, tambah cantik kalau lagi malu malau gini!" Kata Ryan sambil melirik ke arah Fika yang tepat berada di sampingnya.


"Jagain yang bener entar di embat orang!" Kata Vino.


"kakak apaan sih!" Kata Fika yang segera bangkit karna tak tahan dengan godaan para The Boy's dan kakaknya itu entah sejak kapan pipinya terasa panas saat Ryan mengeluarkan kata kata itu.


setelah kepergian Fika mereka semua terkekeh.


"Adek lho lucu juga ya Vin!" Kata Ryan.


"Lho beneran suka ma adek gue Yan?" Tanya Vino serius.


"Gue juga bingung Vin gue merasa nyaman aja kalau deket ade lho, dan entah kenapa kalau gue jauh hati gue gelisah enggak tenang gitu." Cerita Ryan.


"Bilang aja lho KARAT ma Fika kalau jauh." Sindir Rio.

__ADS_1


Mereka semua mengerutkan dahi bingung.


"KARAT apaan Io?" Tanya Sandi.


"Ya elah gitu doang enggak tau, KARAT itu kangen berat dasar OKB lho." Kata Rio.


"Emang lho tau dari mana gue kengen berat?" Tanya Ryan.


"Lho enggak sadar apa? kemaren Lho uring uringan gara-gara telat nemenin Fika cuman karna Ban mobil yang bocor dan lho sampai ngumpetin kita semua buat cari transfortasi lain sampe suruh sewa mobil orang padahal lho tau ada Vino yang jagain disana tapi ya itu lah lho yang enggak bisa jauh dari Fika sehari aja gimana kalau kita balik kerumah nanti bisa lumutan lho!" Kata Rio sambil tertawa mengingat kekonyolan Ryan kemaren siang.


flash back on


"Dan kunci mobil mana?" Tanya Ryan pada Dana yang berada di kamar mandi.


"Gue taroh di atas meja ruang tamu!" teriak Dana dari dalam kamar mandi.


Ryan pun segera turun dan menemukan kunci mobil depan meja television dia segera menuju bagasi dimana mobil terparkir dengan indah bersama mobil milik Sary.


Saat akan memanaskan mobil Ryan melihat ban mobil depan kempes.


"Siaaaallll!! kok bisa kempes sih!" Kata Ryan sambil mengacak rambutnya frustasi. Dia segera masuk kedalam vila menemui ke tiga sahabatnya itu dengan posisi Rio dan Sandi masih di atas tempat tidur memainkan benda pipih milik mereka masing-masing dan Dana yang belum keluar dari kamar mandi.


"Lho kenapa lagi sih Yan?" Tanya Sandi yang melihat wajah kusut Ryan.


"Kalian bantuin gue dulu tuh ban mobil kempes gue ke rumah sakit pake apa sekarang pasti Fika udah nungguin gue!" Kata Ryan.


"Bantuin lho, gimana mau bantuin, emang kita harus niup tuh ban biar berisi lagi! ya kali Yan! udah besok aja pergi nya lho kabarin Vino aja enggak bisa datang hari ini!" Kata Rio enteng.


"Hehhh lho punya mulut pengen di lakban ya?" Tanya Ryan.


"Terus kita musti ngapain peak!?" Sambung Rio.


"Cariin gue mobil yang bisa di sewa dong!" Kata Ryan.


"Lho pikir nih kota punya nenek moyang lho apa? males banget gue, mendingan gue chat si anak dekan enak, cantik, bohai lagi ketimbang gue mikirin masalah lho!" Jawab Rio.


"Dasar sahabat laknat lho!" Kata Ryan.


"Arrrrrggggggggggg!!! Fika gimana caranya gue pergi buat liat dan jagain lho!" Kata Ryan mengerang frustasi sambil mengacak rambutnya.


"Dasar bucin akut!" Gumam Rio lirih tak terdengar oleh Ryan tapi Sandi masih bisa mendengarnya.


"Udah kita bantuin aja gih." Ajak Sandi yang kasihan dengan keadaan sahabatnya itu.


Dana pun keluar dari kamar mandi.


"Lho apaan sih Yan teriak kayak orang kesetanan aja."


"Gue mau ke rumah sakit buat jengukin Fika tapi ban mobil bocor gue enggak tau gue pergi pake apa gue udah telat nih!"


"Emang ya kalau lagi jatuh cinta mah otak enggak pernah bisa dipake berfikir!" Kata Dana yang berjalan mendekati benda pipih miliknya dan mengetik beberapa kata kemudian mengirimnya ke seseorang. Tak lama kemudian Dana berjalan keluar entah kemana masih dengan handuk yang melilit pinggangnya beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa kunci mobil lainnya.


"Nih lho pake punya sary, ada di bagasi entar lho kasih sama yang punya ada di rumah sakit entar kita hubungin bengkel deket sini buat ganti ban mobilnya kalau udah kelar entar kita nyusul." Kata Dana.


"Thanks ya bro!" Kata Ryan sambil berjalan keluar dan segera menancap gas mobil itu.


flas back off.


setelah becerita mereka semua tertawa hanya Ryan yang diam karna malu.

__ADS_1


__ADS_2