
Hallo readers ketemu lagi nih ma aku๐ kita lanjut aja yah, kalau ada kata yang salah mohon pemberitahuannya, dan satu lagi jangan lupa kritik dan saran aku tunggu di kolom komentar.
Adryan POV
Sejak sepeninggalan Vino dari resto tadi aku selalu kepikiran tentang kata katanya, yang memperingatkan kami menjaga Fika agar tidak bermain di wahana air manapun, bahkan sampai saat ini teman temanku memilih naik perahu nelayan untuk menikmati keindahan laut disini pikiranku masih saja tidak fokus, hingga akhirnya perahu nelayan ini membawaku ke tengah laut bersama mereka, tapi entah apa yang membawa mataku tiba tiba melihat Fika dan teman temannya sedang asyik menaiki wahana banana boats.
Tiba tiba parasaanku tidak enak bahkan ocehan para sahabatku tak aku hiraukan, mataku pun tak bisa aku lepaskan dari mereka, aku hanya khawatir pada Fika karna dia tidak bisa berenang, sesaat aku lihat mereka begitu bahagia sampai akhirnya mereka selesai dan jet yang membawa batangan berbentuk pusang itu berhenti untuk menepi, tapi kemudian tanpa mereka sadari ombak menghantam mereka hingga terhempas beberapa meter dan sudah pasti ku pastikan mereka terpisah walaupun mungkin kedalamnya sekarang sekitran belasan meter dari tempat mereka tapi tetap saja Fika yang memang dari awal tidak bisa merenang jelas tenggelam.
Aku yang sudah dari tadi di landa rasa khawatirpun melihat Fika yang meminta tolong dari kejauhan segera meloncat tanpa aku perduli pada panggilan sahabatku itu. Aku berenang bagai ikan lumba lumba dengan gaya kupu kupu andalanku karna jarakku dengannya cukup jauh, tapi itu tak membuatku menyerah teriakannya pun semakin lama semakin memudar hingga tak terdengar lagi. Segera aku menenggelamkan tubuhku mencarinya di dalam air, perih! mataku terasa perih karna air garam di laut ini ,tapi aku tak bisa menyerah, aku harus segera menemukannya sebelum dia benar benar tenggelam, hampir sepuluh sudah aku keluar masuk dalam air tapi tak juga ku menemukannya bahkan para sahabatnyapun berenang bersamaku untuk mencarinya,
"Aku harus bisa dan kuat".
ku yakinkan pada diri ku sendiri, ku tenggelamkan kembali tubuhku membuka kedua mataku mencarinya,
"Lho harus kuat Fik", gumam ku dalam hati sambil terus memutar mutar tubuhku didalam sana mencarinya, hingga aku melihatnya masih terapung di dalam air dengan mata terpejam segera aku membawanya kepermukaan.
Ke tiga sahabat Ryan heran kenapa tiba tiba dia meloncat ke dalam air tanpa aba aba dan tanpa babibu, kami hanya bisa melihat sampai mata kami tertuju pada seseorang yang sudah kami ketahui yaitu Fika sedang minta tolong dari arah kejauhan. Saat kami tersadar apa yang terjadi segera kami menyuruh tukang perahu untuk menepi, guna menanti mereka di pinggir pantai, entah berapa lama dia mencari, kami hanya bisa menunggunya dan akhirnya dia muncul di permukaan dengan membawa seorang gadis.
Ryan pun segera membawa Fika ke pinggir pantai tak banyak orang yang tau tentang kejadian ini, para sahabat Fika pun yang masih basah kuyup menyusulnya,
Ryan meletakkan Fika di salah satu tempat istirahat di pinggir pantai, sebuah kursi yang terbuat dari rotan yang di sediakan pengelola disini. dengan hati hati bercampur was was Ryan menekan perut Fika agar air yang dia minum keluar, tapi tak ada respon, dia pun menepukan pipi Fika beberapa kali,
"Fika lho harus kuat" gumamnya lirih sambil terus menekan perutnya tapi nihil.
"Gue enggak punya cara lain" katanya pasrah, tanpa persetujuan dari mereka Ryan tiba tibapun melakukannyan. Dia menarik nafas kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir Fika untuk memberinya nafas buatan.
"*W*hat the hill" gumam Sary syok, yap dia syok banget tapi apa boleh buat ini demi menyelamatkan Fika. Berbeda dengan ketiga The Boy's selain khawatir campur geli karna melihat sahabatnya yang irit bicara tiba tiba berani menempelkan bibirnya pada lawan jenisnya.
Ryan melakukannya beberapa kali hingga terdengar suara batuk dari Fika yang membuat mereka lega,
"Rekor baru!" seru Rio tanpa sadar di tambahi dengan senyuman yang mengembang di bibirnya,
"Waw luar biasa!" tambah Sandi.
"Awal yang bagus boy!" gumam Dana.
Ryan yang mengerti arti kata kata sahabatnya pun kesal.
"Ini bukan saatnya buat goda gue! cepetan siapin mobil kita kerumah sakit sekarang" kata Ryan, "Sandi, Rio, kalian tetep disini, gue ma Dana pergi kerumah sakit bareng Desi, karna mobil cuman satu mobil kita di pinjem ma Vino tadi" kata Ryan.
"Ya udah buruan pergi entar gue cari mobil pegawai disini, kebetulan bokap gue yang kelola ni pantai jadi enggak susah buat cari mobil" perintah Rina .
"Ya udah kita duluan" kata Ryan sambil menggendong Fika ala bridal style.
bayangan mereka pun berlalu hingga tak terlihat lagi,
"Sini ikut gue!" perintah Rina, yang terus berjalan menuju restaurant tempat makan siang tadi. diapun berjalan ke dalam menuju ke ruang meneger tanpa halangan lurus seperti jalan tol, mungkin karna mereka tau bahwa Rina merupakan anak pemilik restaurant ini. Beberapa saat kemudian Rina keluar sambil menenteng sebuah kunci mobil yang entah milik siapa berjalan mendekati mereka di luar.
__ADS_1
"Nih kuncinya, mobilnya di bawah pohon sana warna hitam" kata Rina menunjukan kepada sebuah pohon palem dan menyerahkannya kepada Rio. Mereka pun segera menancap gas setelah menemukan mobilnya menuju ke rumah sakit Ananda.
"Lho tolong kabarin Vino San" kata Rio yang masih memegang stir mobil menuju rumah sakit.
"O.k!" jawab Sandi sambil mengambil benda pipih di dalam saku celananya.
*****
*D*iantara beribu bintang hanya kaulah yang paling terang di antara beri-....
****
"Ada apa San?" kata Vino di sebrang sana.
"Lho cepet dateng ke rumah sakit Ananda ya kita lagi on the way nih!" kata Sandi.
"Siapa yang sakit San?" terdengar suaranya begitu khawatir.
"Entar kita jelasin disana!" kata Sandi.
tanpa sepatah kata pun Vino mematikan sambungan telpon secara sepihak.
"Gimana?" tanaya Rio.
" Kayaknya sih lagi jalan deh" sambung Sandi sementara dua gadis di belakang mereka hanya diam terlihat dari raut wajah khawatir dari mereka.
"Kalian tenang aja Fika pasti baik baik aja kok" kata Sandi menenangkan mereka dan hanya di balas anggukan serta senyuman.
*****
"Lho mau apa lagi sih?" tanya Vino, emosinya sudah mencapai ubun ubun tinggal tunggu meledak saja.
"Gue cuman mau Fika!" kata pria tersebut santai.
"Gue enggak bakalan kasih adek gue ke pria ******** kayak lho".
"Lho enggak punya pilihan" kata pria itu lagi.
"Lho bener bener kurang ajar ya!" kata Vino yang sudah menarik ketah baju pria itu.
"Sekalipun lho bunuh gue itu enggak bakalan ngaruh Vin, mau enggak mau terima enggak terima gue bakalan jadi adek ipar lho" katanya sambil tersenyum evil tentunya.
"Gue bakalan lakuin apapun buat bisa ngejauhin adek gue dari pria macam lho" kata Vino yang masih dengan emosinya.
"Udalah Vin! lho enggak bisa ngejauhin Fika dari gue sekalipun gue mati itu enggak akan berhasil" jawab pria itu masih dengan gaya santainya.
"Gue pasti bisa!" kata Vino yakin.
__ADS_1
sesaat pria itu tersenyum kemudian berkata
"Sekalipun lho harus kehilangan RIKA"
kata pria itu dengan kekehen yang terdengar menyeramkan
"LHO.......!"
nada vino naik 7 oktaf dari biasanya yang membuat beberapa pengunjung memandangi mereka. Vino pun melanjutka kata katanya.
"Kalau lho berani nyakitin Rika, gue bersumpah gue sendiri yang bakalan bunuh lho" katanya dengan penuh keyakinan dan emosi,
"Lho yakkkkk-...."
belum sempat pria dihadapannya ini menyelsaikan kalimatnya getar ponsel Vino menghentikan ucapannya.
"Sandi!"
gumam Vino yang heran kemudian segera menekan layar warna hijau.
"Ya San ada apa?", pikiran Vino tiba tiba mengarah pada Fika dia takut terjadi apa apa dengan adiknya itu,
"Lho cepet dateng ke rumah sakit Ananda ya kita lagi on the way nih" kata Sandi di sebrang telpon, jantung Vino pun seakan berhenti pikiran burukpun menghantuinya.
"Siapa yang sakit San?" Vino kembali betanya untuk menghilangkan pikiran negatif dari otaknya itu.
"Entar kita jelasin disana" jawabnya yang membuat Vino semakin khawatir seketika ia mematikan sambungan telponnya tanpa menghiraukan pria yang ada di hadapnnya kini, dia segera bangun dan pergi ke rumah sakit tanpa berkata sepatah katapun dengan lawan bicaranya. Sementara pria itu hanya diam memperhatikan ekspresi Vino dan pergi begitu saja pria itupun mengikuti Vino dari arah belakang tanpa sepengetahuannya.
******
Kini Ryan dan Dana berada pada sebuah pintu yang menghalangi pandagnnya dari Fika, seorang dokter telah masuk untuk memeriksa keadaannya, Beberapa saat kemudian keempat teman mereka menyusul.
"Gimana keadaan Fika?" tanya Rina.
"Masih di periksa dokter" kata Dana.
mereka hanya bisa menunggu dan tiba tiba suara yang cukup familiar terdengar dari arah belakang mereka
"Fika kenapa??" tanyanya.
seketika mereka semua terdiam.
seseorang kemudian memecahkan keheningan yang seperti kuburan tersebut karna tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Vino.
"Siapa yang sakit?" tanya suara barinton tersebut.
semua menoleh ke arah asal suara termasuk Vino dan betapa terkejutnya meraka terutama geng SARDESFIK,
__ADS_1
"kakak.....!" gumam SARDESFIK kompak.
jangan lupa kritik dan sarannya ya sobat biar nulisnya makin semangat ๐๐terimakasih buat semua yang udah sempat mampir ke ceritaku sekaligus meninggalkan jejak kalian, ๐๐ buat kalian