
hay gays ketemu lagi ma aqπ
jangan lupa kritik dan sarannya ya, biar aku nulisnya lebih semangat,
πππ
Setelah keluar dari kamar Vino, Rina segera menuju ke ruang tamu disana sudah menuggu sahabat sekaligus tamu mereka.
"Lho kok lama banget sih Rin?" tanya Sary sambil menyilangkan kedua tangannya kedada.
"Sorry tadi gue bantuin kak Vino buat rapiin bajunya!" jelas Rina.
"Lah si Vino di bantuin, lah kita cuman di liatin aja dari tadi barangnya, gak niat apa buat bantuin?" keluh Rio.
"Entar kita bantuin kok, tapi pulang dari pantai ya!", jawab Sary dengan kekehan kecil.
"Janji nih!" sambung Dana lagi.
"Yayaya nanti" bukan sekarang.
"Ok entar kita tagih janji lho!" sambung Rio.
tak lama kemudian Vino muncul,
"Lama baget sih bro gue sampai lumutan nungguin lho" keluh Rio.
" Alah cuman setangah jam doang kok, ni juga masih sore belum malem" sambung Vino,
"Emang kalian enggak mandi apa tanya Vino pada The Boy's yang melihat mereka masih memakai baju yang di pakai saat berangkat tadi".
"enggak entar kita mandi di pantai aja sekaliabn" jawab Sandi.
"ya udah deh buruan berangkat entar kesorean lagi" kata Fika.
merekapun segera memasuki mobil masing masing, SARDESFIK dengan mobil Sary sementara The Boy's dengan mobil Rio bersama Vino,
Lebih kurang dua puluh lima menit mereka sampai di pantai, ada beberapa cafe dipinggiran pantai dan juga restoran seafood disana jadi enggak usah khawatir buat kelaperan.
Setelah turun dari mobil mereka segera
menuju pasir putih nan bersih karna disini banyak sekali petugas yang membersihkannya secara pantai ini sudah di kelola oleh perusahaan milik dari keluarga Desi, dan resto seafood itu salah satu miliknya, sampai di pantai mereka memasuki cafe sekaligus resto untuk memesan beberapa makanan dan coffe sesuai selera masing masing berbeda dengan para cewek cewek yang hanya memesan jus kesukaan mereka pada meja yang terpisah. Karna sebelum bermain air mereka harus isi perut dulu bukan?
saat makan berlangsung suara getar ponsel Vino menghentikan mereka,
derrrrrrrrrrrtttt
derrrrrrrrrrrrtttt
"Sorry gays gue angkat dulu ya" Vino meminta izin pada para sahabatnya.
mereka hanya menganggukan kepala tanda ia karna didalam mulut mereka masih ada makanan.
disamping restaurant
__ADS_1
"Hallo ini siapa?" tanya Vino karna nomor yang menelponnya tak ada nama alias nomor baru.
"Lho lagi dimana sekarang gue cari kerumah enggak ada orang" kata seseorang yang memiliki suara barinton d sebrang telpon.
deg.....
deg ...
deg...
detak jantung Vino seolah berhenti mendengar siapa yang sedang berbicara dengannya saat ini.
"Mau apa lho telpon gue?" kata Vino yang nadanya naik menjadi tiga oktaf lebih tinggi.
"Heyyy..!! lho nanya gue mau apa! dimana Fika? gue mau ketemu ma dia! sekarang lo kasih tau gue dimana lho!"
"Lho gk pernah bosen apa ngejar ngejar adek gue? yang jelas jelas udah nolak lho malahan sekarang dia enek liat muka lho!".
"Lho enggak bisa halangin gue buat deket ma Fika! dia itu calon istri gue! catat baik baik dalam otak lho".
"Itu hanya akan terjadi dalam mimpi lho" sambung Vino masih dengan amarah yang menguasainya.
"Lho jangan main main ya Vin! gue bisa lakuin apa aja buat dapetin Vika termasuk kartu AS lho!".
"Lho ngancem gue brengsek!" sambung Vino.
"Lho temuin gue sekarang atau-...." belum sempat pria disebrang sana melanjutkan kata katanya Vino sudah memotongnya.
suara telpon pun terputus.
"brengsek, ********, kapan dia kembali dari Amrik sih, gue harus bisa buat ngelindungin Fika,gumamnya sendori sambil mengacak ngacak rambutnya yang membuat dia terlihat lebih menggoda (sempet sempetnya author muji liat orang lagi pusingππ)
beberapa saat Vino mencoba menguasai emosinya agar terlihat biasa saja tanpa ada yang curiga , Akhirnya dia kembali ke meja tempat para sahabatnya,
"Gays gue titip mereka ya!" kata Vino sambil menunjuk ke arah meja SARDESFIK.
Ryan yang heran pun buka suara.
"Lho mau kemana Vin?" tanyanya.
"Gue ada urusan bentar, sebelum jam tujuh malam gue udah balik kok" jawabnya.
"Lah lama banget emang mau kemana sih?" tanya Sandi yang sifat keponya keluar,
"Gue ada janji dadakan ini penting banget please kalian jaga mereka ya dan satu lagi kalian jangan kasih Fika main wahana apapun yang kearah tengah laut soalnya dia enggak bisa berenang" tambah Vino.
"Ya udah gue pergi dulu" kata Vino yang berjalan terburu buru.
"Tuh anak kenapa sih kayak mau dapet rotre aja pergi buru buru banget", kata Rio yang masih terheran.
"Udah ah cepetan abisin makanan lho biar kita bisa main air" kata Sandi.
****
__ADS_1
"Fik kak Vino mau kemana tuh kayaknya buru buru banget deh?" kata Desi, yang melihat Vino tergesa gesa.
"Tau ah bodo amat entar juga balik lagi" kata Fika yang masa bodo,
"Udah kelar apa belum sih minumnya?" tanya Sary.
"Udah nih!" sambung mereka bertiga.
"Gays kita main banana buts ya?" pinta Rina.
"Ok!" sambung Sary dan Desi kompak. berbeda dengan Fika yang hanya bisa diam.
"Fik lho ikut kita main kan?" tanya Rina penuh harap.
"Gue enggak bisa say! lho kan tau gue punya trauma" sambung Fika.
sesaat Rina meghela nafas,
"Mau sampai kapan lho enggak mau main air? trauma itu enggak bakal ilang kalau lho enggak coba buat ilangin" kata Rina,
"Tapi gue takut gays" Fika hanya menunduk sedih jujur dia tidak berani untuk bermain di tengah laut selain hanya desiran ombak yang menyapu kakinya saat bermain ke pantai.
"Fik lho udah hampir lima tahun sahabtan ma kita, tapi lho enggak pernah sekalipun ikut main bareng kita kalau ke pantai, apa lho cuman mau nonton doang?, gue pengen lihat lho bangkit dari trauma lho Fik! gue pengen liat lho enggak takut lagi sama yang namanya laut!, apa sampai tua lho enggak bakalan main air kali ini aja ya lho cob!" terlihat dari raut wajah Rina terlihat sedih dan penuh harap.
"bener juga kata Rina sampai kapan gue harus pelihara trauma ini? gue harus coba!" batinnya.
"Ya deh gue ikut" kata Fika.
"Lho serious Fika" tanya Sary memastikan.
"Ya gue serius kok, lagian kalau enggak di coba mana bisa tau" jawab Fika. yang sebenarnya juga belum yakin seratus persen dia bisa tapi dia harus tetep buat coba.
"Lho yakin bisa dan mau ikut?" tanya Desi kembali, takut takut kalau Fika masih ragu.
"Gue yakin kok" jawab Fika lagi.
setelah semua selesai merekapun segera pergi menuju ke area yang menyediakan perlengkapan untuk menaiki wahana tersebut, dengan takut dan ragu.
kini mereka telah memakai pengamannya dan mulai bermain di tengah laut dengan sebuah jet yang menarik benda berbentuk pisang tersebut ketengah laut dengan jarak seratus sampai seratus lima puluh meter dari bibir pantai, Fika sangat menikmatinya.
"Gila disini masih asri ya!" gumam Rio
yang melihat beberapa tumbuhan laut dari atas permukaan laut yang tumbuh di dalamnya tanpa ada bahan kimia yang merusak dengan sebuah perahu nelayan yang membawa mereka menyusuri indahnya pantai ini.
"Gue suka udara disini tanpa polusi!" kata Sandi yang merentangkan tangannya menikmati udara yang menyapu wajah tampannya.
"Disini pemandangannya indah banget, bisa liat bukit juga yang hijau" tambah Dana, tapi berbeda dengan Ryan yang fokus melihat kearah keempat gadis yang sedang bermain banana boats tersebut, hingga beberapa saat kemudian, saat sedang menepi banana boats yang di tunggangi mereka terhempas karna ombak yang menghantamnya.
burrrrrrrrrrrrrrrrrrr.....
(anggap aja suara ombak ya gaysπ)
jangan lupa komen ya gays maklum pendatang baru masih butuh masukan,π
__ADS_1