
"Key tunggu!" Rian berlari kemudian menarik tangan Keynan untuk mencegahnya pergi. Keynan pun berhenti dan kembali menatap Rian. "Aku mohon katakan dimana Namira, aku sangat menyesal Key, dan aku sudah salah paham selama ini. Aku sudah tau kalau anak yang dikandung Namira adalah--"
"Adalah anakmu begitu?" Ucap Keynan memotong perkataan Rian." Kau menyesal karena baru mengetahui hal itu dan sekarang setelah apa yang kau lakukan padanya kau ingin mencarinya lagi?" Rian menggeleng dengan air mata yang tiba-tiba menetes begitu saja.
Tak sungkan bahkan Rian tiba-tiba bersujud dikaki Keynan dan memohon agar Keynan bisa mempertemukannya dengan Namira. Namun mengingat akan apa yang sudah dilakukan Rian pada Namira, maka tidak semudah itu Keynan bisa luluh begitu saja.
"Menyingkirlah kau tidak perlu melakukan hal bodoh seperti ini." Keynan menjauh dari hadapan Rian yang tengah bersujud padanya itu.
"Key, aku mohon. Apa kau tega memisahkanku dengan anakku?" Seketika tatapan tajam pun langsung menusuk kearah Rian. Bagaimana bisa Rian mengatakan hal itu tanpa mengingat apa yang sudah ia perbuat pada Namira.
Muak mendengar semua ucapan yang Keynan anggap hanya omong kosong belaka itu, maka Keynan langsung pergi begitu saja dari hadapan Rian tanpa mengatakan apapun lagi.
__ADS_1
"Key tunggu!" Seru Rian namun tidak diabaikan sama sekali oleh Keynan. Dan saat Rian akan mengejar Keynan, tiba-tiba Devdan menarik tangan Rian dan menghentikam langkahnya.
"Tunggu Rian."
Rian menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya menatap Devdan. "Dev, aku yakin Namira ada disini. Tapi Keynan dia--" Devdan menepuk pundak Rian dan Rian pun terdiam dengan kegelisahannya.
"Namira memang ada disini, dia tinggal dikamar 1403." Mendengar ucapan Devdan sontak Rian pun langsung terperangah. "Kamar 1403 bukankah kamar itu ada di--" Belum selesai Rian bicara, ia langsung berlari menuju kamar hotel kembali untuk memastikkan bahwa gadis yang ia lihat saat itu dikamar bernomorkan tersebut adalah benar Namira.
"Kenapa mas Rian ada disini? Mungkinkah dia mencariku? Akhh..." Namira meringis sakit saat merasakan tendangan yang cukup kuat didalam perutnya. "Maafkan ibu nak, ibu belum siap untuk bertemu ayahmu." Ucap Namira seraya mengusap lembut perut buncitnya.
Tak lama ponsel Namira bergetar mendapat sebuah pesan. Namira membukanya dan ya, itu adalah pesan dari Keynan yang mengatakan jika ia sudah mengirimkan seseorang untuk menjemput Namira pergi dari hotel tersebut. Setelah membaca pesan tersebut tiba-tiba pintu kamar Namira terketuk cukup keras dari luar.
__ADS_1
"Tok... tok... tok"
"Siapa itu? Bagaimana kalau itu mas Rian?" Ucap Namira dengan perasaan takutnya. Pintu semakin terketuk lebih keras dan perlahan Namira melangkah mendekat pada pintu lalu membukanya.
"Ceklek..."
"Nona, aku adalah orang suruhan tuan Keynan yang ditugaskan untuk menjemput anda."
"Keynan dimana sekarang?" Tanya Namira pada seseorang tersebut.
"Tuan Keynan menunggu anda disuatu tempat, ayo nona kita harus pergi sekarang." Namira mengangguk cepat dan kemudian ia pun pergi meninggalkan kamar hotelnya bersama orang suruhan Keynan. Sengaja Keynan menyuruh seseorang untuk membawa Namira karena agar bisa mengelabuhi Rian supaya Rian tidak berpikir jika Namira memang ada bersama Keynan.
__ADS_1