
"Klak..."
Pintu mobil terbuka dan kedua mata Rian seketika berkaca-kaca saat melihat Namira yang berada didalamnya.
"Namira..."
"Mas Rian?" Namira mendongak menatap Rian dengan mata terbelalaknya. Perlahan Rian memegang tangan Namira dan mengeluarkannya dari mobil.
"Namira, akhirnya aku bisa menemukanmu. Maafkan aku Namira, tidak seharusnya aku--" Ucapan Rian terhenti saat Namira melepas pegangan tangan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Aku sudah melupakan itu mas, dan sebaiknya kau pergilah." Namira yang akan berlalu dari hadapan Rian justru dicegah oleh Rian kembali.
"Lepaskan tangan Nona Namira." Pekik James yang langsung mendorong Rian untuk menjauh dari Namira. Melihat wajah James yang terluka membuat Namira seketika menjadi khawatir. "James, wajahmu--"
"Tidak apa-apa Nona, ayo kita pergi." James menarik tangan Namira namun ditarik satu tangan Namira lagi oleh Rian. "Lepaskan istriku!" Sentak Rian pada James.
Terjadilah saling tarik menarik yang terjadi antara James dan Rian hingga datanglah Keynan yang tiba-tiba menendang punggung Rian.
"Dugh..."
"Rian!" Teriak Devdan saat melihat Rian tersungkur. Devdan pun berlari menghampiri Rian sedangkan Keynan menarik tangan Namira dan membawanya pergi.
"Mas Rian..." Langkah Namira terhenti saat melihat Rian yang berdiri dengan dibantu oleh Devdan. "Ayo Namira kita pergi." Ucap Keynan seraya menarik tangan Namira namun Namira masih diam melihat kearah Rian.
"Ayo Nona Namira." Tidak bisa dipungkiri tatapan Namira terhadap Rian masih menyimpan begitu banyak cinta. Terbukti bagaimana saat gadis itu tidak bisa pergi saat melihat pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu tengah terluka.
__ADS_1
"Namira, aku mohon jangan pergi. Maafkan aku Namira, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Tidak akan ada lagi kebo--" Muak mendengar ucapan Rian, dengan cepat Keynan melangkah mendekat ke Rian lalu menarik ketah kemeja Rian dengan kasar.
"Tutup mulut sampahmu itu Rian! Sudah sejauh ini kau melukainya dan sekarang kau ingin dia kembali dan memaafkanmu hah!" Pekik Keynan dengan tangan yang sudah melayang tepat diwajah Rian.
"Hey!!!" Teriak Devdan yang akan menghalangi pukulan Keynan namun ditahan oleh Rian.
"Katakan padaku apa yang kau inginkan hah! Apa kau tidak cukup puas sudah menyakitinya!" Dengan membendung air matanya, Rian hanya terdiam, dengan menatap kearah Namira yang tengah berdiri cukup. jauh darinya.
Namira sendiri juga tidak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes saat menatap wajah penuh penyesalan dari suaminya itu. Sementara Keynan yang sudah benar-benar kehilangan kesabarannya, langsung memukul wajah Rian dengan keras hingga membuat pria itu terpental ditengah jalan.
Dengan senyum kemarahannya pula, keynan melangkah perlahan mendekati Rian lagi lalu menarik kerah kemeja Rian dan akan kembali memukulnya. Disana baik Devdan dan James sama-sama tidak bisa melakukan apapun lantaran Rian yang sudah memberikan kode agar membiarkan Keynan melakukan apapun padanya.
Saat Rian dan Keynan yang tengah berdebat disebrang jalan, tanpa keduanya sadari ada mobil besar yang melintas dengan kecepatan tinggi disana.
Dan Namira yang melihat hal itu pun sontak dibuat terperangah. Rasa sakit pada perutnya seketika hilang saat melihat mobil tersebut melaju dengan kencang dan itu mengarah pada Rian dan Keynan.
Namira berlari sekuat mungkin dan tiba-tiba mendorong tubuh Keynan dan Rian hingga membuat dua pria itu terpental.
"Nona Namiraaaa..." Teriak James sekuat tenaga saat mobil yang melaju cepat tersebut menabrak Namira yang tertahan dan tidak sempat lari dari sana.
"Brugh...!!!"
Kedua mata Keynan dan Rian seolah tidak berkedip saat melihat Namira yang terkapar dengan penuh darah.
"Na-Namira..." Rian beranjak dan langsung berlari menghampiri Namira. Pria itu memeluk tubuh lemah Namira seraya menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Mas Rian..." Ucap Namira dengan suara lirih lemahnya.
"Iya, iya sayang? Bertahanlah kita akan kerumah sakit sekarang." Namira menahan tangan Rian dan tersenyum manis seraya menatap wajah tampan suaminya tersebut.
"Tidak usah mas, sudah tidak ada waktu lagi untuk sampai disana."
"Kau bicara apa hum? Kau pasti baik-baik saja. Aku belum sempat menjelaskan semuanya padamu jadi bertahanlah kita akan kerumah sakit sekarang."
"Devdan siapkan mo--" Teriakan Rian memanggil Devdan terhenti saat Namira meraih tangan Rian dan meletakkannya diperut buncit Namira.
"Lihat ini mas. Ini adalah anak kita, bayi kita. Dia milikmu mas, dia bukan anak Keynan seperti apa yang kau pikirkan. Aku sangat mencintaimu dan tidak mungkin aku menghianatimu. Maaf kalau aku--"
"Sssssttt... jangan bicara apapun lagi. Aku percaya padamu Namira dan aku juga sangat mencintaimu." Ucap Rian dengan tangisannya menatap wajah Namira.
Namira tersenyum lalu memejamkan matanya sekilas. "Namira, bertahanlah aku mohon, bertahan lah sayang... hiks..."
"Kau menangisiku? Tanya Namira seraya mengusap wajah tampan Rian. "Jangan menangis, sebentar lagi beban hidupmu akan hilang, sebentar lagi juga kau tidak akan lagi melihat orang yang paling kau benci didunia ini." Rian menggeleng dan semakin menangis terisak mendengar ucapan Namira.
"Berjanjilah padaku mas, jika anak kita masih bisa hidup maka aku mohon jangan pernah membencinya."
"Kau bicara apa Namira? Hum? Baik kau dan juga anak kita, kalian akan baik-baik saja. Aku bersumpah aku akan membahagiakan kalian, aku akan menebus kesalahku pada kalian, hum.." Ucap Rian seraya mencium lembut punggung tangan Namira.
Namira tersenyum dan kemudian tatapan lemahnya itu menatap kearah Keynan. Seolah mengisyaratkan kata terima kasih dibalik matanya, kemudian perlahan kedua mata Namira tertutup rapat dan tubuhnya melemah.
"Namira? Namira kau mendengarku? Namira sayang?" Rian menepuk pipi Namira berulang kali namun Namira sudah tidak meresponnya lagi.
__ADS_1
Dan tak lama mobil ambulance pun datang. Namira dipindahkan kemobil ambulance tersebut dan langsung dibawa kerumah sakit. Hingga sesampainya dirumah sakit Namira langsung dibawa keruang penanganan intensif disana.
"Mohon tunggu diluar tuan." Dokter menutup pintu ruangan dan Rian duduk dengan perasaan cemasnya. Sedangkan Keynan berdiri dijendela ruangan Namira dirawat. "Bertahan lah Namira, tidak masalah jika tidak bisa bersamamu, jika bersama Rian adalah kebahagiaanmu maka kumohon bertahanlah." Ucap lirih Keynan dengan air mata yang menetes deras dipipinya.