Air Mata Pernikahan

Air Mata Pernikahan
Bab 43


__ADS_3

3 Jam kemudian.


Selama itu dokter belum juga keluar dari ruangan Namira dirawat. Kecemasan dan kegelisahan semakin menggelayuti pikiran Rian mau pun Keynan. Tak hanya itu, Devdan dan James yg ada disana pun terlihat tidak bisa tenang.


Keduanya terus berjalan mondar-mandir kesana kemari menunggu kabar tentang bagaimana keadaan Namira. Hingga tak lama kemudian pintu pun terbuka dan dokter pun keluar sana.


"Ceklek..."


"Bagaimana keadaan istriku dokter?" Tanya Reiner yang langsung menghampiri dokter tersebut. Dokter itu pun hanya menunduk diam yang membuat Rian terlihat semakin cemas.


"Dokter, kenapa kau diam saja? Bagaimana keadaan istriku dan juga anakku?"


"Maaf tuan." Ucap dokter tersebut seraya menggelengkan kepalanya.


"Maaf? Ma-maaf untuk apa dan ke--"


"Istri dan anak anda tidak bisa kami selamatkan." Ucapan dokter itu pun seketika meruntuhkan dunia Rian. Air matanya seketika menetes, kedua tangannya saling mengepal erat dan seolah detak jantuknya tidak bisa lagi berdetak.


Sama halnya dengan Rian, Keynan pun terdiam dan seolah tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun setelah mendengar ucapan sang dokter.


"Apa kau sedang mempermainku dok? Hah? Katakan padaku, jika yang yang kau ucapkan ini semua bohong, katakan jika Namira dan bayinya baik-baik saja, katakan ji--" Ucapan rian terhenti saat kedua matanya melihat kedalam ruangan Namira dirawat.


Terlihat para dokter tengah melepas semua alat bantu yang menempel pada tubuh Namira. "Hentikan!" Teriak Rian yang kemudian masuk kedalam ruang rawat. Dokter pun menghentikan apa yang mereka lakukan dan menatap kearah Rian yang mendekat kearah Namira.


"Tuan apa yang kau lakukan? Pasien sudah me--"


"Tidak!" Sentak Rian pada semua dokter dihadapanya. Ya, Rian yang seolah tidak percaya jika Namira sudah meninggal, tetap melakukan hal yang diluar nalar. Dimana ia kembali memasangkan semua alat bantu yang sudah dilepas para dokter dan berharap jika Namira masih dalam keadaan baik-baik saja.


"Tuan kau tidak bisa me--" Ucapan dokter pun terhenti saat Keynan masuk dan memberikan isyarat pada mereka untuk membiarkan apa yang dilakukan Rian pada Namira.


"Namira bangun lah, kau tidak bisa seperti ini. Jangan membuatku takut aku mohon Namira." Rian terus menangis didekat Namira, dan tidak henti-hentinya pria itu terus memohon agar sang istri untuk bangun kembali.

__ADS_1


"Maaf... maafkan aku Namira, bangun lah aku mohon. Aku ingin mengatakan banyak hal denganmu. Bangun lah dan aku berjanji akan menerima hukuman apa pun darimu untuk membalas semua yang kulakukan padamu dulu Namira"


"Bangun Namira, banguuunn!!!! hiks... hikss..."


Tangis pun seketika pecah, Rian menggoyangkan tubuh Namira namun Namira tidak merespon sedikit pun. Seolah merasa gagal, Rian pun mengamuk dan menyalahkan semua dokter karena tidak bisa menyadarkan sang istri.


"Kalian semua!" Pekik Rian seraya menunjuk pada semua dokter disana. "Bukan kah kalian seorang dokter? Kenap kalian tidak bisa membuatnya bangun? Kenapa! katakan padaku kenapa hah!" Teriak Rian seraya menarik kerah salah satu dokter tersebut.


"Rian apa yang kau kau lakukan, lepas!" Keynan menarik Rian untuk melepas cengkraman itu pada sang dokter. Sedang Rian terus saja mengamuk dengan banjir air mata dan terus menyalahkan para dokter atas apa yang terjadi pada Namira.


"Aky minta kalian bangun kan istriku sekarang, cepat!" Sentak Rian yang kemudian ditarik tangan Rian oleh Keynan.


"Tidak bisakah kau diam hah!" Sentak Keynan padan Rian. "Apa kau tidak bisa melihat jika Namira sudah tidak ada? Namira sudah pergi Rian, sudah pergi!" Rian menggelengkan kepala tidak percaya akan ucapan Keynan.


"Dia masih hidup Key, dia sedang berjuang untuk melahirkan bayinya dan dia sudah--"


"Diam Rian! Cukup dan hentikan omong kosongmu itu!" Pekik Keynan dan Rian pun terdiam dengan air mata yang terua mengalier deras.


"Aku belum sempat menjelaskan apa pun padanya Key, aku mohon bicara lah dengannya dan minta dia untuk bangun. Dia pasti akan menurutimu, ayo Key lakukan lah untukku sekali ini saja Key." Tak kuasa melihat Rian memohon dengan tangisannya, Keynan pun memeluk sahabatnya itu dengan begitu erat.


"Aku mohon bicaralah padanya dan minta dia untuk bangun Key, aku mohon." Ucap Rian dengan tangisannya dalam pelukan Keynan.


Meski apa pun yang sudah terjdadi sebelumnya namun tetap saja, Keynan tidak tega saat melihat bagaimana sahabatnya itu menangis dengan penuh penyesalannya yang luar biasa terlihat.


"Dia sudah memaafkanmu Rian. Percayalah karena dia sangat mencintaimu. Dia sudah memaafkanmu dan dia percaya padamu meski pun kau tidak sempat menjelaskan apapun padanya." Kata Keynan mencoba terus menguatkan Rian meski dirinya sendiri sebenarnya tidak bisa menerima akan kepergian Namira.


1 Jam kemudian setelah melalui banyaknya drama, akhirnya Rian dengan sangat berat hati sudah bisa menerima jika Namira sudah benar-benar tidak ada.


Setelah tubuh Namira selesai dibersihkan, kini Namira siap untuk dimakamkan. Baik Keynan, Rian , James dan Devdan juga ikut untuk memakamkan jasad Namira.


Dengan tubuh lemas dan pikiran kosongnya Rian hanya terdiam disepanjang perjalanan menuju pemakaman. Sedangkan Keynan diam-diam menangis dalam diamnya saat mengingat bagaimana gadis yang sangat ia cintai itu harus pergi untuk selamanya.

__ADS_1


Hingga sesampainya disebuah pemakaman, kini jasad Namira dan bayinya dimakamkan makam yang bersebalahan. Dan setelah pemakaman selesai, Rian duduk disamping makam Namira.


"Selamat tinggal sayang. Maaf... aku belum bisa membahagiakanmu dan anak kita. Dan maaf selama ini sudah sangat kejam memperlakukanmu. Aku berjanji padamu, jika kelak ada kehidupan kedua yang mempertemukan kita kembali, maka aku tidak akan pernah melepasmu." Ucap Rian seraya mengusap batu nisan sang istri.


"Maafkan aku Namira..." Lagi-lagi Rian pun tak kuasa menahan tangisnya, pria itu menangis kembali untuk kesekian kalinya didekat makan sang istri.


"Ayo Rian kita pulang, kau harus beristirahat." Kata Devdan seraya mengulurkan tangannya dihadapan Rian.


"Aku ingin disini dulu Dev." Ucap Rian yang enggan untuk meninggalkan makam Namira.


"Pulang lah Rian, kau juga terluka jadi sebaiknya pulanglah dulu." Ucap Keynan pada Rian.


Sejenak Rian pun terdiam dengan terus menatapi makam Namira. Kemudian ia mencium batu nisan bayinya dan juga Namira secara bergantian kemudian berdiri menghadap Keynan.


"Maafkan aku Key karena aku sudah--" Ucapan Rian terhenti saat Keynan menepuk pundaknya. "Semua sudah berakhir jadi berhenti untuk meminta maaf karena aku sudah memaafkanmu. " Kata Keynan dan Rian langsung memeluk sahabatnya itu.


James dan Devdan saling dan menatap dan tersenyum saat melihat Rian dan Keynan kini kembali berhubungan baik. Dan kini Rian dan Keynan pun pergi bersama dengan mobil yang dikendarai oleh James.


Rian melangkah pergi perlahan dari makam seraya melihat kearah makam Namira. Dengan penuh penyesalan Rian hanya bisa tersenyum sedih seraya melambaikan tangannya kearah makam Namira.


...****************...


3 Tahun kemudian.


Setelah kejadian yang memilukan yang menghilangkan nyawa Namira, kini Rian menjadi sosok pria yang dingin dan pendiam. Dia tidak pernah sekali pun menambatkan hatinya pada wanita mana pun meski banyak wanita yang ingin menjadi miliknya.


Dalam hidup Rian hanya terbayang-bayang akan penyesalannya yang sudah pernah menyia-nyiakan Namira. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali selalu datang mengunjungi makam Namira untuk selalu menceritakan tentang kerinduannya pada mendiang sang istri.


Sedangkan Keynan, kini ia sudah menemukan tambatan hatinya bahkan kekasihnya saat ini sudah mengandung bayi miliknya yang berusia 5 bulan dan sudah berencana untuk segera menikah.


Meski begitu namun Keynan tidak pernah lupa akan cintanya dengan Namira. Setiap tahun kelahiran Namira, Keynan dan kekasihnya selalu mengunjungi makam Namira dengan membawa sebuket bunga mawar putih yang ditinggalkan dimakam Namira.

__ADS_1


THE END


__ADS_2