
Dengan cepat Namira dan orang suruhan Keynan pun pergi meninggalkan kamar hotel. Namun baru berapa langkah keduanya berjalan, terdengar suara teriakan memanggil nama Namira.
"Namira!"
Sontak Namira pun menoleh dan terkejut saat melihat Rian yang tengah berdiri jauh dibelakangnya. "Ayo Nona cepat." Suruhan Keynan menarik tangan Namira agar berjalan lebih cepat lagi.
"Namira please stop!" Teriak Rian seraya berlari mengejar Namira. Sedangkan suruhan Keynan menarik tangan Namira dan membawanya lari lebih cepat.
"Akhh... perutku." Namira berhenti saat merasakan keram pada perut buncitnya. "Nona kau tidak apa-apa?" Tanya suruhan Keynan dengan khawatir seraya sesekali menengok kebelakang. "Perutku sakit sekali." Ringis Namira menahan sakit."
Melihat kondisi Namira yang kesakitan sangat tidak mungkin jika suruhan Keynan membiarkan Namira untuk terus berlari. "Maaf jika lancang nona, ayo aku akan membantumu." Dengan sigap suruhan Keynan itu pun membopong tubuh Namira dan membawanya lari dengan cepat sebelum diketahui oleh Rian.
"Brengsek! Berhenti! Mau kau bawa kemana istriku!" Pekik Rian dengan rasa kesalnya seraya terus berlari mengejar mereka berdua.
"Apa masih sakit Nona?"
__ADS_1
"Sedikit." Ucap Namira dengan suara lemahnya.
"Bertahanlah Nona aku mohon." Sesampainya dimobil dengan cepat suruhan Keynan itu membawa Namira masuk kedalam mobil tersebut lalu bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
"Arrgghh... sial!" Rian yang emosi pun juga bergegas masuk kedalam mobilnya dan mengejar mobil yang dikendarai Namira. "Rian tunggu." Devdan memberhentikan mobil Rian dan kemudian ia ikut masuk kedalam mobil tersebut.
"Biar aku yang menyetir." Devdan mengubah posisinya duduk dikursi kemudi lalu melajukan mobilnya. "Cepat Dev kejar mereka!" Teriak Rian dengan frustasi.
Sementara itu didalam mobil, Namira mulai merasakan keram pada perutnya yang bertambah menjadi rasa yang semakin sakit. "Ssshhh... perutku." Karena rasa sakitnya Namira tidak sadar jika tangannya sampai meremas paha orang suruhan Keynan.
"Tuan, sepertinya aku sudah tidak kuat lagi." Namira semakin kuat meremas paha orang suruhan Keynan tersebut. "Nona panggil aku James jangan memanggilku dengan sebutan tuan kalau tidak maka tuan Keynan akan--"
"Iya James maaf, bisakah kau berhentikan mobilnya? Ini sakit sekali." Ucap Namira dengan satu tangannya yang memegang perut buncitnya dan satu tangannya lagi meremas kuat paha James.
Sementara dibelakang mobil James terlihat mobil Rian yang semakin dekat melaju kearah mobil yang dikendarai James dan Namira.
__ADS_1
"Namira kenapa kau lari saat melihatku? Perutmu sudah sangat besar. Maafkan aku Namira, maaf..." Rian mengusap kasar wajahnya frustasi, pikirannya bak kalang kabut dan kacau saat memikirkan tentang kandungan Namira.
"Dev apa tidak bisa lebih cepat!"
"Ini sudah sangat cepat Rian, didepan banyak kendaraan apa kau pikir aku harus menabraknya!" Keduanya justru saling beradu suara keras saat berusaha mengejar Namira.
Hampir 1 jam mobil Rian dan James saling kejar-kejaran hingga pada akhirnya mobil Rian bisa memberhentikan mobil James dengan menghadangnya dari depan.
"Akhh... James kenapa ber--"
"Tunggulah disini Nona." James turun dari mobil dan menghampiri Rian. Sebaliknya Rian dan Devdan juga turun dari mobil mereka dan menghampiri James.
"Apa yang kau inginkan? Singkirkan mobilmu sekarang." Ujar James pada Rian.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu, kenapa dengan berani kau membawa istriku pergi?" James melirik kebelakang mobilnya dengan perasaan cemasnya karena memikirkan Namira yang sejak tadi sudah mengeluhkan sakit.
__ADS_1
Dan untuk mengelebahui James, tiba-tiba Devdan memukul tepat diwajah James dan keduanya saling beradu kekuatan ditepi jalanan. Dengan begitu Rian menggunakan kesempatan tersebut dengan berlari kearah mobil James untuk menemui Namira.