Akbar Dan Nessa

Akbar Dan Nessa
Halaman 1 - Danessa Aulia


__ADS_3

Danessa Aulia adalah seorang gadis cantik berusia 22 tahun, dengan rambut panjang lurus, memiliki tinggi yang semampai, berkulit putih. Dia adalah seorang penulis freelance yang mempunyai hobi fotografi dan berjiwa bebas.


Gadis yang biasa dipanggil Nessa itu tinggal di sebuah apartemen sederhana yang terletak di pinggiran ibu kota. Bukan, dia bukannya tidak memiliki keluarga, hanya saja keluarganya bertempat tinggal di sebuah kota yang tidak terlalu besar di daerah Kalimantan, sedangkan gadis itu memilih untuk berkarir di Kota yang menjadi Jantung dari negara ini, Jakarta.



Nessa yang sedari tadi sibuk menggerakkan jari lentiknya di atas papan keyboard mulai merasa jenuh, matanya mulai pedih karena berjam-jam lamanya menatap monitor laptop miliknya, hari ini dia harus menyelesaikan deadline tulisannya. Yah, karna dia cukup professional dalam pekerjaannya, dia mampu menyelesaikan tulisannya satu jam lebih awal dari waktu yang telah ia janjikan.


Segelas es moccacino dan croissant kesukaannya sepertinya cukup untuk mengurangi kepenatannya siang ini, pikirnya. Dia pun berdiri dari posisinya, sejenak merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena terlalu lama dalam posisi duduk, berjalan kearah meja rias, sedikit memberikan riasan tipis pada wajahnya. Celana jeans panjang ia padukan dengan kaos putih dan juga blazer rajut warna coklat, sangat cocok ia gunakan, gadis itu bergegas untuk menuju coffee shop favoritnya yang terletak di salah satu Mall yang berada di tengah kota, tak lupa dia mengambil tas selempang pink nya dan kunci mobilnya.


...****************...



Setelah 30 menit menempuh perjalanan yang menurutnya terasa panjang kali ini, Nessa segera memarkirkan mobilnya, berjalan santai memasuki mall, menaiki eskalator yang akan membawanya pada lantai berikutnya dimana coffee shop favoritnya berada.


Cafe dengan nuansa klasik dan interior yang cukup mewah itu sebenarnya tak hanya menyediakan berbagai menu kopi saja, ada beberapa menu minuman selain kopi dan juga makanan ringan, tetapi menurut Nessa moccacino dan croissant disini adalah menu yang paling ia sukai, selain itu cappuccino panas disini juga sangat lezat.


Nessa melangkah memasuki 'Namu Cafe' nama Coffee shop tersebut, aroma khas kopi yang menenangkan perlahan menusuk indra penciuman Nessa. Aromanya saja sudah benar-benar menggodanya, pikirnya. Gadis itu berdiri dibarisan orang-orang yang sedang mengantri untuk memesan. Hingga tiba gilirannya untuk memberitahukan menu yang ingin ia pesan kepada sang kasir.


"Hai Ness" Sapa seorang gadis sebaya Nessa, yang memakai seragam kafe. Ya dia adalah seorang kasir yang bekerja di Namu Cafe.


"Hai, Erika, gue pesan yang biasa ya" balas Nessa sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada Erika.


"Oke, 1 es moccacino dan 1 croissant, bener kan gue?" tanya Erika memastikan.


Nessa mengangguk, dan memberikan selembar uang kepada Erika, dan Erika pun menerimanya, kemudian memberikan kembalian serta struk kepada Nessa.


"Gue tunggu dimeja deket jendela yang paling sudut ya." Ucap Nessa menerima kembalian dari tangan Erika, setelahnya ia pun melangkahkan kakinya menuju meja yang menjadi tujuannya.

__ADS_1


Oh ya, yang tadi adalah Nimaz Erika, biasa dipanggil Erika, cukup dekat dengan Nessa, mereka saling mengenal karena Nessa sering sekali menghabiskan waktu di cafe ini, tempatnya bekerja, sehingga Erika sangat hafal dengan Nessa. Ditambah keramahan Erika yang dengan senang hati selalu menyapa Nessa dengan ramah, membuat mereka terlihat akrab.


Nessa mempunyai kepribadian yang cukup tertutup jadi tidak banyak teman yang ia miliki saat ini, terlebih dia tinggal di Kota yang bukan menjadi tempatnya tumbuh, jadi saat kali pertama hidup di Jakarta tak ada satu orang pun yang ia kenal, hingga Erika menawarkan diri untuk menjadi temannya dan akan mengenalkan Jakarta pada Nessa. Awalnya Nessa ragu, tapi pada akhirnya mereka pun berteman, tak jarang mereka menghabiskan waktu bersama mengelilingi Jakarta saat Erika libur dari rutinitasnya di Namu Cafe.


Nessa masih sibuk membaca novel yang sengaja ia bawa untuk menemaninya, bahkan biasanya dia akan membawa laptop dan melakukan pekerjaannya seharian di cafe. Disela-sela kesibukannya membaca novel, tampak seorang waiters berjalan mendekat kearah meja yang ditempati oleh Nessa.


"Permisi kak, maaf ini pesanannya, satu es moccacino dan satu croissant" Ucap sang waiters dengan senyum lembut, dan meletakan pesanan Nessa di atas meja.


"Terimakasih" Balas Nessa pelan.


"Kembali kasih, saya permisi" waiters itu pun berlalu sambil membawa nampan yang tadi ia gunakan untuk mengantarkan pesanan Nessa.


Nessa menutup buku novelnya, dan beralih pada segelas es moccacino yang terlihat menyegarkan, menikmati aromanya yang khas dan menyeruputnya perlahan, benar saja, hanya dengan segelas moccacino mampu membuat moodnya membaik. Gadis itu meletakan gelasnya dan beralih untuk menyantap croissant kesukaannya.


Sejenak Nessa menatap pemandangan diluar jendela, betapa sibuknya kota Jakarta setiap hari, bahkan di panas terik seperti ini pun tidak mengurungkan niat para pengguna jalan untuk tetap melaju, terbukti dari padat merayapnya jalan ibu kota siang itu.


"Halo ma"


 "....."


"Nessa udah makan ma, Nessa juga baik-baik aja disini, mama sehat kan?"


 "....."


"Iya ma, I love you too".


Nessa mengakhiri panggilan itu, dan melihat menu pesan pada benda persegi panjang itu, apakah ada pesan penting yang dikirim untuknya. Setelah dia membalas semua pesan yang masuk di ponsel tersebut, gadis itu kembali meminum moccacinonya dan segera menghabiskan croissant yang tinggal seperempat. Setelah ini ia ingin sekali ke toko buku yang berada tak jauh dari cafe untuk mencari beberapa novel terbaru dan bahan bacaan lainnya.


"Erika, gue cabut dulu ya" seru Nessa sambil melangkah pergi meninggalkan Namu Cafe

__ADS_1


Dan Erika hanya membalasnya dengan mengacungkan jempolnya, gadis itu masih sibuk melayani pembeli yang mengantri untuk membuat pesanan.



...****************...


Nessa melangkahkan kakinya ke toko buku yang menjadi tujuannya. Dia langsung menuju rak bagian buku fiksi, untuk melihat koleksi terbaru dari toko buku tersebut, sibuk dengan membaca cover depan dan belakang, membandingkan satu buku dengan buku yang lain, memilah buku mana yang menarik untuknya. Akhirnya ada satu buku yang dari judul ya saja sudah menggetarkan hatinya "Sepucuk surat untuk ayah", diambilnya buku tersebut dan menaruhnya di tas belanja yang disediakan oleh toko buku tersebut. Gadis itu masih harus mencari buku untuk menambah ilmunya tentang penulis freelance.


Dirinya yang sedang sibuk melihat-lihat barisan buku yang akan ia beli, tiba-tiba saja dikejutkan oleh seorang laki-laki yang berlari kearahnya dan sepertinya sedang memanggilnya. Nessa yang kebingungan mencoba menolehkan kepalanya kebelakang, memastikan apakah ada orang lain yang akan dituju pria itu. Hingga lelaki itu tiba tepat didepannya dengan nafas ngos-ngosan.


"Dari tadi gue nyariin loe, eh taunya loe disini." Ucap lelaki itu dengan masih mengatur nafasnya.


Nessa masih kebingungan akan kedatangan Pria tersebut, pasalnya dia sama sekali tidak mengenalinya.


"Astaga bego banget gue" Pria itu seperti tersadar akan kebingungan gadis dihadapannya.


"Ini, loe ninggalin ini dimeja cafe yang ada diujung sana tuh, makanya gue ngejar loe kesini" sang Pria menyodorkan sebuah buku dengan sampul berwarna biru sapphire.


"Astaga, ceroboh banget aku, maaf ya jadi ngerepotin kamu, but thankyou so much" Nessa menerima buku itu dan memasukannya kedalam tas.


"It's okay, yaudah kalo gitu gue balik dulu ke cafe, sorry juga karna udah nganggetin loe, dengan muncul tiba-tiba." Ucap Pria itu dengan senyum manisnya dan berbalik berjalan meninggalkan Nessa.


Nessa cukup terpesona dengan senyum yang dimiliki Pria itu, hingga akhirnya dia tersadar.


"Tunggu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_1


__ADS_2