Akbar Dan Nessa

Akbar Dan Nessa
Halaman 8 - Masa Lalu Akbar


__ADS_3

Nessa terkejut melihat kakaknya sudah duduk dihadapannya, dia pun mengerucutkan bibirnya sebal dan menatap tidak suka pada Yusuf. Gadis itu pun meletakkan ponselnya di atas meja, dan menyiapkan piring untuk segera makan.


"Sudah jangan banyak bicara, aku kelaparan karna begitu lama menunggumu, kau ingin adikmu ini mati kelaparan ya?".


Yusuf tertawa melihat tingkah adiknya yang langsung berubah masam ketika melihatnya, pria itu pun menerima piring yang disodorkan oleh adiknya.


"Jangan berlebihan, mana ada seorang kakak yang ingin melihat adiknya mati kelaparan." Pria itu pun segera menyuapkan sendok demi sendok ke mulutnya, dia benar-benar lapar sepertinya.


Nessa hanya menatap kakaknya datar, gadis itu sudah tidak heran dengan cara makan pria itu, seperti orang yang tidak pernah makan saja, menjijikan. Lantas dia pun mengikuti sang kakak untuk mulai makan masakannya.


"Aku akan menetap di Jakarta, bolehkan aku tinggal bersamamu disini? Sekalian aku mengawasimu" Ucap Yusuf sambil tetap mengunyah makanannya.


Seketika Nessa mendongak menatap sang kakak, apa tadi yang dia bilang? Menetap? Tinggal bersamanya? Oh Tuhan..


"Ada urusan apa sampai membuat kakak menetap disini? cari saja tempat lain, aku tidak ingin kakak merusak kenyamanan ku disini! Dan lagi, aku bukan anak kecil yang harus kau awasi" Ucap sang adik dengan mulut yang masih dipenuhi oleh makanan.


"Mengikuti jejak mu untuk mengadu nasib di Ibu kota, aku tetap akan disini, dengan atau tanpa persetujuan mu." Balas Yusuf dengan mengendikan bahunya, tidak peduli pada kemarahan Nessa.


Nessa pun mendengus sebal pada sang kakak, dan kembali melanjutkan makannya sambil menggerutu.


Sebenarnya bagi Nessa tak masalah jika sang kakak memutuskan untuk tinggal bersamanya, hanya saja jika kakaknya itu bisa diam dan tak mencampuri urusannya, tapi Yusuf adalah tipe seorang kakak yang sangat protektif pada adiknya, dan pria itu selalu ingin tau tentang Nessa, apalagi jika dia tau adiknya sedang dekat dengan seorang laki-laki, dia pasti akan bersikap berlebihan padanya.


Membayangkan apa yang akan kakaknya itu lakukan membuat Nessa menghembuskan nafasnya. Dan hal itu tak luput dari pandangan Yusuf yang baru saja menyelesaikan makannya.


"Kenapa kau mengeluh seperti itu?" Ucap Yusuf dengan nada yang sedikit tinggi, hingga membuat Nessa melonjak kaget.


"Apa? Kenapa mengagetkan ku? Dan lagi, aku tidak mengeluh! Jangan sok tau!"


Mereka terus berdebat akan hal-hal kecil, perubahan suasana apartemen Nessa yang begitu kontras dibanding saat Nessa hanya tinggal sendirian, terasa sepi dan sunyi. Meskipun begitu, Yusuf adalah kakak yang baik bagi Nessa, pria itu adalah orang yang paling dekat dengannya.

__ADS_1


Setelah mereka menyelesaikan aktivitas makan mereka dengan perdebatan kecil, Yusuf membantu Nessa untuk membersihkan meja makan, dia cukup tau diri karna telah menumpang di rumah sang adik.


"Jadi kakak besok udah mulai kerja?"


"Hemm, sebagai salah satu illustrator di perusahaan penerbit yang cukup ternama."


Jawab Yusuf dengan melangkahkan kakinya menuju sofa di ruang tengah.


"PT. Penerbit Royal Fam?" tanya Nessa dengan hati-hati dan mengikuti langkah sang kakak untuk kembali ke kamarnya.


"Kok tau?" Balas Yusuf antusias.


Nessa hanya mengendikan bahu dan berlalu begitu saja dari pandangan Yusuf menuju kamarnya.



"Dasar adik tidak sopan!" Umpat Yusuf begitu melihat adiknya menutup pintu kamarnya begitu saja.


Akbar baru saja membersihkan diri setibanya ia di rumah, dia sedikit lebih segar sekarang, setelah seharian berkutat dengan banyaknya pekerjaan di kantor tadi. Pria itu pun merebahkan diri pada kasur empuknya, memposisikan dirinya senyaman mungkin untuk sekedar melepaskan segala lelahnya hari ini. Diraihnya benda persegi panjang yang tergeletak di atas meja nakas di samping lampu tidurnya, menghidupkan layarnya dan mencoba mengetikkan beberapa kalimat yang kemudian ia kirim pada gadis yang beberapa hari ini dekat dengannya.


^^^To :_NESSA^^^


^^^Hai, udah tidur?^^^


Akbar berharap bahwa gadis itu masih terjaga dan membalas pesannya.


Drrt...


^^^From :_NESSA^^^

__ADS_1


^^^Belum^^^


Akbar memanyunkan bibirnya, tidak puas akan balasan yang diberikan oleh Nessa. Dia pun kembali mengetikkan kembali beberapa kalimat untuk Nessa.


^^^To :_NESSA^^^


^^^Sibuk ya?^^^


Drrt..


^^^From :_NESSA^^^


^^^Aku ngga sibuk kok Bar, tadi nungguin kamu buat mastiin kamu baik-baik aja sampai rumah^^^



Pria itu menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan senyuman, dan menenggelamkan wajahnya pada bantal berwarna army miliknya. Akbar merasa jantungnya dipenuhi oleh kupu-kupu yang berterbangan, dia merasa senang sekaligus malu ketika membaca balasan pesan dari Nessa.


Keduanya terus bertukar pesan hingga mereka sama-sama lupa bahwa malam sudah semakin larut.


Entah kenapa untuk Akbar, meskipun hanya bertukar pesan dengan Nessa membuatnya merasa sangat senang, seketika saja segala penat dan lelah yang tadi dia rasakan menghilang, hanya dengan respon positif yang diberikan oleh gadis itu, gadis yang beberapa waktu lalu ia temui, gadis yang baru saja ia kenal tanpa sengaja.


Nessa, gadis itu telah mengisi ruang hati Akbar yang telah lama ia biarkan kosong dan berdebu, tanpa Akbar sadari, pria itu telah menaruh hati pada gadis cantik itu, hanya saja Akbar sangat lambat untuk menyadarinya atau mungkin dia menyangkal akan perasaan itu.


Akbar sangatlah berhati-hati perihal jatuh cinta, sebab dia masih trauma akan cinta masa lalunya yang telah meninggalkan luka begitu dalam, hingga membuatnya menutup rapat-rapat pintu hatinya, dan membiarkannya kosong begitu lama.


Singkat cerita, Akbar beberapa tahun yang lalu memiliki seorang kekasih yang sangat ia cintai, dan juga menjadi cinta pertama untuknya. Gadis itu bernama Winda, pria itu menyukai sang gadis sejak pertama kali melihatnya. Gadis itu memiliki wajah cantik yang terlihat begitu dingin, akan tetapi ketika bersama Akbar ia begitu hangat. Keduanya selalu nampak bahagia, Akbar yang dewasa dan Winda dengan sifat kekanak-kanakannya begitu saling melengkapi. Hingga suatu hari Winda mengalami kecelakaan hebat bersama Ayahnya, gadis itu kritis dan nyawanya tidak tertolong, hal itu membuat Akbar benar-benar terpukul, gadisnya pergi begitu saja tanpa mengucapkan perpisahan sepatah katapun untuknya. Setiap hari ia lalui hari dengan rasa kosong, berharap setiap ia bangun dari tidurnya ada pesan masuk dari kekasihnya itu, akan tetapi semua itu hanyalah harapan semu, yang akhirnya membuat Akbar begitu mati rasa dan menutup rapat-rapat pintu hatinya.


Namun setelah bertemu dengan Nessa, semua terasa berbeda, Akbar kembali merasakan getaran-getaran dihatinya yang sudah lama hilang. Nessa yang begitu terlihat apa adanya membuat Akbar ingin tahu lebih banyak tentang gadis itu, hingga tanpa sadar pria itu telah mempersilakan sang gadis untuk masuk diruang kosong hatinya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2