
"Tunggu." Teriak Nessa
Sang pria menghentikan langkahnya dan berbalik, memastikan apakah barusan gadis dengan warna rambut sedikit merah itu mencoba menahannya untuk tidak pergi?
Nessa melangkah maju menghampiri pria berkulit tan tersebut, menghentikan langkahnya tepat didepan sang pria, dan mengulurkan sebelah kanan tangannya.
"Aku Nessa". Nessa mencoba mengajak sang pria untuk berkenalan.
Seakan mengerti maksud sang gadis, Pria itu juga mengulurkan tangannya, menjabat tangan Nessa, dan menyambutnya dengan senyuman.
"Gue Akbar".
Mereka menarik tangan mereka kembali dan saling melempar senyuman. 'manis sekali' pikir sang gadis.
"Eum, begini aku bermaksud untuk berterimakasih sama kamu, karna kamu udah ngembaliin buku ini ke aku, buku ini penting banget buat aku, semua catatan deadline kerja aku disini, kalo bener-bener ilang, bisa ilang juga penghasilan aku" Nessa berbicara panjang lebar hingga membuat Akbar, menahan tawanya.
"Hahaha, loe lucu banget sih, kaya anak kecil, lagian tadi kan loe udah bilang terimakasih ke gue, gue rasa itu udah cukup kok untuk hal kecil kaya gini". Akbar tak kuasa untuk menahan tawanya.
Nessa tersenyum malu karena tingkahnya sendiri. "Menurut kamu mungkin memang hal sepele, tapi buat aku, kamu bener-bener udah menyelamatkan pekerjaan aku dengan ngembaliin buku ini. Jadi tolong ijinkan aku buat bales kebaikan kamu dengan traktir kamu, meski itu hanya sekedar kopi, mungkin, gimana?" gadis itu menatap penuh harap pada pria itu.
Akbar pun tampak menimbang tawaran yang diajukan oleh Nessa, ya meskipun menurutnya berlebihan kalau Nessa harus mentraktirnya, tapi entah kenapa pria itu tidak kuasa menolak tawaran sang gadis, hingga dia memutuskan untuk setuju oleh ajakan gadis yang baru dikenalnya.
"Oke, gue setuju, tapi maaf, gue ngga bisa hari ini karna gue udah ada janji nongkrong sama temen-temen gue, next time gimana?"
__ADS_1
Nessa mengangguk mengerti, tangan Akbar menengadah seperti meminta sesuatu pada Nessa, Nessa menaikan salah satu alisnya tanda dia tidak mengerti.
"Mana hape loe, biar gue catat nomer gue, ngga mungkin kan kita janjian pake telepati?"
"Ada- ada aja kamu." Nessa tertawa kecil sambil meraih handphone miliknya yang berada didalam tasnya dan memberikannya kepada Akbar.
Akbar nampak mengetikkan nomernya pada telepon genggam milik Nessa.
"Ini, gue udah catat nomer gue disitu, dan gue juga udah tau nomer loe di hape gue" Pria pemilik bola mata berwarna coklat itu memberikan benda persegi panjang itu kepada Nessa, dan Nessa pun menerimanya.
"Sorry, gue harus cabut dulu nih, temen-temen gue udah pada nungguin soalnya. See you"
Tanpa menunggu jawaban dari Nessa, Akbar berlalu begitu saja dengan langkah yang panjang. Nessa hanya tersenyum menatap punggung pria itu yang semakin menjauh darinya, gadis itu mengalihkan pandangannya pada layar handphone miliknya yang tertera beberapa digit angka, itu adalah nomer handphone milik pria yang memiliki senyum manis yang baru saja menjauh darinya. Nessa menyentuh layar ponsel pintarnya untuk menyimpan kontak Akbar.
...****************...
Saat ini Akbar telah duduk bersama dengan ketiga temannya di meja yang tadi ia tinggalkan bersama es kopi yang es batunya sudah mencair.
"Loe itu habis dari mana sih Bar, loe tinggalin kopi sama tas loe gitu aja, kalo ilang nangis loe" ucap pria berkacamata, bernama Putra.
"Liat aja tuh, es loe sampe mencair semua, ngejar cewek loe ya!" sontak ucapan pria berkulit putih bernama Danang itu mengundang tawa mereka bertiga yang duduk dimeja yang sama.
"Lebay kalian lebay ah, gue tadi cuma ngembaliin buku yang tadi jatuh disini nih". Jawab Akbar sambil meminum kopi miliknya.
Mereka berempat melanjutkan percakapan mereka yang terkadang diselingi oleh canda gurau.
__ADS_1
Akbar sangat berbeda dengan Nessa, dia adalah tipikal orang yang sangat amat mudah bergaul, dan mau bergaul dengan siapa aja. Berbeda dengan Nessa yang hanya mempunya beberapa teman di
hidupnya, Akbar mempunyai banyak teman, bahkan dia juga ikut bergabung disalah satu komunitas Motor.
Akbar hidup dengan keluarganya Ayah, Ibu, dan Kakak perempuannya. Bagi keluarganya Akbar adalah anak yang baik dan pintar, bahkan saat ini Akbar melanjutkan pendidikan nya untuk S2 , meskipun dia harus membagi waktunya dengan pekerjaannya, tapi dia sangat menyukai itu. Akbar juga dikenal sebagai orang yang religius, Pria itu tidak pernah lupa akan kewajibannya sebagai hamba terhadap Tuhannya. Benar-benar sempurna.
Setelah menghabiskan hari minggunya bersama para sahabatnya Akbar kembali ke rumah yang selalu hangat untuknya.
"Assalamualaikum, Akbar pulang!" serunya setelah membuka pintu rumahnya.
"Wa'alaikum salam, Baru pulang nak? makan dulu sana, Ibu sudah memasak makanan kesukaan kamu". Seru Ibunya dari arah dapur.
Akbar menghampiri sang Ibu dan mencium tangan wanita yang sangat ia cintai itu.
"Nanti deh Bu, Akbar mau mandi dulu, bau knalpot dijalan soalnya, hehehe". Ucap Akbar sambil terkekeh.
Akbar meninggalkan ibunya dan berjalan kearah tangga yang akan membawanya kesebuah tempat yang paling membuatnya nyaman 'Kamarnya'.
Sesampainya dikamar, Pria itu merebahkan tubuhnya pada kasur empuk miliknya, menatap langit-langit kamarnya dan menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Dia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel pintar miliknya, membuka sebuah galeri yang menampilkan banyak sekali gambar didalamnya, hingga fokusnya tertuju pada satu gambar foto yang membuat hatinya sakit, foto seorang gadis yang ia ambil saat duduk di bangku kuliah dulu.
"Gue kangen banget sama loe Winda, hingga rasanya begitu sakit disini". Akbar menangis, menekan dada kirinya menahan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan.
Beberapa menit berlalu, dan masih dengan air mata yang jatuh di pipinya, Akbar beranjak dari tempat tidurnya, menghapus sisa air mata, dan bergegas untuk membersihkan diri, sebelum Ibunya mengomel karna dia tidak kunjung turun untuk menikmati masakan sang Ibu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...