
Nessa tiba di apartemennya menjelang petang, dia benar-benar merasa lelah sekali setelah mengelilingi toko buku hampir selama 3 jam. Gadis itu memang sangat menyukai tempat yang mempunyai banyak buku didalamnya, seperti toko buku dan perpustakaan, dia bisa lupa waktu kalau sudah mulai berkutat dengan buku. Bagi Nessa itu adalah tempat yang paling tenang dan menyenangkan selain kamarnya.
Begitu memasuki apartemennya yang nyaman, Nessa merebahkan diri di tempat tidurnya dan menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang jauh pada kejadian-kejadian yang telah dilewatinya selama ini, gadis itu memejamkan matanya, membiarkan bulir bening dari matanya terjatuh melewati pipi. Nessa bangkit memposisikan dirinya duduk pada pinggiran tempat tidurnya, menyeka sisa air mata yang ada di pipi, dan menghembuskan nafasnya kasar. 'Aku harus mandi, banyak sekali pekerjaan yang menanti' pikirnya.
Selesai membersihkan diri, gadis itu membawa dirinya ke dapur untuk melihat apakah ada bahan yang bisa ia olah untuk menjadi makanan, dia benar-benar merasa lapar saat ini. Tidak ada apapun di dalam lemari es miliknya, dia lupa untuk belanja bahan makanan. Mata Nessa tertuju pada barisan mie instan yang berjejer di atas rak tak jauh dari lemari es, pilihannya jatuh pada Indomie goreng versi jumbo.
Setelah beberapa menit berkutat didepan kompor untuk memasak mie instan akhirnya indomie goreng dengan topping telur mata sapi ala Nessa pun jadi, Nessa melangkahkan kakinya ,dan mendudukkan diri di sofa yang tepat berhadapan dengan layar televisinya, menyalakan layar televisi dan mencari chanel drama bergenre romansa kesukaannya. Ditengah keasyikannya menyantap indomie goreng dengan menonton drama kesukaannya, tiba-tiba saja ponsel pintar milik Nessa bergetar. Lantas Nessa meletakan piringnya dimeja dan beralih mengambil ponselnya.
^^^From: _AKBAR^^^
^^^Hai, lagi ngapain^^^
Nessa terkejut akan pesan singkat yang baru saja masuk di ponselnya, dia tidak pernah berfikir bahwa Akbar, pria yang menyelamatkan karirnya itu akan menghubunginya lebih dulu, meskipun hanya sekedar basa basi. Nessa menarik nafasnya dalam sebelum membalas pesan dari Akbar.
^^^To: _AKBAR^^^
^^^Hai, lagi makan nih, kamu sendiri lagi apa?^^^
Entah kenapa Nessa merasa sangat senang sekali mendapat pesan singkat dari Akbar. Bahkan dia sampai melupakan indomie gorengnya yang tinggal beberapa sendok lagi.
^^^From: _AKBAR^^^
^^^Lagi santai aja, oh iya loe jadi traktir gue?^^^
Nessa tersenyum, dan lagi dia langsung menuliskan beberapa kata pada ponselnya.
^^^To: _AKBAR^^^
^^^Jadi, kamu aja deh yang atur kapan kita ketemu, aku ngikut aja^^^
Mereka terus bertukar pesan, hingga tanpa sadar waktu telah berlalu, dan sudah mulai larut, mengharuskan mereka untuk mengistirahatkan tubuh mereka dengan tidur.
__ADS_1
...****************...
Akhirnya hari yang dinanti oleh Akbar maupun Nessa pun tiba, setelah sekitar empat hari mereka hanya melakukan percakapan via pesan singkat maupun telfon. Hari Minggu sore, mereka habiskan dengan menonton film bersama disalah satu bioskop yang ada di dalam Pondok Indah Mall Senayan.
Selesai menonton film, Akbar mengajak Nessa untuk menikmati kopi ditempat favorit mereka, ya Nessa dan Akbar sama-sama menyukai menu kopi yang ada di Namu Cafe. Akbar yang baru saja memesan menu untuk dirinya dan Nessa segera menghampiri gadis itu, yang duduk di meja yang ada disudut ruangan.
"Seru ngga tadi filmnya?" Akbar memulai pembicaraan ketika dirinya sudah mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengan Nessa.
"Seru apaan, kamu ngga bilang itu film horor, kalo aku tau kamu bakal nonton film horor, ogah banget aku ikutan nonton" balas Nessa dengan sebal.
Akbar tertawa melihat ekspresi Nessa, padahal sejujurnya dia memang tidak berniat untuk mengerjai Nessa, dia memang ingin nonton film bergenre horor saja, tapi setelah melihat bagaimana mimik wajah Nessa ketika gadis itu tau bahwa film yang ditonton mereka adalah film horor, Nessa langsung pucat, dan itu malah membuat Akbar menahan tawa, karna menurutnya Nessa benar-benar seperti anak kecil.
"Permisi, pesanan atas nama Kak Akbar?" datang seorang wanita yang mengenakan seragam kafe dan membawa nampan yang berisi pesanan mereka
"Iya mba". sang waiters pun meletakkan pesanan mereka di atas meja dengan hati-hati.
"Terimakasih mba". ucap Akbar dan Nessa secara bersamaan, dan itu membuat mereka saling menatap dan sama-sama tertawa kecil.
"Eh, gue boleh tanya sesuatu ngga sama loe?" tanya Akbar pada Nessa sembari menyesap kopi hitam favoritnya.
Nessa yang baru saja meminum es cappucino nya meletakan gelas itu di atas meja, dan mengangguk mendengar pernyataan Akbar.
"Tanya aja, asal aku bisa jawab pasti aku jawab"
"Loe asli mana sih? ngomongnya aku kamu, ngga kaya anak jakarta banget gitu".
"Aku asli Kalimantan, sebenernya cukup lama sih aku di Jakarta, tapi emang ngga kebiasaan aja ngomong loe gue".
"Oh jadi loe merantau disini? atau pindah kesini?"
__ADS_1
"Engga, keluarga aku masih di Kalimantan kok, dan aku tinggal sendiri disini".
Obrolan mereka terus berlanjut, bahkan terkadang mereka saling melontarkan canda dan tawa. Akbar dan Nessa benar-benar terlihat akrab. Entah mereka menyadari atau tidak, mereka seperti terlihat sudah nyaman satu sama lain.
Hari sudah menggelap, Akbar dan Nessa memutuskan untuk pulang, karna esok akan ada banyak pekerjaan bagi ke duanya.
"Gue antar sekalian yuk, tapi naik motor, mau ngga loe?". Akbar menawarkan diri untuk mengantar Nessa pulang, karna gadis itu tidak membawa mobilnya.
"Entar aku ngerepotin lagi, kan kita ngga searah". Sejujurnya Nessa mau aja dianter sama Akbar, tapi dia kasian juga kalo Akbar nanti harus muter lagi, mengingat rumah mereka ada di arah yang berlawanan.
"Engga papa, yuk gue antar aja, lagian ngga bisa gue ninggalin cewek buat pulang sendirian, mana udah malem lag.i"
Akbar menggandeng tangan Nessa dengan paksa tanpa mendengarkan bagaimana jawaban gadis itu, sedangkan sang gadis hanya pasrah ketika pria itu menyeretnya dan membawanya kesebuah motor yang terparkir dengan tenang.
Pria itu mengambil Helm untuk Nessa yang tersimpan di bagasi motor maticnya, dan memasangkannya di kepala Nessa, untuk beberapa detik Nessa merasa jantungnya berdebar ketika jaraknya dengan Akbar begitu dekat.
"Berangkat sekarang?" tanya Akbar kepada Nessa setelah ia juga menggunakan helm.
Nessa yang ditanya pun hanya mengangguk, karna dia masih mengontrol detak jantungnya agar berdetak dengan benar. Akbar menaiki motornya dan mulai menyalakan mesin, hingga dia menyadari Nessa yang hanya berdiri disisinya tanpa ada niatan untuk segera menaiki motornya.
"Ness, loe ngelamun ya?" Akbar mengibaskan tangannya tepat didepan wajah Nessa, hal itu pun segera menyadarkan Nessa dari gugupnya.
"Engga kok, aku ngga ngelamun" Nessa pun segera naik di atas motor Akbar.
"Pegangan, ntar loe jatuh gara-gara melamun".
Nessa hanya memanyunkan bibirnya dan tangannya sedikit ragu untuk berpegangan pada pinggang Akbar. Akbar pun yang menyadari hal itu segera menarik tangan Nessa untuk memeluknya, dia hanya tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu, akan tetapi, ternyata apa yang dia lakukan barusan tidak baik untuk jantungnya, terbukti dari debaran jantung Akbar yang tidak terkontrol. Begitupun dengan Nessa, gadis itu merasa ada jutaan kupu-kupu yang menari di atas perutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1