
Hari berlalu, perasaan itu terus muncul. Ferry tak dapat lagi membendung perasaan itu, akhirnya dia menjadi pengagum Lily. Dia terpesona dengan caranya memikat dirinya, dan dia juga manis. Meskipun begitu, Ferry masih tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya. Dia menyimpan perasaan itu sendiri, dia mengagumi Lily, bahkan beberapa kali dia memimpikan Lily. Ferry juga sering berkhayal, dalam hayalannya dia berpikir bisa bersama dengan Lily mengobrol berdua, menikmati setiap jam pelajaran, tertawa bersama dan sampai nanti mereka berpisah.
__ADS_1
Ketika di kelas Ferry suka melirik ke arah Lily, namun ketika Lily melirik balik Ferry langsung mengarahkan pandangannya ke arah lain, begitu terus. Saat Ferry tertawa ia selalu melirik ke arah Lily, saat ia sedang berkumpul di kantin ia selalu mencari keberadaan Lily. Dia senang setiap hari ia dapat mendengar suara indah Lily. Lily juga masih membicarakan Ferry dalam obrolannya bersama teman-temannya. Ferry selalu terlihat biasa saja atau bahkan mengkerutkan dahi ketika bertemu Lily di lorong sekolah, ia bersikap biasa saja dan mencoba untuk tidak menatap si Lily. Padahal dalam hatinya ia ingin sekali menyapa dan melihat ke arah Lily, namun ia tidak mau kelihatan seperti itu.
__ADS_1
Hari berganti menjadi minggu, Ferry masih memikirkan Lily, sesekali ia ingin mengirim pesan ke Lily , namun ia ragu. Sesekali juga Ferry ingin mengajak ngobrol atau sekedar menyapa, namun ia tidak berani. Lily adalah murid yang bisa dibilang murid pintar, ia punya banyak teman, dan dia suka tersenyum. Ferry yang tergolong murid biasa merasa malu untuk mendekati Lily. Beberapa kali juga Lily melirik ke arah Ferry dan Ferry juga menyadari hal itu, Lily selalu membuntuti Ferry meski tidak sering. Lily juga bertingkah aneh saat ada Ferry, ia tiba-tiba tersenyum sendiri, dan bergelagat aneh. Lily pernah menawari jajan kepada Ferry namun Ferry menolak. Dan beberapa kali terakhir setiap kali ada pemilihan tugas upacara, ketika Ferry terpilih untuk satu kelompok dengan Lily, Lily langsung mengundurkan diri, itu berlaku untuk beberapa kegiatan. Entah apa yang terjadi Lily menjadi sedikit aneh, ia yang dulu mencoba menarik perhatian Ferry sekarang menjauhinya.
__ADS_1
Kemudian mereka saling berpamitan dan pulang, Ferry dan Lily berjalan bersama di lorong sekolah menuju parkiran. Lily berkata " Apa kamu tidak ingin menjadi pacarku? " Setelah mengucapkan kalimat itu Ferry melihat wajah Lily memerah, kemudian ia menjawab "Bagaimana menjawab pertanyaanmu ya, aku sedikit bingung, aku belum pernah berpacaran sebelumnya, aku ga ngerti bagaimana caranya, bahkan untuk mengobrol dengan wanita pun aku kadang merasa malu. " Lily : "Ya, kalau begitu aku akan mengajarkannya kepadamu, sekarang kamu mau kan? " Ferry : "Entalah mungkin kita bisa menjadi sahabat, aku masih ragu. Aku masih ingin sendiri, gimana kamu mau jadi sahabatku? " Lily sedikit kecewa dengan ucapan Ferry, namun disisi lain dia menerima untuk menjadi sahabat Ferry. Mereka saling bersalaman di parkiran, lalu pergi meninggalkan sekolah, mereka berada pada jalan yang sama, namun mereka berpisah disebuah pertigaan, Ferry ke kiri, dan Lily ke kanan. Masing-masing dari mereka saling membunyikan klakson sebagai tanda berpisah.
__ADS_1