
"Ma... Ampun ma, maafkan aku" ucap Naura dengan terisak serasa berusaha melepaskan genggaman tangan mamanya.
Kemudian mama Devi membawa Naura ke toilet kemudian mendorongnya dengan kasar.
Karna dorongannya begitu kuat kening Naura terluka karna membentur pinggiran closet.
Melihat kening anak tirinya yang terluka membuat mama Devi tidak merasa iba.
"Alina cepet bawa kesini" teriak mama Devi.
"Tentu ma" jawab Alina serasa membawa se ember air yang sudah diberi es batu.
Kemudian.
BYURR...
Naura basah kuyub, air itu cukup dingin karna sudah diberi es batu beberapa saat yang lalu. Badannya gemetar dan dia terus menangis namun apa ada dia tak berani melawan.
Belum sampai disitu kemudian mama Devi kembali menyeret Naura kesebuah gudang.
Setelah sampai digudang, Alina memberikan sebuah sabuk ke mama nya dengan tersenyum.
Naura panik, dia tau apa yang akan dilakukan mamanya. Ini bukan kali pertama Naura dicambuk jadi dia sudah hafal betul bagaimana kasarnya mama Devi ketika menyambuk Naura.
"Ma Naura mohon jangan cambuk aku ma" ucap Naura sambil memohon dikaki mama Devi dengan masih menangis.
__ADS_1
"Ampuni aku ma..." ucapnya lagi sambil terus menangis.
"Lepaskan.." ucap mama Devi sambil menendang Naura agar menjauh dari kakinya.
"Apa kau pikir aku akan merasa kasian dan mengampuni mu" ucap mama Devi dengan marah.
Kemudian dia mengayunkan sabuk yang akan dia gunakan untuk menyambuk Naura.
Akhirnya digudang itu terdengar suara teriakan ampun, sakit dan tangisan yang begitu pilu.
Bahkan beberapa art pun tak berani membantu nona mudanya karna takut akan kemarahan dari nyonya nya.
"Astaga nona muda, pasti nyonya menyambuknya lagi" ucap lirih bi Jum.
Setelah -+20 menit akhirnya bunyi cambukan itu berhenti dan diikuti pintu terbuka yang menampakan mama Devi & Alina.
Setelah kepergian mama & Alina, Naura terus menangis seraya merasakan seluruh tubuhnya hancur.
Badan nya memar, memerah dan membiru belum lagi dia merasakan sakit di keningnya. Padahal luka ditangannya belum sembuh tapi dia harus menerima luka lain ditubuhnya. Tampilan Naura benar-benar memprihatinkan.
Darah di keningnya perlahan turun menelusuri wajahnya membuat siapapun yang melihatnya merasa iba.
"Ma..pa, aku ingin ikut kalian" gumam Naura dengan lirih.
"Aku gak kuat hidup begini terus" ucapnya lagi sambil menangis.
__ADS_1
"Apa aku pergi aja dari rumah ini, tapi kemana aku akan pergi" batin Naura.
"Aku tak peduli jika harus tidur dikolong jembatan yang terpenting aku bebas dari mama & Alina aku benar-benar takut" ucap Naura
Kemudian dia celingak celinguk melihat jendela yang sedikit terbuka membuat Naura bertekat untuk kabur malam ini melewati jendela tersebut.
Dia takut apabila lewat pintu depan akan bertemu mama atau Alina.
Sebenarnya Naura memilih bertahan dirumah ini karna ini adalah salah satunya aset peninggalan orang tuanya begitu banyak kenangan sehingga dia memilih sabar untuk tidak pergi dari rumah ini.
Namun sepertinya malam ini adalah keputusan bulat Naura untuk pergi meninggalkan rumah orang tuanya.
"Jika tuhan mengizinkan aku akan membalas kalian dan menendang kalian dari rumah ini" ucap Naura kemudian pergi meninggalkan rumahnya.
Dan benar tuhan akan mengabulkan doa Naura karna cepat atau lambat dia akan kembali.
Sedangkan di sisi lain.
Seorang pria tengah merebahkan tubuhnya dikasur empuknya siapa lagi kalau bukan Alvian.
Dia terus mengingat wajah cantik Naura. Entah mengapa gadis itu beberapa jam yang lalu selalu ada dipikirannya.
"Ahh siial, bagaimana bisa aku terus memikirkan gadis itu" ucap Al kesal.
Reflek Al langsung menyentuh pusakanya dan fikirannya kembali ke kejadian siang tadi.
__ADS_1
"Aku harus memilikinya, bagaimana pun dia sudah menyentuh harta masa depanku jadi dia harus menjadi milikku" ucap Al dengan pasti.
Al pun tak sadar mengucapkan kalimat tersebut, apakah dia mulai tertarik dengan gadis itu??