
Sore itu Senja duduk termenung di depan rumah, menatap lembayung yang mulai menampakan dirinya di hadapan semua makhluk tuhan, burung-burung saling bersahutan terbang menuju sangkarnya, biasanya di sore yang indah ini Senja duduk di tempat ini di temani Reka, Senja sangat rindu moment itu, moment dimana Reka merangkai nada dengan petikan gitarnya dan Senja merangkai kata dengan pena cantiknya.
beberapa kata-kata manis pernah mereka ucapkan di tempat ini.
"Sen, Sore ini adalah sore paling indah dalam hidupku, biasanya aku menatap tenggelamnya matahari dalam sepi, aku menghabiskan setiap sore sendirian" Ucap Reka waktu itu sembari menatap ke arah Senja.
Senja tersenyum manggut-manggut sembari mengalihkan pandangannya ke arah langit.
"Lembayung itu akan tetap terlihat indah kapanpun kita melihatnya, namun ilusi yang sudah termakan sepi yang membuat moment itu terasa mencekam" tutur Senja.
Dan kedua sejoli itupun tersenyum bersamaan.
Saat ini senja duduk sendirian, menatap lembayung sendirian, hanya di temani sang pena dan secarik kertas putih yang kosong di kedua tangannya.
Tanpa terasa kenangan demi kenangan terpampang di hadapannya, bagaikan sebuah film yang sedang di putar ulang.
"Aku baru sadar kang, dengan berbagai perbedaan di antara kita, ada satu kesamaan yang akan terus bersemayam bersama perasaan, kita sama-sama menyukai lembayung, mungkin sejak lahir aku sudah menyukai lembayung itulah mengapa kedua orang tuaku menyematkan nama Senja" Ucap Senja dalam hati sebari menyeka kedua ujung matanya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian tangan senja sudah menari-nari di atas kertas melukis beberapa kata yang di rangkai menjadi rangkaian kalimat yang indah. kalimat yang di tujukan untuk seseorang yang berada di ujung garis khatulistiwa.
Dear Diary
Kalimat ini ku tulis untuk kamu yang sedang berada di ujung garis khatulistiwa
Kau tahu? Sore ini menjadi sangat Sepi Sejak kamu pergi
Lembayung masih tetap setia menjenguk bumi di penghujung hari
Aku baru sadar sebelum kau hadir dan setelah kau pergi
Tapi aku berterimakasih kepada sang waktu
yang sudah memberikan jeda untuk kita menabung rindu
Aku semakin sadar, setiap hari rasa ini terus bertambah, menjadi semakin kuat dan nyata
Saat ini kita hanya bisa bertemu dalam sebuah dimensi maya
__ADS_1
Tapi aku yakin suatu hari nanti kamu akan kembali menjemputku dalam rasa yang nyata.
Love
Senja
Senja menarik nafas dalam-dalam, rasa rindu tiba-tiba saja hadir dan terasa menyiksa. inikah yang dinamakan seni perpisahan?
Tanpa sadar burung yang tadi saling bersahutan sudah terdiam, mereka bergantian shift dengan suara kodok yang bertasbih, tandanya hari sudah mulai malam.
"Sen, , , ini teh sudah malam atuh, kenapa kamu masih duduk di luar, nanti ada kalong wewe berkeliaran" ucap ibunya Senja dengan cerewet
Senja hanya cekikikan dan tertawa mendengar penuturan sang emak.
"*Emak ada-ada saja, udah jaman now ini tuh, masa masih percaya sama cerita kalong wewe" jawab Senja
"Emak cuman khawatir anak gadis emak udah malam masih duduk di luar, pamali atuh anak gadis mah harus sudah ampih jam segini" tutur emknya lagi*.
Senja tidak membantah lagi dan langsung masuk ke dalam rumah, dia tidak ingin emaknya makin cerewet dan urusan makin panjang.
__ADS_1