
Dua minggu berlalu, Reka mulai asik dengan aktivitasnya di Kalimantan, mulai mencintai pekerjaannya, terutama mulai asik dengan kebersamaan dirinya dan Melda, entah untuk ke berapa ratus kali Reka mendustai janjinya Sendiri, Melda memang gadis yang asik, selain cantik dan berbadan aduhai, wanita ini juga bertutur kata lembut dan girly banget.
"Hai mel selamat pagi, semangat ya untuk hari ini, jangan terlalu cape kerjanya" ucap Reka pagi itu pada Melda.
Melda menyungingkan senyum yang teramat manis pada Reka, sembari menganggukan kepala dengan anggun, Siapapun laki-laki yang melihat senyuman itu pasti darahnya akan berdesir.
Lalu setelah itu mereka masuk ke ruangan kerja masing-masing, hanya dalam beberapa hari Reka sudah melupakan Senja, padahal Senja selalu menanti kabar dari Reka dengan Setia, apakah semua laki-laki seperti itu? apakah tidak ada sedikitpun alasan untuk Reka bisa setia?, ah mungkin saja memang sulit berubah bagi seorang playboy, sulit untuk bisa menahan diri dari pesona perempuan yang bukan pasangannya.
Namun Senja selalu berpikir positif, dia selalu berpikir kalau Reka sibuk makanya tidak memberi kabar sejak malam itu.
Senja sebenarnya sangat khawatir pada Reka, siang itu senja mencoba memberi pesan pada Reka.
__ADS_1
To:Reka
"Assalamualaikum, akang apakah kau baik-baik aja di sana? Senja khawatir, takut akang sakit"
Sayang sekali, pesan itu hanya di read oleh penerima, namun Senja masih berusaha berpikir positif.
"Mungkin dia lagi sibuk" ucap senja dalam hati.
Padahal pada saat itu Reka sedang asik makan siang dengan Melda, sedang tertawa dan bercanda.
"dari teman di kampung, biasa minta info loker disini" jawab Reka berbohong.
Dasar Reka, pandai sekali kau berbohong, jelas pesan itu dari Senja, dia khawatir padamu karena tak ada kabar darimu, hey kau begitu tergoda dengan paras cantik hingga semudah itu melupakan ketulusan seseorang.
__ADS_1
"Oh dari teman, oya gimana bang betah kerja disini ?" tanya melda kembali
"Gak ada alasan buat aku gak betah kerja di perusahaan ini , jika tiap hari selalu dapat motivasi dari perempuan cantik seperti kamu" jawab Reka sembari menatap kedua bola mata Melda.
Melda tersipu malu mendengar ucapan Reka, dia mulai deg-degan tiap Reka memuji dirinya.
"Mel kamu masih ingat gak akan masa kecil kita dulu?" tanya Reka
"Masih donk bang, dulu kita dua orang sahabat yang selalu bersama dimanapun dan kapanpun, lalu yang aku ingat juga, waktu itu kamu pernah memberiku setangai mawar merah" jawab Melda.
Reka tersenyum dan manggut-manggut mendengar jawaban melda.
"Lucu sekali, waktu itu abang nangis-nangis di sebuah supermarket dan maksa tante Elis untuk di beliin bunga mawar merah, tante Elis sangat kaget karena anak lelakinya minta di beliin bunga, padahal bunga itu abang kasihin ke aku" tutur melda sembari tertawa.
__ADS_1
Dan Reka pun tertawa keras, dia sangat geli mengingat masa kecilnya itu, tapi justru kenangan itu adalah kenangan paling indah antara dirinya dan Melda, hingga akhirnya dia pindah ke sebuah Desa di Jawa Barat dia sangat sedih karena akan berpisah dengan sahabat kecilnya itu, hingga waktu mempertemukannya lagi dengan Melda dan kini Melda sudah menjadi gadis yang sangat cantik dan menarik.
Sungguh kisah ini akan menjadi rumit sejak Cerita ini menjadi Cinta segitiga.