
Dengan wajah yang memerah, putri Liliana berkata....
"Perkenalkan, namaku adalah Liliana Renia Herwey Delion Bellewez. Kau bisa memanggilku Liliana." Ucapnya dengan mengulurkan tangannya.
"Jadi itu nama tuan putri ya, benar-benar indah seperti orangnya. Kalau begitu giliran saya yang memperkenalkan diri sekarang, nama saya adalah Lucael Verhanox Belgoard Spenel. Anda bisa memanggil saya Lucael...." Sahutnya dengan menjabat tangan putri.
"Ah, tangan kami bersentuhan. Aku ingin lihat seperti apa pikirannya saat berjabat tangan dengan ku, apakah pikirannya sama dengan pangeran Kyle yang terus memuji kelembutan tanganku. Baiklah mari kita lihat isi pikiran anak ini...." Gumamnya dalam hati.
Setelah berusaha melihat isi pikirannya Lucael, akhirnya dia berhenti karena selalu gagal saat berusaha melihat isi pikiran Lucael. Dia kemudian melepaskan jabatan tangan itu dengan wajah yang terkejut karena dia tidak dapat melihat isi pikirannya.
"I-ini aneh, bagaimana aku tidak bisa melihat isi pikirannya. Padahal sebelumnya aku bisa melakukannya, apa anak ini tau kalau aku memiliki kekuatan suci lalu mengaktifkan kekuatan sihir penangkal agar pikirannya tidak dapat kulihat."
"Itulah perkataan yang ada di pikiran putri Liliana, Luca. Dan bahkan wajahnya langsung pucat." Ucap Babunya malaikat.
"Kau benar, wajah Putri langsung pucat dan berkeringat. Terimakasih banyak karena telah memberi tahuku tentang isi pikirannya. Sahut Lucael.
"Kenapa wajah anda pucat tuan putri?" Tanya Lucael.
"Ah, i-itu mungkin karena aku masuk angin... hehe...." Sahut putri dengan tersenyum untuk membuat Lucael percaya.
Tiba-tiba....
"Hei, anak-anak yang disana! Cepat berlari sekarang juga ada monster mendekat ke arah kalian!" Teriak salah seorang prajurit dari depan gerbang istana yang berlari untuk menghentikan monster itu.
"Tunggu, monster... di-dia sekarang ada dibelakang mu Lucael." Ucap putri Liliana yang kemudian terjatuh ke tanah karena ketakutan.
"Dibelakang ku?" Tanya Lucael sambil menjentikkan jarinya. Lalu tiba-tiba saja monster besar yang ada dibelakangnya terbakar kobaran api yang sangat besar.
Lucael kemudian berbalik kebelakang untuk melihatnya, dan setelah mengamati monster yang sedang terbakar itu dia berkata....
"Untunglah ini hanya monster goblin raksasa dan bukannya monster hewan seperti serigala atau heyna, karena jika salah satu dari dua monster itu pasti akan ada teman-temannya karena mereka adalah tipe yang suka bergerombol." Setelah itu dia menoleh kebelakang dan melihat putri yang ketakutan.
"Putri Liliana anda baik-baik saja? Tubuh anda gemetaran... ayo kita pergi dari sini sekarang juga." Ucapnya dengan mengulurkan tangannya.
"A-aku tidak bisa berdiri." Sahut putri Liliana.
"Ah, anda tidak bisa berdiri ya. Kalau begitu saya minta izin pada anda karena saya akan menggendong anda." Ucap Lucael, kemudian dia pun menggendong tuan putri dan setelah itu dia menjentikkan jarinya untuk berteleportasi ke tempat ayahnya dan kaisar juga raja Kexzelfen.
Dan sesampainya di tempat itu....
"Apa yang kau lakukan disini Lucael? Dan kenapa kau menggendong tuan putri Liliana?" Tanya ayahnya saat melihat Lucael ada ditempat perkumpulan mereka bertiga itu.
"Tunggu... Lucael ada disini! Bagaimana dia bisa masuk?" Tanya Kaisar.
"Kau bilang dia menggendong putriku...." Ucap raja Kexzelfen yang kemudian kaget melihat anaknya di gendong Lucael.
"Astaga, apa yang terjadi pada putriku sampai-sampai kau menggendongnya, hah?" Ucap raja Kexzelfen dengan menghampiri Lucael.
"Turun kan aku sekarang Luca, kurasa aku sudah lebih baik." Ucap putri Liliana dengan menatap wajah Lucael.
__ADS_1
"Ah, baiklah tuan putri." Sahut Lucael dengan menurunkannya.
"Katakan padaku Lucael, apa alasan mu datang kemari dengan cara berteleportasi dan bahkan menggendong seorang putri?" Tanya ayahnya dengan tangan menyentuh dahinya sendiri karena tak habis pikir.
"Saya akan menjelaskannya pada ayah, awalnya saya pergi ke tempat air mancur yang ada didepan kastil kekaisaran ini. Lalu putri menyusul dan menemui saya di tempat itu, tiba-tiba saja kemudian ada seorang prajurit dari depan gerbang istana berteriak kalau ada monster yang menghampiri kami berdua."
"Dan setelah itu putri berkata kalau monster itu sudah ada di belakang saya, lalu saya langsung membakarnya dan setelah itu saya melihat ke arah belakang. Saya melihat monster goblin besar yang terbakar, saya pun bersyukur karena itu bukan monster hewan serigala atau heyna."
"Pada saat menoleh ke arah putri... saya melihat dia sudah gemetaran dan ada ditanah juga ketakutan, jadi saya mengajaknya untuk pergi dari situ. Tapi yang mulia putri tidak bisa berdiri, makanya saya menggendongnya dan berteleportasi supaya lebih cepat sampai ke tempat ini tanpa kelihatan para tamu bangsawan." Ucap Lucael yang sedang menceritakan keadaannya pada ayahnya.
"Monster sampai masuk ke dalam istana kekaisaran! Dasar para prajurit tidak becus, aku akan menyelesaikan masalah ini sekarang juga." Ucap Kaisar setelah mendengar cerita Lucael dan setelah itu dia pergi dari tempat itu.
"Kau baik-baik saja kan putri kesayangan ayah?" Tanya raja Kexzelfen sambil memeluk putrinya itu.
"I-iya, ayah. Aku baik-baik saja kok, jadi ayah bisa melepaskan pelukan ini karena aku malu." Bisiknya putri Liliana pada ayahnya tapi ayahnya tidak menghiraukan perkataannya.
"Ayah, saya rasa saya akan muntah darah lagi. Dan kepala saya juga sakit karena terlalu menggunakan sihir hari ini, jadi tolong katakan pada kakak... kalau saya pulang lebih dulu." Bisik Lucael pada ayahnya.
"Apa maksudmu kau muntah darah lagi? Jadi alasanmu pergi ke air mancur itu karena kau muntah darah." Sahut ayahnya dengan berbisik dan menatap wajahnya.
"Saya baik-baik saja kok yah, jadi jangan khawatir. Saya pulang lebih dulu ya ayah, dah." Sahutnya Lucael dengan tersenyum lalu dia kemudian menjentikkan jarinya dan setelah itu dia langsung ada didalam kamarnya.
Beberapa detik kemudian setelah dia sampai ke kamarnya itu, dia langsung muntah darah.
"Huekkk... ah, hah... hah.... kepala ku pusing." Ucapnya.
"Tuan muda! A-anda muntah... tunggu sebentar tuan muda, saya akan memanggilkan dokter dan pelayan pribadi anda Albert." Ucapnya dengan wajah pucat sambil berlari keluar untuk memanggil dokter dan Albert.
"Ah, tunggu... aku baik-baik saja kok." Ucap Lucael.
Setelah beberapa saat kemudian datanglah dokter, dan dia lalu memeriksa tubuhnya Lucael. Setelah dia memeriksa Lucael, dia kemudian memberikan obat pada Lucael.
"Anda harus meminum obat ini untuk mengurangi sakit kepala anda yang diakibatkan terlalu banyak memakai sihir, dan obat ini juga. Tapi obat ini hanya untuk mengurangi sakit saat anda sedang muntah darah, karena tidak ada obat apapun yang bisa menyembuhkan muntah darah anda." Ucap Dokter pada Lucael dan pelayannya Albert.
"Baiklah dokter, dan terimakasih banyak karena sudah mau datang kesini pada jam segini." Sahut Lucael.
"Anda tidak perlu berterimakasih pada saya tuan muda, kalau begitu saya pamit untuk pulang." Ucap dokter dengan menundukkan kepalanya, kemudian dia pergi dari kamarnya Lucael dan pulang.
"Aku sudah meminum obat ini, Albert. Aku akan tidur sekarang, jadi kau bisa pergi sekarang dan jangan khawatirkan aku." Ucapnya sambil tersenyum.
"Baiklah tuan muda." Sahut pelayan pribadinya dengan ekspresi sedih karena melihat tuannya sedang sakit dan kemudian dia keluar dari kamarnya Lucael.
Setelah itu, Lucael kemudian berbaring ditempat tidurnya sambil berpikir tentang kejadian sebelumnya itu....
"Apa yang terjadi pada putri Liliana saat ini ya? Andai dia tidak menemui ku, pasti dia tidak akan ketakutan seperti itu. Ini semua salahku, harusnya aku tidak pernah datang ke pesta dan berterus terang pada kakak kalau aku tidak enak badan. Meskipun dia tetap akan khawatir, tapi mungkin kejadian yang menimpa putri tidak akan terjadi." Gumamnya saat berbaring di tempat tidurnya.
"Lagi-lagi seperti ini! Apa kau tidak bosan menyalahkan dirimu sendiri atas sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahan mu. Dari kehidupanmu yang dulu, kau juga selalu menyalahkan dirimu sendiri atas kesalahan yang tidak pernah kau perbuat. Dan berhenti membenci dirimu, karena jika tidak... kau mungkin tidak akan bahagia dikehidupan keduamu kali ini juga." Ucap Babunya malaikat padanya.
"Aku selalu bahagia di kehidupan kali ini dan aku juga sering tersenyum, meskipun benar kalau kejadian kali ini bukan karena perbuatanku. Tapi itu tetap kesalahan ku karena tidak mengaktifkan pelindung untuk menangkal kekuatan suci milik putri, karena hal itulah dia menghampiri ku."
__ADS_1
"Dan sekarang... ayahku juga khawatir padaku, lalu setelah ini... kakakku juga akan khawatir. Aku ini hanyalah beban bagi mereka berdua, harusnya aku bisa membuat mereka bahagia bukannya khawatir setiap saat seperti ini." Sahut Lucael.
"Terserah mu saja...." Ucap Babunya malaikat dengan wajah kesal. Dia kemudian berkata dalam hatinya....
"Kau bilang, kau selalu tersenyum! Senyum mu di dunia ini sama seperti senyum yang ada di kehidupan pertama mu, senyuman itu hanya senyum palsu untuk membuat orang lebih baik dan agar tidak membuat orang khawatir."
"Andai kau tau, Lucael... beberapa hari sebelumnya, ayah mu menangis didepan makam mu dengan terus berkata bahwa semua adalah kesalahan nya bukan kesalahan mu."
"Dia dapat menyadari kalau semua itu adalah kesalahannya itu karena pidato kakakmu di dunia terdahulu mu, isi pidatonya saat ingin meresmikan yayasan perlindungan anak yang ditelantarkan atau tidak memiliki tempat untuk tinggal adalah...."
Halo semuanya, perkenalkan saya adalah direktur utama perusahaan TG atau Taeyong Gruop. Disini saya akan menceritakan tentang kisah seorang anak yang tidak diperhatikan oleh ayahnya.
Hal itu dikarenakan anak itu adalah penyebab kematian istri yang dia sayangi, menurut ayahnya... padahal itu bukanlah kesalahan anak itu melainkan takdir hidup istrinya yang hidup sampai dia melahirkan anak mereka itu.
Tapi ayahnya terus menerus menyalahkannya, dan para hadirin semuanya... akibat tidak dipedulikan ayahnya itu, dia terus dibuli kalau dia adalah anak yatim piatu saat dia masih duduk di sekolah dasar. Dan bukan hanya itu saja, dia juga sering dihajar dan dipukul oleh teman-temannya saat itu.
Mungkin dalam pikiran kalian berkata, "bagaimana dia bisa tau kisah hidup anak itu, atau itu hanya cerita karangannya? Iyakan?"
Tapi kisah ini adalah kisah nyata para hadirin semuanya, karena saya dan dia adalah teman dan juga kami sudah bersama saat dia masih kecil sampai dewasa makanya saya bisa tahu semua cerita ini.
Mereka berdua tinggal disatu atap yang sama tapi mereka tidak pernah bertegur sapa, dan bahkan mereka jarang berkontak mata karena anak itu terus menundukkan kepalanya saat berselisih dengan ayahnya dirumah.
Dia memang tidak kekurangan uang karena ayahnya selalu memberikan uang yang cukup, tapi ayahnya hanya memberikan uang dan uang. Ayahnya tidak pernah memberikan kasih sayang, kehangatan dan perhatian layaknya seorang ayah.
Anak itu hanya memiliki ibu asuh dan teman yang lebih tua darinya dua tahun, temannya itu adalah satu-satunya anak dari ibu asuhnya makanya dia selalu dibawa saat ibunya sedang mengasuh anak itu. Karena anak itu sudah diasuh dari dia bayi setelah ibunya anak itu tiada.
Setelah melihat dia selalu pulang dengan wajah memar dan pakaian lusuh setelah berkelahi, ibu asuhnya memberikan nasehat padanya agar tidak diam saat dihajar. Kau harus membalasnya jika kau tidak salah dan jika mereka menghina mu, jangan hiraukan kata-kata mereka kata ibu asuhnya.
Setelah mendengar nasehat itu, dia tidak pernah lagi diam saat dipukul. Dia akan membalasnya dengan lebih mengerikan sampai-sampai membuatnya ditakuti oleh semua orang yang pernah membulinya.
Karena mereka tidak bisa lagi membulinya secara fisik, akhirnya mereka membuli dirinya dengan kata-kata. Pada awalnya, dia tidak menghiraukan perkataan orang-orang yang membulinya. Tapi karena terus-menerus di hina dan diejek, itu kemudian berdampak pada mentalnya.
Dia selalu menyendiri dan tidak pernah mau bergaul pada teman-teman seumurannya kecuali anak dari ibu asuhnya. Di saat anak itu sudah beranjak remaja, ibu asuhnya berhenti mengurusnya karena masa kontrak perjanjian mengasuhnya sudah habis. Ibu asuhnya pulang ke kota asalnya sendirian tanpa anaknya karena dia tidak ingin melihat anak yang diasuhnya sendirian.
Jadi dia meminta izin pada ayah anak itu untuk membiarkan anaknya bisa tinggal dirumah itu seperti biasanya supaya anaknya tidak kesepian, lalu ayahnya berkata, "Terserahlah... asalkan anakmu tidak mengganguku, maka aku akan membiarkannya tinggal. Tapi aku hanya memberikannya tempat untuk tinggal, kalau soal finansial... kau yang akan mengurusnya karena dia itu anakmu.
"Terimakasih tuan." Ucap ibu asuh anak itu. Setelah itu dia kemudian kembali ke tempat asalnya dan menjadi seorang buruh selama satu tahun karena setelah satu tahun bekerja menjadi buruh, dia meninggal dunia karena kelelahan."
Anaknya yang masih berumur enam belas tahun menangis di hari pemakamannya, lalu anak asuhnya menghibur anak itu karena mereka berdua adalah teman. Anak ibu asuhnya kemudian pergi sebentar untuk suatu keperluan, dan temannya itu tetap berada di depan peti mati ibunya.
Pada saat dia kembali dan berada didepan pintu, dia melihat temannya seorang diri di pemakaman itu karena para tamu sudah pergi. Temannya kemudian tersungkur dan menangis sejadi-jadinya dengan berkata, " Andai aku tidak menghabiskan uang yang selalu diberikan ayahku dan menyisihkan ya setengah, mungkin aku bisa memperkejakan ibu seperti biasanya. Dan mungkin ibu tidak akan tiada karena kelelahan, i-ini semua salahku. Hiks... hiks...hiks.... Ini semua adalah salahku! Karena akulah kau tiada, karena diriku... ibu kandung dan ibu asuhku tiada dan bahkan karena diriku, ayah dan temanku kehilangan orang yang sangat dia sayangi.
Itulah yang dikatakannya setelah pemakaman ibu asuhnya itu, anak ibu asuh tadi hanya terdiam dibelakangnya dan menangis mendengar kata-katanya yang menyalahkan dirinya sendiri akan suatu takdir yang tidak dapat diubah manusia. Dua bulan setelah itu, dia berulang tahun yang ke empat belas tahun. Diulang tahunnya kali itu, dia mendapatkan hadiah dari ayahnya untuk yang pertama kali dan yang terakhir kalinya.
Hadiah yang diberikan ayahnya adalah sebuah apartemen, alasan ayahnya memberikan apartemen itu sebagai hadiah karena ayahnya ingin anak itu tidak ada dirumah yang sama dengannya. Dia berkata kepada anak itu untuk pertama kalinya, "ku harap, setelah ini... kita tidak akan bertemu lagi. Dan jangan khawatir soal uang, aku akan terus mengirimi mu uang perbulan empat kali lipat dari biasanya sampai kau bisa mandiri." Kata ayahnya.
Mendengar kata-kata itu, anak itu kemudian berkata.... "Aku benci ayah!" Lalu dia pergi ke kamarnya dan setelah itu dia dan temannya pindah ke apartemen itu.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1