
Setelah mengatakan tentang dirinya yang membenci ayahnya, setiap malamnya dia terus menangis dan menyalahkan dirinya. Di dalam tangisan setiap malam itu dia berkata, "Maafkan aku ayah, aku tidak seharusnya mengatakan kalau aku membencimu. Karena kau tidak pernah bersalah, karena semua penderitaan yang kau alami setelah kehilangan seseorang yang kau sayangi itu adalah salah ku. Akulah yang pantas dibenci dan disalahkan atas semua kesedihan yang kau alami.
Jadi maafkan atas sifat kurang ajar ku waktu itu, aku tidak akan menggangu mu lagi mulai detik ini dan saat ini. Dan jika aku berhasil suatu hari nanti, aku akan mengembalikan seluruh uang yang kau pakai untukku mulai dari aku bayi sampai terakhir kali kau memberikan ku uang." Itu lah kata-kata yang dia katakan saat dia menangis dimalam hari, dan kata-kata itu selalu sama di hari berikutnya.
Temannya yang mendengar tangisannya malam itu, kemudian menghampirinya dan menghiburnya. Temannya berkata, "berhentilah menyalahkan dirimu, itu bukan salah mu... dan jika kau terus-menerus menyalahkan dirimu, mungkin mentalmu perlahan-lahan akan hancur. Jadi ku harap kau tidak menyalahkan dirimu sendiri nantinya." Mendengar perkataan temannya, dia hanya mengangguk tapi tidak menghiraukan perkataan temannya karena otaknya sedang kusut waktu itu.
Karena dia sudah bertekad untuk bisa mandiri, dia kemudian mengatur pengeluaran uang yang dia keluarkan setiap bulannya. Pengeluaran uang setiap bulannya berkurang setengah dari sebelumnya, karena dia mengiritnya. Uang yang dia sisihkan setiap bulannya akhirnya terkumpul banyak sampai dia bisa berinvestasi dan membeli beberapa saham. Kemudian pada akhirnya dia berhasil mendirikan sebuah perusahaan, dan perusahaan itu dinamai dengan TG atau Taeyong Gruop.
Dia kemudian mengangkat temannya itu menjadi direktur utama perusahaannya, dan perusahaan itu dia dirikan saat umurnya masih dua puluh satu tahun. Perusahaan itu terus berkembang dari waktu ke waktu sampai dapat menyaingi perusahaan milik ayahnya.
Di usianya yang kedua puluh delapan tahun, dia di diagnosa mengidap penyakit yang menyebabkan kematian sebesar delapan puluh lima persen dan kemungkinan bisa hidup hanya sebesar lima belas persen. Tapi sayang, dia tidak bisa bertahan dari penyakit itu.... Dia menghembuskan napas terakhirnya diumur dua puluh delapan tahun dan menyedihkannya... ayahnya tidak hadir di pemakamannya waktu itu.
Sebelum dia tiada, dia membuat sebuah surat wasiat dan disurat itu dikatakan kalau dia menyumbangkan seluruh kekayaannya yang ada di bank kepada beberapa yayasan yang ada di negara ini. Dan harta benda miliknya seperti perusahaan, rumah juga mobil dan beberapa aset tanah diberikannya kepada teman satu-satunya itu. Dia bilang di surat wasiatnya itu, kalau temannya tidak perlu ragu untuk menerima warisan itu karena warisan itu adalah tanda maafnya karena membuat ibu asuhnya tiada karena kelelahan.
Lagi-lagi dia menyalahkan dirinya, atas hal yang tidak pernah dia lakukan. Mungkin banyak orang yang berpikir, kalau manusia seperti dirinya yang selalu menyalah dirinya itu bodoh karena terus menyalahkan diri sendiri dan membenci dirinya sendiri....
Tapi itu bukanlah karena kebodohannya, melainkan karena selalu disalahkan ayahnya sendiri dan hal itu membuat mentalnya hancur dan kemudian dia terus menyalahkan dirinya sendiri dan juga membenci dirinya dan bukan hanya itu saja, dia juga selalu berpikir kalau dia tidak pantas dikasihani karena dia adalah seseorang yang hanya bisa membuat orang-orang disekitarnya menderita.
Jadi mulai detik ini, kalian semua yang ada disini dan para penonton yang sedang melihat acara ini di internet maupun Televisi... berhentilah menyalahkan anak atas kematian istri kalian, dan berhenti menyalahkan anak atas kesalahannya yang sepele. Karena kalian adalah orang tuanya, bagi anak-anak kalian orang tua adalah tempat bersandar mereka dan tempat mereka mendapatkan kasih sayang dan juga perhatian. Demikian pidato saya, terimakasih banyak karena tetap mendengarkan pidatonya atau lebih tepatnya cerita teman saya sampai habis.
"Itulah yang dikatakan orang yang kau sebut kakak itu Taeyong, dan setelah mendengar cerita hidupmu yang terus menyalahkan dirimu di televisi... ayahmu kemudian mengunjungi makam mu untuk yang pertama kalinya di hari kematian mu yang sudah dua tahun berlalu. Dia menangis dan terus meminta maaf di pemakaman hari itu."
"Karena hari itu adalah hari kematian mu, kakakmu datang membawa bunga untukmu dan dia melihat ayah mu menangis didepan makam mu dengan berkata kalau dia menyesal, kakakmu kemudian mendekatinya dan berkata...."
"Anda tau pak, menyesal diakhir itu tiada gunanya karena orangnya telah tiada. Kenapa baru sekarang anda mengunjunginya, bahkan ini adalah kunjungan yang pertama kalinya setelah dua tahun dia tiada. Kemana anda saat dia masih hidup waktu itu? Dan dimana anda berada saat hari pemakamannya?"
"Harusnya anda merawatnya, memberikan dia kasih sayang dan perhatian karena dia adalah anak yang ditinggalkan istri anda pada anda untuk membuat anda tidak kesepian. Jika anda sangat mencintai istri anda, harusnya anda juga mencintai anak yang dilahirkannya bahkan anak itu adalah darah daging anda sendiri. Tapi sayang, anda hanya mencintai istri anda dan tidak mencintai peninggalan terakhir istri anda yang berharga berupa anak anda."
"Ah, Taeyong juga berpesan disurat wasiat itu untuk memberikan uang sebanyak yang pernah anda berikan dan keluarkan untuk kebutuhannya. Dan dia juga sudah menghitung totalnya, jadi saya harap anda menerimanya karena adik saya tidak ingin punya hutang pada anda. Saya pergi dulu...."
Setelah mengatakan itu dia kemudian meletakkan karangan bunga di makam mu lalu pergi. Andai aku bisa merekam adegan saat-saat ceritamu itu diceritakan sampai ayahmu yang tersungkur didepan makam itu, mungkin saja hal itu bisa membuat mu berhenti menyalahkan dirimu sendiri tapi sayang aku tidak bisa melakukannya, hah....
Pagi hari pun tiba....
Setelah mendengar dia sudah bangun, kakaknya langsung menghampiri dirinya yang masih ditempat tidur dan langsung memeluknya dengan erat.
"Syukurlah kau baik-baik saja, Luca. Kenapa kau tidak mengatakan pada kakak kalau kau tidak enak badan. Jika sesuatu terjadi padamu lain kali karena kesalahanku lagi, mungkin aku akan membenci diriku karena membuatmu dalam bahaya." Ucap kakaknya dengan menatap wajahnya.
"Kakak tau, kejadian semalam itu bukanlah salah kakak... melainkan salahku. Seharusnya aku mengatakannya pada kakak lebih awal, mungkin kakak dan ayah tidak akan khawatir berlebihan padaku seperti ini. Jadi aku mohon jangan menyalahkan kakak lagi." Sahutnya sambil tersenyum kepada kakaknya.
"Lagi-lagi, senyuman palsu. Kapan kau akan menghibur dirimu sendiri Taeyong?" Gumam Babunya malaikat yang sedang berada didepannya Lucael dengan posisi yang melayang.
"Mari makan bersama adikku, ayah juga makan bersama kita kali ini karena dia mengambil cuti kerja untuk bisa menemanimu hari ini karena kakak harus pergi ke istana kekaisaran untuk menyelesaikan sesuatu. Jadi ayo kita pergi makan...." Ucap kakaknya dengan menggandeng tangannya dan berjalan bersamanya ke ruang makan.
Di tempat ruang makan....
__ADS_1
"Ayah, aku ingin bertanya padamu... apa yang terjadi setelah aku pergi." Tanya Lucael sambil memotong daging dengan tata krama bangsawan, dan setelah bertanya dia pun memakannya.
"Hmm... setelah kau pergi, para tamu langsung ricuh karena melihat kaisar bergegas keluar dan mereka pun mengikutinya. Setelah mereka melihat kaisar membereskan mayat monster yang kau bakar malam itu, mereka semua langsung syok dan bertanya... siapa yang telah membakar monster besar itu kata mereka, kaisar pun mengatakan kalau kau lah yang membakar monster itu dan putri Liliana juga bersaksi kalau memang benar kau yang telah membakarnya." Sahut ayahnya dengan menatap wajahnya.
"Kenapa beliau malah memberitahu semua orang kalau saya lah yang telah membakarnya, ayah harusnya bilang pada kaisar untuk tidak memberitahukan hal itu dan bahkan putri Liliana juga bersaksi, hah... anda tau ayah, saya benci menjadi sorotan publik." Ucapnya dengan wajah sedih sambil memakan makanannya.
"Kenapa kau tidak menyukai sorotan publik Luca, bukannya itu bagus kalau kau terkenal karena bakat hebat mu." Sahut kakaknya.
"Yang kakakmu katakan itu ada benarnya, tapi apa alasan mu tidak menyukai disorot publik?" Tanya ayahnya.
"Alasan sebenarnya adalah karena saya malu, tapi karena kakak dan ayah bilang itu adalah hal yang bagus jadi saya rasa itu bukanlah hal yang memalukan melainkan hal yang bagus." Jawabnya, padahal dalam hati mengatakan hal lain....
"Maafkan aku ayah karena membohongimu, aku benci disorot publik bukan karena hal itu. Karena aku sudah muak di sorot orang-orang dikehidupan ku yang dulu sebelum aku berada dibalik bayangan kakakku." Ucap isi hatinya.
"Kau tau Lucael, awalnya aku tidak memberikan ijin pada kaisar untuk mengatakan kalau kau yang membereskan monster itu. Tapi dia membujukku agar mengizinkannya karena hal itu katanya adalah sebuah pujian yang harus kau dapatkan setelah melindungi semua orang dari monster." Ucap ayahnya.
"Kenapa ayah tidak mengizinkan hal itu pada awalnya?" Tanya Lucael dengan wajah kebingungan.
"Karena aku tidak ingin kejadian di masa lalu terulang lagi... cukup satu kali hal itu terjadi! Dengarkan baik-baik kataku Lucael, kau tidak boleh menunjukkan kepada semua orang kalau kau adalah manusia yang memiliki mana tak terbatas." Jawab ayahnya dengan wajah yang serius.
"Yang ayah katakan itu benar Luca, tentang kau yang memiliki mana tak terbatas itu tidak boleh diketahui oleh publik... karena jika hal itu diketahui, hal yang terjadi di masa lalu akan terulang kembali." Sahut kakaknya dengan wajah yang sedih.
Suasana ditempat itu kemudian berubah jadi hening karena Lucael berhenti makan dan menundukkan kepalanya....
"Ah, maaf... ayah dan kakak tidak perlu khawatir tentang hal itu. Karena aku juga tidak berniat untuk menarik perhatian orang-orang." Ucapnya sambil tersenyum.
"Ah, iya juga ya... kau kan tidak suka mendapat perhatian dari orang-orang, makanya kau selalu menolak undangan pesta anak-anak seusiamu. Ehmm... hari ini kakak tidak pergi ke akademi loh, Luca." Ucap kakaknya.
"Ah, maaf menyela kau berbicara Aria, ada yang ingin kutanyakan pada Lucael saat ini.... Lucael, apa kau melihat sebuah roh terbang disekitarmu dan dia menunjukkan masa depan yang akan terjadi padamu?" Tanya ayahnya.
"Jawab saja tidak, nanti akan ku jelaskan." Ucap Babunya malaikat.
"Tidak kok yah, memangnya kenapa?" Jawab Lucael.
"Baguslah kalau begitu... kau bertanya kenapa? Karena jika kau melihatnya, nasibmu akan sama seperti kakak ku atau pangeran pertama." Ucap ayahnya dengan ekspresi serius.
"Yang ayah katakan itu benar adanya, dan lagi... kau juga menunjukan gejala penyakit sama seperti pangeran pertama. Kalian sama-sama muntah darah dan pada saat diperiksa untuk mengetahui penyakit yang diderita, ternyata tidak ada penyakit apapun ditubuhnya dan tubuhmu. Kau benar-benar tidak melihat sebuah roh melayang didekat mu dan dia juga bisa mengajakmu bicara kan?" Tanya kakaknya dengan wajah yang mengharapkan kalau dia berkata tidak.
"Iya, aku tidak melihatnya sama sekali... apalagi berbicara dengannya." Ucapnya sambil tersenyum, lalu meneruskan makannya.
"Apa kau mau jalan-jalan ke ibu kota, kau kan baru keluar dari mansion ini satu kali untuk pergi ke acara pesta yang dibuat oleh pangeran mahkota. Jadi ini akan menjadi yang kedua kalinya kau pergi dari mansion membosankan ini." Ucap kakaknya.
"Ayah tidak mengizinkan kalian untuk keluar! Adikmu itu masih kurang sehat, dan tadi malam dia juga muntah... jadi biarkan dia beristirahat selama beberapa hari. Setelah dia membaik, kalian bisa pergi. Dan jangan coba-coba untuk keluar sembunyi-sembunyi dari ku, jika terjadi sesuatu pada adikmu... aku tidak akan memaafkan mu." Sahut ayahnya dengan menatap tajam ke arah kakaknya.
"Baiklah ayah...." Ucap kakaknya dengan sedih.
__ADS_1
Ayahnya kemudian berdiri dari kursi dan berjalan keluar ruangan sambil berkata....
"Karena jalan-jalan ke ibu kota ditunda dulu untuk sementara waktu sampai adikmu sehat, lebih baik kau pergi ke akademi sekarang."
"Jadi bukannya libur ya, melainkan kakak hanya ingin jalan-jalan denganku." Ucap Lucael dengan turun dari kursi dan berjalan ke arah kursi kakaknya.
"Aku akan beristirahat dengan baik, supaya kita bisa jalan-jalan keluar." Ucapnya sambil tersenyum.
"Iya...." Sahut kakaknya sambil mengusap kepalanya.
"Sampai nanti kakak...." Ucap Lucael dengan melambaikan tangannya dan keluar dari ruangan itu.
Sesampainya dia di kamarnya....
"Haah... hah... dadaku rasanya sesak sekali...." Ucapnya, kemudian dia duduk ditempat tidurnya.
"Kan sudah ku bilang! Berhenti membenci dirimu sendiri, dan lagi... kau bahkan membuat suasana tadi jadi hening." Ucap Babunya malaikat.
"Tidak bisa... dan aku memang pantas untuk dibenci, harusnya aku tidak membakar monster itu dan melarikan diri saja bersama tuan putri Liliana. Lagi pula, para kesatria Emperor/ kekaisaran sudah pasti bisa menangani hal kecil seperti itu." Sahutnya, kemudian dia berbaring dan melihat ke atas sambil berkata....
"Sekarang ini aku sudah mulai serakah, aku terus menginginkan kasih sayang dan cinta dari mereka berdua. Dan pada akhirnya... aku akan mati dan membuat mereka menangis di depan makamku."
Lucael kemudian bertanya pada Babunya malaikat tentang kejadian waktu sarapan tadi....
"Apa alasanmu menyuruhku berkata tidak saat ayah dan kakakku bertanya, apakah aku melihat sebuah roh yang melayang di dekatku dan jika aku melihat mu, kenapa nasibku akan sama seperti pangeran pertama?"
"Ah, alasannya karena dimasa lalu... pangeran pertama juga orang yang terpilih sepertimu untuk menyelamatkan dunia ini dari kehancuran. Dia juga mengingat kehidupan pertamanya sepertimu, tapi dia tidak sanggup mengemban tugas itu. Karena aku juga memberitahukan masa depan kepadanya, dimasa depan kalau dia masih bisa bertahan dan menjadi seseorang yang kuat walaupun umurnya juga pendek, dia akan tiada saat berumur tiga puluh tahun dan dia mati bukan karena penyakit ataupun dibunuh melainkan jiwanya hancur."
"Seandainya dia memilih untuk bertahan sampai usia tiga puluh tahun, keluarga kerajaan yang damai ini tidak akan pernah ada. Karena mereka bertiga hanya seayah tapi beda ibu dan fraksi kekaisaran pun terbagi menjadi dua, yaitu fraksi pangeran pertama dan fraksi pangeran kedua."
"Sedangkan pangeran ketiga dan keluarga ibunya tidak peduli soal tahta karena mereka hanya ingin hidup damai, makanya fraksi hanya terbagi dua bukannya tiga. Pangeran pertama yang mengetahui masa depan akan berjalan seperti itu kemudian berpikir setengah mati untuk membuat hal itu tak terjadi, karena dia sangat sayang kepada dua adiknya meskipun beda ibu."
"Mereka bertiga sangat akrab, sampai-sampai membuat fraksi mereka bingung harus bagaimana untuk memecah belah mereka. Lalu fraksi pangeran pertama membunuh permaisuri atau ibu pangeran mahkota untuk menuduh bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh orang suruhan permaisuri kedua."
"Mengetahui ibunya akan dijadikan korban untuk membuat dia naik tahta dengan mulus, dia kemudian kesal. Dia mengetahui hal itu semua saat berusia enam tahun, jiwa asli dari pemilik tubuh pangeran mahkota juga hancur berkeping-keping."
"Jadi dia juga sama sepertimu, sama-sama merasuki tubuh anak usia lima tahun yang memiliki mana yang berlebihan. Tapi dia tidak ingin menggunakan sihir meskipun tahu caranya, karena dia ingin tiada lebih cepat tanpa bunuh diri. Dia tidak ingin bunuh diri alasannya yaitu, dia tidak ingin membuat ibunya dan keluarganya malu karena tidak bisa membesarkan dirinya dengan baik sampai membuatnya bunuh diri."
"Makanya dia tidak ingin menguasai sihir lebih cepat seperti mu, dan tiga bulan sebelum dia tiada... dia menceritakan tentang dirinya yang berasal dari dunia lain dan tentang diriku yang merupakan roh yang bisa melihat masa depan kepada dua adiknya."
"Lalu dia kemudian berpesan supaya kedua adiknya agar tidak bertengkar dan berebut tahta, karena jika mereka berdua tidak menghiraukan pesannya itu... semua pengorbanannya akan sia-sia saja dan masa depan tetap akan sama." Ucap Babunya malaikat dengan berbaring di udara.
"Jadi ceritanya seperti itu rupanya, ternyata pangeran pertama menceritakan tentang mu dan masa depan yang akan terjadi dan alasan dia tidak bisa menggunakan sihir. Pantas ayahku bertanya masalah itu dengan wajah yang sangat serius, dia tidak ingin aku berkorban sama seperti pangeran pertama untuk kedamaian." sahut Lucael, lalu setelah itu... dia pun tertidur karena dia harus istirahat penuh agar pulih.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1