
Di tengah perjalanan menuju mansion itu, Lucael menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah tuan putri dengan berkata....
"Kakak saya sudah memerintahkan para pelayan untuk membantu mu dan juga melayani saat berada di sini, jadi anggap saja seperti rumah sendiri. Kalau tuan putri sudah selesai membersihkan diri, tuan putri bisa meminta para pelayan untuk membawakan makanan ke kamar tuan putri nantinya. Tapi kalau tuan putri ingin ikut makan bersama keluarga saya, keluarga saya akan sangat senang. Tapi jika itu membebani tuan putri, anda bisa tidak ikut makan malam dengan keluarga saya."
Lucael kemudian terkejut melihat wajah putri Liliana yang menatapnya dengan kesal, "Kenapa wajah anda terlihat kesal yang mulia tuan putri?"
Dengan mengepalkan kedua tangannya, di menjawab pertanyaan Lucael dengan nada yang cukup tinggi....
"Kenapa dari tadi kau terus menggunakan bahasa formal padaku, bukannya posisimu itu sama dengan pangeran kekaisaran ini meskipun kau adalah tuan muda dari kediaman ini, tapi kau juga merupakan keturunan dari kaisar sebelumnya bukan? Jadi ku mohon, jangan berbicara formal denganku, dan aku juga ingin kita berdua bisa menjadi teman." Setelah mengatakan kata-kata itu dia hanya melihat ke arah bawah, karena dia tidak berani menatap wajah Lucael.
"Ah, jadi begitu... jika memang itu yang kamu mau? Maka dari itu, ini adalah hari pertama kita berteman, hm... jadi aku harus memanggil mu dengan sebutan apa? Tetap tuan putri, atau menyebutnya dengan nama mu ya...." Sahut Lucael dengan wajah yang terlihat bingung.
"Kau bisa memanggilku Liliana atau Lili, jadi sudah dipastikan kita sudah berteman bukan?" Ucapnya dengan wajah yang memerah dan malu-malu. Dalam hati nya berkata , "Bukannya jiwaku ku sudah dewasa? Kenapa aku harus tersipu malu saat bicara dengan bocah ini, tapi harus ku akui, mungkin aku tidak terbiasa melihat wajah seseorang setampan dan seimut ini."
"Baiklah, Lili... mari kita masuk kedalam." Sahutnya dengan senyuman yang manis dan itu membuat wajah putri Liliana makin memerah.
Setibanya dia dikamar tamu... putri Liliana langsung menampar wajah nya untuk membuat nya sadar, "Aku tidak boleh terpengaruh pada wajahnya itu, tidak, pokoknya tidak boleh... tapi sebaliknya dialah yang harus suka padaku lebih dulu." Ucapnya setelah menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
Seseorang kemudian mengetok pintu kamarnya seraya berkata, "Salam kepada tuan putri dari kerajaan Kexzelfen... saya adalah pelayan yang akan membantu anda membersihkan diri anda dan hal lainnya saat anda disini, jadi bisakah anda mengizinkan saya masuk?"
"Iya, kamu bisa masuk sekarang."
"Terimakasih yang mulia putri karena sudah menerima saya, baiklah saya akan memerintahkan pelayan lain untuk menyediakan pakaian ganti dan aksesoris anda nantinya, jadi anda bisa membersihkan diri anda sekarang." Ucap si pelayan dengan membungkuk.
Putri Liliana kemudian mengangguk dan beberapa saat kemudian dia sudah selesai membersihkan diri dan juga mengganti pakaiannya.
"Anda benar-benar terlihat seperti boneka yang mulia tuan putri...." Ucap para pelayan yang membantunya memakai pakaian dan juga mendandaninya.
Lalu pelayan pertama kemudian berkata, "Baiklah yang mulia tuan putri, mari kita pergi ke makan malam hari ini.
"Iya." Sahutnya.
__ADS_1
Sesampainya di ruang makan, dia duduk diseberang Lucael. Meja makan itu sangat panjang dan juga kursinya lebih dari orang yang hadir saat itu... suasana saat makan malam itu benar-benar hening, dan itu membuat putri Liliana merasa sangat canggung dan bingung sampai mereka selesai makan.
Sebelum beranjak dari kursi makan, Nona Aria kemudian berkata....
"Anda pasti bingung dengan hal seperti ini yang mulia tuan putri, tapi ini sudah kebiasaan keluarga kami. Kami sangat jarang berbicara saat makan, tapi terkadang kami melakukan nya kok."
"Ah, b-begitu ya...." Sahut tuan putri.
Lucael kemudian berbicara dengan ayahnya, "Ah, saya baru ingat... Bolehkah anda mengizinkan saya keluar setelah ini bersama tuan putri ke taman? Tidak akan lama kok." Ucapnya dengan wajah memelas.
"Yah, baiklah. Ayah mengizinkan mu untuk keluar, tapi jangan terlalu lama karena kamu bisa masuk angin." Sahut Duke Alfearin dengan wajah yang agak serius.
"Terimakasih ayah." Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu mengajak tuan putri Liliana untuk pergi ke taman yang mereka kunjungi di sore hari tadi.
Mereka berdua kemudian pergi ke taman itu, dan posisi Lucael tepat didepan putri Liliana... Dia menoleh ke belakang dan berkata pada putri Liliana, "Bunga Lavender nya sangat indah kan Liliana." Disaat bersamaan, angin berhembus dan meniup rambutnya lalu cahaya bulan juga ikut menyinari nya seolah-olah dia menyatu dengan keindahan alam yang baru saja terjadi.
Wajah putri Liliana seketika memerah saat melihat keindahan yang baru saja terjadi itu, Lucael yang melihat wajah putri Liliana memerah kemudian bertanya, "Apa kamu baik-baik saja Lili?" Ucapnya dengan menyentuh wajah putri Liliana.
Lucael yang mengetahui isi pikiran lewat bantuan babunya malaikat kemudian dia berkata kepada putri Liliana, "Jika itu yang kamu inginkan, aku akan merubah nasib mu dari sekarang. Tapi kau harus berjanji, kau tidak akan pernah jatuh cinta padaku.... Jadi, apa kau ingin nasibmu yang sudah tertulis itu berubah?"
Ekspresi putri Liliana langsung berubah karena terkejut mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Lucael, dia kemudian berkata dengan tubuhnya yang gemeteran....
"Ba-bagaimana kau bisa tau isi pikiran ku? Apa aku baru saja salah dengar, kau tidak mungkin mengetahui isi pikiran ku kan?"
Lucael kemudian mendekat, dengan wajah tersenyum dia kemudian menjawab pertanyaan tersebut.
"Bukannya kamu sudah tahu putri Liliana, masih hidupnya aku saat ini adalah sesuatu yang berbeda dari yang kau tahu bukan? Kau tidak perlu takut dan waspada terhadap ku, karena aku bukanlah orang jahat. Alasan ku masih hidup adalah, untuk memperbaiki dunia yang hanya memihak pada pangeran Kyle dan merubahnya menjadi dunia yang adil pada semua makhluk yang ada di tempat ini."
"Aku tahu kau masih bingung dengan hal ini semua, tapi aku harus mengatakannya sekarang. Karena jika tidak, masa depan mu yang tidak adil itu tidak akan pernah berubah."
"Bagaimana aku bisa mempercayai kata-katamu?" Sahut putri Liliana dengan mengepal tangannya.
__ADS_1
"Aku akan mengacaukan alur cerita buruk ini, untuk yang kedua kalinya dengan meminta ayahku membuat kita berdua bertunangan dan dengan begitu, diusia mu yang kedua belas tahun kau tidak akan bertunangan dengan pangeran Kyle karena kau dan aku akan bertunangan diusia kita yang masih tujuh tahun ini. Ayahku pasti setuju dengan hal ini, jika aku bilang aku sangat menyukai mu. Karena apapun yang ku mau yang tidak berdampak buruk pada kehidupan ku, ayahku selalu mengabulkan nya. Jadi kau hanya perlu meyakinkan ayahmu, dengan begitu kau satu langkah menjauh dari cerita buruk itu." Ucap Lucael dengan wajah yang serius.
"Tapi bukannya itu akan berdampak dengan kehidupan mu? Dan sebenarnya kau itu siapa? Aku benar-benar tidak memahami apa alasan mu untuk melakukan ini semua." Sahut putri Liliana dengan menundukkan kepalanya karena dia agak takut melihat wajah Lucael. Dalam hatinya berkata, "Aku bahkan tidak bisa melihat isi pikiran nya sama sekali, jadi untuk apa aku melihat wajahnya... karena dengan melihat wajah nya, aku mungkin akan masuk dalam perangkapnya."
"Dengar! Ini bukan perangkap, dan aku tidak punya maksud jahat kepadamu. Aku harus merubah cerita ini sesegera mungkin, karena jika telat... kau akan dihukum mati suatu hari nanti. Kau tidak ingin itu terjadi kan? Jika kau memang benar-benar ingin terlepas dari alur yang sudah ditentukan ini, kau harus membiarkan dan mendukungku merubahnya, karena kau sendiri tidak bisa merubahnya bukan?" Ucap Lucael dengan berusaha meyakinkan kalau dia tidak punya maksud jahat pada putri Liliana.
Dalam pikiran putri Liliana, "Apa aku harus mempercayainya, Aku benar-benar bingung... kenapa novel ini bisa berubah alurnya hanya karena dia, dan kenapa bukan aku saja yang merubahnya. Apa alasan aku tidak bisa merubah alur cerita bodoh ini! Kenapa? Kenapa?"
Tanpa dia sadari air matanya bercucuran, dia kemudian memberanikan dirinya untuk menerima bantuan dari Lucael... sambil mengusap air matanya dia berkata, "baiklah, aku akan menerima bantuan mu. Tapi kau harus berjanji! Kau tidak akan pernah mengkhianati ku...."
Lucael kemudian berkata, "jika itu yang kau mau, aku bisa membuat kontrak sihir tentang perjanjian" Dia kemudian menjentikkan jarinya, lalu dua buah surat perjanjian sihir kemudian muncul didepan mereka masing-masing.
"Disurat kontrak sihir perjanjian ini tertulis aku akan selalu setia padamu, dan tidak akan pernah mengkhianati mu, jika sampai aku mengkhianati mu, aku akan mati." Lucael kemudian mendekat lagi ke putri Liliana, dia kemudian berkata lagi....
"Suatu saat, aku akan menghilang ditengah-tengah alur cerita yang sudah berantakan karena ulah ku... di saat itu kau harus percaya kalau aku masih ada, meskipun dunia ini sudah mengatakan kalau aku telah tiada, kau hanya perlu melihat bunga lavender yang ada ditaman ini, jika bunga ini layu dan mati... itu bararti aku benar-benar menghilang dan tidak akan kembali lagi, tapi jika sebaliknya... itu bararti aku akan kembali lagi suatu saat nanti. Jadi selama aku pergi, kau harus percaya dan terus yakinlah kalau aku masih ada dan akan terus disampingmu sampai hidupmu benar-benar aman."
Babunya malaikat kemudian muncul dihadapan Lucael dengan pertanyaan, "Apa maksud omongan mu barusan, bukannya dimasa depan... kau tidak akan menghilang?"
"Kau pernah mengatakan bukan, kalau di dunia ini ada wilayah tersembunyi di bawah jurang yang tempatnya terkenal karena kecantikannya itu, dan meskipun itu jurang yang sudah banyak memakan korban, masih banyak orang yang ingin datang kesana. Disitulah ibuku lahir, kau juga tau itu bukan? Aku punya alasan untuk pergi kesana, tapi alasan itu tidak akan ku beri tahukan padamu... aku sudah membuat sihir tak masuk akal supaya kau tidak mengetahui alasan ku." Sahut Lucael dengan percaya diri dan ekspresi dingin tatapan mata yang mengintimidasi.
"Sialan!" Gumam babunya malaikat, dia kemudian menyingkir dari hadapannya Lucael setelah itu.
Putri Liliana kemudian menandatangani kontrak sihir perjanjian yang mereka buat itu setelah dia membaca yang tertulis di kontrak itu. Di kontrak itu tertulis seperti yang dikatakan Lucael sebelumnya kalau dia tidak akan mengkhianati. Setelah melihat putri Liliana menandatangani nya, Lucael kemudian mendatangi kontrak sihir itu juga.
"Sekarang surat perjanjian telah berjalan jadi kau tidak perlu khawatir kalau-kalau aku mengkhianati mu, jadi mari kita pergi menemui ayahku untuk mengajukan pertunangan untuk menghindari hal buruk yang terjadi dimasa depan, oke?" Ucap Lucael dengan menggenggam tangan putri Liliana.
"Ya, mari kita pergi sekarang." Sahut putri Liliana.
Meskipun pikiran putri Liliana masih kusut karena kejadian yang telah terjadi barusan... dia berharap kalau Lucael benar-benar merubah alur cerita buruk seperti di novel yang dia baca. Merekapun kemudian masuk ke dalam mansion untuk menemui Duke Alfearin....
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1