AKU INGIN HIDUP

AKU INGIN HIDUP
(1)


__ADS_3

...SEKAPUR SIRIH...


Novel ini aku persembahkan sebagai bukti jika kita sudah sedikit tidak bersahabat dengan lingkungan ini, semua berawal dari rasa tidak puas dengan apa yang dimiliki dan akan selalu mencari kepuasan terus menerus tanpa berpikir bahwa saudara di samping kita sangat bergantung pada lingkungan itu. Suara suara kesederhanaan diambil dari dinamika bangsa yang real atau nyata di hadapan kita, bukan melalui mimpi.


Suara ini benar-benar keluar dari lubuk hati, sebagai makluk yang sosialita. Ketika berhadapan dengan dinamika yang benar-benar terjadi dan mengakibatkan luka yang mendalam. Suatu bangsa yang besar sewajarnya perlu untuk menata kehidupan masyarakatnya agar mampu hidup dalam kesejahteraan. Tanpa menyebabkan ketimpangan disalah satu batang tubuh bangsa itu sendiri.


Ditinjau dari beberapa aspek kehidupan bernegara maka penulis ingin mengajak pembacanya untuk lebih melihat ke dalam, bahwasannya masih ada ketimpangan besar yang perlu untuk disikapi.


Penulis juga ingin berterimakasih kepada seluruh sahabat-sahabat yang dengan giat

__ADS_1


membantu penulisan novel ini terselesaikan dengan baik. "persembahan khusus untuk keluargaku yang selalu mendukung penulis dalam berkarya, dan juga untuk seseorang yang selalu mengispirasiku, dan mencintaiku, serta selalu mendukungku dalam berkarya".


Dalam penulisan ini, penulis ingin berterimakasih untuk sahabat seperjuangan yang telah membesarkan penulis di dunia keorganisasian. Sahabat Ibnu Rusid, Senior Jack, bersama ibunda tersayangnya. Senior Dahrul, Senior Sayidati Hajar, dan masih banyak teman seperjuanganku yang tidak bisa saya sebut satu persatu, salam satu pergerakan yaitu Gaharu Institute NTT, dan Mata Kupang. Bagian dari wadah yang membesarkan penulis hingga mampu beride dalam pergerakan.


Tak lupa aku ingin berterimakasih kepada teman sejawatku, abang Yan, yang selalu memberikanku nuansa baru dalam menulis, selalu memberikanku motivasi dan selalu menemaniku dalam menitik karirku di dunia menulis


Komunitas Kaki Kareta, sebagai suatu wadah untuk penulis berjuang menggapai impian. suatu wadah yang inpspiratif. Terutama terimakasihku untuk semua anggota badan pengurus komunitas yang memberi semangat dalam menulis hingga terselesainya novel ini dengan baik. Bung Dion yang selalu memberiku nuansa baru dalam menulis, sosok yang selalu memberiku semangat


...Ku persembahkan untuk kekasihku Lodia Marisa Jermías,...

__ADS_1


...Rindu ini untukmu.....


...MENCINTAI NASIB...


Suasana pagi ini sangat cerah dengan sinar matahari yang menembus pohon-pohon pinus di lereng bukit itu. Suara burung-burung memanggil lara yang sedang jenuh. Alam begitu riang pagi itu, entah karna apa, dari kejauhan terdengar suara siulan putus-putus yang jika diperhatikan siulan itu keluar dari gubuk bambu kecil yang sedikit miring sehingga harus menambah kayu di sekujur tiang tiang penyangggah. Pagi ini seorang kakek tua yang akhir-nya diketahui bahwa kakek itulah yang bersiul menyambut pagi dengan suara siulan yang terputus itu, sosok yang begitu lemah menyiapkan alat kebunnya, siap untuk berangkat mengais nafkah di ladang milik tetangga demi menghidupi keluarga kecilnya itu.


Isrtinya seorang kuli cuci yang setiap hari bergerak dari rumah ke rumah menawarkan jasa dengan harga semangkuk nasi putih dibubuhi sayur acar. Mereka memiliki lima orang anak tapi keempat anaknya meninggal semenjak masih kanak-kanak dikarenakan diserang penyakit. Sehingga hanya meninggalkan seorang laki-laki kecil berumur kira-kira dua belas tahun yang katanya hanya menempuh bangku Sekolah Dasar kelas dua, ia terpaksa tidak bersekolah karena harus membantu ayahnya. Dan sesekali harus bermain dengan segudang sampah yang sedikit membawa rejeki, walau harus berpapasan dengan bau yang menyengat hidung, dan kaki tak beralaskan sandal, setiap hari kerjanya menyusuri setiap pinggiran pasar dan pertokoan, yang gedungnya menjulang tinggi berjejeran rapi seperti pasukan tentara yang siap menyerang. Semenjak berdirinya gedung-gedung itu masyarakat di sekitar sudah beralih profesi, yang awalnya adalah petani sawah yang menghasilkan berton-ton beras namun kini harus mengurung kembali kenangan itu dan kini harus berhadapan dengan lalat, sampah, dan bau mesin jalanan. Air yang dulunya jernih sekarang sudah termakan oleh hasil buangan


gedung-gedung tinggi itu. Dulu, menurut tutur si kakek tua itu mereka memiliki sebuah rumah di bawah gedung yang paling tinggi itu. Sambil jari keriputnya menunjuk pada gedung itu, gedung sebuah perusahaan besar yang omsetnya bermiliar-miliar, diselingi dengan suara yang putus-putus, entah kakek itu berkata apa. Namun, dilihat dari wajah yang sudah berkeriput itu seperti terdapat sebuah penyesalan yang mendalam.

__ADS_1


Memang nasib manusia selalu penuh dengan misteri, dunia sekarang dijajah oleh penguasa yang dengan semena-mena menindas yang terpinggirkan. Persaingan demi persaingan dilakukan untuk menyenangkan hati tanpa melihat efek apa yang terjadi pada mereka yang tidak tau tentang apapun itu. Mereka yang sehari-hari menafkahi hidup dengan berjuang dalam kesederhanaa harus mengakhiri perjuangan mereka karna kecongkakan penguasa yang tak pernah pudar. Suara teriakan mereka hanya sebuah lelucon atau permainan drama yang dilakoni oleh manusia berbayang maut. Yang akhirnya pelakon itu harus mengalah dan mencari suaka baru walau harus meninggalkan luka dan kenangan.


Pagi ini anak separu baya itu menyiapkan sebuah kantong hitam berdebu, wajah ofal


__ADS_2