AKU INGIN HIDUP

AKU INGIN HIDUP
(4)


__ADS_3

Senyuman yang selalu menemaninya ketika sore hari disaat melepas lelah di sotoh depan gubuk itu, mungkin itulah cara yang paling tepat dan indah untuk membakar keresahannya ketika bermain dengan waktu. Istrinya langsung menyapa dan meneruskan langkahnya ke dapur untuk mempersiapkan makan malam. Anaknya sedang berada di dalam kamar sambil menghitung pendapatannya hari itu.


Pandangan kakek tua itu kadang menatap jauh ke kota, memang lokasi gubuknya sangat strategis, karena berada di bawah lereng bukit sehingga suasana sore sangat indah untuk dinikmati. Sesekali mulut kakek itu bergerak, mungkin sedang membaca apa atau mungkin sedang menghitung hari kapan upah dari kerjanya diberi. Malam ini menu makan mereka adalah nasi putih dengan lauk kangkung ditumis dan tempe goreng, hasil belanja istrinya siang itu. Berapa saat kemudian suara dari dalam rumah memanggil. "bapak mari makan". Kakek itu bergegas masuk menemui suara yang memanggil. Sebuah tempat nasi. dengan sayur yang telah diramu begitu lesat sudah disimpan di selembar tikar kusam yang biasa disiapkan untuk menyimpan makanan. Anaknya duduk di ujung tikar itu, sedang kakek tua itu duduk bersilang di samping tikat itu mendampingi sang istri. Suara kembali hening ketika ayat ayat doa dipanjatkan kepada Yang Kuasa meminta agar makanan hari ini bisa menjadi berkat dan kesehatan untuk bertahan di dunia yang penuh dengan kekacauan ini.


Malam semakin larut, suara binatang malam semakin jelas mengeluarkan lantunan yang begitu merdu menemani makan malam mereka, kadang mereka bercakap-cakap sambil melepas senyum. Kadang terdiam sambil menikmati makanan yang sudah tersaji di dalam piring kecil berwarna putih itu.

__ADS_1


Hari ini mereka telah lalui dengan penuh rasa syukur, memang itu yang selalu meraka lakukan setiap saat, menikmati hari tanpa kejenuhan sambil menunggu takdir yang memanggil. Tak ada satu orangpun yang mengunjungi mereka, setahun sekali disaat sensus penduduk dijalankan. Itupun hanya pegawai lapangan biasa yang menemui mereka. Dan selalu berganti ganti pegawai setiap tahun. Mungkin ketika selesai menggunakan tenaga mereka. langsung di ganti dengan pegawai baru. Atau yang biasa disebut dengan system kontrak. Yaa... sistem kontrak.


Setelah menikmati makan malam keluarga kecil itu langsung melepas penat sambil menunggu harapan baru di pagi yang cerah, yang mungkin akan ada mujizat dari Yang Kuasa. Memberi mereka sedikit rejeki untuk menantang keganasan dunia ini. Itu yang mungkin selalu dipikirkan oleh kakek tua itu di setiap sore ketika berada di sotoh rumah itu, disaat mulutnya bergerak entah berkata apa. Malam yang indah ditemani dengan suara binatang-binatang malam yang begitu merdu membuat suasana malam terasa bernostalgia dengan kenangan........


Hari ini cerah sekali. lalu-lintas pusat kota begitu ramai. dari pejalan kaki. pengguna kedaraan pribadi maupun umum bergonta-ganti seperti jejeran semut yang berpindah mencari suaka baru. Deretan penjual kaki lima memenuhi bahu-bahu jalan, menjajakan hasil jualan yang dibuat semalam, daerah pasar dipenuhi dengan manusia dari berbagai penjuru, dari yang anak-anak sampai kakek nenek. Wajah yang beraneka rupa menghiasi suasana yang begitu. kumuh. Sayur, pakaian dan masih banyak lagi beregelantungan seperti daun daun kering yang tinggal menanti angin harapan meniup dan jatuh entah kemana, ada yang di halam rumah, selokan, trotoar bahkan di jalanan sehingga digilis kendaraan dan akhirnya meninggalkan kenangan bahwa pernah ia berada di sebuah dahan yang kokoh.

__ADS_1


Memang karakter manusia tidak selalu sama, seperti yang ada pada Bangsaku, dari penguasa yang bengis hingga yang bijaksana, dari penjahat hingga dermawan bercampur baur menjadi satu schigga tidak dikenal mana yang baik dan mana yang jahat. keramaian pusat kota digunakan oleh berbagai macam manusia, dari pencopet hingga pengemis beredar seperti butiran pasir yang lepas dari tembok pembatas kota yang dibuat oleh pemerintah sebagai tanda akhir sebuah tempat.


Di gubuk itu, masih seperti biasa, keluarga kecil dengan hidup dalam kesederhanaan, berusaha untuk bertahan hidup di tengah morat-maritnya ekonomi. Anak seumuran dia yang harusnya bersekolah namun, semua itu ia kubur dalam-dalam, mungkin dalam benaknya ia pernah berpikir mengenai cita-citanya, karna semasa sekolah sudah menjadi kewajiban untuk setiap guru bertanya tentang cita-cita di masing-masing murid dan mungkin dia adalah salah satunya yang pernah ditanyai oleh gurunya.


Sebuah mobil mewah berjalan perlahan dan berhenti tepat di pintu gerbang sekolah itu, dari dalam mobil itu seorang bapak yang sedikit tua mengeluarkan kepalanya sambil melihat-lihat di sekitar sekolah itu.

__ADS_1


Sekolah itu adalah sekolah yang didirikan oleh masyarakat sekitar agar bisa membantu anak mereka untuk mendapatkan pendidikan. Memang dulu pernah ada sekolah yang bagus di kampong mereka, namun telah diambil oleh penguasa dan dijadikan sebuah hotel. Sehingga ketika mereka diusir keluar dari tanah mereka dan berpindah di lereng bukit itu, kepala desa dan beberapa tokoh adat bersepakat untuk membangun sebuah sekolah untuk anak-anak mereka. Hal itu disepakati bersama sehingga saat ini anak-anak mereka sudah bisa bersekolah, walau untuk tenaga guru masih sangat minim dan pembayaran gaji guru masih menggunakan hibah dari masyarakat desa itu.


__ADS_2