
membatu untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Kamipun berhenti sejenak sambil bercerita kecil. Awal pertemua dan disitulah sepucuk cinta mulai berkembang. Jelang beberapa menit kemudian kami disuguhi dengan makan siang itu. Sayur dengan sedikit dibaluti dengan beberapa menu indah terpapar di depan kami.
Sore menjemput, aku bergegas keluar dan mendampingi perempuan itu untuk segera bergegas menuju sebuah sumur kecil di bawal lereng bukit itu, hal itu aku lakukan karna sebelun kami makan siang itu telah kami bincangkan untuk mendampinginya melihat sumur tempat mereka menimbah air untuk keperluan sehari hari.
Aku memegang sebuah ember kecil sedang dia memegang sebuah ember pula, kami berjalan sambil bercerita. Awalnya aku sedikit bingung untuk memulai cerita, karena melihat kepolosannya dan kecantikannya belum lagi sosok kecantikannya dibaluti dengan sebuah kain panjang, belum lagi keindahan rambutnya yang terurai hingga sedikit menyetuh pinggang membuat aku kehabisan bahasa untuk mengukir tetang kecantikannya.
Dengan gesitnya ember-ember sudah dipenuhi dengan air dan siap untuk dibawah. Memang ada sedikit timbul rasa suka, yahhh mungkin karna aku juga sudah beranjak dewasa namun sulit untuk aku ungkapkan perasaan ini. Atau mungkin juga perasaan sama yang dia rasakan. Kamipun berhenti sejenak sambil bercakap-cakap kecil. "kau hebat" spontan kalimat itu keluar dari bibirku. Diapun tertunduk sedikit malu, atau mungkin aku orang yang pertama mengungkapkan kalimat itu. "terimakasih kak" sebuah ungkapan yang menyejukan hati keluar dari bibir manisnya. Akupun melanjutkan percakapan. "laki-laki dikampung ini akan sangat bahagia mendapatkan seorang perempuan seperti kamu".
Dia masih tertunduk seperti biasanya. Dibibirnya ingin ia berkata tak jelang beberapa detik sebuah kalimat keluar dari bibir manisnya."aku masih dilarang dan tidak diperbolehkan oleh orang tuaku. Kebiasaan dikampung kami jika seorang perempuan yang siap untuk dipinang harus mampu bekerja seperi seorang perempuan dewasa yaitu mampu menenun kain seperti yang aku pakai sekarang, belum lagi harus sudah mampu mengurus rumah tangga". Aku sentak sedikit kaget, dalam pikiranku kok susah yahhh seorang perempuan jika ingin menikah. Karna jika dilihat dari kacamata modern seorang perempuan yang jika sudah dewasa pastilah akan segera mengakhiri kesendiriannya, dengan memilih seorang pendamping untuk setia mendampinginya. Belum lagi saat ini jika kita lihat banyak terjadi pernikahan dini. Dan kadang hal tersebut sudahlah menjadi hal yang biasa.
__ADS_1
Dua bulan penuh kami berada di desa tersebut, dan kali ini memang waktu seperti tak memihak, itulah perasaan yang aku alami.
Pagi menjemput dengan cepat, di langit awan hitam menumpuk dan saling menindih, mungkin alam juga merasa sedih karena harus kami tinggalkan desa itu. Angin seakan berhenti bercengkrama dengan pohon-pohon. Dan seperti biasa aku masih melihat anak-anak ditemani dengan jerigen, adapula membawa ember. Ada yang duduk di depan rumah sambil menikmati kesejukan pagi. Burung-burung bersiul memberi irama selamat berpisah
Aku duduk dan melihat kebelakang rumah itu, duduk sosok perempuan cantik yang sering aku gombali. Perempuan cantik itu duduk dengan kepala sedikit tertunduk, dan kadang
Ia memalingkan wajahnya pada kami. Mungkin ia bersedih, atau apa yang ada dalam gumpalan otak kecilnya. Aku bisa membaca apa yang sedang ia pikirkan. Pastilah ia sedih jika akhirnya kami harus berpisah, aku mencintai dia namun disamping itu aku juga harus kembali ke kota untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah aku embani.
Cinta dan pengorbanan merupakan salah satu hal yang tak bisa dipisahkan, mengenalmu dan membagi rasa bersama merupakan bagian yang terindah dalam hidupku. Jika memang akan berakhir dengan perpisahan, itu adalah ujian untuk membentuk kita lebih matang dalam bercinta. Sebuah harapan yang saling diukirkan dalam angan membuat hati ini seakan tak ingin lagi untuk berpisah. Dalam benak ini jika ingin berpikir tentang kata pisah. seakan jantung ini tak tahan untuk merasakannya. Mungkin inikah yang dinamakan cinta.
__ADS_1
Dalam perjalanan seakan sangat berat untuk aku balikan wajah ini karna semakin aku mengantuk seakan wajahnya hadir dengan senyuman yang khas menghiasi bola mata ini berapa lama lagi aku ahrus melupakan kenagan ini. mungkin waktu akan bermain dan menjawab semuanya, namun dari pertemuan sederhana ini aku dapat menemukan arti cinta dan memiliki sebenarnya.
Bulan berlalu begitu cepat, suasana perkotaan yang membuat hati seakan tak tenang jika harus keluar dan melepas penat. Jalanan dipenuhi dengan orang-orang yang memiliki kesibukannya masing masing. Tak ada burung yang berkicau hari itu, mungkin mereka takut dengan kebisingan atau karna sengatan terik matahari yang membakar kulit. Aku duduk di depan teras rumahku sambil memandang kejauh. Dipersimpangan jalan duduk anak anak kecil memegang tumpukan kertas berisi berita semalam. Mereka berlari mendekati mobil mobil sambil meyodorkan lembaran lembaran koran dengan harapan ada yang akan membelinya, memang ada yang dengan iba membeli koran koran itu, adapula yang hanya memandang kedepan dan tak mengiraukan anak anak itu.
Dalam benakku masih dimainkan dengan suasana kampung dan perempuan desa itu, sosok yang masih merasuki pikiran ini, menyelip diantara saraf-saraf otakku dan memakan sebagian pikiranku. Walau kadang dengan kesibukanku aku sedikit melupakan bayangnya. Terdengar dari dalam rumah, ada suara yang memanggilku rupanya ibuku sudah tahu isi hatiku. Tersentak lamunanku berakhir dan aku lekas menuju suara yang tak asing lagi dikupingku ini.
"kamu melamun yaaa, Tanya ibuku" tidak ibu, suaraku sedikit berubah seperti ingin meyakinkan ibuku jika tidak ada yagn sedang aku pikirkan. "ibu bisa melihat dari wajahmu" dia melanjutkan, pasti sedang memikirkan desa itu, iakan??. Ahh ibu seperti tahu saja, aku kan sudah dewasa, "lohh ibukan tidak berbicara tentang dewasa, sambil memalingkan senyum padaku penuh arti. Akupun segera menceritakan apa yang aku alami di desa tersebut. Jelang beberapa menit, dari diskusi singkatku itu, terdengan ketukan pintu, akupun bergegas
Menuju pintu untuk membuka dan mliat siapa yang sedang datang. Rupanya ayahku sudah kembali dari kantor. Akupun bergegas menuju kamarku dan melanjutkan lamunanku. Keseruan sore ini bersama dengan ibuku membuat aku semakin mengingat kampong kecil. itu, dan perempuan desa itu. Kuteruskan lamunanku hingga tak sadar matahari sudah bersembunyi di ufuk barat, suara binatang-binatang malam mulai terdengar, lampu-lampu taman menghiasi rumah mungilku.
__ADS_1
Tak ada lagi kesibukan yang aku lihat. Jalan jalan telah sepi yang tinggal hanya anganku yang masi terbang dan tak bisa aku raih. Inilah kisahku, lelaki desa dan cinta.