AKU INGIN HIDUP

AKU INGIN HIDUP
(9)


__ADS_3

...PERJUANGAN SANG ANAK DESA...


Aku seorang lelaki yang sudah dewasa, awal perjuanganku adalah ketika aku berpikir untuk melanjutkan pendidikanku di bangku SMA, kehidupan keluargaku sangat sederhana hal ini yang membuatku untuk berjuang bangkit dari kesederhanaan itu agar nantinya melalui perjuangan ini, akan menjadi salah satu kebanggaan besar dari keluargaku.


Berpikir sekolah kadang menjadi sebuah pergumulan besar, hingga suatu waktu.


kedatangan mama kecilku membawa cahaya baru bagi anganku.


Dibangku SMA aku dibiayai oleh mama kecilku, sehingga menjadi sebuah rutinitas tak kenal waktu, keseharianku kulimpahkan untuk membantunya. Mungkin dengan cara sedehana ini yang akan membangkitkan semangatnya untuk terus membiayaiku bersekolah

__ADS_1


Ketika pulang dari sekolah, aku harus bekerja di tempat usaha mama kecilku, sebuah toko kecil berisikan keperluan sehari-hari, hingga sore barulah aku diijinkan untuk kembali ke rumah. Hal itu aku lakukan setiap hari sejak aku dibangku SMA.


Tak ada masa bagiku untuk duduk nongkrong seperti anak-anak seusiaku, berkumpul dengan teman sebaya, bercerita, berjalan-jalan, berbagi pengalaman, ataupun hal hal apa saja yang berkaitan dengan laki-laki seusiaku. Tempatku hanyalah sebuah toko kecil, sering berbicara dengan harga melayani pelanggan yang kadang membosankan, terigu, beras, mantega, dan masih banyak lainnya yang menjadi sahabat curhatku. Tak ada pilihan lain karna jika tidak demikian maka impianku untuk bersekolah bisa sirna.


Berbicara cinta memang semua orang pasti memiliki kisahnya masing-masing. akupun memilikinya. Kisah cintaku dimulai ketika aku beranjak kuliah, memang waktu masih SMA aku pernah mencintai seorang perempuan cantik di desaku, seorang perempuan manis, wajah yang ayu diselimuti dengan senyuman yang indah, rambutnya terurai di bawah pundaknya membuat kecantikannya semakin sempurna. Komunikasi kami tak seperti yang sering anak anak seusiaku lakukan, berjakan bersama, bergandengan tangan, makan bersama di kantin sekolah, ditraktir ataupun mentraktir dan masih banyak lainnya. Sebuah alat komunikasi kecil yang aku pegang itulah yang menjadi sarana percintaan kami, berbagi pesan via alat komunikasi itu sudahlah cukup untuk mengubur rasa cintaku, membaca balasannya sudah menjadi kebahagiaan besarku, belum lagi jika mendengar suaranya, seakan aku sedang diterbangkan dalam rindu, dan bertemu di awan-awan, memang lembut suaranya ketika berbicara membawa suasana cinta itu terasa, dan bahagia bisa dinikmati.


Dia bersekolah pula di sekolahku, namun untuk bertemu seakan ada tembok besar yang menutupi langkahku, karna memang aku tak bisa berkata-kata jika bertemu, seperti biasa yang kuberi hanyalah senyuman khasku, dan itu sudah menjadi bahagiaku. Yahhh. bahagia terbesarku saling berbalas senyum.


Haruslah menjadi pilihan bagiku dan bagi kebahagiaan bersama. Memang cinta tak selamanya harus menyatu. Sejak aku mendengar kelulusanku, pikiranku sudah mulai hadir untuk pergi jauh mencari kehidupan yang lebih layak. Seperti merantau mungkin itu kata kerennya.

__ADS_1


Pertemuan terakhirku di sudut kelas itu, tempat yang biasanya kami berpapasan dengan senyuman, ketika senyuman saling menyapa memberi keindahan tersendiri. Dan kali ini tempat itulah yang akan menjadi saksi pula bahwa senyum itu akan berakhir dan mungkin untuk selamanya.


Kudekati dia dan kucoba untuk lebih dahulu membuka percakapan, "kita sudah megakhiri perjuangan setelah tiga tahun sebuah perjuangan yang panjang, lanjutku. Dan hari ini, aku ingin memberikan sebuah kalimat yang memang akut tak ingin katakana, namun harus aku katakan karena memang kita memiliki perbedaan. Aku akan pergi dan mungkin tak bisa untuk kembali lagi, aku ingin pergi mencari kehidupan yang lebih layak, ukan untuk melanjutkan kuliah, tapi mingkin untuk kerja, walau belum aku tahu apa yang akan aku kerjakan kelak. Tak seberapa yang aku ucapkan, terasa suara ini semkin tak bisa untuk aku berkata lagi, terlinang air mata di pipinya yang indah itu, sambil tertunduk entah apa yang ia pikirkan, mungkin kesedihan mendalam ketika aku mengungkapkankata perpisahan, atau mungkin ia berpikir jika kepergianku akan membawa duka yang mendalam di batinnya.


Aku memang tak bisa untuk tidak mengungkapkan akan hal ini, karena bagiku, tak bisa untuk terus bertahan jika yang aku rasakan adalah hidup dibawah kekurangan dan kesederhanaan, bagaimana aku bisa membahagiakannya kelak?. Masa depannya masih sangat panjang, dan mungkin aku lelaki yang tak pantas untuk dicintai oleh dia yang memiliki segalanya. Hal hal inilah yang membuatku untuk secepatnya mengungkapkan apa yang telah aku pikirkan sebelumnya.


Beberapa bulan kemudian sejak pertemuan itu, aku berusaha untuk melupakan dia, melupakan cinta ini, dan segala yang berkaitan dengan rindu dan harapan. Dan terakhir aku mendengarnya, dia telah pergi jauh untuk melanjutkan akan pendidikannnya.


Akupun telah pergi jauh untuk mencari kehidupan. Sebuah lembaran baru dalam kehidupanku mulai ku ukirkan. Namun, tak seperti yang aku harapkan, tak seperti yang aku pikirkan, kejenuhan demi kejenuhan mulai aku rasakan, semenjak hari pertama aku menginjakan kaki di tanah rantauan, hingga disuatu hari aku berpikir untuk kembali. Tak sampai setengah tahun aku berada di tanah rantauan akhirnya kuputuskan untuk menghubungi orang tuaku. Dan dengan cepat urangtuaku mengirimkanku ongkos untuk emninggalkan tanah rantauan. Memang kasih sayang sosok orangtua tak pernah lepas dari diriku. Gambaran penuh kesabaran dari mereka membuatku harus lebih berpikir untuk membahagiakan mereka.

__ADS_1


Semenjak kepulanganku, beberapa bulan aku berada di kampung halamanku, kembali aku bekerja di tempat yang menampungku untuk bersekolah waktu itu.


Sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan kedeapan, setiap sore ketika aku kembali ddari tempat kerjaku, selalu orangtuaku menasihati saya untuk melanjutkan pendidikan saya, ada beberapa hal yang aku inginkan ketika nantinya harus berkulia, memilih


__ADS_2