AKU INGIN HIDUP

AKU INGIN HIDUP
(5)


__ADS_3

Hanya sekedar melihat, lalu mobil itu segera bergegas meninggalkan pintu gerbang itu, beberapa guru duduk di depan kantor sambil bercakap-cakap. Kadang melihat ke depan pintu pagar, dan kadang melihat ke kelas-kelas, sedang di luar anak anak saling bercengkrama, berlarian kesana-kemari, ada juga yang berkumpul sambil berserita, seperti tidak berpikir kalau suatu saat sekolah tersebut harus beralih menjadi sebuah gedung. Entahlah akan dijadikan gedung apa.


Di dalam kelas ada guru-guru yang dengan giat mengajar siswa siswa membaca. menulis, menghitung, dan masih banyak lainnya, mereka berpikir tentang upah yang didapat, namun dengan satu komitmen, mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebuah pekerjaan yang sangat mulia.


Udara siang itu sedikit mengeluarkan keringat, debu beterbangan kesana kemari membuat beberapa anak yang sedang bercengkrama harus berlari berhamburan untuk menghindari debu itu. Bapak ibu guru yang sedang asik bercerita harus mengubah arah duduk mereka untuk tidak terhirup debu. Memang siang itu sangat cerah walaupun beberapa hari yang lalu kampung itu diguyur hujan yang begitu deras. Memang alam sudah menandakan tidak bersahabat dengan manusia. Semua itu karena ulah manusia itu sendiri. Selain itu, bangsa kita sudah dininabobohkan dengan pembangunan yang berkepanjangan, tanpa berpikir tentang masalah yang akan ditimbulkan. Dari reklamasi, hingga penggusuran pemukiman warga membuat suasana semakin tidak membaik. Memang jika ditinjau dari beberapa aspek bisa menguntungkan, tapi semua itu ada akibat yang merusak juga, dan itu selalu disepelehkan. Artinya disini bahwa kita semakin tidak sadar akan dampak dari kelanjutannya. Dan selalu yang mendapatkan akibatnya adalah masyarakat pengguna sarana.


Adapula karna keteloran masyarakat dalam menjaga keasrian alam, sebagai contoh kecil, jarang membuang sampah pada tempatnya, selalu menggunakan tempat aliran air sebagai akhir dari masalah pembuangan sampah. Maka jika ditinjau dari beberapa hal tersebut, perlu ada sikap rasa sadar akan alam dan lingkungan sekitar antara elemen pembuat kebijakan dan penikmat kebijakan itu sendiri.

__ADS_1


Hari semakin sore. Kakek tua itu masih melakukan aktifitasnya di sebuah ladang milik tetangganya, sedang si-ibu mempersiapkan diri menyambut suami tercintanya kembali. Anak mereka semata wayang hari ini tidak melakukan aktifitasnya. Mungkin karena sampah yang ada di tempat pembuangan di sekitar pusat kota itu sudah bersih, jadi harus menunggu beberapa hari lagi untuk terisi kembali. Memang pusat kota dipenuhi dengan berbagai macam orang, jadi sampah pun diminati oleh sebagian anak-anak kecil yang harus mengakhiri masa sekolah mereka untuk membantu orang tua mereka, bahkan kakek tua pun kadang masih dilihat berkeliaran sambil memegang kantong kecil mereka walaupun hanya diisi dengan beberapa gelas kecil yang jika ditimbang kadang tidak smpai dua kilo, dan biasa dihargai dengan satu mangkuk bubur kacang hijau.


Berbicara kesejahteraan seperti masih ada ketimpangan, sejahtera seyogiahnya hanya mampu dinikmati oleh golongan menengah ke atas, bagaimana dengan menengah ke bawah?


Semua mereka merasakan kesejahteraan dalam pikiran lamunan saja. Setiap sore mereka hanya mampu duduk sendiri di sotoh rumah sambil berpikir tentang bagaimana sejahtera di esok hari.


Jurus-jurus hipnotis warga untuk memilih memang berhasil, tapi janji- hanya tinggal janji. Tetap rakyat harus berteriak sendiri, namun apa daya rakyat harus memilih karna jika tidak memilih bisa dimusuhi dan bahkan akan berdampak lebih buruk lagi.

__ADS_1


Sore ini kakek tua itu kembali dengan tergopoh-gopoh, mungkin karena faktor usia atau mungkin karena beban keluarga yang harus ia pikul, dari kejauhan si istri telah menunggu di depan sotoh gubuk itu. Duduk seperti seorang ibu muda sambil memandang kejauhan di ujung jalan itu, melepas harapan. Entah apa yang ia pikirkan. Semua itu dilihat dari wajahnya, dan mulut yang sering bergerak melafaskan kalimat-kalimat harapan. yaaa... mungkin kalimat harapan.


Hari ini begitu cepat berputar, tanpa disadari usia semakin bertambah diikuti dengan harapan yang semakin terkubur, karna telah dimakan oleh mereka yang memegang kepentingan. Dari tanah, rumah, pohon, air, dan masih banyak yang lainnya bahkan nyawapun mereka ingin untuk mengambilnya demi keuntungan pribadi, yang sebenarnya berbicara nyawa, itu adalah kepemilikan Yang Maha Kuasa.


Gubuk itu menjadi titik akhir perjalan hidup, ketika sore memanggil dan bahagia itu kembali terasa, disaat langkah kaki disambut dengan senyum dari sosok penghuni rumah. Dan sotoh depan rumah itu menjadi saksi nyata kebahagiaan itu. Malam memanggil begitu cepat seakan tak ingin melihat penderitaan siang memainkan perannya. Suara binatang malam begitu nyaring, seakan ingin mengucapkan selamat datang penjelajah hidup. Selamat beristiahat dari lelahmu, aku hadir untuk menghiburmu. Yaaa.... Mungkin itu yang dibisikan dari lantunan suara binatang malam.


Sebuat tempat nasi ditaruh di atas tikar anyaman daun lontar, senyum kembali terlihat di wajah-wajah tua itu, anaknya duduk seperti biasa di ujung tikar itu. sedang ibu dan ayahnya duduk bersampingan. Diluar semakin banyak binatang malam mengeluarkan suara mereka. membuat suasana terasa begitu romantis. Mecicipi makanan malam itu dengan bahagia, sembil melepas lelah dengan bercerita akan apa yang dikerjakan selama satu hari.

__ADS_1


Malam semakin larut, harapan semakin dekat dalam mimpi, cerita malam itu diakhiri dengan sebuah harapan jika esok hari ada Kuasa dari Ilahi membentengi kehidupan mereka. Semakin hari penguasa selalu berpikir tentang kekuasaan. Menindas, memeras, dan masih banyak kekuasaan yang memihak pada kepentingan mandiri, membuat tenggorokan telah kering untuk bercerita tentang kepentingan itu. Semua telah tidur, kakek itu masih duduk, sudah lama mereka merasakan penderitaan ini, beberapa bulan kemudian akan diadakan pemilihan pemimpin daerah. Sudah banyak yang mempromosikan kreatifitasnya untuk membangun daerah. Dari mensejahterakan hingga membasmi segala bentuk penindasan warga.


__ADS_2