
Kakek itu masih berpikir lama, entah apa yang ia pikirkan, disampingnya segelas kopi hangat buatan sang istri menemaninya malam itu. Dilihat dari wajahnya, yang sangat serius itu, menandakan jika ia sedang berpikir untuk kelangsungan hidup keluarga kecilnya. Atau entah apa yang ia pikirkan. Sudah bertahun tahun ia menghidupi keluarganya dengan tabah, janji demi janji telah ia lewati oleh petinggi Negara yang awalnya mereka datang dengan beribu janji manis yang keluar dari bibir manis mereka, namun buktinya itu hanya pemanis kata agar menghipnotis warga untuk memilih mereka. Para penndukung berjalan berkilo-kilo memperjuangkan aspirasi dari sosok pendukung mereka, yang akhirnya jika ia terpilih, tak pernah ia datang untuk melihat pejuang suara yang telah mendudukan dia di kursi empuk itu. Malah meraka lebih menderita dari kebijakan bohong yang pernah dikeluarkan dari bibir manis itu.
Tidak dipungkiri lagi memang kenyataan yang terjadi membuat suatu kelonggaran di hati masyarakat untuk cepat mempercayai setiap janji manis itu. Sudah cukup menderita masyarakat menikmati janji manis itu. Yahh itu yang mungkin kakek tua itu pikirkan...
Malam ini terasa sangat pendek untuk bermimpi tentang angan, angan yang sudah termakan oleh zaman yang begitu bengis. Sedang fajar harapan harus memanggil bangun kaum pemimpi, untuk kembali bermain dengan permainan zaman.
Bekerja dan menikmati keringat sendiri, itu adalah salah satu hal yang sederhana yang
__ADS_1
sering dilakukan oleh rakyat. Dari pada menggantungkan harapan pada janji-janji manis itu
yang sering berakhir dengan kebohongan.
______________________________________________
...Lelaki Desa Dan Cinta...
__ADS_1
Perjalanan yang begitu memakan waktu membuat kami sedikit kelelahahan, namun ketika pertama kali melihat wajah-wajah lugu masyarakat desa membuat kami langsung bersemangat untuk bercengkrama dengan suasana pagi itu.
Pagi memanggil begitu cepat, sang surya mulai menampakan wajahnya diufuk timur dengan warna khasnya. Sedikit aktifitas mulai terasa, anak anak mulai berkeliaran kesana kemari sambil memegang sebuah ember, yaa, memang kebiasaan desa tersebut disetiap pagi selalu mereka berombongan menuju sebuah sumber mata air di lereng bukit itu. Sedangkan bapak bapak sudah mulai sibuk dengan teman kebunnya, sebuah besi pelat yang biasa digunakan untuk mencabut rumput di ladang. Sedangkan, ibu-ibu rumah tangga sudah mulai asik dengan masakannya di dapur kecil berbentuk bulat yang begitu khas hampir di setiap dacrah di desa tersebut
Desa tersebut agak sedikit diatas sebuah lereng bukit yang indah sehingga pemandangannya memang begitu memukau hati, padang padang yang begitu indah dimana tempat ternak peliharaan maasyarakat bermain sambil memcicipi rumput segar. Dari kejauhan nampak segerombolan kambing-kambing berjejer keluar dari kandang dan dituntun oleh seorang anak separu baya, mungkin umurnya sekitar belasan tahun, yaaaa mungkin dua belas atau tiga belas. Sedang nampak pula seorang perempuan remaja sedang menjunjung sebuah ember besar, inilah kebiasaan para remaja perempuan di setiap pagi membawa ember besar berisikan air dan dijujung di atas kepala mereka. Mungkin itu salah satu cara bagaimana mereka sangat taat pada suruhan orang tua mereka.
Disamping jalan, tumbuhan-tumbuhan tinggi yang menjadi pagar indah untuk setia rumah berjejeran rapi membuat sebuah kumpulan besar, hal itu sengaja dibuat masyarakat untuk sedikit menutupi angin ketika berhembus sehinggga membuat suasana tidak terlalu dingin.
__ADS_1
Anak perempuan remaja itu berhenti di sebuah rumah dimana sepertinya rumah itulah yang akan kami kunjungi. Dengan perlahan anak perempuan itu menurunkan ember yang berada tepat di atas kepalanya lalu membawa ke sebuah bak kecil terbuat dari tanah liat. tempat itu biasanya digunakan untuk menampung air sebagai keperluan untuk memasak, lalu dengan senyuman yang begitu ramah menyambut kedatangan kami anak itu segera bergegas dengan cepat membuka pintu rumah yang terbuat dari pohon jati,
"Silahkan pak, silahkan masuk" lalu dengan ramah anak itu meminta pamit menuju bagian belakang rumah itu, disitulah rasa ini mulai tumbuh sebuah pertemuan sederhana membawa untuk bercinta dengan angan.