AKU INGIN HIDUP

AKU INGIN HIDUP
(3)


__ADS_3

Mungkin ia berpikir dengan uang ini ia bisa membeli sekilo beras atau mungkin sedikit untuk membeli jajanan kecil di pinggiran sekolahnya dulu, ataukah mungkin apa yang sedang ia pikirkan


Langkah kaki kecil itu sesekali disentakkan pada genangan air dilorong itu sehingga menimbulkan sedikit percikan ke tembok tembok gedung bertingkat disamping kiri dan kanannya, sambil tersenyum melepaskan tawa kecil. Ahli psikologi sering mengatakan Hal itu identik dilakukan oleh anak-anak seumuran dia, sebagai luapan kegembiraan akan kebebasannya dalam mengekspresikan sesuatu.


Si ibu hari itu berkeliling di sekitar lorong panjang perumahan indah milik para kandidat bermodal tinggi, tempat itu dulunya adalah sebuah lapangan kecil tempat anak-anak kecil bermain layangan, dan sepak bola serta tempat berkumpulnya orang-orang jika ada kegiatan dari Kabupaten. Sosok ibu yang sekarang sudah sedikit membungkuk, dengan wajah yang sudah sedikit keriput, berambut uban dengan tahi lalat besar di bagian kanan pipinya. Hari ini dia memakai sebuah baju berwarna kuning kecoklatan, namun jika diperhatikan baju itu berwarna kecoklatan bukan karena buatan pabrik. Namun, karena termakan waktu. Sebuah kain usang dipinggangya diikat rapi, menggambarkan nuansa muda yang dulunya adalah seorang gadis cantik dengan penampilan yang menarik sehingga menggoda hati para pria. Mungkin karna kerapiannya dan kecantikan dulunya itu yang membuat si kakek tua mengambil dia menjadi seorang istri.

__ADS_1


Hari ini ia melangkah perlahann sambil menunduk, kadang wajahnya diangkat dan memandang di samping kiri dan kanan perumahan mahal tempat para kandidat bermodal tinggi bercengkrama dengan hari dan waktu bersama keluarga. Dari kejauhan ada sebuah rumah mewah tempat yang biasanya selalu menawarkan jasa ibu itu untuk mencuci pakaian- pakaian kotor bekas seminggu bekerja. Langkah kakinya berhenti di depan pintu pagar setinggi dua meter, dengan wajah yang sudah berkeringan mengangkat tangannya dan menekan bell, untuk memanggil seorang petugas membuka pintu itu, jelang beberapa menit, seorang petugas membuka pintu pagar itu dan menyuruh ibu itu untuk masuk.


Hari itu sekitar pukul sepuluh. "Silahkan ibu, tuan menunggu ibu di dalam" Kata si penjaga itu. Dengan wajah yang menunduk ibu itu bergegas pergi menemui tuan itu, dari kejauhan tuan itu sedang duduk di teras rumahnya sambil memegang sebuah koran sedang disampingnya secangkit minuman hangat sebagai sarapan pagi, memang itu selalu dilakukan setiap pagi.


Ibu itu mendekat dan berkata, "permisi tuan, apa hari ini ada cucian yang ingin dicuci?" tuan itu masih tidak menjawab, mungkin karna berita di dalam koran hari itu sangat bagus ataukah pura-pura tidak mendengan, jika beritanya sangat bagus, paling-paling berita itu berisi tentang seorang penjabat tinggi ditangkap KPK karna mengelabui uang negara sehingga menyebabkan kerugian Negara hingga triliunan. Atau mungkin berita perampokan, kebakaran, atau pemerkosaan.

__ADS_1


Pergi ke dalam rumah itu tanpa menegurnya. Mungkin karena ibu itu menggangu waktunya.


Hari itu si ibu mendapatkan cucian yang sedikit menguras tenaganya, dengan tenang ibu itu melakukan tugasnya, sambil berharap semoga hari ini bisa menjadi hari yang baik. Setelah selesai melakukan tugasnya ibu itu segera menuju sebuah taman di samping rumah, disana seorang perempuan cantik yang jika dilihat perempuan itu adalah istri si tuan yang sedang membaca koran. Rambut panjang menghiasi bahunya dengan wajah cantik yang jika dilihat sepertinya seorang perempuan berdarah asing, yang pastinya bukan dari Negara kita. "Permisi tuan, cucian sudah dijemur" ibu itu dengan tunduk dan sedikit malu mengucapkan kalimat itu... beberapa saau perempuan itu memalingkan wajahnya dan melihat ibu itu sambil berkata "oohh iya Tunggu sebentar. Perempuan itu bergegas masuk dan mengambil selembar kertas kecil dan menyodorkannya pada ibu itu sambil berkata "terimakasih, minggu depan datang lebih awal karna saya akan keluar bersama keluarga untuk berlibur.. Dengan menunduk ibu itu berkata, "baik tuan" sambil meminta pamit.


Waktu menunjukan pukul dua belas, ibu itu bergegas meninggalkan rumah mewah itu. Wajah yang sedikit bergembira karna hasil yang didapat sedikit memuaskan hati. Dua puluh ribu, ibu itu berbisik dalam hati sambil melangkah meninggalkan rumah mewah itu. Langkah kakinya berhenti pada sebuah kios kecil di pinggiran kota itu, kira kira berjarak dua kilo dari rumah mewah itu, dan tiga kilo dari gubuk tempat tinggalnya. Cuaca hari itu sedikit mendung, hujan semalam masih meninggalkan bekas genangan air di setiap pinggiran jalan. la melangkahkan kaki memasuki sebuah kios, ia keluar dengan membawa sekantong beras dan sedikit perlengkapan rumahan, Ditangannya masih meninggalkan beberapa rupiah untuk disimpan. mungkin beberapa hari kedepan jika ada keperluan maka masih bisa untuk digunakan.

__ADS_1


Hari mulai sore ia melangkahkan kaki lebih cepat karena sang suami, si kakek tua itu pasti sudah menunggu, seperti biasa setiap sore suaminya itu selalu menyuruh untuk membuatnya teh hangat. Kakek itu bercerita bahwa semasa muda istrinya itu sangat pandai membuat teh hangat, "istriku itu semasa muda sangat pandai membuat teh hangat, da sangat pandai memasak, itulah salah satu yang membuat saya mencintai dia" Suara yang sedikit parau sehingga ejaan kalimatnya harus didengar dengan teliti.


Sore ini cuaca sedikit cerah walau masih ada awan-awan gelap bergelantungan di angkasa menghiasasi sore itu. Sehingga suasana jalan sempit berbatu menuju rumahnya seakan dihiasi dengan warna warna orange bekas pantulan cahaya matahari sore. Dari kejauhan suaminya sudah menunggu, suaminya adalah seorang kuli kebun, dikarenakan lahan mereka sudah diambil oleh mereka yang memiliki banyak kemampuan untuk membuat segala sesuatu bisa jadi milik mereka. Setiap subuh ia sudah menyiapkan alat cangkul dan beberapa peralatan kebun untuk berkebun, gajinya dihitung setiap bulan dengan harga lima kilo beras. Dan jika di musim panen selalu majikan pemilik lahan tersebut selalu menambahkan sedikit pendapatannya sehingga kakek tua itu bisa bertahan kerja walau umurnya sudah tidak wajar lagi untuk bekerja.


__ADS_2