
Jelang beberapa menit, seorang bapak berusia kurang lebih empat pulahan tahun datang menghampiri kami. Wajah sedikit geram, mungkin karena kumis yang menutupi wajah dengan warna kulut yang sangat berbeda dengan kami dan mungkin karena kami baru pertama kali betatapan dengan wajah seperti itu. Serentak kami langsung mengucapkan selamat pagi dan langsung memberitahu maksud dan tujuan kedatangan kami. Dengan suara yang khas bapak itu mulai pembicaraannya. "bapak sudah mengetahui kedatangan adik-adik, kemarin bapak kepala desa sudah memberitahu bapak".
Lalu kami membuka percakapan. Jelang beberapa saat anak perempuannya membawa keluar beberapa gelas berisi air minum sesuai jumlah kami. Anak itu langsung meletakannya persis di depan kami. Di sebuah meja kayu yang sedikit lebih rendah dari tempat duduk kami.
Senyuman khas yang diberikan kepada kami seperti awal pertama bertemu beberapa menit yang lalu membuat suasana begitu hangat. Lalu ia kembali ke belakang rumah tersebut. "silahkan diminum" kata bapak itu. Awalnya kami sedikit malu-malu namun dilanjutkan. dengan sebuah kalimat "jangan malu, anggap saja untuk beberapa waktu kedepan inilah rumah kalian". Dengan sentak kami tersenyum lalu mencicipi hidangan minuman pagi itu. Sedikit pahit dan manis, air yang dibawa itu. Teman teman saya berbisik dan bertanya tentang hidangan pagi itu. Mungkin karena didengan oleh bapak itu, lalu bapak itu mulai bercerita. “inilah minuman khas kami disetiap pagi, dan sering disugukan kepada setiap tamu yang datang".
Bapak itu melanjutkan "minuman ini adalah kopi dengan diberikan sedikit gula untuk merendahkan kadar pahitnya" hal ini bisa membuat kita bersemangat dalam beraktifitas.. Kami setak menganggukan kepala dan menruskan minuman yang telah disuguhkan.
__ADS_1
Setelah selesai kami langsung meminta ijin untuk meletakan barang-barang yang dibawa. Dua buah ruangan kecil dengan sebuah lemari dan tempat tidur sudah disiapkan di kamar tersebut. Ditata begitu rapi dengan diberikan sedikit balutan keharuman membuat seakan akan kami berada di kamar pengantin baru.
Hal ini mungkin dilakukan oleh perempuan itu, sebuah bisikan dalam benakku. Yang menjadi racun untuk mengenalnya dan membagi perasaan ini.
Siang menjemput lebih cepat, tak searah dengan lamunanku, teman-temanku sudah mulai dengan aktifitasnya, menyiapkan bahan dan alat alat untuk dibawakan nanti di balai desa. Aku bangun dari dudukku di kamarku itu dan bergegas ke kamar kecil yang berada tak jauh dari rumah itu, persis di belakang rumah itu.Sedang ketika aku keluar, kudapati gadis itu sedang menyiapkan makan siang, tangan mungil itu memainkan sebatang pisau di atas tumpukan sayur yang baru diambil dari ladang sebelah rumah. Aku menyempatkan diri untuk bertaya kecil. "dimana kamar kecil?" dengan sedikit membungkun ia memalingkan tangan dan pandangannya di samping rumah itu, tak berpikir lagi mataku juga menatap sesuai arah tunjuk perempuan itu. "ohh iya,terimakasih". Akupun bergegas menuju kamar kecil itu, sedang ia melanjutkan pekerjaan nya itu. Pertemuan awal di desa yang membuat benih cinta mulai bertumbuh.
Aku segera bergegas keluar dan mendapatkan perempuan itu masih asik dengan permainan tangnnya di tumpukan sayur itu. Sedikit aku menghampirinya dan bertanya malu, "adek sudah selesai sekolah?" ia menjawab dengan sedikit menunduk ia kaka" akupun melanjutkan percakapanku dengan berbagai pertanyaan, namun dengan lugas ia menjawab semua pertanyaanku sembari memberi senyum yang begitu khas, sebuah lesung pipi mengiasi pipi indah itu dengan rambut yang terurai sampai di bawah bahunya, dimana kadang ia menyapu rambutnya dikala menutupi arah pandangnya ketika menunduk. Sebuah keindahan Nampak dari wajah ayu itu.
__ADS_1
Sambutan hangat dari warga di balai desa melihat kedatangan kami menambah kegembiraan, senyuman khas dari warga desa tersebut membuat suasana seperti berada di keluarga sendiri.
Aku sebernanya ingin kehadiran kami siang ini di balai desa tersebut dihadiri oleh perempuan itu. perempuan yang berada di tempat penginapan kami, ahhh pikirku. "seandainya tadi aku mengajaknya untuk ikut pastilah dia hadir". Namun aku juga berpikir bawa tadi dia sedang menyiapakan makan siang, mungkin untuk kami.
Kegiatan dimulai dengan begitu ramai. Sambutam masyarakat untuk mendengar apa yang akan kami bawakan begitu memukau. Hal itu dilihat dari keseriusan raut wajah mereka ketika kami memaparkan materi. Kulirik jarum jamku menunjukan pukul tiga lewat beberapa menit. Mungkin beberapa menit kemudian kami akan mengakhiri perjumpaan di hari pertama kegiatan kami di desa tersebut.
Jelang beberapa menit kamipun mengakhiri kegiatan itu. Tepuk tangan yang meriah menyambut kami diruangan balai desa itu. Lalu anak anak dan masyarakat keluar dan memberi salam kepada kami sembari melanjutkan perjalannya kerumah masing masing. Memang ada beberapa orang tua yang berhenti sejenak untuk berbincang-bincang dengan kami. Menayakan aktivitas kami, menanyakan sekolah kami dan masih banyak lagi pertayaan yang diberikan.
__ADS_1
Setekah selesai perbincangan itu, kamipun melanjutkan perjalanan menuju tempat penginapan, hal ini yang menjadi semangatku, karna pasti akan berjumpa dengan senyuman manis yang sudah siap menerima kami di rumah itu. Jalan yang sedikit berbatu-batu, kata bapak tadi di penginapan ketika bercerita. Katanya jalan di depan rumah itu adalah swadaya masyarakat dengan dibantu oleh dana desa yang diberikan oleh pemerintah.
Sesampainya dirumah kamipun langsung bergegas menuju kamar kami masing- masing. Sedang aku langsung bergegas menuju ruangan belakang untuk melihat aktivitas perempuan itu. Yahhh seperti biasa perempuan itu telah selesai menyiapkan makan siang untuk kami, dari jauh kulihat dia sedang membersihkan sisa sisa pekerjaannya siang itu. Aku segera bergegas membatu dengan memberi sedikit pertanyaan pembuka. "biar aku bantu?" "yaaa ia kaka". Sebuah ucapan manis keluar dari bibir indah itu. Segera ku dengan gesit