AKU INGIN HIDUP

AKU INGIN HIDUP
(2)


__ADS_3

Dengan rambut sedikit berombak tak terurus, memakai baju yang sudah kusam, dan disamping lengan bajunya terdapat lubang mungkin termakan binatang kecil, ataukah....... Anak itu memakai celana pendek hitam yang jika diperhatikan sudah disulam bagian pantatnya, yaaah.....mungkin itu dilakukan ibunya untuk menutup aurat anaknya.


Wajah lugunya mengingatkanku pada seorang sahabatku semasa kecil yang sekarang sudah tiada. Dengan langkah yang sedikit malu, ketika dilihat oleh teman-teman sebayanya yang pagi itu sedang bergegas ke sekolah. Tak jauh dari gubuk tempat kediamannya itu, sebuah sekolah yang dibangun di area terlarang yang suatu waktu bisa digusur oleh pemilik kedua, yang katanya akan dibangun sebuah gedung bertingkat, yang jika didengar dari bisikan-bisikan orang-orang disekitar kampung itu, katanya akan dibangun gedung penginapan. Hotel.... Mungkin seperti itu...


Dari kejauhan, anak kecil itu memperhatikan langkah teman-temannya yang dulu sebangku waktu sekolah. Wajah lugu itu mungkin sedang memikirkan dirinya yang akhirnya harus berakhir di bangku kelas dua SD. Terlihat kekosongan dalam benaknya, wajah yang awalnya ceria harus di kurung dalam-dalam ketika berpapasan dengan pemandangan itu...la mengayunkan kakinya dengan perlahan sembari memalingkan matanya pada mereka yang berjalan rapi, ada yang diantar menggunakan mobil mewah, motor, dan ada yang berjalan kaki. Kadang pandangannya tertuju pada kaki mereka yang bersih dan dibalut dengan kaos kaki putih setengah lutut, tas mungil kecil yang menempel erat di pundak.... Perbedaan- perbedaan itu membuat ia hanya berjalan perlahan sambil sesaat menundukan kepala berpikir entah apa yang ia pikirkan...


Negara kita sudah berusaha dengan berbagai cara menstabilkan system pendidikan yang ada, agar seluruh komponen mendapatkan pendidikan yang setara. Hal itu yang sekarang telah digeluti oleh pemerintah. Namun, jika kita memandang di sekitar kita masih banyak ketimpangan pendidikan, ketimpangan itu dapat kita tinjau dari beberapa aspek, ada lingkungan, ekonomi, dan persaingan penguasa yang ingin membuka lahan usaha baru yang akhirnya merenggut masa depan warga. Entah siapa yang salah, namun haruslah diterima bahwa masih ada ketimpangan ketimpangan tersebut.

__ADS_1


Ketika langkah kakinya berhenti pada persimpangan jalan, disebuah bak besar, tempat pembuangan sampah dari rumah rumah bertingkat itu... Kaki yang tak beralas itu kadang harus melangkah dengan hati hati sambil melihat apa yang pantas untuk dilemparkan ke dalam kantong hitam kecil itu, yang bergantung dipundaknya, tangan kirinya memegang ujung kantong itu, sedangkan tangan kanan dengan mahirnya bermain di atas sampah yang berserakan itu... Kadang-kadang harus mengusir hewan-hewan pemakan sampah yang berkeliaran di tempat itu. Lalat berkeriapan menghinggapi tubuh anak itu. Mungkin karna bau yang begitu tajam seolah sudah bersahabat dengan dia. Atau?.... Entahlah......!


Ketika siang mulai memanggil, panas terik sudah mulai terasa di atas ubun-ubun, jam menunjukan pukul dua belas lewat beberapa menit. Anak kecil itu, sudah berkeliling hampir seluruh tempat sampah di pusat keramaian kota itu. Wajah penuh dengan keringat bercampur debu dan sampah, pakaian yang awalnya masih sedikit bersih sekarang sudah tidak bisa dikenali lagi. Kaki yang tak beralaskan sandal itu dipenuhi dengan lumpur sampah, karna


Memang semalam kota itu diguyur hujan yang begitu deras. Anak itu mulai berjalan sempoyongan, karna hasil pikulan yang sudah melebihi berat yang sewajarnya mampu untuk dipikul oleh anak seusianya. Tak pernah berpikir untuk lelah, mungkin dalam pikirannya akan mendapatkan imbalan yang besar, sehingga dapat membantu orang tuanya untuk bertahan hidup dalam beberapa hari kedepan.


Lorong kecil sudah berada di depan mata, panjang lorong itu kira-kira 100 meter. jalannya dipenuhi dengan kubangan air bekas hujan semalam, disamping kiri dan kanan. gedung bertingkat menjulang tinggi seakan menatap sianak kecil itu yang berjalan sempoyongan memilikul hasil keringatnya sehari. Di ujung gedung itu masih ada bekas fondasi rumah yang dulunya dibangun untuk sebuah klinik kesehatan bagi warga yang disponsori oleh sebuah yayasan kesehatan. Sedangkan rumah anak itu berada bersebelahan dengan klinik kesehatan tersebut yang kini berubah menjadi sebuah apartemen megah milik seorang pengusaha

__ADS_1


Anak itu mengetuk beberapa kali sambil kepalanya melihat lewat sebuah lubang kecil, dan sesekali agak gelisah, mungkin pembeli barang rongsokan tersebut sedang tidak ada dirumah atau sedang keluar. Anak itu terus saja mengetuk hingga terdengar langkah kaki dari dalam yang keluar dengan cepat membuka pintu pagar tua itu, terlihat wajah yang sedikit berumur, yahhh mungkin sekitar empat puluh-an, wajah yang ofal dengan tato di lengannya dan berambut panjang membuat suasananya seperti berada di kandang harimau.


... Ooohh iya, kamu. Mari masuk....... Anak itu melangkahkan kakinya dengan terkopoh- kopoh menuju ruangan barang timbangan. Ade silahkan mana barangnya..... Suara yang sedikit bergetar, mungkin karena selalu mengkonsumsi rokok kretek. Anak itu dengan perlahan memindahkan barangnya pada bak timbangan..


Dua kilo setengah.... Suara yang sedikit rendah sambil melihat pada angka-angka yang selisih setengah ons itu


Dibulatkan dua kilo anak...... owwhh iya pak, terimakasih, segera orang itu menuju lemari kasir sambil melihat-lihat anak kecil itu, mari anak...... anak itu sedikit mendekat dengan wajah yang diam seakan berpikir berapa hasil yang bisa didapat. Lalu kakek itu menyodorkan uang sebesar sepuluh ribu rupiah sambil tersenyum. serentak anak itu menyodorkan tangannya menerima uang itu penuh dengan bahagia...

__ADS_1


Tidak menunggu lama lagi, anak itu bergegas pamit, pak terimakasih, saya pamitan dulu...ia adek terimakasih suara yang sedikit berserak membalas, disambung dengan senyuman tipis yang Nampak dari wajah tua itu.


Anak itu segera menuju pagar besi tua itu, lalu menarik pagar dengan sedikit mengeluarkan tenaga wajahnya diangkat sedikit, sambil melihat gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi sambil melepas angan....... ahhh entah apa yang ada dalam benaknya.


__ADS_2