Althar In Neo Game

Althar In Neo Game
chapter 09: Why are my students different?


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


.


Senin, 04 Oktober 2010.


Wangi parfum menyerbak ke seluruh ruangan kost. Ibu kostnya menyapa remaja lelaki yang pagi hari ini sudah rapih tidak seperti biasanya. Wajahnya penuh semangat dan senyum. Rambutnya pun di pomade.


"Yangyang kan? mau ke mana kamu, Dik?." sapanya.


Remaja lelaki itu menoleh ketika ibu kost yang ia segani menyapanya. "Mau ngajar, Bu. Hehehe." ucapnya dengan sumringah.


Tali sepatunya sudah terikat, kini ia membuka gerbang dan menaiki sepeda gunungnya. "Yangyang pamit yaa, Bu!." pamitnya.


"Iya hati-hati, Dik!."


Perjalanan terasa lebih lambat karena hari ini dia datang lebih pagi, jadi tidak apa-apa menggunakan sepeda. Sepanjang perjalanan, banyak penduduk pribumi sekitar yang menyapanya. Yangyang terkenal karena anak lelaki yang ramah dan tampan.


"Pagi Yangyang!." sapa pak tono selaku ketua RT.


"Pagi, Pak Tono! hehehe."


Sesampainya di sekolah TK yang sudah lama menjadi tujuannya itu, akhirnya dia bisa melihat dan menginjakkan kaki di sini. Dilihatnya setiap bangunan TK ini. Tampak berbeda dan tidak sesuai imajinasinya selama ini.


Yangyang tidak ingin berburuk sangka. Siapa tahu anak muridnya yang ia cari sesuai dengan ekspektasi — lebih tepatnya sesuai dengan di foto beberapa tahun lalu. Dia memarkirkan sepeda nya di depan kelas A1 di mana itu adalah tempat parkiran. Sudah terdapat beberapa motor di sana.


"Ih itu siapa? ganteng banget ..." ucap anak perempuan yang baru keluar dari kelas A1 kepada teman-temannya.


Ia tersenyum manis lalu melangkah pergi ke kantor. Lelaki bersurai kebiruan yang baru datang itu, terkaget melihat yangyang. Karena ini adalah pertama kalinya melihat lelaki sepantaran selain sahabatnya.


"Maaf, kamu siapa?." tegur jeno yang langsung menaruh tas di meja.


"Oh kenalin, saya Liu Yangyang. Guru pengganti kelas A2." jawabnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan.


"Begitu yaa ... Maaf, kelahiran tahun berapa ya masnya?." tanya jeno lagi.


Yangyang terkekeh mendengarnya, "Jangan panggil mas gitu dong hahaha. Kayaknya kita seumuran deh. Tahun 1992."


Dikarenakan jeno adalah orang yang humble ketika diajak berbicara, ia tertawa menampilkan eyes puppy yang lucu. "Lo-gue aja kali ya wkwkw."


"Sabi sabi."


"Siapa dia, Jen?."


Lelaki bersurai pink — jaemin baru saja muncul dari pintu bersama renjun. Mereka melihat sahabatnya itu sedang mengobrol ria dengan orang yang tak dikenal. Jeno tersenyum sambil memperkenalkan yangyang kepada mereka.


"Ini Yangyang. Guru penggantinya Haechan."


Mereka mengangguk lalu berkenalan dengan yangyang hingga akhirnya menjadi akrab. Sampai akhirnya, jam sudah menunjukkan pukul tujuh waktunya masuk.


Yangyang sangat bersemangat, persiapan nya sudah matang untuk bertemu dengan para murid. Tanpa ragu dia membuka pintu dan menyapa dengan riang. "Selamat pagi, adik-adik!!!"


Para murid nampak kebingungan. Terutama anak perempuan yang sedari tadi menunggu haechan ternyata yang masuk malah bukan gurunya. "Loh? Kakak siapa???."


"Ehem. Perkenalkan nama kakak Liu Yangyang. Sebagai guru pengganti untuk dua minggu ke depan ~ salam kenal yaa adik-adik!."


"Ohhhh~~~"


"Selamat pagi, Kak Yangyang!."


Yangyang menanggapi nya dengan senyuman hangat. Lalu, ia memulai pelajaran tetapi bingung karena tidak tahu telah sampai mana anak-anak ini belajar. "Sampai mana pelajarannya, ya?."


Dava menjawab dengan antusias, "Kak Yangyang! halaman 20 kak!."


Lelaki itu menghampirinya dan melihat isi buku tersebut. Dia hanya mengangguk mengerti. Kemudian, dia menanyakan nama anak lelaki di depannya ini. "Nama kamu siapa, Dik?."


"Song Davaldo. Panggil aja Dava ya, Kak!." ucap anak itu.


Ia membelalakkan matanya dengan tidak percaya. Mana mungkin berbeda dengan yang di foto waktu itu. Pasti ini adalah trik atau semacam tipuan baginya. Karena yang ia lihat di foto, sangat berbeda dengan yang aslinya. Dia menggeleng cepat. Lalu mengambil buku absensi.


"Lian ..."


"Saya kak!." jawab lian dari bangkunya. Kali ini benar-benar di luar ekspektasinya.


"Kau ... yang namanya Lian? beneran?." kata yangyang sekali lagi untuk meyakinkan. Anak lelaki itu mengangguk cepat.


Dia hanya menghela nafas, kemudian mencari nama murid lelaki satu lagi. "Barred?."


"Aku kak!." lagi-lagi dia dihempaskan oleh ekspektasinya yang terlalu tinggi.


Tidak— ini lebih ke penipuan. Jelas sekali ketika di dalam kurungan sana, dia ditunjukkan beberapa foto anak kecil yang tampan beserta nama mereka. Tetapi ketika sudah menemui secara langsung mengapa tidak sesuai begini?.


Dia hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Seperti kehilangan semangatnya. "Dasar kau tuan L penipu." batinnya.


......................


Motor terparkir di halaman kost yang luas. Ia menjejakkan kakinya masuk ke dalam. Menampakkan sahabatnya yang baru saja diskors itu tengah menonton televisi di ruang tamu. Dia menghampirinya sambil merebut snack milik sahabatnya itu.


"Eh Chan. Lo udah ada yang gantikan tuh di A2." ucapnya memulai percakapan.

__ADS_1


"Udah tau gua, Jaem." balas haechan matanya tetap fokus pada acara tv.


Jaemin melirik lalu melanjutkan ucapannya, "Liu Yangyang. Dia kan yang harusnya pergi bareng kita waktu itu."


Kali ini haechan yang menengok dengan kaget, "Hah? jadi dia yang gantiin gua?." lelaki bersurai pink itu mengangguk.


"Jisoo tadi masuk ga?." tanya haechan memastikan.


Walaupun haechan tahu bahwa kesibukan sahabatnya ini bukan untuk memerhatikan muridnya melainkan jaemin pun memiliki muridnya tersendiri. Setidaknya, jika mengetahui kabar jisoo baik-baik saja, itu sudah membuat hatinya tenang.


"Tadi sekilas gua lihat, dia masuk kok. Tapi Yangyang ga terlalu perhatikan dia sih. Ga kek lu." balas jaemin.


"Wajar sih ... orang bukan targetnya." sambung jaemin lagi.


Dia menepuk pundak haechan, "Sabar bro, biarin dia adaptasi di sana. Posisi lu ga akan terganti."


Haechan mengangguk mencoba menghilangkan rasa kekhawatirannya. "Iya Jaem, gua tahu."


Lelaki bersurai pink itu melangkah memasuki kamar di lantai dua. Dia merebahkan dirinya di atas kasur miliknya. "Kenapa waktu di sini terasa lebih lama?."


Teringat akan sesuatu yang belum dikerjakan, jaemin bangkit dari rebahan yang hanya lima menit. Kemudian memulai membuka-buka laptop dan buku yang tergeletak di meja belajarnya. "Sialan gua capek banget. Gua lupa kalau masih kuliah."


Hanya ada suara AC dan ketikan dari laptop. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Dia melirik sekilas ke kasur ketiga sahabatnya yang masih kosong. Biasanya jam segini mereka sudah berada di kamar. "Pada ke mana??."


Ia melangkah ke ruang tamu untuk memastikan. Ternyata haechan sudah tidak ada di ruang tamu, melainkan sudah pergi dari sana sekitar jam tiga sore. Ibu kost yang memberitahukannya.


Tak perlu diambil pusing dia pergi keluar setelah mengambil kunci motor. "Jaemin, kamu teh mau ke mana pula atuh?." tanya bu kost yang lagi mengangkat jemuran.


"Mau beli makan bu hehehe. Duluan ya, Bu."


...*****...


Sudah tiga menitan dia hanya melihat ke cermin di kantor. Sampai-sampai sahabatnya itu mengoceh karena kelamaan bercermin. "Woy masih lama kah? tuh anak-anak udah nungguin lu."


"Iyaaa sabar, Renjun. Ini gua lagi siap-siap." balasnya.


Lelaki itu hanya menghela nafas karena kelakuan temannya ini yang narsis. "Hadeuh Jen, cepetan sana!." seru renjun, lelaki itu hanya cekikikan lalu pergi keluar kantor.


Outfit yang ia kenakan hari ini terlihat simpel. Hanya kaos dan celana olahraga. Hari ini ada jadwal anak kelas A olahraga. Kedua kelas itu digabung ketika berolahraga. Lagipula mereka hanya ada 30 siswa.


"Kak Jeno!." sapa murid perempuan lucu memakai pita. Jeno tersenyum manis kepadanya.


Ia memulai olahraga dengan pemanasan. Kemudian anak lelaki dari A2 yang dia kenal menyeletuk, "Kak, buat apa sih pemanasan? mending langsung senam aja!."


Jeno menjawabnya dengan santai, "Biar badan ga kaku ya, Barred."


Anak itu mengangguk paham. Lalu mata jeno memerhatikan ke kelas A1. Dia mencari anak perempuan yang sudah menjadi alasannya berada di sini.


"Felicia ... di mana?." tanya jeno pada anak perempuan yang bernama claudia.


Jeno memanggil jisung yang kebetulan sedang mengamati mereka. Remaja lelaki itu memang kerjanya santai karena hanya guru UKS. "Ada apa bang?."


"Tolong gantiin gua bentar, Sung." Lelaki itu mengiyakan permintaan jeno. Lagipula ini kesempatannya untuk bisa melihat lebih dekat anak perempuan yang selama ini diamatinya.


"Sementara Kak Jisung yang gantikan Kak Jeno ya~." ujar jisung dengan bersemangat.


Dia melirik sekilas ke anak perempuan yang berdiri di belakang. Kemudian, dia memulai pemanasan terlebih dahulu. Para murid terlihat senang, karena jisung ikut mengajar mereka berolahraga. Banyak yang bilang juga, kalau jisung adalah guru tertampan di sini.


"Ayo kita lakuin ini yah. Kakinya diangkat sebelah. Kemudian hitung! satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan." kata jisung sambil mempraktikkan dan diikuti oleh para murid.


Dia melirik lagi ke anak perempuan yang dibelakang, sedari tadi tidak bisa melakukannya dengan benar. Malah membuat teman laki-laki disampingnya ikut terjatuh.


"Selly! kamu jangan sambil pegang temanmu. Nanti kalian sama-sama jatuh loh." ucap jisung ke anak perempuan A2 itu.


Dia menghampirinya, lalu sedikit berjongkok di samping tubuh kecil itu. "Nah, mending pegang pundak kakak aja sini."


Selly mengiyakan ucapan jisung yang memegang pundaknya. Remaja lelaki itu sama sekali tidak keberatan. Malah senyuman manis terukir diwajahnya karena merasa senang bisa bermain lebih dekat seperti ini. Dia pun berharap semoga anak perempuan ini tidak risih ataupun tidak nyaman ketika berada didekatnya.


"Felicia. Kamu kenapa ga ikut olahraga?." tanya jeno yang langsung berjongkok di depan anak perempuan di teras nya.


Felicia menggeleng cepat lalu menjawab, "Aku ga suka olahraga, Kak."


Lelaki itu menghela nafas lalu menepuk pucuk rambut anak perempuan itu dengan gemas.


"Cia, olahraga bikin kita jadi sehat dan bugar loh. Dengan begitu, kita jadi ga lembek kalau ada musuh yang menyerang hihi." ucap jeno sambil tersenyum menampilkan eyes puppy lucu.


Mata anak perempuan itu membelalak terkejut karena jeno tersenyum sangatlah manis. "Apa ... benar begitu kakk?."


"Iya hehe."


Tangan kecil anak perempuan itu menggandeng tangan jeno untuk pergi ke lapangan bersama. Karena saat ini jeno telah berhasil mengaktifkan semangat anak itu meskipun dia tidak tahu kata apa yang membuatnya menjadi semangat begini.


Sudah sekitar jam sembilan, mereka kembali masuk ke dalam kelas. Olahraga senam bersama jeno dan jisung ternyata membuat mereka kelelahan. Apalagi jisoo yang saat ini menyenderkan bahunya di kursi.


Pintu kelas A2 terbuka begitu yangyang masuk ke kelas. Mereka mendengus sebal karena yangyang sangat cepat datangnya. "Kak, kok cepet banget udah mulai belajar lagi." kata dava yang masih kegerahan.


"Emang udah waktunya kok." jawab yangyang singkat.


Kemudian ia mengeluarkan buku paket. Berencana untuk mengajar menghitung pertambahan dan perkalian sederhana. "Yok hari ini kita belajar berhitung yaaa!."


Kapur putih di papan tulis berdenyit begitu yangyang menuliskan angka-angka di sana. Dia membuat tiga soal untuk murid yang maju ke depan. "Kakak pilih random ya! salah gapapa kok."


Mereka semua menunduk ke bawah meja berharap dirinya tidak dipilih dan menjadi sorot perhatian yangyang. Namun, remaja lelaki itu sudah memilih siapa orang yang akan maju ke depan. "Dava, Lian, dan Barred. Sini kalian bertiga maju!."


Dava menatap takut ke gurunya yang saat ini berdiri menatap mereka bertiga dengan tegas. Dia memulai mengambil kapur lalu menjawabnya dengan cepat meskipun salah.

__ADS_1


"3+2+4 hasilnya 9, Kak!." ucap dava dengan percaya diri yang meningkat setelah menuliskan jawabannya di papan tulis.


Yangyang menepuk jidatnya pasrah, "Masa 9 hasilnya, Dap. Coba hitung lagi yang bener ya."


Kemudian dia melirik ke sebelah dava, anak lelaki yang ragu akan jawabannya sendiri. "Kenapa, tro? tulis aja jawabannya." ucap yangyang.


Lian menengok sekilas ke yangyang karena lelaki itu memanggilnya dengan panggilan yang tidak ia sukai. "7x7 \= 14 ya kan, Kak Yangyang?"


"Apa???"


Lagi-lagi dia menepuk jidatnya dengan pasrah. Terhempas sudah ekspektasinya terhadap murid targetnya ini. Lalu, dia menengok ke anak lelaki yang paling ujung. Kali ini lebih penakut. Yangyang menaikkan sebelah alisnya heran.


"Ada apa, Barred? itu tinggal jumlah aja 5 ditambah 5 hasilnya berapa?." kata yangyang sambil menunjukkan kedua lengannya.


"5, Kak?."


Yangyang sangat amat pasrah, dia mengusap wajahnya gusar. Kemudian, tersenyum kembali kepada mereka bertiga. "Adik-adik hari ini kita beneran belajar bareng-bareng sampai pulang sekolah ya tentang perhitungan hehe."


Ucapan yangyang tentu banyak yang menolak tetapi dirinya tidak memberi keringanan kepada murid-muridnya. Baginya, anak murid didiknya harus bisa berhitung saat ini. "Ga ada kata penolakan. Nanti kakak yang akan bilang ke orang tua kalian yaa~"


"Yahh ... kak yangyang nih!!"


Matahari begitu terik dari luar hingga menembus ke dalam kelas. Di dalam sini tidak disediakan AC, hanya ada dua kipas angin yang digantung. Yangyang beranjak ke bangku bobby yang berada dipojokkan. Dia mencoba membuka jendela yang tertutup.


Dengan sekuat tenaga, jendela tersebut berhasil terbuka. Namun, yangyang kebingungan setelah melihat area belakang di jendela ini. Banyak sekali pohon-pohon rindang yang menutupi jendela sehingga menghalangi angin yang masuk ke dalam.


"Heran, padahal udah dibuka tapi kok ga ada angin." gumamnya. Lalu melangkah ke depan papan tulis kembali.


Yangyang menatap jendela yang di pojokan tersebut dari tempat berdirinya sekarang, "Hah? kok kayak sepoi-sepoi banget angin yang masuk. Padahal ga kerasa sama sekali."


Dia melangkahkan lagi kakinya ke belakang, tepat dekat dengan tempat bobby duduk. "Tuh kan. Ga ada angin."


Entah mengapa bulu kuduknya berdiri seketika. Hawa kelas terasa sangat panas. Lalu, dia membuka pintu kelas dan melanjutkan sesi belajar-mengajar nya. Meskipun, dia merasakan ada hal aneh di sini. Apalagi melihat bobby yang sedari tadi menunduk ke bawah meja.


"Ayo kita fokus sekarang ya, adik-adik!."


Dikarenakan tidak ada kerjaan lagi yang harus dikerjakan, jeno berkeliling sambil mengawasi tiap-tiap kelas. Para sahabatnya sedang mengajar murid-murid mereka dengan bahagia dan berenergi. Sementara dirinya, bukan menjadi wali kelas.


Di dalam benaknya sangat ingin sekali menjadi wali kelas apalagi menjadi wali kelas di kelas A1 yang sedang dia intip diam-diam itu. Matanya mencari keberadaan seorang murid perempuan.


Chenle yang tidak sengaja melihat jeno dari luar kini mengajaknya masuk. Karena cuaca di luar juga sangat panas. "Udah lu di sini aja daripada ngintip dari luar gitu."


"Thanks ya."


"Hayo siapa yang bisa jawab hitungan di papan?!." kata chenle dengan antusias.


Jeno memerhatikan ke sekeliling terutama ke meja-meja murid. Dia menatap chenle bingung, "Chen, buat apaan ada toples di tiap-tiap meja mereka?."


Lelaki itu memberi isyarat untuk menunggu dan perhatikan hal apa yang akan dilakukannya. "Udah bisa, Jev?." tanya chenle ke jevan yang baru selesai mengerjakan.


"Udah kak, mana cokelatnya!." kata jevan yang kembali ke bangkunya yang di depan.


"Ini yaa karena jevan sudah berani maju dan benar jawabannya!." seru chenle sambil mengelus surai anak lelaki itu gemas.


"Terima kasih, Kak Chenle!."


Jeno menggeleng tidak percaya apa yang dilakukan sahabatnya ini. Hati chenle menghangat ketika melihat murid-muridnya bahagia dan berani terampil. "Gila ... ga habis pikir gua."


"Hahahaha ya begitulah, Jen." balas chenle sambil terkekeh memberikan setiap cokelat ke dalam toples muridnya.


"Bangkrut lu anjir." imbuh jeno,


Lalu chenle menggeleng cepat. "Selama mereka menurut sama gua, berapapun uang yang gua habiskan sekarang, toh nanti uang bisa dicari lagi."


"Ya iya sih, tapi simpen buat diri lu juga." kata jeno yang khawatir.


"Tenang aja, gua bisa atasi itu. Waktu di sini ga akan lama. Memang sih kelihatannya lama, tapi kadang kerasa cepet. Lu ngerasa juga ga?." ujar chenle, Jeno mengangguki ucapannya.


"Iya bener."


Setelah itu, jeno keluar dari kelas A1. Dia hendak kembali ke kantor, tetapi pandangan matanya melihat ke remaja lelaki yang sedang duduk di ayunan di tengah siang bolong begini.


Bajunya yang masih rapih memakai jas putih panjang. Dia menatap ke kelas A2 dengan nanar. Matanya kelihatan seakan ingin menangis. Kepalanya menyender ke tiang ayunan. "Kenapa dia harus menjadi murid ku?." gumamnya pelan.


Lelaki bersurai kebiruan itu menghampirinya dan duduk di sebelahnya. "Sung, ngapain panas-panas gini main ayunan??."


Jisung menggeleng dan menghela nafasnya gusar. "Lagi ke pengen aja bang."


"Bang, lu ngerasa ga sih ... iri dan capek?." tanya jisung tiba-tiba kepada jeno. Lelaki itu menatap lurus ke depan.


"Entah. Capek sih iya. Kadang gua berpikir, kenapa anak murid target gua berbeda?." balas jeno, kini matanya menatap ke kelas A1.


"Berbeda gimana??." tanya jisung lagi, badan nya sekarang menghadap ke jeno dengan penasaran.


"Gatau sih. Tapi gua ngerasa ... dia kayak ga punya kekuatan dan posisi yang jelas. Berbeda dengan murid Jaemin, Haechan, Yangyang, Renjun, apalagi Chenle." ucap jeno dengan nada lemas.


"Gua ... terkadang merasa iri juga sama mereka. Tapi waktu belum terlambat untuk gua mengubahnya. Buat lu juga, Sung. Kendalikan emosi lu jangan sampai ngerusak." ujarnya kemudian.


Lelaki itu berdiri dan pergi dari sana untuk masuk ke dalam kantor karena merasa kegerahan. "Gua cabut duluan ya!."


"Bang, lu bener. Ga seharusnya gua kayak gini."


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2