Althar In Neo Game

Althar In Neo Game
chapter 05: No Exit (Flashback)


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


Kamis, 06 Mei 1999.


Menjelang sore dini hari, anak lelaki berusia 8 tahun terbangun di ranjang tidur yang cukup besar. Matanya memburam karena tertidur lama. Ia mengerjapkan berkali-kali setelah mendapati dirinya yang berada di sebuah kamar yang begitu luas dan mewah. Pandangannya mengintai ke seluruh ruangan.


Di ujung ruangan ini, terdapat rak-rak buku besar lalu ada anak tangga untuk mengambil buku yang diatasnya.


"Di mana aku?." gumamnya.


Ia pun beranjak bangun dan berjalan mengitari sekeliling ruangan. Terdapat meja belajar keren, TV LCD lebar berapa inchi, sofa panjang, lemari pakaian, dan fasilitas lainnya. Sudah mengelilingi ke seluruh sudut, tetapi ia tidak menemukan pintu dan jendela, hanya ada lift kecil yang tertutup.


Segala usaha mendobrak dinding dengan tubuhnya yang kecil, hanya ada rasa sakit yang terasa. Lalu, mengetuk-ngetuk lift kecil dengan keras pun tidak kunjung terbuka. Ia sangat kebingungan dengan kondisinya yang sekarang.


Tiba-tiba ada pantulan dirinya di cermin panjang yang cukup besar di dekat lemari pakaian, membuat anak lelaki itu menghampirinya. Di dalam benaknya, timbul berbagai macam pertanyaan. Kepalanya terasa sakit untuk berusaha mengingat-ingat kejadian apa yang terjadi sebelum dia dimasukkan ke dalam ruangan ini.


Mustahil untuk mengingat-ingat, karena sepertinya memori otaknya sudah dicuci bersih. Baik nama, umur, nama orang tua, maupun kenangan lama sudah dibersihkan habis sampai tak tersisa. Dirinya merutuki orang yang telah membuatnya menjadi seperti tahanan.


Tanpa sadar air mata anak itu mengalir begitu deras dari sudut matanya. Menahan rasa sakit di kepala yang berusaha mengingat-ingat memori yang tersimpan. Sejenak, ia menatap ke cermin di depannya.


"Siapa namaku? di mana aku? dan berapa umurku sekarang?."


"Kenapa aku bisa di sini? kemana pintu keluarnya? bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini?."


Dia terus melontarkan berbagai pertanyaan ke depan cermin panjang. Kepalanya menelungkup dan menangis hebat di sana. Kemudian, lift kecil itu terbuka. Anak kecil itu terkaget setengah mati. Ia hampir tidak percaya kalau itu adalah sebuah lift.


Ting!


Sepiring makanan dan segelas air minum muncul dari sana. Anak itu segera menghampiri liftnya. Ia menaruh piring dan gelas ke lantai. Lalu mencoba untuk menaiki lift yang kecil dan sempit itu. Ia berharap lift tersebut bisa membawanya pergi keluar dari tempat aneh ini.


"Ah ... kok ga muat ya?."


"Padahal tubuhku kecil, apa liftnya yang kurang besar ya?."


Anak itu turun dari sana karena terlalu sempit membuatnya sesak bernafas. Lalu, lift tersebut kembali tertutup rapat. Ia berusaha menggedor-gedor tetapi tidak kunjung terbuka kembali.


Kemudian, besok hari nya anak lelaki itu terbangun. Melihat langit-langit atap yang sebelumnya tidak ada jendela sekarang malah ada jendela lumayan besar yang bisa melihat keadaan langit. Sinar mentari hangat menyinari tubuhnya yang mungil terbaring di kasur.


"Kenapa bisa ada jendela di atas sana??."


Tangan kecilnya berusaha menggapai jendela tersebut. Namun tidak sampai, karena sangat tinggi untuk mencapainya sekalipun ia menaiki kursi. Anak itu kembali termenung di depan cermin panjang. Dia masih mempertanyakan siapa jati dirinya dan mengapa dikamar ini tidak ada pintu keluar.


Pandangannya menuju ke arah rak-rak buku yang tersusun rapih. Ia mencoba untuk membaca buku karena merasa bosan dan tidak ada hal lagi yang bisa dilakukan. Hingga keadaan langit di atas sana menunjukkan waktu malam. Anak itu bergumam sendiri.


"Oh ... sudah malam ya? cepat sekali."


"Padahal, aku baru menghabiskan dua buku cerita hari ini."


Perutnya keroncongan ingin memakan sesuatu. Dia menatap lift kecil yang masih tertutup rapat dari pagi setelah memberinya sarapan. Lalu, seolah mengetahui isi pikirannya, lift itu terbuka menampilkan sepiring makanan dan segelas air. Makanan yang sama seperti kemarin malam.


Ting!


"Makanan datang! yeayy!." ucapnya dengan gembira.


Setelah makan malam, ia melanjutkan aktivitas membacanya di atas kasur sampai tertidur dengan buku yang masih terbuka. Buku yang dibaca itu pun terjatuh ke lantai. Membuka halaman yang berisikan suatu pesan.


......................


Dia terbangun dari tidurnya yang pulas. Lalu pergi ke kamar mandi yang mewah. Ia berendam di bak menggunakan keran air panas yang dicampur air dingin. Kemudian, menenggelamkan wajahnya didalam bak. Di dalam air, terputar di otaknya untuk segera ingin keluar dari ruangan aneh ini.


"Jendela itu. Benar. Satu-satunya jalan keluar adalah jendela yang berada di atas."


"Tapi ... tubuhku saja terlalu pendek untuk menggapainya. Bagaimana bisa aku keluar melalui jendela itu."


Ia mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer yang berada di depan cermin kamar mandi. Anak itu dikejutkan oleh beberapa pakaian baru ketika hendak mengganti baju. "Bukannya baju-baju baru ini tidak ada? kemarin aku lihat tidak ada baju ini?."


Kepalanya kembali pusing memikirkan siapa si pengirimnya. Lalu, bagaimana si pengirim itu menaruh baju-bajunya ke dalam ruangan ini?. Selanjutnya, dia menghampiri lift kecil itu untuk menunggu sarapan. Perutnya sudah lapar untuk memikirkan hal yang tidak masuk akal.


Dikarenakan lift itu tak kunjung terbuka, dia pergi ke arah kasur. Setelah itu, ia menatap buku tergeletak di samping kasur tersebut. "Ah ... aku lupa untuk mengembalikan mu."


Ketika hendak mengambil buku itu, ia melihat isi di dalam halaman yang terbuka random tersebut. Anak itu bergeming dan kebingungan dengan isi pesannya. Sampai tidak bisa mencerna satu persatu setiap kata dan kalimatnya.


"Hai ! aku tahu kamu pasti memiliki banyak pertanyaan di dalam benakmu. Lalu, semakin memikirkannya hanya malah membuatmu pusing, benar kan?.


Solusi keluar dari tempat ini adalah dengan mengupgrade dirimu. Bacalah buku-buku yang tersedia. Jangan hanya dibaca, melainkan pahami isinya. Jika kamu benar-benar sudah mampu memahami dan menguasai kemampuan yang dimiliki, kamu akan segera keluar dari tempat ini. Apa kau mengerti?."


- L.


"Hah? apa maksudnya?."


"Membaca semua buku-buku yang ada di sana? sebanyak itu??!."


"Apakah kau sudah gila, Tuan L?!."


Anak itu terus merutuki orang yang menulis pesan di buku. Emosinya sangat tidak stabil, dia terus memikirkannya sampai membuatnya pusing dan berakhir berbaring di kasur. Di tatapnya jendela yang ada di atas sana. Dia sangat ingin keluar dari tempat ini. Apa pun caranya akan dia lakukan agar bisa keluar bebas.


"Apakah benar yang kau bilang di buku tadi akan membuat ku keluar dari sini?."


"Jika benar, aku akan melakukannya agar terbebas dari penjara ini!."


......................

__ADS_1


Sudah tiga hari ia terus membaca banyak buku di rak. Tetap saja hatinya semakin risau. Dia ingin sekali pergi dari tempat ini. Menunggu dan menunggu terus membuatnya sangat kesal. Sampai kapan dia akan terus menunggu seperti ini sambil membaca buku?.


Ting!.


Anak itu terkejut dikarenakan lift kecil terbuka membawakan sesuatu. Ia melirik ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 9 pagi. Bukan saatnya untuk makan siang. Dia terus membaca buku di meja belajar dan mengabaikan lift itu.


Matanya sangat penat melihat isi-isi buku yang dibacanya. Sesekali dia berjalan-jalan sampai tiba ke arah lift kecil. Dia tersontak kaget melihat yang dibawakan lift ini ternyata bukan makanan pada biasanya. Melainkan, sebuah iPad berwarna hitam dan sebuah robot kecil.


"Mengapa yang dikirimkannya dua benda ini?." tanyanya dengan penasaran.


Dia membawanya ke meja belajar dan mulai mencari cara untuk menghidupkan kedua barang tersebut. Rupanya terdapat buku panduan yang ada di dalam kedua kotaknya. Dibacanya hingga habis dan mengerti bagaimana cara menghidupkan barang itu.


Ketika iPad itu berhasil menyala, robot disampingnya pun juga sama. Ia telah berhasil menghidupkan keduanya. Suara ciri khas robot muncul dari si robot botak ini.


"Hai. Aku adalah Nino Bot. Selama kamu berada di sini aku akan memberikan mu arahan." ucap sang robot.


"Maksudnya?."


Anak itu mengernyitkan dahi nya. Robot macam apa yang bisa memberi arahan. Memangnya hidup manusia diatur oleh sebuah alat robotik?.


"Maksudku, selama kamu ada di tempat ini. Aku yang akan membimbing mu untuk belajar dan beraktivitas. Oleh karena itu, untuk 10 tahun ke depan aku yang akan mendampingi dirimu."


Tubuh anak itu membeku di tempat. Tak ada satu kata yang keluar dari mulutnya. Sulit untuk mencerna omongan si robot ini.


"10 tahun ... Haha ..."


Air mata anak lelaki itu mengalir dari sudut matanya. Dia benar-benar tidak tahu siapa yang telah melakukan tindakan seperti ini kepadanya. Bahkan identitas dirinya sendiri tidak diketahui. Hal yang simpel seperti nama dan umur pun dia tidak tahu.


Benar-benar akan membuatnya seperti gila. Mana mungkin bisa sebuah robot yang akan mendampingi seorang manusia hingga sepuluh tahun mendatang. Siapapun orang yang membuatnya seperti ini, ia bersumpah akan menghabisi orang tersebut.


"Bagaimana ...? apa kau baik-baik saja?." tanya si robot itu.


Anak itu menatap ke robot yang bernama nino dengan air matanya yang sudah mengalir deras. Sesaat kemudian, tawanya pecah. Terdengar satu ruangan yang hanya dihuni olehnya seorang.


"HAHAHAHAHAHAHA."


"Kau tidak mengerti?! aku hanya ingin keluar dari sini!! siapapun kau di sana!! apa kau paham??!!." jeritnya histeris sambil menangis sedih.


Dia mengusap air matanya dengan gusar. Menyebut seseorang yang sangat dia rindukan keberadaannya. Walaupun ingatannya sudah dihapus bersih. Tetapi, kebanyakan orang-orang jika mereka merasa takut, maka akan menyebut nama orang yang melahirkan nya, yaitu sosok ibu.


"Huhu ... mama aku takut." lirihnya menyebut sang mama.


Lalu, disadarkan oleh sesuatu. Dia terlihat semakin frustasi karena tidak ingat apapun tentangnya.


"Eh? ... apa aku punya seorang mama ya? Hahahaha."


...*****...


Kamis, 24 Juni 2004.


Saat ini ia memegang sebuah kamera DSLR memulai memotret langit lagi di jendela atas. Sudah terhitung berapa kali hari ini dia terus memotret ke atas sana. Memotret adalah hobinya dua tahun terakhir.


"Ah ... aku ingin cepat keluar. Agar aku bisa memotret dengan leluasa." gumamnya sedih.


"Ini sudah 5 tahun. Berarti, tersisa 5 tahun lagi agar aku bisa bebas."


Dia mencari si kecil robot botak yang sudah menemani nya selama ini. "Nino! kamu di mana?."


"Aku di bawah selimut! hmph."


Anak itu membuka selimut besarnya. Ia tersenyum lebar dan manis ketika robotnya sudah ketemu. Lalu, memotret si nino robot dan menunjukkan hasilnya bahwa dia sudah sangat mahir memegang kamera.


"Nino! lihat. Bagaimana dengan skill memotret ku hm? bagus tidak?."


"Bagus sekali. Semakin hari kau semakin hebat." kata nino.


"Jaemin." panggil si robot.


Nama anak itu adalah na jaemin. Sebelumnya lima tahun yang lalu, ia diberi identitas oleh si nino bot. Untuk memastikan agar ketika keluar dari tempat ini, anak itu sudah ada identitas. Meskipun hanya nama, umur, dan tanggal lahir.


Selebihnya, tidak ada informasi apapun mengenai keluarga atau kerabatnya. Lalu, Nino bot menunjukkan foto-foto beberapa anak kecil berumur enam tahun. Ia tunjukkan melalui iPad terkoneksi bluetooth ke robot itu, yang biasa diperlihatkannya kepada jaemin ketika sedang menjelaskan sesuatu.


"Coba kamu lihat ini."


"Siapa mereka, Nino?." kata jaemin.


Dia menerka-nerka dahulu jawaban yang mungkin adalah benar. Foto-foto itu bisa jadi adik, sepupu, atau bahkan teman-temannya. Nino menggeleng mendengar jawabannya. Begitupun dengan jaemin yang kebingungan atas jawaban yang sebenarnya.


"Lantas siapa mereka?."


Nino kembali menggeser foto-foto sesudahnya. Ia memperlihatkan kepada jaemin biodata masing-masing anak-anak yang tadi ditunjukkan. Jaemin menggeleng tidak mengerti apa maksudnya. Meskipun, ia sudah membacanya berulang-ulang biodata tersebut.


"Mereka adalah targetmu. Ingat. Targetmu, Jaemin." ucap si nino.


"Berjanjilah kau akan menemukan mereka setelah keluar dari tempat ini." lanjutnya lagi.


Jaemin termangu mendengar itu. Ia menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa aku menemukan mereka?aku ingin menjadi fotografer yang terkenal."


"Tidak. Kau harus mendidik ketujuh anak kecil itu dengan baik." sergah nino.


"Mendidik? apa sih maksudnya? aku tidak ingin menjadi seorang guru!." pekiknya.


"Selama ini, aku saja belajar sendiri. Untuk apa aku mendidik mereka."


......................


Ting!

__ADS_1


Lift kecil itu terbuka ketika sudah waktunya jam makan. Dia hanya melirik sekilas ke arah sana dari meja belajarnya. Lalu ia menghela nafas karena, merasa bosan dengan makanan yang sudah lima tahun ini ia makan. Lauk-pauknya selalu menu yang sama dan tak pernah diganti.


Makan siang isi piringnya hanya nasi, omelette, sayur, dan ikan goreng. Sedangkan untuk makan malam, yang berbeda hanya ikan goreng tidak ada di menunya. Terkadang, lift itu akan mengirimkan segelas susu.


"Aku bosan tau! makanan yang kau beri selalu menu ini. Tidak ada menu lain kah?." gerutunya.


Tubuhnya yang butuh asupan tentu tidak bisa menolak untuk makan. Maka dari itu, dia akan tetap memakannya. Meskipun seringkali dia merasa mual karena merasa muak dengan makanan itu.


Sesudahnya, ia meraih iPad yang tergeletak di meja belajarnya dua hari yang lalu tidak disentuh. Lalu, dia mencari foto-foto yang sebelumnya nino tunjukan padanya.


"Apa untungnya aku mendidik mereka? kecuali digaji puluhan juta. Baru aku mau melakukannya." gumamnya.


Si nino robot yang yang berada di kasurnya pun menyahuti dirinya. Kemudian, ia menunjukkan suatu surat kontrak digital kepada jaemin. Anak itu tersontak kaget karena tiba-tiba nino yang mengejutkannya.


"Ah apasih, Nino! bikin kaget aja!." cetusnya.


"Hehe maaf, Jaemin. Jika kamu benar-benar ingin melakukannya karena uang. Maka baca dan tandatangani lah surat kontrak ini. Bacalah dengan teliti, ya." ungkap si nino.


"Jika setuju, segera tandatangani menggunakan pen iPad. Jika tidak, matikan saja iPad nya." lanjutnya.


"Perjanjian Kontrak lima tahun yang akan datang. Jika Anda berminat akan menjadi guru TK sesuai dengan passion Anda yang selama ini dipelajari. Kontrak selama satu tahun mengajar. Dengan gaji perbulan sepuluh juta rupiah."


( Berminat / Tidak ? )


"Ayo, Jaemin. Tekan tombol berminat yaa lalu tandatangani segera." bujuk si nino.


"Rupiah?? bukannya mata uang negara ... Indonesia?." tanyanya ke sang robot.


"Iya. Setelah kamu terbebas dari tempat ini, kamu akan berada di Korea Selatan dahulu untuk beradaptasi selama satu tahun. Selain itu, kamu akan menemukan teman-teman yang sama tujuannya dengan mu. Hanya saja target anak kecil mereka yang berbeda." ungkap nino.


"Lalu, kamu akan pergi ke Indonesia kalau sudah waktunya. Bersama mereka yang sama tujuannya yaitu untuk menyelesaikan permainan ini. Siapa yang lebih dulu cepat menyelesaikannya, maka ialah yang akan mendapatkan bonus puluhan bahkan miliaran rupiah."


"Cara untuk menyelesaikan permainan ini adalah kamu harus mengubah sikap dan mendidik anak-anak targetmu sebelum sampai ke jenjang sekolah berikutnya." jelas nino lagi.


Jaemin lebih terkejut kali ini. Selama ini, bukan hanya dirinya yang dikurung. Melainkan, ada orang lain juga yang dijadikan bahan kelinci percobaan dalam suatu permainan gila. Perasaannya bercampur aduk. Kepalanya memusing akhirnya dia mencoba untuk menenangkan diri dengan tiduran di kasur.


"Anak-anak yang sama denganku itu ... sekarang berada di mana?." ucapnya dengan nada lemas. Bibirnya memucat ketika mendengar penjelasan dari si nino bot.


"Apakah ... saat ini mereka berdekatan denganku?."


"Maaf. Aku tidak bisa memberitahu mu." ujar si nino.


"Masih lama sekali 5 tahun lagi ... tidak bisakah besok saja?." tanyanya lagi.


"Tidak bisa. Jika kau memang berminat, maka pelajarilah karakteristik targetmu yang ku tunjukkan. Lalu, kembangkan potensi atau item di dirimu seperti di bidang pelajaran sains." jawab nino bot.


Anak itu meneguk salivanya. Di benaknya, siapa orang brengsek yang mengurung hingga membuatnya menjadi orang anti sosial seperti ini. Terlebih lagi, malah menyuruhnya untuk menjadi seorang guru. Bukankah guru itu sangat diperlukan jiwa sosialisasinya?.


"Siapapun kau yang membuatku seperti ini. Kalau sampai ku tahu dirimu, aku akan segera menghabisi nyawamu." batinnya.


......................


"Ah ... mana nih? kenapa liftnya tidak terbuka? aku lapar." ucapnya.


Sejenak anak lelaki itu berbaring kembali di kasurnya. Menunggu makanan yang biasanya datang dari lift kecil. Selang beberapa waktu, lift itu mendatangkan bunyi dan terbuka. Segera ia menghampiri dan menyantap makanannya sambil menonton siaran ulang di TV LCD yang besar.


Anak itu menyukai film kartun sehingga tayangan di TV nya selalu memunculkan film-film kartun. Saat ini, dia berusia 12 tahun. Seperti jaemin yang terkurung, anak lelakiini sama terkejutnya ia saat berada di tempat ini. Namun, karena sudah terbiasa dan lama tinggal di sini. Ia menjadi biasa-biasa saja.


Setiap orang pasti akan merasakan bosan ketika menonton siaran ulang yang diputar terus menerus setiap hari. Begitupun dengannya sekarang. Anak kecil sepertinya ini, seharusnya membutuhkan sosialisasi dan waktu bermain yang banyak di luar sana.


"Suno bot! kapan ya aku bisa keluar dari tempat ini? aku bosan bermain denganmu." ujar anak itu.


"Setiap hari aku selalu melihat foto-foto anak perempuan itu. Dia sangat cantik. Kalau aku bisa keluar dari sini, akan kucari anak itu."


"Hehehe pasti dia adalah teman-teman ku." katanya lagi, sambil memandangi lembaran foto-foto yang ditempel.


"5 tahun lagi kau akan keluar, Jisung. Anak-anak perempuan itu bukan temanmu. Melainkan bahan target. Ingat Jisung, dia adalah targetmu." jawab suno.


Jisung menggeleng tidak percaya. Dia tetap bersikeras bahwa foto anak yang dicetak lalu ditempel itu adalah temannya. Karena age gap mereka yang tidak terlalu jauh. Dia menatap sinis ke robot yang bernama suno karena selalu menyuruhnya belajar.


"Jisung, mari belajar lagi. Kalau kamu ingin segera keluar, maka belajarlah yang giat."


Anak itu mendecak sebal dan terus menggerutu karena dirinya di push belajar terus-menerus oleh si robot botak yang bernama suno. Kemudian, lift itu terbuka. Membawa sepiring makanan seperti biasa dan segelas air. Setelah itu, ia mengambilnya dan dibawa ke meja belajarnya yang dipenuhi foto si target anak perempuan.


Ia memakan dengan lahap, lalu pandangan matanya ke arah anak perempuan itu. "Kalau aku bebas nanti, apakah dia tahu siapa aku?."


......................


Sementara itu, diruang nomor tiga terdapat anak lelaki lainnya yang berusia 14 tahun. Rak-rak buku di sana, terus diobrak-abrik olehnya untuk mencari suatu buku. Sampai akhirnya dia meminta robot yang selama ini menemaninya untuk mencarikan buku tersebut.


"Liu bot! apa kamu tahu buku-buku yang bisa ku gunakan untuk menguasai banyak bahasa?."


Robot botak bernama liu itu menjawab dengan cepat. Senyuman disudut bibirnya terangkat. Memang robot ini bisa dimanfaatkan. Sayangnya, dia adalah robot dan tidak bisa diajak bercanda olehnya. Setelah menemukannya, dia kembali ke meja belajarnya.


Sedari pagi, anak itu terus-menerus belajar dan tidak memberi perutnya asupan apapun. Makanan yang biasa diberikan dari lift kecil itu tidak disentuhnya sama sekali. Memuakkan baginya untuk makan makanan seperti itu setiap hari bahkan bertahun-tahun.


Perutnya yang berbunyi menahan rasa lapar, mau tidak mau terpaksa dia beranjak untuk mengambilnya di lift itu. Dia mendecak sebal melihat makanannya.


"Ck. Apakah mereka tidak ada ide untuk mengganti menu nya?." ucapnya sambil menyuap makanan.


"Aku akan keluar secepatnya. Setelah itu, ku cari ketiga anak tersebut. Aku ingin bermain dengan mereka."


 


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2