
Happy Reading!
.
.
.
Kamis, 15 Juli 2010.
Hari ini adalah hari pertamaku pergi ke sekolah TK di Indonesia. Rasanya gugup sekali hingga jantungku akan meledak!.
Aku harap tidak ada yang mengenali ku di sini.
Ya ... aku berharap begitu.
Aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu, namaku Lee Jisoo. Aku kelahiran tahun 2005. Mengapa aku masih TK? karena aku mengulang kembali satu tahun. Seharusnya sekarang sudah TK kelas B tapi dikarenakan aku murid pindahan di Negeri ini jadi mau tidak mau ya sudah terima saja.
"Kira-kira Lian sekolah di mana ya? katanya dia juga pergi ke indo." ucapku dalam hati
Sebenarnya alasanku ikut program rekomendasi ini adalah untuk bertemu lian. Tadinya kupikir, untuk apa aku pergi ke negeri orang, kalau di negeri sendiri pun ada banyak sekolah-sekolah TK.
Hendak akan melangkah masuk ke gerbang, aku tidak sengaja menubruk anak lelaki dan ibunya yang sedang berada di depan gerbang hitam besar tersebut.
Bagaimana ini? Apakah mereka akan marah padaku?
"Aduh maaf ya bu ... anakku tidak sengaja menubruk kalian." ucap mamaku —kim seulgi namanya.
"Ah ... sorry ..." lirihku sambil menunduk meminta maaf.
Anak lelaki yang ber-nametag "Jevano Choi" itu memasang ekspresi datar, "Ya. I'm okay"
Syukurlah puji Tuhan dia tidak mempersalahkan hal ini. Kalau dilihat dari cara berpakaian nya, dia seperti anak mama banget!.
"Iya gapapa bu. Mari, kami duluan ya." ujar mamanya Jevan sambil tersenyum ramah kepada kami.
"Kamu sih jalan nya lihat-lihat dong, So." kata mama sambil mengomeli ku, ah sudah kutebak mama pasti akan mengomeli ku apapun hal itu.
Terkadang aku berpikir, mengapa mama tidak sayang dan tidak bersikap lembut padaku seperti mama-mama yang lain?
Sudah lama sejak aku berada di Korea Selatan, disaat umurku 3 tahun mama sudah tidak pernah perhatian padaku. Selain mama, papa juga sibuk bekerja. Pada akhirnya, aku hanya dititipkan ke bibi pengasuh ku sedari bayi namanya Kak Nurul.
Memang menyebalkan, makanya aku jadi bandel dan dipindahkan ke Indonesia tepatnya di sekolah Althar. Sekolah yang direkomendasikan oleh sekolah lama ku di Korsel. Awalnya mama dan papa tidak setuju kami pindah ke Indonesia, tapi karena aku yang meminta duluan ke mereka untuk bersekolah di sini. Hanya karena saat itu lian memposting sesuatu bahwa dia berada di Indonesia dan juga karena suatu masalah saat di sekolah lama.
Mataku meneliti setiap ruangan yang ada di sekolah ini, "Di mana ya kelas A2 ?."
"Mama, Papa ayo ke sana itu kelas A2." ucapku lalu menggandeng tangan kedua orang tuaku hingga menuju ke kelas.
"Di depan sini aja, biar keliatan sama guru." kata papa sambil mengarahkan aku ke meja paling depan dekat dengan meja guru, lalu aku mengangguk paham.
...........
"Mama, aku mau duduk di sini aja ya?."
"Jangan dava, itu terlalu pojok nanti kamu sesak nafas." ujar seorang wanita paruh baya yang cantik dan masih muda kepada anak lelaki semata wayangnya.
"Oh ... Baiklah, Ma."
"Lho Mamaa lihat deh, itu kan anak berkulit hitam mengkilap yang bau jeruk pas kita ambil kartu itu kan?!." seru anak perempuan berkulit putih bening dengan rambut terurai, ber-nametag Kim Hana.
"Hana urus saja urusanmu sendiri. Maafkan anakku ya, Bu. Permisi." kata mamanya hana.
"Iya. Tidak apa-apa, Bu" ucap mamanya dava sambil tersenyum ramah — Song Hyeonie namanya.
"Ma, gurunya kenapa lama sekali datangnya? Ini udah lewat dari jam setengah 7"
"Sabar ya Barred, mungkin mereka lagi di jalan?" ucap wanita paruh baya berkebangsaan Amerika-Korea, Kim Soyoung, mamanya Barred
"Nak, Papa tunggu di luar kelas ya. Bobby di sini aja ya." ucap papanya bobby yang berada di ujung pintu setelah mengantar anaknya.
"Baik Pah!."
"Mama, Jisoo takut." kata jisoo setelah keluar dari ruang kelas dan lari memeluk mamanya yang berada di luar kelas bersama papanya.
"Takut kenapa deh?." tanya mama heran
"Ada dia." jawabku.
"Ohh biarin aja. Toh kamu duluan yang memulai pas di sana."
"Hmm."
Tak lama setelah itu, guru mereka pun datang ke kelas. Seorang lelaki yang tampak muda, berwibawa, dan keren. Masa sih dia adalah guru TK?.
"Halo, selamat pagi adik-adik!." sapaannya menggema di ruang kelas yang sempit ini.
"Selamat pagi!." kami pun menyahut.
lelaki itu rambutnya yang di pomade, tinggi, berkulit putih seperti orang Korea tunggu—apakah dia berasal dari Korea? Lalu suaranya yang lembut menyapa kami semua dengan sapaan hangat, tak lupa dengan senyumannya yang manis.
Ibu-ibu yang mengantarkan anaknya hingga menunggu di depan kelas pun mendapat asupan pagi yang segar. Tak sadar mereka telah bersuami. Rasanya seperti melihat cogan di kehidupan nyata.
lelaki itu setelah menaruh tas dan berkasnya di meja. Kemudian ia berdiri di depan papan tulis sambil melihat-lihat ke sekitar murid-murid dan wali murid yang kini menatapnya semua. Rasa gugup sedari tadi yang ia takutkan seketika menghilang dan diubah ke rasa percaya diri.
"Baiklah, saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu yah ... nama saya Kim Doyoung. Jangan panggil saya dengan sebutan 'pak' karena saya masih muda hehe. Saya kelahiran tahun 1989 panggil aja 'kak' mengerti?."
Suaranya yang jelas dan pembawaan nya yang santai, tak lupa dengan senyuman yang ramah. Hatinya menghangat ketika melihat anak muridnya yang menyambutnya dengan senyum di wajah mereka kecil mereka.
"Mengerti kak doyoung ~"
"Cakepp!."
Kim Doyoung. Namanya bagus, ternyata benar dia memang orang Korea yang mengajar di TK ini.
"Ayo sekarang perkenalkan diri kalian yuk, siapa dulu yang mau maju?!." seru kak doyoung dengan penuh semangat.
"Aku kak!!." ucap anak lelaki yang kulitnya agak hitam mengkilap yang duduk di ujung dekat pintu.
"Boleh yuk kenalin diri kamu yaa di depan, nama dan kewarganegaraan."
Anak lelaki itu berjalan ke depan papan tulis dengan sangat percaya diri dan sambil senyum sumringah.
"Haii, perkenalkan nama saya Song Davaldo. Saya asli Indonesia tapi orang tuaku pure Korean. Salam kenal ~ terima kasih."
"Wahh dava anak yang ramah yaah, terima kasih dava!."
"Sama-sama kak!."
"Selanjutnya siapa lagi yang mau?." kata kak doyoung.
"Saya kak" ucapku, lalu berdiri dari tempat duduk dan maju ke depan.
Tenang ... Tidak boleh gugup Jisoo!
"Hai, perkenalkan nama saya Lee Jisoo dari Korea Selatan. Mohon bantuannya ya kak, terima kasih." tuturku, sambil tersenyum malu aku menunduk seperti yang sudah mama ajarkan jika hendak memperkenalkan diri.
"Wahh kamu anak yang manis yaa, terima kasih Jisoo"
"Selanjutnya siapa–" ucapan kak doyoung terpotong ketika suara bising bising dari luar kelas.
Belum sempat aku duduk ke tempatku, tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangannya!.
Suara ramai-ramai dari luar kelas pun mengundang perhatian kak doyoung untuk melihat juga.
"Pasti anak murid gue." batin kak doyoung
Suara mama terdengar jelas olehku walaupun aku duduk diujung.
"Eh loh itu kan?!-"
"Lah? iya yah itu kan si aktor cilik china itu!."
"Kaget aku, tapi kenapa dia bisa masuk sekolah sini?"
"Jangan-jangan–"
"Permisi, Pak ... maaf kami terlambat datangnya." ujar lelaki paruh baya yang memakai jas hijau tua kepada kak doyoung yang berada di depan pintu.
"Oh iyaa. Gapapa, Pak." kata kak doyoung dengan ramah.
"Ayo masuk, Dik." ajak kak doyoung kepada anak lelaki tampan itu.
"Dik, kamu duduk di bangku sebelah dava yang kosong itu ya." katanya
"Iya."
"Jisoo ga mimpi kan?!." batin ku berteriak histeris.
Rasanya seperti mimpi dapat bertemu idol yang kau sukai di kehidupan nyata dan rupanya ia satu kelas denganmu!.
"Jisoo, kenapa kamu masih berdiri? yuk duduk yaa."
kak doyoung menghamburkan lamunanku kepadanya. Ternyata anak lelaki itu satu sekolah denganku? masih sulit dipercaya. Tapi kenapa ya dia bisa sekolah di sini? kan, sekolah yang katanya untuk anak berkebutuhan khusus yang mempunyai masalah?.
Lian berjalan ke arah mejanya di samping dava. Ia sedikit risih dengan keberadaan dava karena melihat dirinya sambil senyum aneh seperti orang mesum baginya.
__ADS_1
"Haii😁 nama kamu siapa?." sapa dava, sambil mengulurkan tangannya yang hitam mengkilap bau jeruk itu.
"??🤨"
"Apa sih? bikin risih aja senyam-senyum kek gitu." ketus anak baru tersebut.
Raut muka dava langsung terlihat sedih hingga mengurungkan niat jabat tangannya yang hampa tidak dijabat balik malah dianggap mengganggu.
Lian menarik bangku serta mejanya agak menjauh dari dava. Kemudian dia berjalan ke arah bi liyin alias bibi pengasuhnya yang ikut juga. Ia meminta tisu basah dan mulai mengelap meja nya yang kotor berdebu.
Bekas tisu basah yang kotor itu, ia buang ke meja dava. Hingga si pemilik meja merasa tersinggung dan mengeluarkan kata-kata mutiara dari mulutnya.
"Sialan." umpat dava.
"Hei Dava, ga boleh ngomong kasar, Nak!" teriak papanya di jendela dekat anaknya duduk.
Kak doyoung merasakan atmosfer yang tidak enak yang sedang terjadi maka dari itu ia melanjutkan sesi perkenalan lagi.
"Nah karena adik itu baru sampai, mari kita ulang dari awal ya. " ujar kak doyoung.
"Perkenalkan nama kakak, Kim Doyoung. Salam kenal yah adik-adik." Ia memulai dari memperkenalkan dirinya kembali.
"Nah karena kakak sudah, siapa nih yang mau mulai–"
"Saya saja kak." sela ku, tanpa sadar mengajukan diri.
Aku mengulangi perkenalan ku sambil menahan malu karena ada lian yang memandangi ke depan. Tak butuh waktu lama, aku sudah menyelesaikan nya.
"Terima kasih Jisoo, siapa lagi yuk?"
"Aku kak!." ucap dava tanpa ragu dan percaya diri lagi.
Ketika dava baru hendak berdiri dan melangkah, kaki lian menyelandung kaki dava hingga tersungkur jatuh ke lantai. Semua orang tentu terkejut. Termasuk kedua orang tuanya dava.
"Aduh ... Tuhan lindungi dia, semoga 'make up' nya ga luntur." batin mamanya dava yang sedari tadi mengawasi dari jendela kelas.
"Bukan anakku sumpah." ucap papanya dava karena merasa malu dan berakhir dipukul mamanya.
Air mata dava hampir nyaris keluar karena sikunya terkena kaki meja, rasanya seperti tersengat listrik.
Dava perlahan bangkit dari lantai, kemudian dengan cepat ia mencekam kerah baju lian.
"Woy sialan." pekiknya
"Maksud kau apa hah?!." tantangnya.
Terkejut kedua orang tuanya, begitu pun dengan ku. Kak doyoung sampai menutup mulutnya karena terkejut ada anak kecil yang bisa berkata kasar seperti orang dewasa.
"Apa🤨?." sahut lian, dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Kau kan? tadi yang menyelandung kaki ku?." tuduh dava, karena ia merasa yakin kalau lian lah yang membuatnya jatuh tersungkur.
"Ngga tuh." jawab anak baru itu, sambil membuang muka.
"Dasar kont*#+$+$(!."
Kemudian, satu pukulan dari dava berhasil mendarat di pipi mulus nya lian.
Semua orang lebih terkejut, apalagi para wali murid yang menyaksikan pertengkaran antara kedua anak kecil tersebut.
Ketika lian hendak membalas pukulan dava, dengan sigap kak doyoung mencegahnya. "Ga boleh."
"Kalian ga boleh bertengkar kayak gini ya, kalian kan classmate"
"Ayo cepat minta maaf satu sama lain ya. Dava minta maaf dan kamu, dik minta maaf juga ke dava." pinta kak doyoung, sambil mengambil kedua tangan kecil tersebut untuk berjabat tangan.
Mereka akhirnya berjabat tangan walaupun keduanya saling buang muka.
Kak doyoung melanjutkan sesi perkenalan kepada teman-teman lain. Sudah beberapa siswa yang maju, kini giliran lian saatnya.
"Ayo dik, perkenalkan dirimu ya. Biar kakak tau namamu." kata kak doyoung.
"Halo, perkenalkan nama saya Lian Zhou Shue dari China. Terima kasih ~ "
Lian mengucapkan itu dengan suara volume yang lumayan, hingga wali murid yang mendengar nya kurang mendengar namanya karena antara namanya yang terlalu susah dan tidak kedengaran.
"Siapa? Namanya siapa tadi? anak aku nge-fans." ucap seorang pria paruh baya yang tampan dengan lesung di pipinya — Lee Seungki, papanya jisoo.
"Lian zhou shue." katanya sekali lagi.
"Eung? zho--zhuu--zhaa-- siapa namanya, Nak? susah banget ..." ucap salah satu wali murid di sana dengan bingung, masih ada yang tidak bisa mengeja namanya yang susah itu, dia adalah papanya barred, Kim Donggu.
"Bukannya namanya dia zhoshua?." kata mama jisoo.
"huft ... NAMA SAYA LIAN ZHOU SHUE." tegasnya, aliasnya bertaut.
Kedua orang tuanya lian merasa tidak enak kepada guru dan juga wali murid di sini, papa lian kemudian muncul dari balik pintu.
"Namanya putro yah." kata Ryan— papanya lian.
"Ohh jadi nama kamu putro. Adik-adik jadi nama sapaan adik lelaki ini putro ya ~ "
Lian merasa kesal, mengapa semuanya tidak mengerti? padahal namanya sangat simpel. Hanya menyebut 'lian' saja apa susahnya.
"NAMA SAYA LIAN DAN BUKAN PUTRO. APA ITU PUTRO? NAMANYA JELEK SEKALI!." pekiknya.
Orang tuanya lian terdiam, begitu pun dengan orang-orang di sana. Atmosfer nya menjadi semakin tidak enak.
"Putro, kamu ga boleh kayak gitu di depan teman-teman dan guru kamu." ujar papanya menasehati.
"Semua ini juga gara-gara kau!." tegas lian, dengan menatap sinis ke papanya.
"Putro kamu ga sopan sama papa kamu, Nak!" ucap mamanya, yang tak tahan dengan sikap anaknya itu.
"Bukan Papa aku kok???." sergahnya lagi.
"Ya sudah. Untuk Putro- eh Lian boleh duduk yuk sekarang." ujar kak doyoung dengan lembut, karena suasananya sudah tidak enak mana mungkin ia akan bersikap kasar juga.
Ketika lian berjalan kembali ke tempat duduk, ia melewati jisoo yang duduk di depan. Kemudian lian sengaja mencolek kuncirnya jisoo sekilas karena merasa gemas dengan anak perempuan kecil itu.
"Woy anak aku!." teriak lee seungki.
"Kau ngapain hah?." sambungnya.
"Putro ga boleh jahil sama temannya, Nak ..." lirih ryan.
"Apa sih??" sinis lian.
"Sekarang siapa lagi yuk yang mau maju?!." kata kak doyoung sambil bersemangat seperti di awal.
"Saya kak ..." ucap anak lelaki pendek dan rambut nya tipis hampir seperti botak. Ia berdiri dari tempatnya, tiba-tiba saja lian menyeletuk.
"Pendek banget lu botak."
Kaki barred seketika terasa lemas, tidak sanggup berdiri untuk berjalan ke depan. Karena sedari tadi barred berdoa agar tidak berurusan dengan anak bernama lian atau putro ini. Tapi ternyata doa nya tidak dikabulkan.
Dava kemudian membalas nyinyiran lian. "Apa sih lo sok iye banget."
Lian seperti tidak menghiraukan dava apalagi barred. Ia justru menatap ke arah anak yang tadi ia apakan kuncirannya.
"Dia ... kenapa melihatku begitu?" batin jisoo.
"Aduh ... tapi emang iya sih anakku pendek. Semangat barred!! papa di sini, Nak!." seru kim donggu, yang menyemangati anaknya.
"Yuk maju sini, Barred." ujar kak doyoung, sambil mengulurkan tangannya ke anak berkebangsaan Amerika itu.
"Hai semuanya, perkenalkan nama saya Barred Bastian dari Amerika serikat. Salam kenal, Terima kasih"
"Udah kak." katanya, lalu kak doyoung mengangguk dan mempersilahkan barred duduk kembali sambil diberi tepuk tangan.
"Barred anaknya baik yah, terima kasih 🤗"
"Itulah anakku hahahaha." seru kim donggu
"Lucu juga ya anakmu." kata song jeongki, memberi tepuk tangan.
"Ga kayak yang di sebelah anakku." sindirnya.
"Hush jangan bilang begitu, mari bu." ucap kim donggu tersenyum kikuk ke arah mamanya lian sedari tadi melihat ke arah mereka berdua.
"Menurutku, anak itu pindahkan saja kak. Problematik sekali." kata song jeongki tiba-tiba menghampiri kak doyoung dan berkata seperti itu dengan beraninya.
"Maksudnya apa ya, Pak?." tanya kak doyoung heran.
"Saya takut kalau anak saya akan diperlakukan seperti tadi." jawab song jeongki.
"Iya tuh pindahin aja ke kelas sebelah" timpal lee seungki, yang merasa tidak nyaman dan resah juga jika anaknya akan dibully.
"Setuju-setuju aja sih." ujar yang lainnya ikut menambahkan.
"Gimana, Kak Doyoung?." ucap song jeongki.
Kak doyoung tertegun melihat para wali murid yang resah seperti ini kepada salah anak muridnya. Apakah mereka tidak mempedulikan perasaan orang tua dan lian nya? sungguh kejam sekali bagi kak doyoung. Ia yakin anak yang bernama lian atau putro ini lambat laun akan menjadi anak yang orang tuanya harapkan. Mereka tidak bisa mendiskriminasikan nya begini!.
Ia harus mencari cara agar lian tidak jadi pindah ke kelas A1, karena nanti muridnya akan berkurang dan yang di sana akan kebanyakan.
__ADS_1
"Waduh ... coba saya cek dulu ya ke kelas sebelah apakah masih ada bangku kosong atau tidak. Tenang ya wali murid sekalian."
Kak doyoung pergi ke kelas sebelah, yakni kelas sahabat nya — Lee Taeyong. Yang mengajar di kelas A1.
Setelah itu, kak doyoung kembali lagi ke kelasnya setelah berkompromi dengan kak taeyong.
"Kebetulan ada nih. Lian sekiranya kamu ga nyaman di sana, kamu bisa balik lagi ke kelas A2 ya. Nanti kakak tungguin." ucap kak doyoung ke lian dengan hati-hati agar tidak menyakiti perasaan anak lelaki itu.
Sejujurnya, kak doyoung merasa tidak enak dengan lian dan keluarganya. Bagaimana pun lian adalah muridnya. Mana mungkin seorang guru bertindak tidak adil begini.
"Semoga Lian ga benci ... harusnya sih pas 15:15 tapi ah sudahlah. Semoga Lian kurang sreg di sana." batin kak doyoung
Kak doyoung dan juga lian serta keluarganya pergi ke kelas A1 kemudian muncul dari balik pintu, ada kakak lelaki tampan yang tingginya seperti wali kelasnya.
"Ohh ini yang namanya Lian ya? selamat datang Lian, yuk silahkan masuk." ujar kak taeyong dengan ramah.
"Di belakang bangku Jevan, ada bangku kosong ya Lian." ucap kak taeyong lagi.
Lian melihat ke arah bangku serta meja yang akan ia tempati. Begitu kotor dan usang seperti mau patah. Ia tidak mau duduk di sana. Lalu tiba-tiba menyuruh jevan untuk pindah dari tempat duduknya.
"???" Jevano choi — anak berkebangsaan Australia itu terdiam dan mengerutkan dahinya. Apa maksudnya anak yang ada di depannya ini tiba-tiba memintanya untuk berdiri dan pindah.
"Pindah, sana!." pinta lian.
"Gamau? Apaan sih?!." tampik jevan, ke arah lian yang kini menatapnya.
"Aku bilang pindah, minggir sana!." kata lian mengulangnya.
"Kamu yang apaan?! Datang-datang sudah membuat onar." ketus anak bermarga choi tersebut.
"Ini tempatku, dan aku tidak mau." tegas jevan, menekankan perkataannya.
"Oh, nih!." lian mengeluarkan sejumlah uang merah ratusan untuk jevan pindah dari sana.
Jevan mengernyit dan marah. Ia merasa harga dirinya terluka. Tiba-tiba teringat dengan teman di Aussie nya yang ia perlakukan begini juga. Rasanya seperti dejavu, jevan menggeleng cepat melupakan hal itu.
"Nih, nih ambil aku juga punya!." pekik jevan lagi, sambil menarik sejumlah uang ratusan hingga ada uang dollar Australia dari kantong jaketnya.
Lian menarik paksa bangku itu hingga jevan sedikit tersentak. Karena merasa kesal, bangku kecil tersebut direbut kembali. Entah mendapat tenaga dari mana anak tk itu, ia melempar bangku tersebut hingga terbelah dua.
Kak taeyong maupun kak doyoung meneguk air ludah. Melihat anak sekecil dan semungil di depan mereka ini sangat kuat sekali tenaganya.
"Ya ampun Jevan, kamu ga boleh merusak bangku sekolah, Nak!." ucap Jessica Lee — Maminya masuk ke dalam kelas A1 kemudian mencegah jevan agar tidak memukul wajah anak yang berada di depannya itu.
"Ga boleh gitu ya, Van ..." lirih maminya.
"Habis nya mih, dia apaan sih! baru datang juga!." kata jevan sambil menunjuk muka lian.
Kemudian kak doyoung meminta maaf kepada kak taeyong, jevan, serta maminya. Dan langsung segera mengajak lian untuk kembali ke kelasnya yaitu A2.
"Walaupun mereka harus memecahkan satu bangku, tapi gue bersyukur Lian —akan tetap menjadi murid gue." batin kak doyoung. Garis di sudut bibirnya terangkat, tersenyum kemenangan.
Sesampainya di kelas, wali murid yang dari tadi koar-koar menyuruh lian agar pindah, merasa terheran-heran mengapa anak ini kembali lagi.
"Kak, kenapa anak itu pindah ke sini lagi?." tanya song jeongki heran.
"Mulai sekarang, Lian Zhou Shue adalah teman kelas kalian ya hari ini." Kata kak doyoung, sambil menekankan pengucapannya kepada semua orang yang ada di sana. Alis kak doyoung menegas. Pandangannya pun tidak goyah, tangannya sedari tadi memegang pundak lian agar anak itu tidak merasa sendirian.
Kak doyoung ... keren.
"Untuk wali murid sekalian ... alangkah lebih baiknya, jika anak-anak nya ditinggal saja untuk mereka beradaptasi ya. Nanti setelah pulang sekolah baru di jemput kembali ☺️🤗." ujar kak doyoung kepada semua wali murid yang menunggu anaknya. Ia mengucapkan nya dengan nada yang sopan agar tidak terkesan mengusir.
Tapi tetap ada saja yang merasa tersinggung.
"Nanti anak saya diapa-apain lagi sama yang itu, Kak"
"Bisa kan jagain anak saya, Kak?."
"Tolong titip anak saya ya, Kak."
"Tolong nanti kalau anak saya dibully segera kasih tau ya, Kak."
Kak doyoung tetap tersenyum, senyumannya tak pernah luntur. Ia menanggapi semuanya dengan tetap tenang.
"Iya Bapak-Ibu sekalian. Serahkan saja anak-anaknya pada saya dan juga guru-guru yang ada di sini. Kami akan menjaga dan mendidik mereka hingga menjadi 'orang' ketika sudah besar kelak😊." ucap kak doyoung dengan ramah dan menyakinkan mereka.
09.30 AM
Jam istirahat di hari pertama. Aku penasaran dengan sekolah ini. Tapi aku tidak ada teman yang bisa ku ajak berbicara. Sejujurnya aku belum terlalu fasih berbahasa Indonesia. Aku memilih untuk membaca buku cerita saja di dalam kelas.
Aku melihat anak yang berkulit hitam —maksudku dava namanya. Ia sepertinya sama saja dengan lian. Bahkan aku melihatnya seperti pembully. Dia bahkan sekarang mendekati anak Amerika itu. Kasian sekali dia, pasti mau dipalak uangnya.
"Eh namanya, Barred kan?." sapa dava, ia menghampiri mejanya barred yang ada di depan meja nya.
"Iyah."
"Di sini ada kantin ga ya?." tanya barred.
"Ada kok, yang waktu hari pendaftaran sama hari tes emang kamu ga keliling sekolah ini?." imbuh dava.
"Ngga, aku takut. Sekolah ini seram." balasnya.
"Begitu ya ... kalau gitu ayo aku temani ke kantin." ajak dava sambil tersenyum.
"Ayo!."
Wah ... ternyata aku salah. Dia rupanya baik, anak yang manis pula. Maafkan aku, dava.
Aku melihat Hana yang sedang mencari seseorang yang bisa ia ajak berbicara. Oh ... Aku iri dengannya, yang jika tidak memiliki teman maka ia akan berusaha untuk mendapatkannya. Tapi lihat dirimu, Jisoo? tidak ada usaha sama sekali untuk mendekati siapa pun.
"Duh ngobrol sama siapa ya?." gumam anak itu. Ia sekilas melirik ke arah ku, lalu beranjak ke belakang.
"Eh kalian lagi ngobrolin apa?." tanya hana, ke anak-anak yang sedang berkumpul di belakang meja ku.
Tepatnya, di belakang ku mejanya vania. Di situ ada bobby, selly, vania, dan davin.
"Oh ini kita lagi ngobrolin random. Davin nih seru, dia ada aja topiknya." kata selly, anak bersurai cokelat terang yang berasal dari Kanada.
"Eh dipikir-pikir, Jisoo tuh pendiam ya?." ucap hana, sambil berbisik ke mereka.
"Belum fasih kali, Han." sahut bobby.
"Tapi pas hari tes waktu itu, aku ajak ngobrol pake bakor, dia diam saja tuh." sulut hana lagi.
"Gatau deh, eh Hana kamu bawa mainan apa di tangan mu itu?." imbuh davin, yang mengalihkan topik pembicaraan karena merasa tidak enak dengan jisoo yang ada di depan.
"Eh? Ini Scrabble namanya. Pada tau kan?."
"Iya tauu, kita boleh main?."
"Bolehh, yukk!"
.
.
Di kantin
"Jinwoo mana sih lama banget." gumam anak dengan surai rambut berwarna blonde, yang terlihat sedang mencari-cari sahabat nya yang bernama seo jinwoo.
"Dorr! hai Jevan! hehehe." sapa anak yang memiliki lesung di pipinya ketika tersenyum.
"Kaget aku! dari mana aja?." balas jevan
"Ke toilet sebentar tadi, yuk katanya kamu laper."
Jinwoo menarik tangan jevan menuju kantin kak keun —si juru masak / koki nya althar. Sepanjang koridor kelas B, ia meneliti isi setiap ruang kelas B. Hingga mereka akhirnya sampai di kantin.
Kantin kak keun, tempatnya sangat sederhana. Ada meja panjang yang membatasi dirinya dengan anak murid. Dan tempat duduk kursi bulat berwarna hitam yang bisa berputar. Asap dari masakan yang enak dan harum yang menyebar menyeluruh di area kantin. Membuat indra penciuman seseorang akan merasa lapar.
Jevan melirik dua anak dari kelas A2 yang sedang makan di sana. Terlihat lahap tetapi berantakan. Ah ... Mereka tampak saling melengkapi rupanya, begitu pikir anak bermarga choi ini.
"Enak banget Kak, Dava mau nambah lagi boleh?." tanya dava dengan ceria di senyumnya.
"Ih Barred juga mau dong!." timpal barred
"Iya iyaah bolehh kok hahaha." balas kak keun, sambil tersenyum yang menampilkan lesung pipinya yang keliatan manis.
Jevan hanya memandangi mereka satu persatu. Lalu ia melihat ke kantin dengan detail. Tak lama kemudian matanya meneliti dari meja, makanannya, dapurnya, hingga baju kak keun dengan celemek yang kak keun pakai.
"Berminyak, berasap, tidak higienis, dan terbuka." keluh jevan, yang didengar oleh kak keun, dava dan barred.
Mereka menatap ke arah jevan dan jinwoo. Jinwoo merasa tidak enak kepada kak keun karena sikap jevan yang mengejek kantinnya.
"Jev ... " bisik jinwoo pelan.
"Katanya kamu laper, kan?." bisik jinwoo lagi.
"Aku ga mau makan di sini!." kata jevan dengan tegas.
"Maksudnya, Dik? ini higenis kok, makanan yang ada di sini dibuat dengan bahan segar ya." jelas kak keun, sambil mempertahankan senyuman ramah kepada anak lelaki kecil ini.
"Ayo jinwoo, kita pergi dari sini." kata jevan, yang menarik tangan jinwoo untuk pergi meninggalkan kantin yang menurutnya kotor dan tidak higienis itu.
"Ya ampun, semoga diberi hidayah anak itu." ungkapnya sambil mengelus dada.
__ADS_1
...-----...
To be continued.