
Happy reading!
.
.
.
Sabtu, 10 Januari 2009.
Lima tahun kemudian.
Remaja lelaki terbangun dari tidurnya yang lelap karena belajar semalaman. Ia mengucek matanya perlahan dan menemukan dirinya berada di tempat dengan nuansa yang berbeda dari sebelumnya. Ruangan yang terasa asing, tidak seperti biasa. Kali ini ditemukan pintu dan jendela.
Matanya terbuka lebar. Dia mendatangi kalender yang ada di dinding. Ternyata memang sudah lima tahun berlalu. Tubuhnya pun kini meninggi. Di dalam benaknya, apakah sudah waktunya untuk keluar?.
Seolah lupa akan sesuatu. Sebuah robot yang sudah menemaninya sepuluh tahun ini menghilang dalam waktu semalam. Dipikir-pikir, kemarin malam nino bot masih ada. Entah perasaan apa yang ada di dirinya, perasaannya mengatakan ... kehilangan sesuatu yang memang miliknya.
"NINO! KAMU DI MANA?." teriaknya frustasi.
"WOY NINO ROBOT BOTAK! KAMU DI MANA??!."
"Nino! jawab aku!! hiks ... kamu di mana?!."
Tak kunjung ada jawaban dari si robot botak itu. Dia terlihat menyedihkan menangisi sebuah robot dilantai. Lalu, pintu itu memunculkan sebuah suara pria dewasa dari luar pintu.
Jaemin menatap ke arah pintu, beranjak untuk membukakannya. Dia menatap dingin ke pria di depannya ini. Kemudian, pria tersebut memberikan sebuah kotak untuk dibukanya. Ia membuka kotaknya, lalu menatap isinya dengan bingung.
"Itu ada beberapa black card yang berisi sejumlah uang. Dengan mata uang won Korea Selatan. Pakailah mantel tebal ketika keluar dari sini. Karena negara ini sedang mengalami musim dingin." kata pria itu.
"Lalu, foto-foto ini adalah beberapa orang yang akan kau temui dan pergi bersama ke Indonesia. Minimal 5 orang bisa pergi. Tetapi akan lebih bagus, jika kau pergi bersama 7 orang lain itu. Haechan, Jeno, Renjun, Yangyang, Mark, Chenle, Jisung. Itu adalah nama-nama mereka. Ada tulisan yang tertera di belakang fotonya." ungkapnya.
Jaemin mengernyit. "Lantas, misal aku hanya bertemu 3 orang, artinya aku tidak bisa pergi?." tanya jaemin.
"Iya."
"Misal lagi nih, udah ketemu 5 atau 6 orang. Sisanya bagaimana jika memang tidak bisa ku temukan??." tanyanya lagi.
"Tinggalkan saja. Dia mungkin sudah menemukan caranya sendiri." kata laki-laki itu.
"Terus kenapa aku tidak diperbolehkan pergi sendiri?." tantang jaemin.
"Karena salah satu diantara kalian, ada anak yang lebih cepat meng-upgrade dirinya. Jadi bisa saja dia pergi lebih dahulu." jelas orang itu lagi.
Jaemin ber-oh ria saja. Terlebih lagi, sepertinya pria bermasker di depannya ini sudah menahan kekesalannya karena jaemin yang memiliki banyak pertanyaan. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, robotnya yang hilang.
"Di mana ... Nino si robot botak?." tanyanya.
Pria itu menghela nafasnya. Lalu menepuk pundak jaemin. "Kau tidak akan membutuhkan robot rongsokan itu lagi." ujarnya.
"Segera pergi dari sini. Jalankan misi dan tujuan mu saja." tukasnya, lalu pergi dari hadapan jaemin. Tangannya mengepal erat hendak memukul pria yang memakai masker tadi.
"Orang brengsek." batinnya.
......................
Korea Selatan adalah negara yang sekarang dia injak tanahnya. Beruntung ketika di dalam sana ia sudah mempelajari banyak bahasa sesuai yang direkomendasikan. Lalu, dia mendatangi cafe untuk berdiam duduk sementara.
Tidak disangka, setelahnya ia akan keluar dari kurungan itu. Setiap hari kegiatan di dalam sana hanya belajar, makan, membaca buku, berolahraga ringan, dan tidur. Terkadang bermain atau sekedar mengobrol dengan robot yang menemaninya. Oh ... sekarang dia merindukan nino bot.
"Kejam sekali. Nino ku dibuang. Untung aku menyimpan foto-fotonya saat masih di sana." gumamnya.
Dia melihat foto-foto ke kamera DSLR miliknya sambil menyeruput ice americano yang ia pilih random tadi.
"Ah ... lumayan pahit ya. Apakah kopi memang rasanya begini?." pikirnya.
Setelah berjalan-jalan keluar dengan bebas menghirup udara segar, ia menatap ke atas langit biru yang luas. Selama ini, hanya bisa ditatapnya melalui jendela. Oleh karena itu, dia membuka lensa kameranya dan mulai memotret langit pagi kota Seoul yang cantik.
Orang-orang Seoul sangat ramai di jalanan. Entah itu hari kerja ataupun weekend. Malah sekarang hari weekend jadi bertambah ramai. Terdapat suatu taman di dekat tempat ia berdiri sekarang. Lalu, memilih untuk beristirahat sejenak di sana.
Anak-anak kecil yang sedang menggandeng tangan ibu mereka. Membuatnya ingin merasakan digandeng pula oleh seorang ibu. Kini jaemin kembali tersadarkan pada kenyataan, bahwa yang ada bersamanya selama ini adalah dirinya sendiri. Selain itu, ia harus segera menyelesaikan permainan bodoh ini.
Dia mengeluarkan salah satu black card dari kantongnya. Dipikirnya, berapa jumlah uang ada di kartu yang diberikan laki-laki itu. Jaemin tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena tertutup masker hitam dan topi. Tetapi, sepertinya dia hanyalah suruhan orang bernama Tuan L.
Kemudian ia meraih ponsel yang ditaruh di saku.
"Apa cari rent house dulu ya untuk sementara waktu?."
__ADS_1
...*****...
Sudah satu bulan dia hanya melakukan aktivitas biasa. Tidak ada hal apapun yang bisa dilakukannya. Makan, berolahraga, belajar, tidur, lalu menghabiskan uang. Itu saja kegiatannya selama sebulan ini. Habisnya, dia tidak bertemu dengan orang yang sama tujuannya. Sudah mencari kemanapun, tetap tidak bisa menemukan ciri-ciri orang-orang yang ada di foto.
Jaemin berpikir bahwa orang-orang yang sama dengannya berada di luar kota Seoul. Sudah ia kunjungi ke luar kota Seoul, tetapi hanya menghabiskan uang dan tidak bertemu satu pun.
Tok tok tok
Jaemin mendecak sebal. Siapa pula yang bertamu di pagi buta hari ini. Lalu, ia membukakan pintu tersebut. Dia menatap remaja lelaki di depannya ini. Kelihatannya seumuran. Walaupun begitu, ia tetap menjaga etika dan tidak menggunakan banmal (bahasa informal).
"Iya, ada apa?." ucap jaemin dengan hati-hati.
"Eum, aku tetangga baru di sini. Ini ada kue untukmu. Aku sudah mengantarkannya ke tetangga sebelah." kata remaja itu.
"Oh ... terima kasih atas pemberian mu yang baik hati. Semoga betah ya tinggal di sini." balas jaemin dengan senyum.
Remaja itu kemudian pulang ke kamarnya. Begitupun dengan jaemin yang menutup pintunya kembali. Ia menaruh kue tersebut ke meja belajarnya. Lalu, mengambil jaketnya dan pergi keluar untuk workout di tempat biasa.
Sesampainya di sana, ternyata tempat workout yang biasa disewa kini sudah duluan oleh orang lain. Mau tidak mau harus menunggu giliran. Jaemin menunggunya sambil meminum ice americano yang ia beli sewaktu berjalan ke sini.
Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya orang tersebut keluar. Jaemin menatapnya dengan sinis dan segera memasuki ruang workout.
......................
Sepulang perjalanan ke kostan, sepertinya dia bertemu lagi dengan orang yang menatapnya tajam tadi pagi. "Ada apa dengan matanya? apakah memang seperti itu?." batinnya.
Untung berbeda kostan dengan orang itu. Dia memasuki kamarnya dan kembali belajar seperti biasanya. Remaja lelaki ini bahkan menyalakan musik agar tidak mengantuk saat belajar.
Sudah dua jam duduk dan karena merasa jenuh, dia pun pergi untuk mencari angin malam. Mungkin sudah nasibnya untuk bertemu dengan orang tadi. Ia menatap datar ke remaja yang terlihat seumuran dengannya. Sedang apa ia duduk di taman malam-malam begini sendirian?.
"Hei." panggilnya.
"Ya? Aku?."
"Sepertinya kita pernah bertemu. Tadi pagi yang di tempat workout kan?." tanyanya.
"Iya ... kayaknya sih."
Hening diantara mereka sampai suara angin malam pun terdengar. Hingga akhirnya, ponsel mereka sama-sama berdering dari nomor tidak dikenal. Orang itu mengangkat terlebih dahulu ponselnya.
Semenit berlalu, orang itu kembali duduk. Dia terlihat gusar dan gelisah. Lalu, aku menanyakan keadaannya. "Apa ... kau baik-baik saja?."
Nomor sialan ini terus menerus meneleponnya walaupun sudah mengganti kartu.
Kemudian, ia menatapku dan juga ponselku. Dia membuka riwayat panggilannya yang barusan. Ternyata dari nomor yang sama. Yakni orang yang mengurung kami selama di kurungan.
Angin kota Seoul malam yang dingin berhembus hingga membuatnya merasakan dingin. Lalu remaja itu terlihat ingin menanyakan sesuatu padaku.
Remaja lelaki ini menanyakan namaku. Lalu ku jawab. "Lee Haechan. Nama mu?."
"Na Jaemin. Ternyata Haechan orang pertama yang kutemukan yang bernasib sama denganku hehe." kata jaemin sambil terkekeh.
"Iya. Kupikir, aku pun tidak bisa menemukan orang yang bernasib sama. Ternyata Jaemin orang yang pertama. Hahahaha."
"Hahahahaha."
Mereka menertawai nasibnya dan menceritakan kehidupan selama di kurungan itu. Seperti sudah lama bertemu kembali potongan puzzle yang hilang. Baik jaemin maupun haechan, keduanya sama-sama merasakan ada ikatan benang.
"Sekarang, kita ngomongnya biasa aja ya." kata jaemin.
"Iya. Lu tau orang yang ngasih black card itu?."
"Dia datang sih, tapi gua ga bisa dengan jelas ngeliat mukanya." jawab jaemin.
"Tadinya, gua baku hantam sama orang itu. Kirain dia yang mengurung kita selama 10 tahun lamanya. Taunya, dia marah-marah dan bilang kalau cuman jadi suruhan doang."
Jaemin menutup mulutnya kaget. "Iya. Gua juga tadi mikir gitu, Chan. Tapi kayaknya ga mungkin deh. Tuan inisial L, ga mungkin langsung turun tangan." ujarnya.
"Bener juga sih."
"Katanya kita setahunan doang di Korea ini. Buat nemuin orang yang sama tujuannya. Tapi, gua aja baru ketemunya lu, Chan. Hahaha." katanya lagi.
Ia tertawa mendengar jaemin bercerita. Lalu, bersedih juga ketika jaemin menceritakan bagian kisahnya yang menyedihkan. Haechan pun juga sama menceritakan hal menyenangkan maupun hal menyedihkan ke teman barunya ini. Dia merasa ... kalau jaemin adalah orang yang dapat dipercaya.
...*****...
Kamis, 13 Agustus 2009.
__ADS_1
Hari dan bulan berlalu begitu cepat hingga sudah memasuki ke pertengahan tahun di bulan agustus. Hari ini, tepatnya jaemin berulang tahun yang ke 18. Bersama dengan sahabatnya, sekarang ia sedang meniup lilin kue ulang tahun di kostan barunya.
Sudah setengah tahun ini, dia baru mengumpulkan enam orang yang satu tujuan dengannya. Ternyata, memang sudah takdir mereka untuk dipertemukan. Melalui berbagai macam cara dan situasi.
Sebenarnya, benang diantara mereka memang sudah dekat. Tetapi
Tetangga baru di kostan lamanya, ternyata orang yang senasib dengannya, nama orang itu adalah lee jeno. Lalu, cafe yang biasanya dia membeli ice americano, ternyata pegawai barunya adalah orang yang senasib juga, namanya huang renjun.
Kemudian, di tempat les bahasa. Teman satu lesnya rupanya ada dua orang yang bernasib sama. Hingga akhirnya berkenalan dan menjadi dekat. Mereka adalah zhong chenle dan park jisung.
Terakhir, Kak Mark Lee. Ternyata ia adalah tetangga kostan barunya. Jaemin baru pindah sekitar bulan Mei bersama haechan dan jeno yang sudah menjadi akrab. Lalu, renjun, chenle, dan jisung ikut menyusul. Tujuannya agar mempermudah mereka untuk menyelesaikan misi ini.
"Selamat ulang tahun, Jaemin!." ucap kak mark. Ia memakaikan jaemin topi ulang tahun.
Remaja itu terharu, menangis bahagia. Walaupun pestanya kecil-kecilan, tapi ini sungguh berarti baginya. Karena, ini adalah pertama kalinya dirayakan ulang tahun bersama teman-teman. Sebelumnya, ulang tahunnya dirayakan bersama nino si kecil robot botak itu. Kue nya selalu dikirimkan melalui lift kecil yang biasa memberikan makanan dan segelas air.
"Huaaa ... gua mau nangis. Makasih ya, gaes." kata jaemin sambil memeluk temannya satu persatu.
"Sama-sama, Hyung. Hyung Haechan dan Hyung Mark yang dulu pas ulang tahun juga nangis banget kayak gini wkwkwk." ungkap jisung.
"Iya sih. Namanya juga terharu, Sung wkwkwk."
Ting!
Sebuah pesan masuk dari ponsel jaemin menghentikan aktivitas mereka. Ia membuka isi pesan tersebut, dan menunjukkan pada teman-temannya. Raut wajah mereka yang semula tersenyum gembira, kini memudar.
"Oh ... emang ada ya orang lain lagi selain kita?." tanya jisung penasaran.
"Gatau deh, Sung. Berapa banyak sih orang yang kek kita?." kata chenle.
Diantara mereka bertujuh yang masih ingat dengan pesan si pria bermasker itu adalah jaemin dan kak mark.
"Totalnya sih 8, Chen." jawab jaemin.
"Masih sempet sih buat nemuin orang selanjutnya. Kalau pun ngga, yaudah mungkin dia punya jalannya sendiri." ujar kak mark.
Omongan kak mark ada benarnya. Bisa saja orang itu memiliki jalannya. Atau mungkin, bisa jadi sudah duluan menjalankan misinya. Tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti. Yang jelas orang itu tujuannya sama tetapi berbeda target.
Selama sisa waktu di Korea, mereka mencoba untuk bersekolah seperti chenle dan jisung. Walaupun hanya satu tahun, mereka mengikuti sekolah paket c untuk mendapatkan ijazah. Sementara itu, para hyung ada yang bekerja dan mengikuti les.
Membuat identitas dan berkas-berkas penting sebelum pergi ke negara tropis tersebut. Karena akan sangat diperlukan di sana untuk melamar pekerjaan ataupun bersekolah.
Mereka membuat rencana bersama yang dipimpin oleh kak mark. Jisung akan tetap bersekolah meskipun harus mengikuti paket c ketika di Indonesia. Sementara chenle dan para hyung akan mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Karena bagi mereka, pendidikan adalah segalanya.
Meskipun ingin menjadi tenaga pendidik untuk para murid, maka kita pun harus mempunyai ilmu dan etika sebelum mendidik mereka.
...*****...
"Yangyang!."
"Besok bisa ngga lu yang gantikan kelas gua beberapa hari?."
Remaja lelaki yang dipanggil merasa memiliki nama itu menoleh ke orang yang lebih tua darinya. Aktivitas mengetiknya terhenti sejenak. Lalu menghampiri si kakak senior yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri di sekolah dasar ini.
"Bisa Kak Marcel. Kelas berapa emang kak?." tanyanya
"Kelas 3 SD. Aku seminggu ambil cuti. Mama ku sakit lagi dirawat di bogor. Jadi aku minta tolong ya. Soal duit, tenang aja. Kalau perihal izin, aku udah bilang ke Kepala sekolah. Kebetulan Beliau mengizinkan." jelas marcel, nama di nametag nya.
Kak Marcel dua tahun lebih tua darinya, lagi pula sudah senior di sekolah ini. Pekerjaan yangyang saat ini adalah menjadi guru bidang studi saja. Bukan menjadi wali kelas. Guru bahasa Indonesia dan Matematika sekaligus.
"Iya. Siap kak."
Remaja lelaki berusia 18 tahun itu, kembali ke meja kerjanya. Sudah hampir setahun dia berada di Indonesia. Tentunya sudah bisa beradaptasi dengan baik di negara ini.
Yangyang sangat bersyukur dirinya bertemu dengan orang-orang baik. Ia setiap hari berangkat bekerja menjadi seorang guru sekolah dasar. Ketika sore harinya, dia bertukar profesi menjadi guru les hingga jam sembilan malam.
Hari yang melelahkan tidak terasa apapun ketika menjalaninya dengan senang. Baginya untuk hidup bebas seperti ini juga memerlukan waktu yang lama. Yangyang pulang dari aktivitasnya hari ini. Dia segera mengunci pintu kamarnya. Berharap tidak ada orang yang mengetuk atau teman kostan meminjam sesuatu darinya.
"Syukurlah."
Baru hendak memejamkan mata untuk langsung tidur. Tiba-tiba saja yangyang teringat suatu hal. Dia hampir melupakan misinya di Indonesia ini.
"Oh iya ... gua harus cepat mendapatkan banyak duit. Setelah itu, kalau sudah waktunya, gua akan melamar kerjaan menjadi guru TK ketiga bocil itu."
"Tunggu kakak ya, gaes." gumamnya, kemudian langsung tepar karena kecapekan.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.