Althar In Neo Game

Althar In Neo Game
chapter 08: The Problematic


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


Kamis, 30 September 2010.


Seorang anak perempuan terduduk melamun di sebuah ayunan dekat pohon mangga. Dia sangat kesepian ketika sudah waktunya pulang sekolah. Kini tinggal menunggu jemputan nya saja.


Masih ada beberapa anak yang piket hari ini di kelas mereka. Terik sinar matahari lama-lama akan membuat kulitnya terbakar meskipun sudah berlindung di bawah pohon. Ia melirik lirik ke jalanan yang kosong.


"Mana ya Kak Nurul? kok lama banget." keluh si gadis kecil itu.


Di kelas A2 masih ada beberapa anak yang piket termasuk dava, lian, dan barred. Sebuah mata anak kecil perempuan di depan pintu A2 menyipit dan tersenyum sinis kepadanya yang duduk di pohon mangga.


Kakinya melangkah ke kelas tetangga yaitu A1. Ia melihat-lihat keadaan kelas itu untuk memanggil teman-teman baru yang dikenalnya. Kemudian, melangkah ke kelas B1 pula ada kakak kelas laki-laki yang baru dikenalnya juga.


Bersamaan dengan mereka, jihyo si anak perempuan itu mendatanginya yang sedang duduk di ayunan tersebut. Dia tersenyum sinis, begitupun dengan claudia dari kelas A1. Claudia memang tidak suka dengan anak perempuan di depan nya ini.


"Bongkar tuh isi tasnya." ucap jihyo kepada teman-temannya.


Lalu claudia, cathrine dan felicia menarik paksa tas jisoo. Mereka memulai membuka-buka isi di dalam tas itu. Jihyo tanpa rasa bersalah karena telah berbuat hal yang tidak pantas kepada teman kelasnya.


Jisoo teringat sesuatu dibenaknya, anak perempuan di depannya ini adalah yang pernah tidak sengaja ia bully sewaktu TK di korea dulu.


Sebenarnya bukan itu faktanya. Ini lebih bukan ke arah bullying, melainkan jihyo yang tidak ingin berteman lagi dengannya. Lalu, jihyo menyebarkan fitnah tentang jisoo yang membully dirinya. Sehingga para guru mengeluarkan jisoo dan jihyo ketika pembagian raport.


Padahal itu bukan salahnya yang tidak mengajak. Tetapi teman-teman jihyo lah yang mengajak untuk bermain bersama jisoo. Memang awalnya seperti itu, hingga akhirnya jihyo merasa dirinya seperti tidak dibutuhkan lagi. Maka dari itu, jihyo menganggap jisoo adalah tukang merebut sahabat orang.


Kini jisoo tidak berdaya setelah tasnya dibongkar habis-habisan oleh kelima orang di depannya.


Yodi – si kakak kelas laki-laki dari kelas B1 merebut kotak pensil mewahnya. "Wih banyak banget isinya!."


"Apa? jangan! itu punya jisoo!." serunya.


"Hahahaha ambil aja Kak Yodi." kata jihyo yang menertawai jisoo.


Setelahnya, felicia melempar kotak pensil besi anak itu hingga terbelah dua. Jisoo mengamati kotak pensilnya. Matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis. Tubuhnya yang kecil tidak bisa melawan mereka yang bertubuh besar darinya.


"Kenapa? gabisa ambil ya?." ucap cathrine meremehkan.


Tangan jisoo mengepal erat ingin sekali mendorong anak-anak yang berada di depannya ini. Kemudian, kunciran rambut jisoo dilepaskan oleh yodi. "Apa sih ini? ga cocok banget kunciran nya hahaha."


Rambutnya yang lembut itu dijambak oleh claudia. Ia mengerang menahan rasa sakit di kulit kepalanya yang terjambak itu. "Sa-sakit ... hiks lepasin!."


"Apa? tadi kau bilang apa?." kata felicia sambil mengacak rambut anak itu.


Jisoo menatap ke sekitarnya, apakah tidak ada orang atau guru lagi di TK ini yang bisa menolongnya?.


Sepertinya haechan sudah pulang dan guru-guru pun ada di ruang guru. Matanya menatap ke arah kelas-kelas. Ia terlihat menyedihkan dijambak dan dibully seperti ini. Terlebih lagi, ada beberapa orang yang menyaksikan. Bukannya mereka menolong malah justru menyaksikannya saja.


Ia melihat ke kelasnya, ketiga anak laki-laki yang ia kenal berpura-pura tidak melihat ke arahnya. Para kakak kelas laki-laki yang sedang berdiri di depan teras mereka pun hanya menyaksikan.


Sampai akhirnya, ada empat orang kakak kelas perempuan dari kelas B1 meneriaki dari kejauhan.


Jisoo tidak terlalu mengenalnya tetapi sering melihat mereka dari teras kelas. "HEI!! HENTIKAN!!! ATAU KU LAPORKAN KE GURU!." seru anak perempuan bersurai panjang kecokelatan.


"Woy, Yodi! lu ngapain dia hah?!." teriak yang lainnya.


"Kak! tuh mereka kak!." seru ketiga anak laki-laki yang duluan mengadu ke jisung yang masih di dalam kantor.


Ketiga anak laki-laki itu dari kelas A2 yang sudah ia kenal. Mereka segera pulang setelah melaporkan itu.


"Kalian! jangan kabur! heh!!." seru jisung setelah keluar dari kantor.


"Hah ..." jisung menghela nafas menghampiri mereka lalu berterima kasih pada anak-anak perempuan B1.


"Jisoo ... kalo ada yang jahatin kayak gini lagi, kamu harus tendang mereka ya." ujar jisung sambil menggendongnya ke UKS.


Jisung mengambil plester di kotak obat dan menempelkannya di lutut anak itu. Si anak terlihat merintih kesakitan tak lama air matanya perlahan jatuh ke roknya.


"Aw ... hiks ... huaaa Kakak!."

__ADS_1


Jisung terkejut karena jisoo tiba-tiba menangis sambil tersedu-sedu. Ia tidak mengerti apakah sesakit ini luka di lututnya atau ada hal lain yang membuatnya ingin menangis?.


Ia tidak memperdulikan isi pikirannya, yang jelas anak itu sedang terluka entah itu lutut atau hatinya. Lalu ia dengan cepat mengusap pucuk rambut dengan lembut sambil menenangkan hati anak itu yang gundah dengan mendekap di pelukannya.


"Utututu ... Jisoo habis ini harus kuat ya! gapapa nangis aja kali ini. Dunia emang banyak isinya orang jahat." ucap jisung.


"Tenang ya ... ada kakak kok di sini." lanjutnya lagi.


...*****...


Nurul sedari tadi mengetuk-ngetuk pintu kamar nona kecil asuhannya tetapi tak kunjung dibukakan. Biasanya jika ia mengetuk dengan keras seperti ini akan dibukakan karena jisoo membenci kebisingan dan paksaan.


"Jisoo!! kamu ga sekolah?? ini udah mau jam tujuh loh!." teriak nurul dari luar.


"Aku lagi ga mau sekolah, Kak!." pekik jisoo dari dalam.


Tentu saja ia kaget dengan jawaban jisoo yang lumayan terdengar keras meskipun tembok ini katanya lumayan kedap suara. Nurul kebingungan dengan sikap anak itu karena pastinya nyonya besar akan memarahinya jika jisoo tidak pergi ke sekolah.


"Kakak telepon mamah ya!." ancamnya.


"Kak Nurul jangan dong!!!." pekik anak itu lebih keras lagi.


Tak lama kemudian, pintu bercat putih itu terbuka. Ia terkejut dengan kondisi fisik anak asuhnya ini. Mata yang sembab, rambut yang berantakan, bibir yang pucat seperti orang sakit. Dengan kekhawatirannya nurul memeluk anak itu dengan erat.


"Jisoo? kamu kenapa? habis nangis ya?."


Anak itu menggeleng cepat. Lalu menyuruhnya untuk merahasiakan ini dari mama dan meminta agar nurul tidak menelepon. "Atuh Jisoo! Kakak khawatir kamu kenapa-napa. Ga bisa, Kakak harus bilang ke mama kamu."


Ketika nurul mengeluarkan handphone nya, jisoo kembali menutup pintunya. Dalam benaknya menyesal karena telah membuka pintu. Setelah ini, pasti kedua orang tuanya langsung terlihat peduli padanya.


Jisoo mengambil selimut dan bersembunyi di dalamnya karena takut akan dimarahi oleh mama ataupun papanya ketika sudah pulang.


"Aduh ... gimana nih mama pasti marah besar pada ku ..."


......................


Mobil hitam yang ditakutkan pun datang dengan sangat cepat setelah dipanggil dan sudah terparkir di halaman. Pintu kamarnya dibuka paksa oleh tuan rumah. Jisoo tetap menyembunyikan wajahnya dibalik selimut yang tebal.


"Jisoo! bangun sini!!." titah mamanya sambil menarik paksa selimut tersebut.


"I-iya, Ma?." kata jisoo sambil menunduk.


"Ng-ngga kok, Ma!." jawab jisoo cepat.


"Jangan bohong, Jisoo. Mama tahu kamu lagi bohong kan?!." sergah mamanya. Kini emosinya semakin menjadi-jadi.


"Siapa pelakunya? apa si Jihyo?! bener bener deh tuh anak!." tudingnya.


Kim seulgi pasti sudah mengira bahwa jihyo lah pelakunya. Dikarenakan dulu pernah satu TK sewaktu di korea. Kini seulgi dan mamanya jihyo yaitu yoon seri telah bermusuhan akibat kejadian itu.


"Jawab Mama, Nak! kamu ga perlu takut. Siapa aja orang yang membuat kamu tidak ingin pergi ke sekolah?." ucap seulgi dengan keras.


"Sebutin aja, Jisoo." ucapnya lagi.


Jisoo sudah disudutkan mau tidak mau harus mengatakan yang sejujurnya. Jika tidak, maka mama dan papanya akan memarahinya habis-habisan kali ini. Ia menghela nafasnya dengan berat.


"I-iya. Jihyo, Yodi kelas B1, sisanya anak murid kelas A1. Tapi aku ga tau siapa namanya." jawabnya dengan gemetaran sambil menunduk.


"Ayo kamu ke sekolah sama Mama sekarang. Mau buat laporan ke Kak Haechan. Jadi guru gimana sih kok ga becus jaga anak kelasnya."


Matanya terbuka lebar setelah mendengar nama haechan si wali kelasnya yang baik itu. Jisoo tidak ingin gurunya yang tidak bersalah itu dimarahi atau sampai dipecat. Ia juga tidak ingin kehilangan guru yang baik lagi untuk kedua kalinya.


Seulgi menarik tangannya dengan paksa, namun jisoo menghempaskannya, "Mama tangan jisoo sakit!."


Mamanya menghela nafas kini nada bicaranya berubah dingin, "Cepat ganti bajumu dengan baju sekolah sekarang. Mama dan Papa tunggu di mobil."


Hatinya berdegup kencang takut haechan akan dimarahi habis-habisan oleh mamanya yang galak ini. Jisoo benar-benar dalam dilema. Untuk menatap mata mamanya saja ia tidak berani apalagi membantah.


Sudah sekitar 15 menitan di dalam perjalanan menuju sekolah yang lumayan dekat. Mobil hitam terparkir di luar gerbang. Seulgi dan Seungki keluar dari mobil diikuti oleh anak perempuan mereka yang terus menunduk ketakutan.


Mereka mengetuk pintu kantor guru dengan sopan. Terdapat guru lelaki muda yang sedang meminum kopi di mejanya. Kemudian ia menghampiri wali murid tersebut. Matanya melirik ke anak perempuan di belakang mamanya.


"Permisi. Di mana Kak Haechan sekarang ya?." tanya seulgi kepada guru tersebut.


"Sedang mengajar di kelas A2, Bu. Ada keperluan apa ya, Bu? silahkan duduk dulu." jawab sekaligus tanya jeno dengan khawatir.

__ADS_1


"Gini ya, kami ada keperluan dengan Kak Haechan. Apa susahnya tinggal dipanggilkan?." tukas seungki.


Dengan sigap lelaki itu segera berjalan cepat ke kelas A2. Ia menghela nafas berat lalu mengetuk pintu kelas haechan mengajar. "Chan! ada wali murid yang nyariin lu nih!."


Lelaki bersurai ungu kecokelatan itu menoleh ke arah pintu dan menghampiri sahabatnya. "Siapa Jen?." bisiknya pelan sambil mengerutkan kening.


"Ortunya Jisoo keknya." bisik lelaki itu.


Kedua orang tersebut segera meninggalkan kelas setelah menutup pintu. Langkah kaki mereka dipercepat karena kata jeno wali murid kali ini terlihat emosi ketika baru datang ke kantor.


Degup jantung haechan semakin cepat ketika sudah sampai di depan pintu kantor. Ia berharap tidak terjadi apa-apa kepada anak muridnya itu karena kebetulan hari ini jisoo tidak absen. Ia sudah berusaha untuk menetralkan jantungnya dengan menyapa wali murid tersebut.


Seungki berdiri begitu guru yang ditunggu ini tiba. Tanpa basa-basi ia menarik tubuh jisoo yang sedang duduk. Kemudian berdiri menghadap ke haechan menunjukkan bekas luka di lutut dan wajahnya yang sembab.


Ia menutup mulutnya dengan kaget lalu memegang pipi anak itu dengan sangat khawatir. Hati haechan teriris sakit. Siapa yang tega melakukan ini pada muridnya?.


"Sudah lihat kan? kamu tuh sebagai guru kenapa ga bisa jagain muridnya sih?." tuding seungki kepada haechan yang masih khawatir.


Matanya menatap ke seungki dengan rasa bersalah. Ia membungkukkan badannya meminta maaf kepada wali murid tersebut. Lalu haechan meminta anak itu yang menjelaskan. Pasalnya ia saja tidak tahu apa penyebabnya namun untuk mengatasi kekesalan si wali murid, ia berani meminta maaf duluan.


"Jisoo ... siapa yang udah jahatin kamu, hm? bilang aja sini ke kakak ya." ucap haechan dengan lembut.


Anak perempuan itu mengangguk lalu perlahan menjelaskan. Mulai dari siapa dan apa yang mereka lakukan padanya. Kali ini guru lelaki tersebut terdiam dan tangannya mengepal erat. Emosinya tidak stabil, untungnya ia masih bisa mengontrol.


Haechan meminta wali murid tersebut untuk menunggunya kembali setelah memanggil wali kelas yang bersangkutan.


Kedua wali kelas tersebut mendecak sebal karena haechan dianggap mengganggu di jam pelajaran. Jeno pun memanggil kepala sekolah untuk menyelesaikan permasalahan ini.


Kepala sekolah lebih dahulu sampai. Hingga haechan dan kedua wali kelas itu juga sampai ke kantor.


"Ada apa ini? wali muridnya, Jisoo ya?." sapa yuta dengan ramah.


"Ini nih. Anak saya dibully! gimana sih mendidik mereka jadi anak ga bener gitu?." jawab seulgi.


Yuta mendelik kaget dengan jawabannya. Bagaimana bisa ada pembully di sekolah TK?. Ia segera meminta maaf kepada wali murid tersebut dan memberitahu agar hal ini tidak akan terjadi lagi.


"Aku ga mau tahu ya. Kak Haechan nih ga becus jagain anak muridnya. Skors aja udah!." sergah seungki.


"Orang lima lawan satu, ya jelas kalah lah anak saya!." kata seulgi dengan emosi yang memuncak.


"Pokoknya, kasih Kak Haechan sanksi dan juga murid-murid yang bersangkutan itu!." tambah seungki dengan tegas.


Para guru yang berada di sana menyaksikan sambil menatap haechan dengan ibah. Terutama renjun dan chenle — wali kelas yang bersangkutan. Mereka merasa bersalah kepada sahabatnya ini.


Kak yuta menyanggupi permintaan untuk men-skors haechan selama dua minggu. Begitupun dengan renjun dan chenle yang diberi peringatan. Mereka masih menerima peringatan tersebut, tetapi tidak tega dengan haechan sahabatnya yang sampai diskors.


Setelah keputusan tersebut, wali murid beserta jisoo diperbolehkan untuk pulang. Sementara itu, para guru dan kepala sekolah mengadakan rapat dadakan.


...*****...


Dua hari berlalu, kelas A2 digantikan dahulu oleh park jisung si guru UKS. Kak yuta kini kebingungan mencari guru pengganti yang bisa mengajar. Tidak mungkin ia terus menerus menyuruh jisung yang menggantikannya.


Lelaki itu awalnya menolak mengajar karena memang bukan passionnya. Lagipula jisung masih sangat muda, ia sangat gugup ketika mengajar. Terutama ada anak murid targetnya di kelas itu. Dia tidak ingin langsung mengawasi secara terang-terangan begini.


Ring ring ring


Suara deringan handphone bergetar di saku nya. Dengan ia mengangkatnya. Ia menghela nafasnya lelah. Ini sudah ke berapa kalinya adik lelakinya ini terus-menerus menanyakan lowongan pekerjaan padanya.


Paling tidak jika bukan bertanya soal lowongan kerja, adiknya ini meminta transferan uang yang lumayan banyak.


"Ada apa, Yangyang?."


Kak yuta mengerutkan keningnya heran. Adik lelakinya di seberang sana terdengar tertawa kecil. "Keknya lu lagi bahagia ya? dari tadi ketawa mulu."


Yangyang segera mengatakan maksudnya, "Kak, lo pasti lagi butuh orang kan? boleh ya gua jadi guru pengganti di sana hehehehe."


Kak yuta menaikkan sebelah alisnya heran, dari mana adiknya ini tahu bahwa ia memang sedang membutuhkan guru pengganti. Orang di seberang sana menunggu jawabannya. Hingga kak yuta menjawab, "Iya deh boleh. Tapi sampai guru pengganti aja ya."


Terlihat kehilangan antusiasnya tetapi dengan cepat menjawab, "Okay. Kalo masanya habis gua boleh kan jadi ob atau penjaga gerbang di sana?."


Seperti sudah habis tenaga untuk bersemangat, sehingga ia hanya bisa mengeluarkan opsi terakhirnya untuk bisa masuk ke sana. Sejujurnya, harga diri serta kemampuan yang ia miliki sangat terluka saat ini.


"Boleh. Besok lu langsung dateng aja. Pakai pakaian yang rapi." ujar kak yuta.


"Siap!!." jawabnya, lalu telepon dimatikan sepihak olehnya. Garis di sudut bibirnya terangkat, tersenyum kemenangan.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2