
Happy reading!
.
.
.
Kamis, 09 September 2010.
"Kak nurul! cepat kak, hujan nih!." panggilku kepada kak nurul —bibi pengasuh yang masih muda. Ia dengan cepat menghampiriku sambil membawakan ku sebuah payung kecil.
"Ayo jisoo, cepat masuk sini." ucap kak nurul, yang sudah menyiapkan mobil di depan halaman rumah.
Sebenarnya kalau dibilang serba bisa sih tidak ya, tapi kak nurul ini cukup lihai dalam menyetir mobil. Lalu aku memasuki mobil dengan sedikit lari kecil agar tidak terkena rintikan hujan.
"Ngga ada yang ketinggalan kan, Soo? tugas lukisan kamu sudah dibawa?." tanyanya, untuk memeriksa ku apakah ada yang tertinggal atau tidak. Kurasa tidak ada, semuanya sudah ku siapkan dari semalam.
"Tidak, Kak"
................
"Jisoo, kamu menggambar apa?." kata seorang anak lelaki yang akhir-akhir ini sering mengajakku berbicara — ia adalah dava. Setelah ku pikir-pikir, dava ini ternyata orangnya suka mengajak mengobrol orang lain dengan seru dan banyak topiknya.
"Oh ini. Ada Mama, Papa, Jisoo dan Kak Doyoung." jawabku.
"Lho Jisoo, bukannya kamu ada kakak perempuan ya?." tanya dava heran. Ia berpikir kalau jisoo melupakan kakak perempuan nya.
"Yang mana? kakak perempuan yang sering mengantarku itu?." kata jisoo lagi setelah mengingat-ingat.
Memang sih kak nurul yang sering mengantarku ke sekolah, sehingga orang-orang akan berpikir kalau ia adalah kakak perempuan ku. Bahkan kak doyoung hampir mengiranya begitu.
"Iyaa. Kakak perempuan yang mukanya Javanese sekali itu loh." ujar dava, lalu aku terkekeh mendengarnya.
"Bukan kok, itu kakak yang bekerja menjadi art ku sejak bayi."
"Lho sudah lama ya, berarti dari kamu berada di Korea ya?." kata dava dengan penasaran.
"Sepertinya begitu hehe."
Kemudian lian dan barred menghampiri kami berdua. Tangan barred menarik kertas lukisanku dan ia melihat isi di dalamnya. Ah.. malu banget! Pasti dia mau menertawai ku.
"Hahahaha apa ini? lukisan mu kenapa jelek sekali, Soo?." ejeknya, sudah kuduga. Barred pasti akan bilang begini, yang membuat lian dan dava ikut tertawa juga.
"Berikan padaku. Kau sendiri gambar apa, Red?" tanyaku, sambil merebut kembali kertas lukisan ini. Aku menggambar ini untuk aku tunjukkan kepada kak doyoung bahwa aku sangat menyayanginya.
Bukan tentang perasaan 'rasa sayang' sebagai kakak laki-laki, tapi aku menyayangi nya karena dia sangat baik dan juga perhatian. Aku hampir tidak pernah mendapatkan perhatian yang hangat dari orang tuaku seperti yang kak doyoung berikan padaku.
Sudah terhitung dua bulan sejak aku bersekolah di sini. Aku ingin memberinya sebuah hadiah berupa hasil gambaran ku walaupun seperti yang dibilang barred bahwa gambar ku jelek, tapi aku tidak merasa goyah dengan cercaannya.
Aku akan menunggu kak doyoung di teras depan saja. Biasanya aku duduk di depan teras ini, sambil mengamati orang-orang sekitar yang bermain dengan seru bersama teman-teman mereka. Aku bahkan belum mempunyai teman dekat yang tetap sama sekali sampai saat ini.
Tapi tidak apa — ini semua juga salah ku yang masih belum fasih berbicara bahasa Indonesia dengan lancar. Dava, lian, dan barred sudah sangat mahir bahkan dava yang mengajari mereka bahasa-bahasa gaul yang tidak ku mengerti.
Tadi saja, ketika mereka mengajakku berbicara mereka menggunakan bahasa baku. Ah – sepertinya aku harus menerima tawaran dari mama untuk ikut les kursus bahasa Indonesia. Tadinya ku pikir tidak perlu, karena aku akan terbiasa berbahasa Indonesia di kehidupan sehari-hari. Tapi ternyata salah. Ikut kursus memang penting.
"Jevan, lagi apa kamu di teras sini?" Kata anak lelaki yang memiliki lesung di pipinya menghampiri jevan yang sedang melihat seseorang atau mungkin melihat ke lapangan. Tidak ada yang tahu isi pikirannya itu.
"Ngga, aku lagi makan sandwich."
"Jevan, kok kak Taeyong belum datang ya? Padahal ini sudah hampir jam 8. Kan kita masuk jam 7, ya kan?." kata jinwoo sambil melihat ke jam tangannya dan melihat ke arah gerbang hitam sekolah.
Anak lelaki berambut blonde itu melirik ke jam tangan miliknya yang bermerek. "Iya yah, bisa jadi dia kesiangan. Atau mungkin lagi di jalan."
"Dia kenapa di situ terus sih? Ga bosan apa?." batin jevan, ia menatap ke arah anak perempuan yang dari jam 7 sudah menunggu di depan teras kelas A2.
08.30 AM
Karena hujan yang tiada hentinya dari aku berangkat sekolah hingga sekarang, aku memutuskan untuk kembali ke kelas agar tidak masuk angin jika berada di teras lama-lama, hingga aku merasakan hawa dingin merasuki tubuhku yang mungil.
Sudah cukup lama, bahkan dikatakan lama dari jam 7 hingga sekarang, kak doyoung tak kunjung datang. Kemana kak doyoung? Apakah dia kesiangan? Atau ia lupa kalau hari ini masih hari kerja?. Tapi kak doyoung tidak mungkin lupa, dia selalu ingat apa yang dia lihat dan dia dengarkan.
Seperti waktu pertama kali aku membawa nugget, dia selalu menyapaku setiap hari jumat jadwal makan bersama, dan dia selalu bilang "ohh ternyata jisoo sangat menyukai nugget ya?" begitu esoknya, ketika aku hendak memakan bekalku, kak doyoung langsung menghampiri ku dan memberikan aku nugget serta tumisan capcay miliknya ke dalam kotak bekalku.
"Makan yang banyak yaa, Jisoo. Mama kamu menitipkan anaknya ke kakak, makanya kakak janji akan menjaga Jisoo 😊."
Aku tahu, dia bilang begini juga ke semua murid kelas A2, tapi biar pun begitu aku tetap menyukai setiap hal kecil yang dia berikan.
Dia juga memberikan aku dan anak perempuan kelas A2 sebuah jepitan lucu untuk dipakai di kelas. Lain hal lagi, dia juga suka menjewer pelan anak-anak yang nakal yang berani menggangguku. Karena saat itu aku sepertinya menjadi incaran anak lelaki nakal untuk dijadikan bahan ejekan mereka. Kak doyoung memang kakak yang baik!. Dia tidak akan pergi meninggalkanku, kan?.
Iya ... dia kan sudah janji tidak akan meninggalkan kami. Seharusnya begitu.
"Dav, kok kak Doyoung ga datang-datang ya?." tanya lian penasaran, mengajak dava yang sedang menggambar untuk berbicara.
"Ga tau dah, yuk kita cek ke kelas sebelah. Kak Taeyong mungkin sudah datang." jawab dava.
"red, lu mau ikut ngga?" kata dava ke anak lelaki yang sedang menggambar juga di depannya.
"Boleh, yukk."
.
.
"Gapapa kah kalo kita mengintip-intip di luar kelas mereka begini?." bisik lian.
"Duarrr!"
"Kaget aku!" ketiganya dikejutkan oleh seseorang dibalik pintu kelas A1.
Ia adalah anak lelaki nakal dari kelas jevan, yang suka memalak. Toha namanya.
"Sedang apa kau bertiga nih?." tanya anak itu, menaikkan sebelah alisnya.
"Ngga, kak Taeyong sudah ada di kelas kah?." tanya lian dengan penasaran.
"Belum datang juga lah, tadi ku tengok kelas B1 dan B2 pun belum ada gurunya. Kak Dejun dan kak Ten Lee juga belum datang." jelas toha.
"Ohh begitu ya, tapi kak Keun buka kantinnya?." kata dava, karena ia merasa cemas kalau ternyata semua guru tidak ada dan hari ini adalah hari libur rupanya. Lebih parahnya lagi jika mereka kena prank.
__ADS_1
"Ada kok di kantin. Tadi aku baru saja dari sana." sambung toha lagi.
"Eh ada apa nih?." kata anak lelaki yang tiba-tiba muncul. Davin yang dulunya anak murid kelas A2.
"Ini loh, kakak-kakak belum pada datang, kan." jawab barred
"Tungguin aja, mungkin mereka telat." ucap davin, kemudian mereka berdua masuk kembali ke kelasnya dan menyisakan ketiga anak itu di luar.
"Eh apa kita cek aja ke kantor ya?." usul dava, diangguki oleh kedua temannya.
.
.
"Kok sepi ya?." kata lian mulai khawatir. Melihat ruang guru sepi. Biasanya ada kak lucas yang sedang duduk di meja kerjanya di depan pintu. Tapi kini tidak ada si guru olahraga itu.
"Cek ke ruang kepala sekolah aja yuk." ajak barred dan diikuti oleh keduanya.
Mereka pergi ke ruang kepala sekolah yang agak memisah dari ruang guru. Berada di dekat UKS. Tepatnya berada depan-depanan sama kelas A1.
"Permisi, Kak ..." kata mereka, sambil mengetuk pintu kepsek perlahan.
Pintu cokelat itu terbuka menampakkan kepala sekolah yang mukanya agak sangar tapi justru baik sekali dan mudah diajak bercanda. Ingat, jangan menilai orang dari penampilan nya ya!.
Namanya kak yuta. Dia adalah sahabat dekatnya kak doyoung dan kak taeyong. Seringkali murid-murid melihat interaksi mereka bertiga, entah itu ketika jam istirahat, atau bahkan melihat mereka secara tidak sengaja bersenda gurau bersama.
"Kak Yuta, kenapa guru-guru belum pada datang ya?." tanya dava khawatir.
Dahi kak yuta mengernyit, ia lalu melihat ke arah jam di dinding nya ternyata sudah menunjukkan pukul 9. Masa sih? Sudah hampir siang begini, mereka belum bangun dan berangkat kerja?. Begitu pikir yuta.
"Kak, kenapa diam saja?." ucap barred.
Makin terasa sekali angin dingin karena efek hujan yang merasuki di kulit. Kak yuta menenangkan mereka dan menyuruh ketiga anak itu untuk kembali dulu ke kelas mereka karena hujan semakin deras. Lebih dikhawatirkan jika anak-anak ini terkena deman atau flu dan orang tua mereka menuduh para guru tidak becus menjaga anak mereka. Jangan sampai itu terjadi.
Kak yuta menutup kembali pintunya. Ia segera menelpon kedua sahabatnya itu. Namun tak kunjung ada jawaban bahkan hingga berkali-kali menelpon atau mengirimi spam chat tetap saja tidak ada respon. Kemudian ia juga menghubungi lucas, serta ten lee dan dejun sebagai wali kelas, – kelas B tetap tidak ada respon juga dari mereka.
Kemana semuanya pergi? Tidak mungkin kan ia ditinggalkan begini? dengan keadaan menjadi kepsek dan guru sekaligus sendirian?
Pertanyaan-pertanyaan ambigu dan aneh bermunculan di otak kak yuta. "Ngga, pasti mereka ga akan meninggalkan gua sendirian di sini." monolog nya.
Lalu seketika lemari berwarna cokelat yang besar tempat untuk menyimpan berkas-berkas penting serta baju seragam tersebut bergoyang-goyang dan menampilkan cahaya yang menyilaukan mata.
Lemari kayu cokelat itu terbuka lebar dengan sendirinya. Menjatuhkan secarik surat tepat di kakinya kak yuta yang sedang berdiri di depannya.
"Apa ini? Surat? Lemari ini ... mengapa bisa mengeluarkan sesuatu seperti ini?!." batinnya.
Seketika kak yuta tersadarkan kembali dari pikiran-pikiran nya tentang lemari ini. Kalau ini bukan waktunya untuk ia berpikir hal yang tidak masuk akal. Kemudian kak yuta membuka surat itu dan membacanya dengan tidak santai. Siapa tahu ini petunjuk kemana para guru pergi?.
Kak yuta terlihat lunglai dan terduduk di lantai, kakinya terasa lemas, mukanya pucat dan tidak bisa berkata-kata lagi setelah membaca isi suratnya.
Dirinya tidak mengetahui kalau ketiga anak tersebut —dava, lian, dan barred ternyata balik lagi dan mengintip melalui jendela. Mereka melihat kak yuta menangis frustasi.
Brakkk
Mereka terkejut tiba-tiba pintunya terbuka oleh kepala sekolah. Mata kak yuta memerah, sempat ia melihat ke arah ketiga anak kecil yang berada di depan pintunya ini.
"Kak, kakak kenapa menangis?." kata dava, yang khawatir akan kondisi kak yuta yang berantakan.
Lalu murid-murid lainnya pun yang sedang berada di teras mereka entah itu dari anak kelas B maupun kelas A, mereka semua melihat ke arah kak yuta. Dengan perasaan sedih, kak yuta tidak tega melihat wajah mereka satu persatu yang kini kebingungan.
Ini namanya seperti membohongi mereka semua kan?.
Andre si anak kelas B2, yang melihat situasi ini pun langsung menghampiri kak yuta. Tak peduli hujan yang begitu deras, dia menerobos nya begitu saja. Lagipula jarak antara kelasnya dengan ruang kepsek hanya dibatasi oleh ruang guru dan koridor ke arah kantin. Tentu dekat lah.
"Kak, kak Ten Lee kok belum datang ya?."
"Kakak, kenapa mata mu memerah begitu?."
Andre yang baru datang ini terus melontarkan pertanyaan. Bukan hanya dia saja, tapi ketiga anak tadi pun juga sama. Hingga membuat dirinya pusing. Kak yuta merasa bersalah pada mereka.
"Bisa minggir dulu ga anak-anak?." ujarnya.
Ketika hendak berjalan ke arah kantin untuk memastikan kak keun masih ada atau pergi juga, ternyata kak keun sudah lebih dahulu mendatangi dirinya. Kak yuta segera menghampiri nya lalu menanyakan kemana mereka semua pergi.
Usut punya usut, selama ini kak yuta telah dibohongi. Kak keun si juru masak, rupanya sudah tahu semuanya tentang kontrak dan perjanjian oleh pihak atasan. Setelah menjawab kak yuta, ia hanya bisa menunduk karena lelaki itu pasti sangat marah padanya.
"Kenapa lu ga bilang, Keun?! Kalau lu sudah tahu semuanya!." bentak kak yuta.
Ia sangat marah, perasaan nya amburadul. Gemuruh hingga petir terus berbunyi dengan dahsyat. lelaki yang bernama keun itu hanya terdiam. Seluruh permukaan wajahnya yang tampan itu disirami derasnya air hujan yang datang mengalir begitu saja hingga jatuh ke permukaan tanah.
Pohon-pohon besar yang rindang berada di belakang kelas-kelas menerpa angin yang semakin dingin cuacanya, hingga pohon jambu serta mangga yang berada di sekolah ini terkena sambaran petir, dan dahannya patah.
Kak keun melihat ke arah teras-teras kelas, ternyata masih ada banyak anak murid yang melihat mereka.
"Anak-anak! Kalian masuk dulu ya!! hujannya makin deras nih!." Teriak kak keun, kepada anak-anak yang melihat kejadian menyeramkan dan memprihatinkan untuk masuk ke dalam kelas mereka. Setelah dirasa sudah sepi, kak yuta mencengkram kerah baju kak keun.
"Kenapa?!!! Kenapa kalian membohongiku!!!." Pekiknya frustasi. Perasaan kak yuta didengar oleh sang maha kuasa hingga menurunkan hujan yang sangat lebat sampai baju kedua orang lelakiitu basah kuyup.
"Kalian sengaja kan?!! Jawab gua keun!."
Ia hampir memukul wajah lelaki yang ada di depannya ini. Namun kak keun terus menghindari amukan kak yuta. Hingga merasa kesal kak yuta menangis frustasi dan memukuli tembok hingga berdarah tangannya.
"Yuta bu-bukan bermaksud begitu, ta ... dengerin." lirihnya.
"Kita ga ada niatan membohongi lu, tapi kita memang sengaja merahasiakannya. Supaya lu tetap menjadi kepsek sekolah ini hingga mereka lulus." jawab kak keun.
"A-apa..?."
Kilat dengan cepat menyambar ke genting ruangan kepala sekolah hingga menimbulkan pecahan dan suara yang berisik. Beberapa anak murid yang melihat dari jendela pun ketakutan dengan situasi menyeramkan ini.
Sungguh ... kak keun seharusnya akan mengatakan hal ini ketika menemukan waktu yang pas. Tetapi ternyata tidak kunjung datang waktu yang tepat itu. Malah sekarang adalah waktunya untuk mengatakan sebuah fakta yang menyakitkan. Ah, timing apa ini?!.
"Tolong jelaskan dengan jelas, Keun ..."
Nada kak yuta menjadi samar-samar, ia kemudian menatap lemas lelaki yang ada di depannya. Kak yuta terduduk di tanah. Berharap kejadian ini tidak terjadi di hidupnya. Perasaan nya yang hancur dan merasa dikhianati oleh temannya.
"Iya itu tadi gue udah bilang, mereka pergi intinya!." jelas kak keun, ia merasa kesal akan sikapnya kak yuta yang kekanakan begini.
Merasa terdzalimi seperti itu sendirian. Padahal lihatlah diri kak keun juga? ditinggalkan begini bersama kak yuta hingga mereka lulus dengan posisi jabatan tetap sama — yaitu sang juru masak kantin.
__ADS_1
"Lo lihat gue, Ta? gue juga ditinggal." ucapnya dengan dingin.
"Soal ini mari kita bicarakan dulu di dalam. Dan anak-anak akan segera dipulangkan ke rumah mereka jika sudah reda hujannya." ujar kak keun, sambil menarik lengan kak yuta yang sedang terduduk di tanah. Kaki nya terasa lemas untuk menerima sebuah fakta ini.
Bagaimana bisa ... sahabat nya sendiri meninggalkannya begini?
...*****...
Kak Doyoung.
Kupikir kau akan menepati janjimu untuk menjaga kami. Kupikir kau adalah tipe orang yang akan menepati janji dan tidak pernah berbohong.
Dibalik senyuman mu yang hangat, menampilkan sosok kakak dengan image kelinci yang lucu bagi kami. Tidak pernah sekalipun berkata-kata yang dingin terhadap kami maupun murid kelas lain. Tetapi ternyata kau adalah orang yang akan pergi tanpa perpisahan.
Mengapa kau pergi tanpa berpamitan begini, Kak? Kemana kau akan pergi? lalu dengan siapa kami akan diajarkan nanti?.
Jepitan yang kau berikan ... apakah itu sebuah pertanda kalau kau akan pergi dan kami akan selalu mengingatmu? Bukan kah begitu, Kak?
Hari itu adalah hari tersuram menurut kami. Ditambah cuaca yang mendukung yaitu hujan turun dengan lebatnya hingga waktu jam makan siang. Ditinggalkan oleh guru yang sudah membuat kami nyaman, dan berharap semuanya akan bahagia ketika kami lulus kelak. Ternyata itu semua hanyalah angan-angan kosong. Jika sudah begini, kami akan sulit membuka hati lho, Kak? Kembalilah, kakak-kakak ku. Kalian sangat kami butuhkan sekarang.
Kalian tidak ingin kan, jika kami menjadi anak yang nakal, bodoh, kasar, cuek, seperti waktu di awal?
Ku harap kau kembali, Kak.
...*****...
"Woy, lo main game apa itu? sibuk amat dari tadi gua liatin." ucap seorang lelaki yang berpostur tubuh tinggi.
Ia memiliki surai hitam kecokelatan datang dari arah dapur kos menuju ruang tengah pemilik kos. lelakiitu membuat secangkir kopi hitam dan menaruh beberapa pisang goreng di piring.
"Coba mau liat lu main apaan." katanya lagi, kepada teman kosnya yang sibuk memainkan game seperti judi itu.
"Apaan? eh bagi ya?." sahut lelaki yang umurnya lebih muda darinya, tanpa ada persetujuan dari yang pemilik pisang goreng, ia pun melahap nya dengan cepat.
"Buat apasih lo main kek gituan?." tanyanya penasaran.
"Buat dapetin duit lah." kata pemuda itu, dengan santai sambil melahap pisang goreng, padahal matanya masih fokus pada smartphone nya.
"Kerja, makanya cari kerja." omelnya kepada temannya yang satu ini yang terlihat seperti pengangguran.
Bagaimana tidak, seharian dia terus memainkan smartphone nya di ruang tengah ini. Tanpa bergerak sedikitpun, hanya ketika mandi dan makan saja dia menggerakkan badannya. Selebihnya dia habiskan waktunya untuk rebahan. Tentu saja itu namanya pengangguran.
"Lo tau kan? kalo gua udah jadi guru sana-sini? tapi apa? Tetap ga cukup buat gua." tukas lelaki yang memiliki rambut seperti jabrik yang dianggap sebagai temannya.
"Ah tau deh terserah lo-- lah si monyet, pisang goreng gua tinggal sebiji lagi!." serunya.
lelaki itu pun tertawa cekikikan dan langsung pergi ke kamar kosnya menutup pintu rapat-rapat. Takut akan temannya yang kalau mengamuk seperti banteng hingga diseruduk.
"Woy! Yangyang kampret! Balikin pisang goreng gua!." Jerit bang youngka. Nama sapaan akrab warga sini yang memanggil namanya.
Yangyang yang ia panggil nama temannya tadi. Dia adalah penghuni kos dua bulan yang lalu pindah ke sini. lelakiitu berasal dari China dan melamar pekerjaan menjadi seorang guru di suatu sekolahan. Ia bahkan menjadi guru les yang multitasking.
Karena merasa lelah akan temannya yang penggila duit itu, Ia kemudian meraih gitar yang tergeletak di sampingnya. Dan langsung memainkannya karena merasa galau. Setiap hari youngka selalu merasa galau. Tak heran jika yangyang selalu meledek dirinya agar tidak galau-galauan lagi.
Ceklekk
Suara pintu terbuka.
"Bang udah bang, galau mulu hidup lo. Kek punya pacar aja hahahaha." ejek yangyang, kemudian dilempari bantal sofa yang ada di dekatnya.
"Anj sini keluar dulu lo!."
...*****...
"Eh Hyung, nanti kita digaji berapa sih?."
Suara berat datang dari remaja lelaki termuda yang sedang duduk di dekat jendela pesawat. Raganya berada di pesawat, tetapi pikirannya masih ada di sana.
Remaja itu tampak tidak ingin meninggalkan negara Seoul yang sudah dicintainya. Ia sangat terpaksa kalau bukan hanya karena gaji yang menjanjikan dan menggiurkan. Tentu saja mereka harus menandatangani suatu kontrak.
"Entahlah, mungkin gajinya miliyaran? Hahaha." sahut kakak lelaki yang ia sebut 'hyung' itu memiliki surai kebiruan.
lelaki yang memiliki surai kebiruan itu terlihat tenang sambil membaca sebuah buku, dan menulis sesuatu di note. Ia memahami setiap isinya dan mengulang kembali materinya. Berbeda dengan remaja lelaki yang disebelah nya. Ia justru menghafal materi tersebut sehingga membuatnya sedikit frustasi dan bingung karena isi pikirannya.
"Bagaimana dengan sekolahku ya? apa aku masih bisa bersekolah, Hyung?." tanyanya lagi ke hyung yang di sebelahnya.
Kemudian ia tersenyum hingga matanya tak terlihat. "Tentu saja, kau akan tetap pergi ke sekolah." jawabnya.
"Sekolah baru sih tepatnya, Sung." lanjutnya lagi.
"Lalu bagaimana dengan kuliah, Hyung?." tanya remaja muda yang memiliki surai kecokelatan itu.
"Aku akan tetap kuliah kok bersama yang lain." balasnya.
Dari tempat duduk di belakang mereka, terdengar sama seperti remaja di sampingnya yang menggerutu dan kegelisahan. Ia tidak menanggapi yang dibelakang, melainkan hanya melanjutkan kegiatan membaca bukunya.
"Ah! aku frustasi banget. Semua uang yang kumiliki oleh pemberian orang itu telah disita!." gerutu anak bersurai cokelat kekuningan yang berada di belakang mereka.
"ATM, black card, maupun uang yang di celengan ku semuanya disita. Sebal banget." keluhnya.
"Chen, walaupun kau memiliki uang sebanyak apapun itu, ketika kita di sana nanti uang itu sudah tidak berlaku tau." imbuh teman di sampingnya, yang memiliki surai berwarna blonde yang sedang membaca buku.
Ia juga membuka-buka buku bahasa dan notebook miliknya. Setiap kalimat demi kalimat ia pahami agar bisa berbicara dengan lancar ketika sudah sampai di sana.
"Oh benarkah, Hyung?." ucapnya, ia membelalakkan matanya terkejut.
"Iya." jawabnya santai oleh kakak lelakidisebelahnya. Masih pada posisi yang sama yaitu membaca. Lalu ia mengambil earphone dan mendengarkan audio rekaman.
"Ah sialan jadi miskin aku di sana."
"Penerbangan dari Korea ke Indonesia saatnya akan landing. Mohon periksa kembali bawaan anda." kata petugas pramugari yang sedang melewati mereka bertujuh, sambil memberikan informasi kepada penumpang pesawat yang akan landing.
"Tunggu kakak ya, Lee Jisoo." gumam kakak lelaki yang memiliki surai ungu kecokelatan duduk dipojok dekat jendela.
...----------------...
To be continued.
Bagaimana dengan cerita chapter ini? apakah kamu menyukainya?
__ADS_1
Maaf ya kalau kurang dapat feel-nya.
Kedepannya, aku akan berusaha lebih keras lagi hehehe nantikan terus ya!.