Althar In Neo Game

Althar In Neo Game
chapter 04: New Teacher, New Game (One)


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


Kamis, 16 September 2010.


"Di sini kan tempatnya?."


Ketujuh remaja itu baru saja turun dari bus berwarna kuning berlogo Althar. Mereka mengamati setiap bangunan TK dari luar gerbang hitam yang tinggi setiap detailnya sampai ruang-ruang kelas. Bangunan ini seperti sudah lama. Tetapi, yang sudah dijelaskan oleh orang itu bangunan ini masih baru.


Tak masalah bangunan tua atau masih baru. Yang jelas sekarang bagi mereka bangunan ini terlihat sangat menarik. Karena terdapat beberapa alat permainan yang belum pernah mereka coba sejak kecil. Sesaat, senyum dari bibir masing-masing ketujuh lelaki itu merekah. Seperti tak sabar memainkannya.


"Wohoo, kelihatannya menarik banget?." ucap remaja lelaki bersurai kebiruan yang berada di tengah-tengah.


Namanya adalah Lee Jeno. Matanya seperti berbinar-binar ketika melihat bangunan sekolah TK yang sangat banyak alat permainan di lapangannya. Ia membayangkan bagaimana rasanya bermain di perosotan tinggi berwarna biru itu.


Selama ini, ia hanya belajar saja dan tidak pernah tahu apa itu kehidupan di dunia luar. Rasanya sangat bebas. Seperti baru keluar dari tempat kurungan. Setelah itu, dia mengintip lewat sela-sela gerbang. Ia ingin sekali langsung masuk.


"Gila sih ... sekolah ini banyak banget alat permainannya, cobain yang mana dulu ya ..." gumam kakak lelaki yang memiliki surai kecokelatan di samping kanan kedua.


Mark Lee namanya. Ia adalah kakak tertua. Mereka bukan saudara kandung, melainkan hanya kenalan saja. Karena umur mereka yang berbeda, maka dipanggil dengan sebutan yang sesuai umurnya.


Namun, jiwa mark lee ini masih agak sedikit kekanakan. Umurnya saja baru 20 tahun. Dia bahkan belum diperbolehkan minum alkohol. Selama ini, ia hanya menuruti kata seseorang. Bahkan, tidak pernah mencoba hal-hal yang tidak berguna.


"Hyung, pengen main itu!." kata remaja lelaki yang paling muda di ujung kanan. Ia menunjuk ke arah perosotan berwarna merah muda.


Park Jisung, si paling muda. Saat ini, masih berumur 16 tahun. Jiwanya yang masih muda remaja dan memiliki sifat kekanak-kanakan, meronta-ronta untuk mencoba alat permainan di TK ini. Sama seperti yang lainnya, ia tak pernah mencoba hal kekanakan begini saat masih kecil.


"Ayo! masuk gaes." ajak salah satu dari mereka.


Satu persatu dari mereka menaruh tas di berbagai tempat. Setelah itu, mereka mencoba berbagai macam alat permainan yang ada di TK. Mulai dari perosotan, ayunan, jungkitan, terowongan, hingga besi panjat pun ada. Saking keasyikan bermain, para remaja lelakiitu tidak sadar telah diawasi oleh beberapa murid yang berada di dalam kelas mereka melalui jendela.


Jika mereka tahu bahwa sedang diawasi, mereka akan berlari dan berteriak ketakutan seperti melihat hantu. Bahkan, mungkin ada yang berlari karena saking malunya.


"Asyik banget hahaha." kata remaja lelaki yang memiliki surai berwarna blonde.


Huang Renjun namanya. Selama ini, tidak ada yang tahu isi perasaan atau pikirannya. Ia hanya menutupi emosi di dalam dirinya. Menurutnya, manusia diperuntukkan untuk menjadi sebuah robot. Yang hanya belajar lalu bekerja.


Padahal, ia belajar tentang emosi seseorang saat di dalam sana. Sedangkan, ia sendiripun tidak melakukannya. Bagaimana bisa, manusia tidak ada emosinya. Lihatlah dirinya sekarang, sudah runtuh tembok pertahanannya.


"Eh Hyung, tolong dorong ayunan gua dong." panggil remaja lelaki yang memiliki surai berwarna kuning kecokelatan.


Remaja ini malah berkebalikan dari renjun. Emosi di dalam dirinya sangat jelas. Mudah berubah-ubah juga moodnya. Namanya adalah Zhong Chenle. Ia berasal dari keluarga kaya raya. Meskipun begitu, chenle adalah anak yang suka menabung. Tetapi, ketika bersama teman-temannya ia adalah orang yang paling royal.


Selain itu, chenle suka sekali mencurahkan isi perasaannya. Sehingga mudah sekali ditebak.


"Tau nih Jaem, dorong cepetan." imbuh remaja lelaki bersurai ungu kecokelatan.


Remaja lelaki yang memiliki warna rambut ungu kecokelatan ini, bernama Lee Haechan. Ia adalah anak yang humble dan bisa diandalkan. Si mood booster satu ini, tidak jaga image sama sekali. Ia akan melakukan apa adanya atau yang sebisanya.


"Gua juga mau ikutan kali ah ... kak Mark! tolong dong hehehe." tolak remaja lelaki yang memiliki surai berwarna merah muda.


Kalau ditanya, mengapa mereka memiliki warna rambut yang berbeda-beda? karena mereka memiliki ciri khasnya tersendiri.


Si rambut pink atau merah muda, memiliki nama Na Jaemin. Sesuai dengan warna rambutnya, ia adalah anak yang selalu bersinar dan manis. Bahkan, jika ia marah sekali pun. Wajahnya akan tetap tampan dan bersinar. Selain itu, jaemin, jeno, haechan, dan renjun adalah seumuran. Maka dari itu, mereka cepat sekali akrab ketika awal pertama kali bertemu.


Tiba-tiba sadar akan sesuatu yang sempat mereka lupakan. Kakak lelaki yang mempunyai nama mark lee itu memberhentikan aktivitas teman-temannya. Di bawah pohon mangga yang rindang, tersedia tempat duduk untuk bersantai. Kemudian, mark duduk di sana diikuti oleh dua orang temannya yang lebih muda dua tahun darinya.


Keempat temannya ada yang duduk di ayunan, perosotan, hingga ada yang duduk di ban warna-warni. Mereka kelelahan sehabis bermain seperti anak kecil yang baru melihat mainan baru. Sangat menyenangkan, mereka tidak pernah bermain seperti ini.


Mark berujar ke teman-temannya mengenai perasaan merinding dari tubuhnya. Setelah menyadari bahwa, sekolah ini lumayan menakutkan.


"Gaes ... kalian ngerasa ga sih? sekolah ini lumayan seram."


"Lho? iya yah. Gua baru sadar masa." balas jaemin. Ia pun menatap ke sekitar.


"Ya kan Jaemin. Kirain perasaan gua doang."


Mereka melirik ke sekitar area sekolah TK. Mulai dari depan, gerbangnya yang berwarna hitam tinggi. Setelah itu, atap-atap mereka yang terlihat sedikit usang. Ditambah genting kantor kepala sekolah yang pecah akibat terkena petir. Lalu, warna cat abu-abu gelap di dinding-dindingnya yang sudah mulai memudar. Terlebih lagi, ada pohon mangga dan jambu yang rindang menutupi sekolah ini.


"Ini ruangan apa dah?." tanya jisung, sambil menunjuk ruangan yang paling depan hampir dekat dengan gerbang. Tepatnya berada di belakang ayunan mereka duduk.


"Gudang kayaknya." jawab jeno yang disampingnya sambil menerka-nerka.


"Ini kita beneran kan di sini?." tanya jisung lagi.


"Iya, Jisung." balas kak mark.


"Kok sepi ya? apa ini hari libur?." tanya chenle dengan heran.


"Ini hari kamis sih, masih hari kerja kok bukan weekend." jawab haechan sambil meneguk air minum di botolnya.


"Chan, bagi dong." pinta jaemin.


"Bekas mulut gua, lu mau?." kata haechan sambil meledek. Jaemin memutar bola matanya malas. "Ya kan ga nyampe kena bibir botol itu kali."


Terdengar suara bising bising dari luar akibat ulah mereka, kak yuta si kepala sekolah Althar ini pun keluar dari kantornya. Setelah itu, ia menghampiri ketujuh remaja yang sedang berbincang sambil tertawa-tawa. Melihat hal itu, kak yuta menjadi kangen dengan sahabatnya.


"Loh? Kalian sudah sampai?." sapa lelaki itu.


Mereka tersentak dan kaget. Setelah itu, membungkukkan badan dan memberi salam ke kak yuta. lelakiitu menyuruh mereka untuk masuk ke dalam kantor. Kemudian, ia memperlihatkan bagian-bagian isi kantor guru. Seperti meja kantor milik mereka, ruang rapat, dapur dan perlengkapannya, hingga wc.


Haechan tampak kagum melihat isi kantor. Dia pikir, kantor ini dari luarnya terlihat sempit. Ternyata sangat luas dan memperlihatkan nilai estetika. Buktinya saja, meja antar guru terpisah dan tidak berdempetan. Lebih memukau lagi, pemisah antar meja ke meja itu adalah kaca.


Begitupun dengan jeno dan jaemin. Mereka pergi ke arah dapur kantor yang terlihat seperti dapur rumahan dengan fasilitas lengkap. Mulai dari mesin pembuat kopi, microwave, rice cooker, serta kompor listrik.


"Woah ... bisa-bisa gua yang tinggal di sini deh." ungkap lelaki berambut pink itu.


"Ini sih bikin betah namanya." ujar jeno ke jaemin, sambil mencoba membuat kopi menggunakan mesin tersebut.


"Kak, kapan kita akan mulai kerja?." tanya chenle, yang sedang duduk di sofa bersama kak yuta.


Kak yuta menunjukkan jam di dinding yang sudah pukul 7. Lalu dia mengatakan, "Sekaranglah. Sudah waktunya kalian memperkenalkan diri ke murid-murid."


Mereka yang sedang fokus dengan melihat-lihat isi kantor, terhenti sejenak. Lalu, mereka segera merapikan pakaian, postur tubuh, serta mengetes suara yang terkesan ramah. Dimulai dari jaemin, dia sudah sangat siap. Persiapan yang sudah ia tata rapi, kini akan di praktikan secara langsung.


Setelah itu, renjun pun ikut keluar bersama jaemin. Karena target mereka sama, yaitu kelas B si angkatan pertama. Hingga di depan kelas B2 setelah kantor, jaemin berpisah dengan renjun. Disebelahnya, renjun memasuki kelas B1. Dua kelas B itu, terkenal dengan tingkah laku anak muridnya yang sangat nakal dan diluar nalar.


Kemudian, chenle dan haechan berjalan bersama menyusuri koridor kelas B. Sesampainya, di koridor kelas A yaitu si angkatan kedua, chenle berpisah dengan haechan dan memasuki kelas A1. Terakhir, haechan memasuki kelas yang berada paling depan dekat dengan gerbang.


Di sebrang sana, terdapat UKS yang lumayan sempit. Itu adalah tempat jisung menjaga. Haechan melihat remaja itu terlihat ketakutan akan memasuki UKS. Sebelumnya, jeno beropini bahwa itu adalah gudang. Ketika hendak membuka pintu, haechan melakukan inhale exhale agar tidak gugup.


Ceklekkk


"Selamat pagi, Adik-adik!." sapa haechan, tak lupa dengan senyuman yang ramah.

__ADS_1


"Selamat pagi, Kak." sahut murid-murid A2.


Haechan menatap ruangan kelas. Aura mistis yang sangat melekat membuat bulu kuduknya merinding. Angin dari arah belakang sekolah yang melintasi jendela, tertutup rapat. Sebabnya, banyak pohon rindang di sana yang menutupi jendelanya.


Oleh karena itu, haechan beranjak ke pojokan di sebelah mejanya bobby. Sedari tadi ia heran dengan sikapnya bobby yang terus menunduk saja. Usaha yang telah ia kerahkan untuk membuka jendela, rupanya sia-sia. Walaupun begitu, ia memilih untuk membuka jendela-jendela yang ada di barisan pintu.


"Nah, sudah." gumamnya.


"Sebelum kita memulai pelajaran, izinkan kakak memperkenalkan diri dulu yaa."


Para murid memperhatikan dengan seksama saat haechan di depan. Bukan hanya itu, mereka sudah memperhatikan haechan dari jendela ketika ia sibuk bermain alat permainan.


"Nama kakak, Lee Haechan. Kalian bisa panggil saya, Kak Haechan. Saya sebagai guru baru kelas A2. Salam kenal ya adik-adik yang lucu."


Setelah itu, haechan mengambil buku absensi. Lalu mengabsen satu-persatu agar ia mengetahui nama dan wajahnya. Akhirnya, giliran nama anak yang menjadi targetnya.


"Lee Jisoo?." ucapnya ketika menyebutkan nama anak yang duduk di meja depan.


Lee jisoo mengangkat tangannya saja. Ia terlihat tidak suka dengan guru baru tersebut. Pandangan anak itu terus saja ke arah pintu. Ia mengharapkan kak doyoung kembali yang mengajarnya.


"Ohh ... "


Bunyi retakan hati lelaki itu terdengar menyakitkan. Walaupun demikian, haechan akan berusaha agar mendapatkan hati anak kecil yang ada di depannya. Ia sudah berjanji dan menandatangani kontrak.


"Adik-adik, hari ini belajar membaca ya." kata haechan.


Pelajaran dimulai hingga jam istirahat pun tiba. Haechan belum pergi ke kantor untuk makan siang, melainkan merapikan barang-barang di kelas. Sebenarnya, maksud lain yang tersembunyi adalah untuk memperhatikan anak perempuan yang sedang duduk di depan.


"Bobby!." panggil vania yang berada di depan meja anak yang bernama bobby.


"Iya?."


"Tau ga? Aku semalem bermimpi, ada 5 orang lelaki yang merebutkan ku hihi. Lalu, aku dijadikan ratu mereka, terus kau tahu? aku langsung dilamar oleh seseorang dari kerajaan yang kaya raya."


"bla bla bla bla ..."


Vania terus menceritakan hal-hal yang sulit dicerna olehnya, sehingga ia mengangguk mengerti saja untuk meladeni anak itu. Setiap hari selalu bercerita hal yang ada di mimpi atau khayalannya.


Akhirnya, haechan memberanikan diri untuk mengajak jisoo berbicara. Jisoo tidak berani menatap matanya karena agak takut. Ia menghela nafas karena lelah. lelakiitu pamit keluar kelas sambil tersenyum tipis.


"Susah ... Gimana ya caraku menaklukkan hatimu dan hati teman-teman A2?."


......................


"Hei Andre! Ga boleh main lempar-lemparan bola kertas itu!." titah jaemin.


"Apa sih Kakak rambut pink itu? ngatur banget ya, ga kayak Kak Ten dulu." cibir naufal yang disebelah andre.


Kedua anak itu terus membuat bola-bola dari kertas. Lalu, mereka bermain perang-perangan yang membuat kelas menjadi berantakan. Jaemin sebagai pecinta kebersihan dan memiliki watak yang cerewet tidak bisa mengontrol emosinya.


"Ngomong apa kamu, Naufal?." balas jaemin sinis.


"Gak tuh kak!."


"Jaemin!."


Pintu kelas B2 terbuka dengan paksa oleh wali kelas sebelah. Renjun mendatangi kelas B2 sambil menyeret salah satu anak murid kelas jaemin. Wajahnya memerah seperti habis memarahi seseorang.


Sejenak, melupakan masalah andre dan naufal tadi yang sempat membuat ulah. Sekarang, dion pula yang membuat masalah dengan anak kelas B1. Sampai-sampai renjun bertengkar dengannya.


Untung ada mark yang baru saja melewati kelas B2. Lalu, memisahkan mereka yang malah bertengkar seperti anak kecil. Ia membawa keduanya ke ruang BK.


"Tuh! anak murid kelas dia nih bikin rusuh aja di kelas gua."


Jaemin tidak terima tuduhan terhadap salah satu anak muridnya yang dimarahi.


"Dia kan masih anak kecil. Kenapa lu marahin dia sampai kek gitu?!." sergahnya.


"Justru itu woy. Masih kecil harus diajarin tuh yang benar. Ga sopan banget."


"Emang dia ngapain lu sih?." tanya jaemin penasaran


"Dia tuh udah ga sopan! gua lagi ngajar tiba-tiba masuk menyelinap. Awalnya mengganggu Ebby, abis itu bertengkar sama Naren. Berakhir gua yang kena." kata renjun sambil menyilangkan kedua tangan.


"Kena gimana?." tanya mark masih bingung.


"Dia ngejek fisik gua, anj. Ngatain pendek." sungutnya.


Mark dan jaemin ber-oh ria. Kini mereka mengerti apa puncak permasalahannya. Guru bk tersebut memberikan arahan ke jaemin untuk murid-muridnya.


Jaemin menghela nafas lalu mencoba menasehati dion yang sedang bermain.


"Dion, jangan kayak gitu lagi. Ga sopan namanya mengejek orang yang lebih tua dari kamu." tegur jaemin ke anak itu.


Ia hanya menggeleng dan tetap bermain seolah-olah tidak memedulikan ucapan gurunya. Rahang jaemin mengeras karena merasa kesal dengannya.


Jedug!


"Aw ..." rintihnya. Ada sesuatu yang mengalir di dahinya. Ketika jaemin memegangnya, terdapat darah segar yang mengalir. Kali ini, ia benar-benar marah. Puncak kesabarannya yang setipis tisu itu tidak dapat dibendung lagi.


Andre melempar kayu patahan kursi untuk dilemparkan ke naufal yang lari ke belakang jaemin. Karena salah sasaran, ia tidak sengaja telah melukai gurunya. Kemudian, jaemin mengangkat satu kursi entah milik siapa. Lalu, melemparkannya sampai terbentur di tembok. Yang ia lakukan, tidak mengenai anak itu karena nanti akan melukainya.


"Hei Andre! kalian tuh ngapain sih, hah?! lempar-lemparan gitu? bahaya tau buat orang lain!." omel jaemin.


Sesudah itu, ia menjewer kupingnya andre dan naufal membawanya ke ruang BK. Mark hendak pergi keluar menjadi masuk kembali ke ruangannya. "Nih, liat gua berdarah. Tolong Kak Mark, nasehati mereka." ucap jaemin. Kemudian, ia pergi ke UKS untuk meminta betadine dan perban.


......................


"Jevan, kamu lagi makan apa?." tanya chenle, sambil mengurus barang-barang yang ada di lemari.


Di dalam kelas, hanya ada beberapa murid saja termasuk jevan dan jinwoo. Anak itu menunjukkan kotak bekalnya. Mendapati steak dan kentang goreng. Chenle mengerutkan keningnya, "Jevan ga makan nasi?."


"Ngga, aku lebih suka kentang. Kan sama aja, Kak." kata jevan. Chenle hanya mengangguk.


Sesudah istirahat, chenle melanjutkan aktivitas mengajar matematikanya. Ia menyuruh muridnya untuk maju ke depan. Tetapi, tidak ada yang mau maju karena takut atau bisa jadi karena malu. Ia berinsiatif untuk memberikan cokelat untuk anak yang berani maju.


Setelah chenle mengatakan demikian, para murid akan maju ke depan. Tetapi, mereka menawarnya dengan chenle memberikan 5 batang cokelat. Ia menahan emosi dan hanya tersenyum pasrah mengiyakan tawaran tersebut.


"Kalo begini caranya, bisa-bisa bangkrut gua njir." gumamnya.


"Kak, aku mau maju!."


"Kak Chenle, saya mau maju!."


"Ih apasih kamu toha? aku duluan yang mau maju!."


"Siapa cepat dia dapat."


"Ga bisa gitu dong!."

__ADS_1


"Adik-adik jangan bertengkar ya! nih kakak punya lagi kapurnya." ucap chenle melerai mereka, felicia dan toha.


"Yeyy! makasih Kak Chenle."


"Sama-sama, Felicia." kata chenle sambil tersenyum simpul.


......................


Dikarenakan AC pemilik kost sedang rusak, mau tidak mau mereka memakai kipas yang diberikan oleh si pemilik. Cuaca di Indonesia memang terkenal panas. Sejak seminggu yang lalu, mereka mengekost di daerah yang lumayan murah.


Sebenarnya, chenle dan mark lah beruntung mendapatkan kost yang difasilitasi berbagai macam barang. Kostan mereka cukup dibilang mahal karena berada dikawasan elit. Mereka menentukan kostan dengan cara yang kekanakan. Seperti, bermain kertas gunting batu.


Pihak yang menang permainan itu akan mendapatkan kos yang murah, sementara pihak yang kalah akan mendapatkan yang mahal. Jeno, jaemin, haechan, dan renjun berpihak pada kemenangan. Sebaliknya, mark, chenle, dan jisung pihak yang kalah.


Namun, nasib jisung sepertinya berkata lain. Di kostan yang mahal itu, hanya diperbolehkan dua orang per-kamar. Sedangkan, kostan yang murah juga sama. Bagaimana pun, jisung harus mencari kostan yang lain.


"Aduh capek banget." keluh renjun yang baru datang lalu tiduran di kasur.


"Chan, lu cepet banget pulangnya." ucap renjun. Ia melihat ke arah haechan yang sedang membaca buku di kasur.


"Diem deh. Gua juga capek." kata haechan, yang berada di kasur atas renjun.


Kriettt


"Hoaamm, loh? kalian kok bisa cepet banget pulang?." tanya jeno yang baru saja sampai.


"Gua baru nyampe sih, gatau tuh haechan yang udah lama keknya." ujar renjun.


"Jen, lu ga pulang bareng Jaemin?." tanya renjun balik ke lelakiitu.


"Oh itu, dia lagi beli nasi padang." jawabnya.


"Buat dia sendiri?." tanyanya lagi.


"Gatau deh."


Hening dikamar yang lumayan luas ini. Haechan sedang membaca buku di kasur nya. Renjun sedang mendengarkan audio pembelajaran yang biasa didengar. Sedangkan jeno, belajar di meja sambil meminum kopi.


Kemudian, jaemin datang dari bilik pintu membawa bungkusan nasi padang. Dia meletakkan itu ke masing-masing meja sahabat nya. Lalu, segera keluar kamar dan pergi makan di ruang tengah. Mereka saling melempar pandangan karena perilaku jaemin yang tiba-tiba. Jelas terharu dan tersentuh. Setelah itu, segera berlari ke ruang tengah untuk menyusul sahabatnya.


"Jaemin! lo tuh ya ... huaa baik banget sih!." kata renjun, memeluk lelaki bersurai pink yang sedang menikmati makanan nya.


"Woy bikin pengap anying, gua mau makan."


"Yaelah, btw gua minta maaf atas kejadian tadi." ucap renjun.


"Emang ada apa??." tanya jeno yang penasaran.


"Min, itu lu kok di perban?." sela haechan, baru sadar dahi jaemin yang di perban.


Jaemin sengaja menutupi bekas lukanya menggunakan poni rambut. Tapi dikarenakan mata sahabatnya itu jeli, jadi hanya akan membuat sahabatnya khawatir.


"Lu abis ngapain emang? berantem sama renjun?." kata jeno


"Bukan, gara-gara anak murid gua." jawab jaemin dengan santai.


"Hah? si Dion bukan? dia ngapain lu anjir?." kata renjun yang emosi.


"Bukan dia, Andre sama Naufal. Gua kaget banget sumpah sama kelakuan mereka." balasnya.


"Andre melempar potongan kursi yang udah terbelah ke arah gua." ungkapnya.


"Anjir." ketiga sahabatnya kaget mendengar itu dan berhenti mengunyah.


"Pasti ... dia ga mungkin sengaja melakukan nya kan?." kata haechan.


"Ngga tau, mungkin dia kesal sama gua yang cerewet." tukasnya.


"Gua selalu dibanding-bandingkan sama Kak Ten ... Ten siapa lah itu. Gua udah bilang, kalo seterusnya gua yang akan menjadi guru kelasnya. Tapi ya gitu deh." sambungnya lagi.


"Ya ampun ..."


"Eh Jen, mending tukeran yuk gua mau jadi guru olahraga aja kayak lu." kata jaemin tiba-tiba meminta ganti profesi.


lelakiberambut kebiruan itu menggeleng kan kepalanya heran.


"Mana bisa gitu anjir ... "


......................


Rabu, 06 Mei 2020.


"Gimana? udah berjalan sesuai dengan rencana?."


Ketika pintu lift terbuka, suatu ruangan gelap yang disertai dengan bau pewangi menyeruak ke seluruh ruangan. Karena ada dua orang lelaki bertubuh tinggi yang masuk ke dalamnya yang penuh dengan alat-alat canggih pada tahun itu.


"Udah, tapi sepertinya ada kendala di masalah keuangan." jawab lelaki yang sedang memantau monitor.


"Kirim aja berapa jumlah yang diperlukan." perintahnya.


"Oke."


"Oh, gimana dengan kondisi tubuh mereka? masih aman-aman aja kan? ." tanya lelaki itu kepada teman yang disampingnya.


"Lumayan mengeluarkan banyak ekspresi dan gerakan di tangan. Lu bisa lihat sendiri deh data tabel ini." ucapnya.


Pintu lift itu kembali terbuka. Menampilkan dua orang perempuan cantik lebih muda dari ketiga lelakiitu. Mereka menempelkan beberapa sampel di beberapa kotak yang terjaga keamanan dan sterilisasi nya. Lalu, kedua perempuan cantik tersebut mendekati lelaki yang sedang memainkan game di monitor.


"Ih gua juga mau coba dong." kata perempuan yang tubuhnya lebih pendek dan bersurai hitam.


"Nih, jalanin aja sesuai dengan yang ada di situ ya. Gua mau pergi makan sebentar." ujar lelakibersurai cokelat muda.


"Okay, Kak."


"Sumpah. user ini lambat banget." keluhnya.


"Sama. Ini juga lambat bergeraknya." kata perempuan yang lebih tinggi dan memiliki poni bersurai kecokelatan.


"Buat user lagi aja, yuk." katanya.


"Yuk, Kak."


lelaki bersurai cokelat muda itu kembali. Ia tidak mendapati kedua perempuan tadi. Mereka sudah pergi keluar dan programnya malah ditinggal begitu saja. Setelah itu, ia melanjutkan aktivitas monitoringnya. Rasanya seperti ada sesuatu yang diotak-atik. Sesudah di cek ulang, ternyata benar. Ada yang mengubahnya.


"Dasar bocah ..."


 


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2