Althar In Neo Game

Althar In Neo Game
chapter 07: May I call you my bro?


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


Jumat, 24 September 2010.


Satu minggu sudah terhitung sejak menjadi guru TK. Terlebih dengan tugas nya untuk membuat hati anak targetnya itu lunak. Sepertinya ada kemajuan sedikit demi sedikit, walaupun hanya satu persen setiap harinya.


Di sekolah TK Althar, setiap hari jumat selalu mengadakan acara makan bersama. Maka dari itu, para guru dari jam setengah enam pagi sudah ada di sekolah untuk membantu kak keun si juru masak di kantin. Mulai dari memasakkan sop daging, sop ayam, sup ikan.


Setelahnya, para guru beristirahat karena kelelahan sehabis memasak. Kak keun dengan berbaik hati, memberi mereka sarapan. "Capek ya gaes? maaf ya aku minta tolongnya ke kalian."


Haechan menggeleng sambil mengambil pemberian kak keun. "Ngga kok kak. Pemanasan doang ini mah hahaha."


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Sudah waktunya mereka makan bersama. Para murid diberitahukan untuk makan bersama di depan teras masing-masing. Para guru dengan senang hati membawakan mereka ketiga sup itu. Lalu membagikannya secara random kepada mereka.


"Di makan ya, Adik-adik." kata jisung kepada anak kelas A2. Kebetulan bagiannya yang membagikan makanan ke kelas mereka.


"Iya Kak Jisung!."


"Jisoo ~ kamu makan dengan baik yaa." kata haechan yang memberi jisoo sup ikan.


Di sebrang jisoo berada, ada ketiga anak yang sedang menjulid ke arahnya dan haechan. Terlebih lagi, barred yang saat ini sering menyebutnya bitchu (plesetan). Bukannya mengapa, tetapi jisoo ini seperti diistimewakan. Mereka berpikir jisoo disukai oleh haechan karena sering bersama.


Terlebih lagi jisoo sering diperhatikan saat di kelas. Bahkan, mereka sampai mengira haechan ini ped*f*l yang menyukai anak kecil. Siapa pun yang melihatnya pasti akan berpikiran sama.


"Tuh, si Bitchu di deketin lagi sama Kak Haechan." kata barred sambil berbisik.


"Jisoo, Kakak pergi ke kantin dulu ya. Makan yang banyak yaa." ujar kak haechan lalu pergi.


"Iya, Kak Haechan." ucapnya.


ketiga anak itu meledeknya. "Woy Bitchu. Makan yang banyak yaa ~~" kata lian.


"Jisu ~ makan dengan baik yah hahaha." ucap dava cekikikan.


"Jisoo, lu itu bitchu!." seru barred sambil tertawa meledek.


Anak perempuan itu diam saja dan tidak menghiraukan mereka. Walaupun, di dalam hati terasa sakit sebab lian yang duluan memulai. Jisoo memang sudah fasih berbahasa Indonesia. Setiap yang mereka katakan akan paham dengan cepat. Terlebih lagi ia mengikuti kursus di jam empat sore.


Jisoo benar-benar kecewa dengan sikap mereka. Ia pikir, hubungannya dengan ketiga anak itu telah menjadi teman. Rupanya dia hanya salah paham.


Selain kak haechan, tidak ada lagi yang mau berteman dengannya yang pendiam dan sombong kata orang-orang. Padahal dia menjadi pendiam, karena lingkungannya sendiri yang membuatnya seperti ini.


Awalnya jisoo berpikir demikian seperti mereka. Kak haechan menyukainya. Tetapi, lama-kelamaan ternyata kak haechan bukan menyukainya, melainkan menganggap jisoo seperti adiknya sendiri. Jisoo dapat merasakan itu. Mana mungkin kak haechan akan melakukan tindakan yang tidak wajar.


Ia juga menginginkan seorang kakak laki-laki. Kata orang tuanya, dia adalah anak tunggal. Namun, pada saat itu, jisoo sedang melihat-lihat album lama terdapat foto anak lelaki kecil. Anak itu tersenyum menyipit. Sudut pinggiran area matanya terdapat tahi lalat kecil.


Muka anak yang di foto terlihat mirip seperti dirinya hanya berbeda jenis kelamin saja. Ketika ia menanyakan keberadaan anak itu kepada mamanya, maka dijawab itu bukan anaknya dan malah membentak jisoo. Sejak saat itulah, jisoo tidak berani menanyakan apapun kepada mamanya.


Jisoo juga telah menanyakan kepada kak nurul yang sudah lama mengasuhnya, tetapi ia tidak tahu-menahu urusan keluarganya. Entah kak nurul yang tidak ingin memberitahu, atau memang tidak tahu sungguhan. Tidak ada yang pasti. Akhirnya, hanya bisa menyimpan foto anak itu dikamarnya.


.


.


.


"Dasar menyebalkan." dengus anak lelaki yang berada dari kelas sebelah.


Jinwoo menepuk pundak sahabatnya itu. Terlihat seperti mendengus kesal dari raut mukanya. Matanya menyipit sinis menatap ketiga anak lelaki yang berada di kelas A2.


"Jev, tadi kamu ngomong apa?."


Jevan menggelengkan kepalanya dan lanjut memakan sup ikan yang diberikan oleh kak chenle. Ketika memakan makanan lain yang berbeda dari biasanya, rasanya akan terasa sangat lezat. Ia menikmati makanannya.


Kak chenle memberikan begitu banyak ikan di dalam mangkuk setiap anak. Ia seperti kakak malaikat yang tampan dan baik hati.


"Jev, kamu kok ga bawa barbeque lagi?." celetuk anak yang ada di depannya, vivin.


Anak itu selalu saja mengganggu jevan. Sama seperti teman-temannya yang selalu memalak orang lain. Padahal sudah dinasehati oleh kak mark si guru BK, tetap saja sifat nakalnya belum hilang.


Jevan juga heran kepada kak mark yang selalu saja mengajari mereka agar berhenti memalak teman-teman. Padahal mereka itu sangat keras kepala, tetapi kak mark tidak pernah bosan bahkan mengajak mereka bermain bersama.


"Aku bosan. Emang kenapa, vin?." balasnya.


"Ya gapapa sih." jawab anak itu kemudian mengganggu anak perempuan kelas A2.

__ADS_1


.


.


.


Jaemin mengeluarkan kamera yang selalu dibawanya. Memulai memotret bangunan-bangunan yang ada di TK. Kemudian, memotret anak kelasnya B2. Meskipun mereka membandel, tetapi jaemin tidak bisa marah. Apalagi ke anak yang bernama andre.


Ia yakin suatu saat andre dan teman-temannya akan menjadi anak yang baik dan super cerdas. Sang empu merasakan ada yang memotretnya diam-diam, kemudian mengejutkan jaemin yang sedang fokus.


"Duarr!."


"Kaget." balas jaemin yang masih fokus memegang kameranya.


Andre mengerutkan keningnya heran.


"Masa ekspresi kaget kayak gitu kak!." tukasnya


"Terus gimana dong, ajarin coba Ndre." kata jaemin yang memberhentikan aktivitasnya.


"Gini kak."


Andre mengejutkan anak lelaki yang disebelahnya yang memakai kacamata sama sepertinya. Anak itu sedang mengobrol dengan seorang anak perempuan. Ia tersenyum jahil sambil menaruh sebuah ranting ke dalam bajunya.


"Woy Robi!." kata andre sambil menepuk pundak anak itu.


"Anj kaget! apaan ini di baju gua?!."


"Ahahahhahaha. Astaga ga sampe segitunya kali, Ndre."


Jaemin sangat terhibur dengan usaha yang anak itu lakukan untuk membuat ekspresi kaget. Ia juga memotret hal yang dilakukan andre dan robi yang dijahili nya.


"Sini, Robi. Wkwkw tadi Andre masukin ranting di baju mu." ucapnya membantu robi untuk mengeluarkan ranting di dalam bajunya.


"Makasih Kak Jaemin." kata robi yang diangguki olehnya.


"Gaes! Adik-adik kelas B2! menghadap sini dulu yuk! Kakak foto nih buat kenangan." ujar jaemin ke mereka.


"1 ... 2 ... 3 ..."


Cekrekkk.


Cekrekkk.


Cekrekkk.


Cekrekkk.


"Kak Jaemin foto yaa. Jangan lupa senyum manis."


"Yodi, menghadap sini dong." panggil jaemin kepada anak yang bernama yodi duduk dipojokkan.


Cekrekkk.


Cekrekkk.


"Yah Kak. Padahal aku belum siap lho!." seru yodi. Ia pindah ke depan dekat dengan kamera.


"Sini foto lagi. Gaya gaes gaya!." kata jaemin sambil berpose v.


Cekrekkk


Renjun pun mengikutsertakan dirinya untuk berswafoto. Ia merangkul yodi membuat jaemin tersenyum.


Cekrekkk


"Jun, gantian dong. Tolong fotoin gua sama anak B2." pinta jaemin ke sahabatnya.


Jaemin merangkul andre dan naufal. Dikarenakan tangannya hanya dua, ia meminta para murid untuk mendekat kearahnya. Terutama anak targetnya, yaitu andre, naufal, dion, robi, zuobi, reza dan lufi. Lalu, murid perempuan disuruhnya untuk mendekat.


Cekrekkk


Cekrekk


Cekrek


Senyuman terukir disudut remaja lelaki bersurai pink itu. Jika dahulu, hanya air matanya yang mengalir setiap hari disudut matanya dan sekarang giliran kebahagiaan yang datang menyerbunya melalui anak-anak. Mereka mendatangkan kebahagiaan untuknya.


Bermain, bercanda bersama, mengajar, semuanya terlihat menyenangkan bagi jaemin dan sahabatnya. Di benaknya, menjadi seorang pengajar ternyata tidak buruk juga.


Jika dahulu dia bercita-cita akan menjadi fotografer terkenal. Sekarang, dia bercita-cita menjadi guru sekaligus fotografer untuk anak-anak althar. Lalu, dijadikan album kenangan ketika misinya telah selesai dan berhasil.

__ADS_1


Ia juga tidak menyangka, ternyata bisa tertawa sebebas ini bersama orang-orang baik disekelilingnya. Baik itu bersama sahabat ataupun anak-anak yang tidak berdosa.


Di dalam ruangan kepala sekolah, kak yuta melihat interaksi para guru baru tersebut. Mereka dengan begitu cepat mengambil hati para murid. Meskipun awalnya mendapat laporan dari jeno, bahwa sahabatnya itu terluka saat bekerja.


Kak yuta tadinya merasa khawatir jika mereka tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Ternyata itu hanya bentuk kekhawatirannya saja. Terlebih lagi kepada jaemin, dia harus mengurus kelas yang bisa dibilang kematian. Berisi anak-anak yang nakal dan tidak dapat dikendalikan.


"Jaemin ... sepertinya kamu sudah bekerja keras."


......................


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang lewat. Para murid sudah dipulangkan sejak pukul dua belas. Haechan menghidupkan motor barunya yang kemarin dibeli. Begitupun dengan yang lainnya sudah memiliki kendaraan bermotor agar memudahkan untuk bepergian.


Sepertinya ia akan pulang duluan ke kostan karena hari ini hari yang panjang terasa melelahkan. Kantuk dimatanya terlihat jelas sekali. Setelah sampai di gerbang, haechan membuka helmnya. Ia melihat jisoo yang masih duduk di halte bus althar.


"Kayaknya lagi nunggu jemputan." batin haechan. Lalu ia menghampiri anak murid perempuan itu.


"Jisoo, kamu belum dijemput?."


"Belum, Kak." ucapnya.


Haechan mematikan mesin motornya sejenak, lalu menunggu anak itu dijemput. Ia duduk di sebelahnya. Matahari yang begitu terik di siang hari ini. Membuatnya tak tahan merasakan tubuhnya yang dibasahi oleh keringat.


Kemudian, muncul di idenya untuk mengantar anak ini ke rumahnya saja. Ia meraih ponsel di sakunya. Lalu, menelepon wali muridnya jisoo untuk memastikan terlebih dahulu.


"Halo. Selamat siang, Bu Seulgi. Saya Lee Haechan wali kelasnya Lee Jisoo. Jisoo nya dijemput tidak ya, Bu?."


Jisoo mendongak ke haechan yang sedang menelepon mamanya. Dia bukannya belum dijemput, tetapi memang sengaja tidak bilang kepada kak nurul maupun mamanya. Jika di rumah, dia terus diatur oleh kak nurul.


Mamanya sengaja menyuruh kak nurul untuk mengawasinya lebih ketat. Ia tidak suka berada dirumah. Kalaupun dirumah, dia akan mengunci pintu kamarnya dan duduk di balkon kamar.


Haechan mematikan teleponnya. Ia menatap jisoo dengan tatapan kasihan. Lalu berjongkok di depan anak itu. Mengelus pucuk rambut jisoo dengan lembut. "Mama kamu lagi kerja, Jisoo. Kakak cewek yang biasa mengantar kamu memangnya kemana?."


Jisoo membuang mukanya karena merasa tidak enak. Sepertinya mamanya menceritakan hal-hal buruk tentangnya. Seperti suka berbohong, kalau ia sudah pulang dan mempunyai teman di sekolah. Haechan menyalakan kembali mesin motornya. Lalu memanggil jisoo untuk duduk di jok belakang.


"Sini, Jisoo. Kakak antar kamu ke rumah."


Anak perempuan itu terlihat bimbang. Namun pada akhirnya tetap mengikuti kata haechan. Dia tidak ingin gurunya khawatir dan melihat kondisi rumahnya yang seperti film horor.


.


.


.


Perumahan yang bisa dibilang sangat sepi dan sunyi ketika melintasinya sendirian terlebih sudah siang begini. Orang-orang perumahan biasanya enggan untuk pergi keluar. Perumahan ini terisi oleh rumah-rumah mewah dan besar.


Hingga tiba di suatu rumah yang besar seperti di film-film. Gerbang yang tinggi, halamannya yang luas bisa untuk menaruh empat sampai enam mobil. Jarak gerbang dan pintu rumahnya pun lumayan berjauhan. Halamannya juga ada satu pohon rindang untuk berteduh.


Rumahnya memiliki empat lantai. Memiliki cat berwarna putih elegan.


"Ini ... benar kan rumahnya?." kata haechan begitu sampai di depan gerbang rumahnya.


"Iya, Kak."


Setelah turun dari motornya haechan. Ia terlihat malu untuk mengatakan terima kasih kepada gurunya. Remaja lelaki itu menunggunya untuk mengatakan sesuatu. Meskipun ia sudah mengetahui karakteristik anak perempuan ini.


"Kak Haechan. Ma-makasih." ucapnya terbata-bata.


"Iya, Jisoo. Anggap aja Kak Haechan ini abangmu. Kalau kamu ada masalah atau apapun cerita aja ke kakak ya." ujar haechan mengelus pucuk anak itu.


"Jangan sungkan. Kak Haechan ga keberatan kalau Jisoo mau cerita apa aja. Yang orang lain bilang tentang kakak, abaikan saja. Kakak menyayangi Jisoo sebagai murid dan adik angkat kakak. Semua murid A2 juga kakak perlakukan begini kok." jelasnya lagi.


Haechan mengetahui semuanya. Tentang gosip yang menyebar dan siapa yang menyebarkan. Sampai-sampai kak yuta memanggil ke ruangan kepsek. Pada kenyataannya, ia sedari awal menganggap jisoo adalah adik dan juga targetnya.


Para guru sekaligus sebagai sahabatnya pun mengetahui hal itu. Mereka juga sering difitnah sama seperti haechan apalagi jisung, si anak remaja yang baru mengalami masa pubertas dengan targetnya.


Setelah itu, jisoo masuk ke dalam rumah hingga ke kamarnya yang di lantai dua. Dilihatnya haechan dari jendela, ternyata guru tersebut masih menunggunya sampai benar-benar masuk ke dalam rumah dengan selamat. Ia terus memikirkan kata-kata haechan di luar gerbang tadi.


"Kak Haechan. Boleh kan kalau sekarang, aku panggil sebagai kakaknya Jisoo?."


.


.


.


Sebelum haechan pergi dari sana, anak itu duduk sambil melihatnya dari lantai dua. Hatinya ingin sekali melindungi targetnya ini. Banyak musuh yang berbahaya bisa datang kapan saja menyerangnya. Ditambah lagi targetnya ini termasuk anak yang lemah dan kesepian.


"Jisoo. Kakak tahu kamu punya rumah yang besar, tetapi kamu tidak memiliki fungsi rumah itu yang sebenarnya."


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2