Amanah Terakhir

Amanah Terakhir
Episode 1


__ADS_3

" Panas ... "


" Panas sekali... panas... panas.. "


Kata kata itu terus saja ku elu_kan saat ini.


Aku tidak kuat untuk terus berada dalam kondisi kepanasan ini. Ku buka mataku, tanganku langsung  menyibak selimut yang membungkus badan mungilku, lalu bangun dari tidurku, duduk dengan kondisi yang tidak nyaman sama sekali.


"Pantas saja, ruangan hampa udara" Ocehku , seketika menggerutu, sembari mengedarkan pandanganku, mengamati tempat dimana kini aku berada sekarang.


"Uhhh... masih terasa panas.. " keluhku lagi, masih merasa kepanasan, seolah sedang terbakar dalam api, panas sekali. Walaupun selimut sudah aku singkirkan dari badanku, tapi masih saja embun yang tersimpan dalam tubuhku ini, terus saja keluar melalui pori pori kulitku.


Aku tak tahan,  dan akhirnya ku putuskan turun dari ranjang tempat tidurku, bermaksud mencari benda apa saja yang bisa menimbulkan udara, untuk mengusir peluhku yang tiada henti terus bermunculan, lagi dan lagi, seolah enggan untuk sedikit saja memberiku rasa nyaman.


Kini mataku mulai bergerilya, mencari sebuah benda apapun, yang bisa menimbulkan udara, untuk meniupkan udara ke sekujur tubuhku, mengusir panas yang membungkus ku ini.


" Haahhh??? " Pekikku sangat kaget, mataku melotot sempurna serta mulut pun menganga seketika.


Aku terkejut, ketika kulihat tubuhku terbaring lemas disampingku. Tak percaya, ku menggosok- gosokkan kedua mataku dengan satu tangan, memastikan apakah yang aku lihat sekarang ini adalah nyata.


" Astaugfirullah" maha besar Allah dengan segala kuasanya.


"Ini...ini..ini tubuhku,  ini benar tubuhku" bicaraku jadi gagap,


"dan aku..???  " ku periksa diriku sendiri, ku cubit pipiku, ku cubit hidung ku, dan..


"hahh... aku... aku tak merasakan apapun, apakah aku.. apakah ini mimpi? " diriku penasaran dengan apa yang sedang aku alami. ku lihat lagi, diriku yang terbaring , dan diriku ini.


"Kenapa ...kenapa diriku ada dua??" Aku bingung, tetapi kemudian pikiran ku langsung mengarah ke hal yang paling aku takuti dan di takuti setiap manusia, yaitu kematian dirinya.


" Ya Tuhan.. .." Sebut ku, nada suara ku bergetar, badanku pun bergetar, lemas, dan juga syok, ku tutup mulut ku segera,dengan telapak tangan. Setengah menangis sambil berbicara , hingga bibirku bergetar, setengah percaya, tapi ini yang memang sedang ku alami.


"Benarkah apa yang terjadi padaku saat ini?? " kata kata ku , hingga miris ku ucapkan.


Airmata mulai turun tak berhenti,  hingga mengeluarkan banyak isakan,..


" Aku sudah meninggal..hiks...hiks..??? " bathinku syok. Cukup lama hingga aku sadar sesuatu. Sesuatu yang membuat aku kecewa .


"Kenapa tidak ada yang menungguiku diruangan ini." suaraku terdengar parau saat berkata. Tiba- tiba ku dengar bunyi, perlahan lahan, awalnya terdengar sangat lirih , tetapi lama kelamaan semakin terdengar jelas.


" tit.. tit.. tit... " bunyi alat yang ada di samping tempat tidur ku. Ku amati layar itu, ku lihat gambar garis di layar itu.


"Tunggu,  kalo gambarnya garis garis bergelombang,  itu artinya aku masih hidup. "


Aku melihat dengan berpikir keras, lalu aku dapat mengambil kesimpulan, arti gambar yang ada dalam layar. Aku tau hal itu, karena sering menonton sinetron atau film drama, yang banyak sekali menampilkan adegan di ruangan rumah sakit sama seperti aku dalam ruangan ini.


Perlahan isakan tangisku mulai berhenti, suasana hatiku berganti dengan hal yang membahagiakanku.


Aku tersenyum sambil menatap benda itu.


" Aku masih hidup." tetapi kemudian , aku kembali bingung dan juga penasaran lagi.Otakku terus berpikir keras,


" Kalo aku masih hidup, tetapi kenapa arwahku sudah keluar dari tubuhku?" gumamku dengan kebingungan yang tak kunjung henti.


"Mungkinkah sebentar lagi malaikat maut akan  menjemputku" pikirku, berhasil membuat tubuhku bergidik, siapa yang tidak takut dengan malaikat maut, yang katanya sosoknya misterius dan mengerikan. jujur aku sangat bingung dengan keadaan ini.


Sejenak sengaja ku atur nafasku,  menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya pelan. Sekedar untuk menenangkan diri,  berusaha menerima semuanya dengan lapang dada.


"Bukankah hidup dan mati manusia itu sudah ada batasannya?, aku harus mempersiapkan diri untuk menemui Tuhan, dan mempertanggungjawabkan perbuatanku selama hidup di dunia. "


Ku kukuhkan hatiku untuk pasrah dan sabar, menyakinkan diri, ini adalah Takdir dari Allah.


Aku harus siap dengan takdirku yang berumur pendek,  aku harus siap menerima hukuman- hukuman yang akan aku terima nanti, sesuai amal dan dosaku selama hidup di dunia..


Kutarik nafasku panjang,

__ADS_1


" Bismillah " ucapku , memantapkan diri segenap jiwa.


Kini kudapati diriku dalam suasana yang sudah lebih baik dari sebelumnya,  lalu ku dekati tubuhku, yang terbaring di atas tempat tidur di ruang "ICU" ini, dengan alat yang terpasang di mulut juga pergelangan tangan ku. Ku amati diriku , dari rambutku yang panjang dan hitam,  wajahku yang berkulit putih pucat,  bibirku yang sudah membiru. 


Lagi lagi ku tarik nafas panjang, Memang ,seperti itulah wajah orang yang meninggal. Ku lihat lagi layar itu, masih bergambar garis bergelombang. Tak kuasa, dahiku berkerut lagi, berpikir karena penasaran dan penasaran lagi.


Jujur, aku masih penasaran dengan alat itu. apakah sebenarnya aku ini sudah mati, ataukah masih hidup?.


Seolah sesuatu tiba tiba menghantam diriku, aku terjatuh kembali tertidur, tapi kemudian aku bangun lagi.


Kudapati pikiran yang berbeda lagi, pikiranku saat ini adalah aku seorang muslimah, yang akan selalu menutup aurat ku. Ku lihat diriku yang terbaring lagi.


"Lho,  kenapa aku tidak memakai hijab, ?"   ucapku memprotes penampilan ku yang tidak biasanya.


"Hijabku mana??,  bukankah kemana mana aku terus memakai hijabku,?  bahkan..saat tidur pun terkadang aku lupa melepaskan kain yang menutup atas kepalaku itu,  hanya saat mandi dan mau membersihkan rambutku saja, aku baru ingat untuk melepas hijabku. " Aku mengingat dengan sangat baik kebiasaan ku. Rasanya menyesal ,dengan tindakan ku yang melepas hijabku, aku panik lalu mengedarkan pandangan, mencari kain untuk ku pakaikan diriku yang sedang terbaring, aku seolah merasa malu, jika tidak memakai kain hijab itu di kepalaku.


Kulihat di atas kursi, ada hijab yang tergeletak rapi. kuamati hijab itu, sembari mengingatnya, rasanya aku pernah melihatnya.


" Ini hijab siapa?" 


"hijab motif batik ini ....sepertinya punya ibu? " gumamku ,menebak nebak hijab batik yang terlipat rapi di atas kursi, dan yakin tebakanku benar.


Aku tersenyum seketika, seolah hati ku sangat lega, aku tidak sendiri di ruangan ini, ada yang menemaniku tadi.


" ku yakin, ibu yang menungguiku disini". bathinku senang.


***


Aku kembali naik ke ranjang sakit, aku ingin berbaring nyaman walaupun mungkin yang terakhir kali. Lagi lagi aku tak tahan, hawa panas dalam ruangan masih saja belum lenyap.


" Ya Tuhan,  panas sekali ruangan ini" keluhku lagi, sebab tidak tahan berada di ruangan ini terus menerus.


Tanpa sadar aku turun dan berjalan , mengayunkan kaki keluar dari ruangan. Seketika kurasakan hembusan angin yang menerpa ku, udara pagi ini cukup sejuk..


" haahhh..." aku menghela nafas panjang, merasa lega sambil ku rentang kan kedua tanganku, dan menengadahkan kepalaku, memejamkan mata, merasakan segarnya udara di pagi hari.


Kurasakan hawa panas tubuhku sudah mulai menghilang,  kulangkahkan kakiku,  bermaksud mencari keberadaan ibu.


***


Baru beberapa langkah aku mengayunkan kaki, aku melihat Seorang laki laki setengah baya, yang sedang duduk sambil menangis pilu, di luar sebuah ruangan VIP, ku bergegas mendekati nya,


karena merasa kasihan, lalu ku menanyainya.


" Bapak kenapa? "


Wajah Bapak itu di banjiri dengan air mata, bahkan sesekali terdengar isak tangisnya.


Ku duduk di dekatnya, lalu memegang bahunya, kemudian berganti menepuk belakang punggungnya pelan dengan tanganku. Mencoba membuat Bapak itu tenang. Tetapi pria setengah baya itu masih saja menangis,  seakan kesedihannya abadi, susah untuk di obati.


"Nyebut pak,..  ingat,  segala yang terjadi pada manusia adalah takdir dari Allah. " ucapku, mencoba menyadarkan, karena tidak baik menyesali kematian sendiri, dan berusaha membuatnya tabah menerima keputusan Allah.


"Astaugfirullahhaladzim...pak..nyebut..astaugfirullahaladzim" Aku mencoba membimbingnya.


"Astaugfiruallahadzim" , bersyukur pria tua ini mengikutiku ,melafalkan ucapan Dzikir.


" Kalo boleh saya tau.., coba ceritakan pak, apa yang sudah terjadi pada Bapak? " ucapku , ketika tangisnya mereda.


Aku mencoba membujuk bapak itu , agar mau bercerita tentang masalahnya saat ini. barangkali aku bisa meringankan kesedihannya.


Dengan suara yang terdengar parau, bapak itu mulai bercerita.


"Bapak masih menunggu anak bapak,  Nak. "


" Sebelum Bapak pergi untuk selamanya."

__ADS_1


Aku sedikit terkejut,  ternyata yang kutemui adalah Arwah dari seseorang yang sedang menunggu ajalnya. Bapak itu menatapku lama, kemudian mengambil tanganku,  dan membawaku memasuki sebuah ruangan kelas mewah di rumah sakit ini.


"Itu istri bapak" tunjuk Bapak itu, kepada wanita yang sedang menangis di sebelah tempat tidur , dimana tubuh bapak ini berbaring,  alat alat yang berada disebelahnya sudah mulai di lepas oleh beberapa perawat yang ada di ruangan itu.


Tanpa sadar, ternyata aku menangis,  tidak tega menyaksikan peristiwa itu, membayangkan jika itu adalah Ayahku dan wanita itu adalah ibuku.


Tak lama kemudian, beberapa orang datang berduyung duyung memasuki ruangan ,  lalu mereka seketika menampilkan ekspresi tangisnya dengan suara lirih. Dan seorang laki laki yang duduk di sampingnya ,mencoba membimbing, melafadkan ucapan kalimat tauhid pada sang Bapak yang sedang menjalani sakratul mautnya.


Arwah Bapak itu kemudian berjalan, meninggalkan ruangan dengan wajah sedih, dan aku setia mengikutinya di belakang.


" Anak Bapak belum datang sama sekali,untuk menengok keadaan Bapak dari semenjak Bapak datang ke rumah sakit ini" ucap bapak itu sangat sedih dan kecewa.


" Dia adalah satu satunya pewaris Bapak"


" Bagaimana nanti bapak bisa tenang di alam sana?" Seolah Bapak itu ingin menangis lagi, tapi dirinya mencoba tegar, agar air mata itu tak lagi keluar dengan cara menghela nafas panjang.


Tak berselang lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang berlari , dari arah yang berlawanan dengan kami.  Kamipun serentak menoleh ke depan.


" Itu Lutfi, anak bapak. " Celetuk Bapak itu sambil setengah berteriak, terlihat senang, sambil menujuk pria muda yang sedang berlari kearah kami.   Pandanganku jatuh dan fokus ke pria muda itu yang sedang berlari.


" Itu anak bapak?" tanyaku kemudian,  memastikannya.


" Iya Nak" jawabnya padaku.


" Dia anak Bapak yang bandel, yang susah di atur, dan nakal,  katakanlah anak itu ,tingkah lakunya seperti anak brandalan , tetapi...dia anak satu satunya bapak, kelak, setelah Bapak pergi, Bapak hanya menggantung kan segala nya padanya"


Bapak itu lagi lagi menghela nafas panjang, menahan kesedihannya dan mencoba tegar.


" Bapak ingin apa yang bapak tinggalkan,  agar bisa dikelola dengan baik olehnya nanti. Bapak juga ingin sepeninggal bapak,  anak bapak bisa menyayangi dan melindungi istri bapak. " air mata berhasil lolos membobol pertahanan kedua matanya. sembari menangis, Bapak itu melanjutkan berbicara.


"Bapak tadinya ingin sekali menasehatinya, sebelum seperti sekarang ini, tapi...kematian Bapak..." ada jeda di sini, rasanya berat sekali Bapak itu menyelesaikan ucapannya.


".....sudah lebih dulu mendahului, hiks... hiks.. hiks.."


Akhirnya Pria itu bercerita panjang lebar terhadap ku. Hingga sebuah titipan omongan/Amanah, di berikan padaku.


"Nak,  bapak minta tolong...tolong bantulah Bapak, ubahlah anak bapak sesuai apa yang bapak inginkan,  supaya bapak bisa tenang di alam sana,  bapak mohon.!! " kata katanya terdengar memohon dengan sangat besar.


Aku terkejut atas kata kata bapak itu yang memintaku untuk membantu mewujudkan harapan terakhirnya.


Aku bingung, bagaimana menjawabnya, aku ragu untuk memberikan jawaban,.. hanya diam dengan segala kebingungan.


Setelah itu, pria tua itu tersenyum,  dan pergi meninggalkan diriku sendirian.  Kulihat arwah bapak itu ,di bawa oleh dua orang yang memakai jubah hitam,  lalu terbang ke atas.


Aku tercenung, menatap kepergian nya.


Tiba tiba saja seakan angin kencang menarikku dari tempat itu. Semua terjadi begitu cepat, dan kini, aku sadar dan ku dapati diriku telah berada di ruangan semula..


Mataku begitu saja terbuka,  dapat melihat ibu yang menarik nafas panjang, seakan senang dan lega, lalu tersenyum padaku dengan lembut,  wajahnya terlihat sangat senang, hingga bibirnya mengucapkan kalimat syukur.


" Alhamdulillah "


***


"Ibu" panggilku, Ibu kemudian mendekat dan memelukku. Kurasakan air mata ibu membasahi rambut ku. Kubalas pelukan ibu, mendekapnya dengan erat, tapi ...pikiranku terganggu memikirkan kejadian yang baru saja aku alami.


Semua terasa nyata, Wajah Bapak itu, orang orang yang ada di sana, dan sosok pemuda itu..


" Ahhh... " rasa pusing dan suara denging, menghantam ku sekarang.


" Hila... Nak, kamu kenapa Nak? " ucap ibuku yang terdengar panik dengan keadaan ku.


Aku tidak melepas kedua tangan ku , yang terus memegangi dan menekan kepalaku, mencoba menahan rasa pusing , tapi syukur lah perlahan rasa pusing itu menghilang, dan kini aku merasa sangat mengantuk.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2