
Beberapa hari terakhir ini, sama sekali aku tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Hantu pak Burhanuddin selalu saja hadir di setiap tidurku, entah itu menampakkan dirinya dalam keadaan bersedih, atau kadang hanya memandangku dengan tatapan menuntut.
Aku ketakutan tetapi aku juga masih ragu untuk menjalankan amanahnya itu. Aku merasa kurang mampu, aku kurang percaya diri, ada rasa malas juga yang seolah membumbui agar aku tidak menjalankan amanah yang di berikan beliau kepadaku.
Karena hal itu kelak akan menambah rutinitas ku di kehidupan sehari hari, yang artinya aku harus pandai membagi waktuku sendiri. Kuliahku, mengajar anakk anak di waktu sore, dan juga mengerjakan tugas kuliah di malam hari. Huhfttt.. dengan kata lain, aku sudah dulu menyerah sebelum bertanding.
***
Pagi hari, bahkan masih sangat pagi, aku terbangun karena tidak bisa lagi memejamkan mataku.Peluhku begitu deras, membuat seluruh tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki, basah kuyup seperti tersiram air hujan.
Aku menilik jam di dinding di kamarku, kudapati masih pukul setengah tiga pagi. Aku mencoba memejamkan mataku lagi, tetapi setiap kali aku berhasil, Hantu pak Burhanuddin selalu saja muncul. Aku takut, dan dengan terpaksa aku bangun, malas untuk mencoba tidur kembali. Ku manfaatkan waktu dengan menjalankan sholat sunah, di sambung dengan belajar sampai adzan subuh berkumandang.
Ibu bangun dan berkegiatan di dapur, aku tau itu, tapi aku malas untuk membantunya. Aku hanya rebahan di atas kasur, sembari memainkan permainan game yang sedang aku gemari.
Rasanya waktu begitu lambat untuk menunggu sampai matahari terbit. aku sudah merasa bosan sendiri, kemudian meletakkan handphone begitu saja di atas kasur, menyeret tubuhku bergelut dengan air dingin. Setelahnya aku merapikan diri juga tempat tidur, dan keluar dari kamar.
Bunyi perutku yang tiba tiba, membuatku ingin segera memakan sesuatu. Ku beranjak ke dapur, mendapati ibu masih sibuk memasak sesuatu dan belum matang.
" Bu,.. aku lapar... " ucapku merengek seperti anak kecil, sembari memagangi perutku yang rasanya sudah tidak tahan terus saja berteriak minta di isi.
" Masakannya belum matang sayang,.. tunggu sebentar ya,... kayaknya di toples masih ada makanan kecil, coba kamu lihat, barangkali bisa untuk mengganjal perutmu" ucap ibuku .
Sejak aku keluar dari rumah sakit, aku lebih hati hati memperhatikan perutku, semua itu di awali karena sebelumnya aku sering mengabaikan rasa lapar ku, hingga aku memiliki penyakit asam lambung, lalu kemudian jatuh types. Kali ini aku tidak mau lagi hal itu terjadi, jadi setiap kali aku lapar, aku akan segera memakan sesuatu , baik itu nasi ataupun makanan kecil sebagai solusinya.
" Habis bu" teriakku dari ruang tengah, setelah kulihat toples satu satunya di meja itu kosong.
Aku mengeluh akan keadaan ku , begitu saja terlintas pikiran yang aneh, ingin rasanya aku menjadi seorang robot, yang tidak memiliki rasa haus dan lapar.
" Ya sudah, ibu gorengkan telur ya, buat kamu sarapan" sahut ibu dari dapur. Aku hanya diam, sebetulnya malu, tetapi apa boleh buat. Sembari menunggu aku sengaja menyalakan televisi, menonton acara islami yang selalu tayang di pagi hari.
Tetapi tak lama kemudian ibu menyusulku di ruang tengah.
" Hyla, persediaan telurnya habis di kulkas, kamu bisa kan beliin ibu di minimarket, sekalian belanja makanan kecil untuk persediaan".
__ADS_1
Aku menghela nafas pelan, apa boleh buat,
" Iya bu"
Aku menurut, dan segera keluar menuju ke minimarket terdekat dari jarak rumah kami.
****
Sebuah insiden terjadi di depan mataku, tabrakan kecil motor dengan motor lain dari arah yang berlawanan. untung lah kedua pengendaranya tidak ada yang jatuh, apalagi terluka.
Brakkk..
kedua motor itu saling beradu menimbulkan suara yang mengagetkan jantung bagi siapa saja yang mendengar nya, termasuk juga aku. Sontak aku sangat terkejut dan seketika menjerit.
" Matamu taruh dimana , hahhh? " bentak salah satu pengemudi itu dengan sangat emosi. kedua matanya terlihat melotot sangat tajam dari balik kaca helmnya.
" Sorry bro, gue gak bermaksud demikian, gue ngindarin motor cewek ini! " balas pengemudi yang satunya, berusaha membela diri sendiri.
Aku ternganga,
kedua pengemudi motor itu kini sontak menatap sengit ke arahku.
Pengemudi yang tadi marah marah, memandang begitu tajam ke arahku, seolah matanya itu langsung menancapkan pisau ke dalam diriku. Membuat nyaliku langsung menciut, hingga tak sadar, aku menunduk menghindar dari tatapannya.
" Kalo gak bisa naik motor , jangan sok belagu", ucapnya. membuat diriku tersinggung dan berani menatapnya.
" Sudah bro, dia cewek, maklumin aja" sahut pengendara satunya lagi, membelaku.
Sekilas tampak pengemudi arogan itu seperti tak mau tau, sebelum akhirnya dirinya berbalik dan mulai menaiki motornya dan melaju kembali.
Melihat pengemudi satunya telah pergi, akhirnya pengemudi yang satunya lagipun melaju kembali.
Aku menarik nafas lega, ketika kedua pengemudi sudah tak nampak oleh mata. Kemudian aku berjalan menuju minimarket dan memarkirkan motorku.
__ADS_1
"Pagi yang begitu menegangkan", Gumamku dalam hati, sembari berjalan masuk ke minimarket.
***
Di kampus, aku berusaha menemui dosen dosen mata pelajaran kuliahku setelah kuliahku selesai, aku kuliah di jurusan ekonomi dan juga bahasa. Aku sengaja mendatangi kantor ,karena ingin menanyakan tugas untuk ku, yang tertinggal ketika aku tidak bisa mengikuti kuliah mereka, sebab sedang sakit waktu itu.
Aku merasa lega, karena dosen dosenku sangat baik, memaklumi dan memberitahu tugas apa saja yang belum aku kerjakan.
Setibanya aku di ruangan, karena ingin mengambil tas ku, Rina ternyata masih ada di sana, seperti nya dia sengaja menunggu.
" Hyla" panggilnya, ketika kakiku baru saja masuk ke ruangan.
Rina berdiri, lalu sengaja mengambilkan tasku yang ada di samping tempat duduknya.
" aku ikut pulang ya, habisnya kakak gak bisa jemput hari ini. " ucapnya kemudian.
" Oke" balas ku , kemudian kami berdua melenggang hendak menuju tempat parkiran.
Dalam perjalanan, aku menangkap mata Rina seolah ketakutan, sembari melihat ke arah lain.
" Ada apa Rin? " tanyaku.
" Ehm... gak.. gak apa apa kok, cuma takut aja lihat kakak senior itu" balas Rina, memberi kode dengan dengan wajahnya , menunjuk mahasiswa yang sedang berjalan sendirian.
" Emang kenapa , dia bad boy di kampus ini? " tanyaku penasaran, sembari mengamati cowok yang Rina maksud.
" Bukan cuma bad boy, tetapi ketua gangster di kampus ini, gak ada yang berani sama dia"
Aku mengerutkan dahi, tidak yakin dengan ucapan Rina tentangnya. Dari jauh aku mengamati nya dengan serius, sambil tetap mengayunkan kaki, mencoba menemukan hal yang bisa membuat aku yakin, kalo cowok itu benar seperti apa yang Rina katakan.
Penampilannya cukup rapi, wajahnya dari samping terlihat sedikit tampan, tapi gaya rambut pria itu memang terlihat liar, sedikit ikal, berantakan dan panjang rambut hampir mencapai bahu.
" Siapa namanya? " tanyaku kemudian.
__ADS_1
" Lutfi.. "
( bersambung)