
" Bu, mana Almameterku? " Teriak anak bu Siska ku dengar cukup keras, nadanya seperti anak manja. Aku menggerakkan bola mataku memandang ke atas, sembari memakan roti yang begitu enak ini. Rasanya aku ingin nambah dan nambah lagi. Bu Siska sepertinya sudah sangat mahir dalam hal membuat kue, andai saja aku bisa menikmati kue ini setiap hari... bathinku mengharap.
" Sebentar ya Nak" , ucap Ibu Siska sambil lalu meninggalkanku, mengayunkan kakinya menaiki anak tangga, menuju ruangan di lantai dua itu.
" Ibu baru saja menyetrikanya, tunggulah sebentar, ibu ambilkan! " Suara itu memantul, sehingga juga terdengar olehku dari lantai bawah di mana aku duduk.
Aku jadi penasaran, seperti apa watak anak ibu Siska itu, apakah benar dia itu badboy, lalu kenapa suaranya terdengar merengek manja, saat berbicara dengan ibunya. pikiran itu melintas, dan seketika aku merasa geli , sehingga bibirku ku tarik kesamping, aku terkekeh pelan, membayangkan bagaimana wajahnya.
Aku menyeruput teh hangat nya, ketika roti dalam mulutku sudah habis ku makan. Awal hari yang menyenangkan, perutku kenyang, hatipun menjadi riang, dan semangat tumbuh untuk melakukan aktivitasku seharian nanti. Dan " Uhuk" Aku tersedak, ketika ku sadari ternyata seseorang sedang menatapku tepat di hadapanku. Sejak kapan dia berdiri di depanku?. oh Tuhan, ternyata aku sampai tak sadar dengan waktu, karena berlama lama menikmati rasa kue ini.
Seketika air teh dalam mulutku yang baru saja ku minum, menyiprat keluar, mengenai mulutku dan juga hijab ku, sedikit. Kuletakkan gelas dengan hati hati di atas meja,air teh ini masih cukup panas, aku tidak mau sampai tumpah dan kemudian mengenai tanganku.
Aku balik menatap ke atas, ke wajah pria itu, sekilas aku tertegun, ternyata anak bu Siska cukup tampan, tetapi rambutnya yang sepanjang bahu, teruraii, memberi kesan kalo dia memanglah seorang badboy. dan juga penampilan pria ini ..berantakan, Aku berdecih dalam hati, ketika mengamati penampilannya.Almameter berwarna kuning itu hanya dia sampirkan diatas bahu sebelah kanannya, sungguh penampilan yang urakan. Tetapi ,kenapa rasa rasanya aku tak asing melihat wajahnya ini, atau sebelumnya mungkin aku pernah melihatnya?.
" Buat apa datang kemari, cepat pulang dan jangan pernah kesini lagi! " tiba tiba pria itu berkata kasar dan mengusir ku. Aku terbelalak seketika, kaget dengan sikapnya yang arogan dan kasar.
" Lutfi, apa yang kamu lakukan! " Teriak bu Siska saat menuruni anak tangga, wanita itu nampak marah tetapi juga nampak malu.
" Sopanlah sedikit dengan tamu yang datang! " , lanjut Bu Siska, terang terangan menghardik anaknya di depan Mataku. Mataku tak berhenti mengamati pertengkaran mereka. Anak bu Siska kini menoleh dan membalikkan setengah badannya ke samping, menghadap bu Siska yang kini sudah berada diantara kami, berdiri di samping Anaknya. Wajah bu Siska marah.
" Sudah ku bilang berkali kali kan bu, aku gak akan mau ibu atur atur, apalagi sampai mendatangkan orang untuk merubahku, memang siapa dia, Tuhan" balas anak itu sengit, dan membuat ku tersinggung mendengar ucapannya.
Aku terkejut dengan sikapnya yang blak blajan tidak menghargai perasaan orang lain, sungguh anak yang kurang ajar. Apa dia gak punya hati nurani, bathinku menggeram marah.
" Lutfi!! " teriak bu Siska keras bercampur emosi. Ibu Siska sampai mengepalkan tangannya, dadanya naik turun menahan emosi agar tidak melayangkan pukulannya itu pada anaknya sendiri.
Kejadian di depan mataku, sudah berhasil menyeretku, memacu emosiku , aku ternganga, anak ini sungguh sangat keterlaluan.
__ADS_1
Suasana hening cukup lama, ketegangan terjadi, bu Siska dan anaknya sama sama emosi. Tapi keduanya masih bisa mengontrol emosi masing masing, sehingga tidak terjadi tindakan kekerasan. Aku yang menyaksikan secara langsung, juga merasakan emosi dan merasa seolah kami berada dalam lapisan atmosfer yang berhawa panas.
" Aa'aaahhhh" Nada frustasi di lontarkan dari mulut anak kurang ajar itu, setelah suasana hening berlangsung kira kira sepuluh menit. Bagus, dia memilih mengalah, suasana jadi sedikit lebih mencair. Dengan langkah panjang, Anak itu melangkah keluar.
Bu Siska dan aku sama sama menghela nafas panjang hampir bersamaan, seolah baru saja terbebas dari hal yang membahayakan.
" Duduk nak", lalu Bu Siska menyuruh ku untuk duduk kembali. Tak lama setelah aku duduk, Bu Siska pun duduk kembali. Rasanya aku hampir pingsan dengan kejadian barusan.
" Itu anak ibu nak, namanya lutfi, wataknya keras dan juga kasar. Hhhh... rasanya ibu sudah capek dengannya,...... ibu ingin dia berubah,... menjadi anak laki laki yang sholeh, ...yang kelak bisa mendoakan ibu dan juga almarhum bapaknya. "
Ibu Siska berbicara dengan mata yang berkaca kaca, wanita itu nampak sedih dan tak berdaya. Aku tak tahan melihat beliau saat ini, seketika aku ikut merasakan prihatin, merasakan bagaimana perasaan bu Siska saat ini.
" Sabar ya bu", ucapku kemudian, sembari memegang telapak tangan kanan bu Siska dan menggenggamnya, maksud ku supaya ibu Siska tetap kuat dan tabah.
" Itulah yang selama ini selalu mengganggu pikiran almarhum bapaknya, saat sedang sakit pun beliau tidak pernah berhenti memikirkan anak kami, dia terus menyalahkan dirinya sendiri, kalo dia tidak bisa mendidik anak kami satu satunya.. hiks.. hiks... " lanjut Bu Siska, bicaranya bergetar, juga diiringi tetasan air mata. Hal itu membawaku larut dalam suasana sedih, hingga tak tahan aku menghampiri beliau dimana beliau duduk, lalu mengelus punggungnya sambil menenangkannya. ingin rasanya aku ikut menangis, jika saja mataku tak menyadari keberadaan jam yang menempel di dinding , telah menunjukkan pukul 7 pagi.
Ku ayunkan kakiku agak cepat ketika masuk ke gerbang rumahku , dan ya.. benar saja,ku lihat ibu sudah cemas menunggu ku ,sambil duduk di teras depan.
" Hyla... " teriaknya, tetapi sepertinya ibu tidak marah.
"...kemana saja kamu nak, kenapa lama, apa terjadi sesuatu di jalan? " tanya ibu sedemikian cemas. Aku tersenyum simpul meresponnya, merasa bersalah itu pasti, lalu memeluk beliau dan menjelaskan, kenapa aku cukup lama tiba di rumah.
" Tadi aku mampir ke rumah teman bu, dan di sana aku di suguhi kue yang begitu lezat, jadi aku habiskan dulu kue itu sebelum pulang" ucapku, yang membuat ibuku meneloyor tangannya kepalaku, pelan.
" Astaghfirullah, kamu ini,... sudah bikin ibu khawatir, lainkali jangan seperti itu lagi, ya! "
" Iya bu.. hehehhe... " balasku terkekeh.
__ADS_1
" Ya sudah, lekas mandi, nanti kamu telat masuk kuliah! "
Aku mematuhi perintah ibu dan juga memberikan barang yang di pesan tadi, mandi dan berkemas untuk pergi kuliah.
Waktu berlalu begitu cepat, pukul 9, aku keluar dari rumah hendak pergi ke kampus. Perjalanan yang cukup lama memakan waktu, aku tiba di kampus pukul 11 siang, ya.. jarak rumahku ke kampusku lumayan jauh, dan aku tempuh dengan mengendarai sepeda motor, yang ku beri nama " si bebek".
****
Hari ini langit mendung, ketika aku keluar dari kelas karena telah selesai menimba ilmu selama 3 jam tadi. Aku mengambil botol minum ku, lalu meneguk air untuk membasahi tenggorokan, 3 jam mengikuti pelajaran, dan tidak dibolehkan makan dan minum, membuat ku memiliki rasa haus yang begitu dahaga.
Kemudian ku tutup kembali botol minumnya, lalu ku pegang sambil berjalan menuju tempat parkir. Kejadian di depan mataku, sontak membuatku berhenti mengayunkan langkah, mengamati kejadian itu dengan wajah tegang, "Astaghfirullah," aku memekik , karena kaget, dan segera berlari menghampiri temanku yang sepeda motor nya ambruk, karena di tabrak dari belakang.
" Kamu gak apa apa kan? " tanyaku dengan cemas, mengkhawatirkan kalo kalo temanku mendapatkan luka dari perbuatan anak nakal itu. Temanku menggeleng, tetapi sepertinya dia menahan rasa sakit.
" benar kamu gak apa apa? " lanjut ku lagi, masih ragu kalo temanku ini beneran gak terluka.
" Oh Tuhan, kaki kamu tergores cukup dalam, beneran gak sakit? " lanjutku lagi, setelah mendapati betis temanku sebelah kanan tergores dan berdarah. Temanku kini meringis, mungkin menahan rasa sakit yang mulai menjalar.
" Iya gak apa apa kok, lagian aku gak mau berurusan dengan... ", ah..Percuma, seolah pengakuan temanku itu bagaikan angin lalu di telingaku, aku sudah terbawa emosi hendak menegur anak nakal itu, aku bangkit dan berdiri, lalu mengejar anak nakal itu dengan sedikit berlari, untunglah banyaknya sepeda motor di parkiran ini yang sedang bergerak ingin keluar dari area parkir, membuat jalan sedikit macet.
" Hyla... hyla.... " ku dengar temanku berteriak cukup keras mamanggilku, tapi aku tak perduli kan untuk sementara, karena tujuanku saat ini cuma satu, ingin memberi pelajaran padanya.
" Hey kamu.. berhenti! " teriakku keras, hingga berhasil membuat anak anak kampusku memandang ke arah kami, dan wajah mereka menjadi tegang. Anak laki laki itu masih tak mau berhenti, dengan sekuat tenaga aku melemparkan botol minumanku ke arahnya, dan ya... berhasil mengenai dirinya. Anak itu menoleh dan Aku ternganga seketika, ternyata anak yang akan aku beri bogem mentahku ini adalah Lutfi.
" Mampus" bathinku merutuki diriku sendiri.
( bersambung)
__ADS_1