Amanah Terakhir

Amanah Terakhir
episode 9


__ADS_3

masih pov Lutfi


Aku baru saja mengunci pintu kamarku saat tiba- tiba ibu mengetuk pintu kamar dengan nada yang terburu buru, ku buka pintu, dan wajahnya yang biasanya tenang, terlihat cemas.


" Nak, segera susul pak Tarjo di puskesmas, dia menabrak anak perempuan " ucapnya dengan panik.


Sontak mataku melotot setelah mendengar kata-kata ibu.


Tanpa berkata kata lagi aku berbalik dan segera mengambil jaket juga kontak motorku.


" Jangan emosi ya Nak,.....! " pesannya padaku, tapi aku tidak mendengar sepenuhnya, itu karena langkahku yang tergesa gesa ingin segera sampai ke puskesmas, Aku tak habis pikir,


" bisa bisanya si Tua itu sampai gak lihat orang?"


"apa jangan- jangan dia mengantuk?,semalam kan kalo gak salah jadwalnya Pak Tarjo jaga ronda di kampungnya!"


.


" ck....kenapa berangkat kerja kalo ngantuk, nyusahin...." decakku kesal, sembari melaju menuju puskesmas.


Tak sampai setengah jam, aku sudah memarkirkan sepeda motorku _dan langsung menemui pak Tarjo,_yang berada di depan bilik "pendaftaran dan administrasi" puskesmas . sembari terduduk dan tertunduk lesu, Pak Tua itu nampak tak bersemangat, ya...ini pertama kalinya bagi beliau_ mengalami musibah kerja ini, selama 20 tahun bekerja dengan keluarga kami, memang tak biasanya dia menyetir sampai menabrak orang, karena setahuku dan amat sangat yakin, pak Tarjo orang nya selalu berhati-hati dalam melakukan pekerjaannya.


"Ehm....aku jadi ragu, jangan jangan yang salah bukan pak Tarjo, melainkan korbannya. " terbesit pikir olehku akan hal itu.


" Den Lutfi, " sapanya, sembari gegas berdiri saat aku berjalan maju menghampirinya.


" Apa yang terjadi pak? " tanyaku kemudian, aku ingin tau cerita langsung dari mulut pak Tarjo.


" Bapak gak lihat kalo ada sepeda motor berbelok, semua terjadinya begitu cepat, padahal bapak udah membunyikan klakson sebelumnya, nampaknya pengendara motor itu terburu buru, tiba tiba muncul di depan mobil bapak. " beritahu pak Tarjo menerangkan kejadian ini.


Ku lihat raut ketakutan dan juga kecemasan di wajah tuanya, kulitnya yang keriput itu berkerut agak dalam. Mungkin beliau khawatir, takut kalo sampai terjadi apa apa pada korban nya, misalnya sampai meninggal dunia.


" Tapi dia gak parah kan? " tanyaku tentang keadaan si korban, mau tak mau akhirnya sedikit terpengaruh dan merasakan kekhawatiran juga.


"...ah... aku tak tega melihat nya sampai seperti ini. Tapi.. walau bagaimanapun, dia yang menyertir mobil bukan yang mengendarai sepeda motor." aku hanya membathin , karena aku tidak ingin menyalahkan beliau, yang mungkin saja tidak bersalah sepenuhnya dalam peristiwa kecelakaan ini.


Pak Tarjo hanya diam, seperti linglung, si Tua ini.. ah.. kenapa aku jadi peka terhadapnya... sudah 5 tahun yang lalu dan ini baru pertama aku rasakan rasa kasihan terhadap nya.


Aku ingat, bagaimana dulu Bapak sering memarahi beliau, karena tidak pernah berhasil menjemput ku pulang.


" Tenang pak, akan saya urus, sekarang dimana korbannya? " sambung ku, mencoba membuat pak Tarjo tidak terbebani, sembari ku tepuk pelan punggung Pak tua yang sudah 20 tahun mengabdikan hidupnya di keluarga kami.


" Itu ada di sana Den"jari telunjuknya dan wajahnya mengarah ke kamar pasien ,yang akan sampai hanya dengan mengayun kan kaki sedikit berbelok dari tempat kami berada. segera ku sambangi kamar itu ,dan Pak Tarjo mengikuti langkah ku di belakang, tetapi ternyata begitu sampai... ruangan itu kosong.


" lho.. kok bisa,... tadi anak perempuan itu pingsan, baru setengah jam yang lalu Den,... " teriaknya, terang saja Pak Tarjo terkejut, apalagi aku , melihat kamar pasien kosong melompong, tidak ada pasien satupun di sana.

__ADS_1


Seketika aku inisiatif berlari ke jalan arah pintu masuk, bermaksud mengejarnya, barangkali korban itu bisa ku temui sebelum jauh, setidaknya aku ingin melihat seberapa parah lukanya, dan juga minta maaf atas kejadian ini, karena aku ingin semuanya selesai tanpa meninggalkan bekas. walaubagaimanapun kami wajib bertanggung jawab jika ada apa apanya dengan si korban.


Aku berhasil melihatnya, tetapi terlambat menemuinya, pasien itu baru saja melaju keluar melalui pintu gerbang. sosok perempuan berhijab, melaju lumayan kencang mengendarai motor.


Sontak ...mataku membeliak,


" Dia cewek pak? "ucapku, bertanya spontan, dengan perasaan dongkol dan heran,


"sekuat apa cewek itu, apa dia gak merasa kesakitan? " bathinku bercampur aduk, antara rasa kagum juga emosi.


" Iya.... " susul Pak Tarjo yang telat menyahuti, beliau sepertinya terbengong dengan kenyataan yang dia lihat sekarang.


" Kenapa dia gak langsung mati aja pak, brandal tuh cewek, belagu" caci maki ku karena saking kesalnya.


" HUzz... jangan gitu den, dosa... " Pak Tarjo melerai ku karena kata cacianku yang ku ucapkan.


Kemudian aku menghela nafas, menyadari kesalahan,


" Maaf Pak,... "


" Istighfar Den... "


Aku memandang i pak Tarjo, aku sulit menerima saran pak Tarjo itu untuk mengucapkan yang katanya "Istighfar"


" Sudahlah pak, gak usah di bahas" ucapku, karena aku malas jika melanjutkannya, yang bisa saja ujung ujungnya menyuruh ku untuk bertobatlah, ini lah... itulah... ah... bosan dengan semua itu" bathinku yang kini memperburuk mood ku yang tadinya sudah buruk.


" Belum Bapak bayar Den" jawab pak Tarjo sedikit canggung.


Aku segera mengambil dompetku dari saku belakang celana jeans yang aku pakai, dan mengeluarkan satu kartu ATM . Aku pergi menemui petugas administrasi di balik bilik pelayanan puskesmas ini.


Aku sempat berbicara sedikit dengan petugas itu, menanyakan separah apa lukanya, sehingga korban bisa kabur begitu saja.


" Tidak cukup parah Pak, tetapi kayaknya luka di kakinya cukup serius jika tidak segera di tangani tadi"


" Kok bisa kabur begitu saja ya, kenapa keamanan disini lemah?, apa gak ada satpam?" ku lontarkan kata kata pedas yang mengkritik keamanan puskesmas ini, aku sengaja dan memang aku gak suka.


Dua petugas itu hanya diam, sambil memandangiku, wajah mereka memerah. Bodoamat aku gak peduli, aku gak takut. kebijaksanaan di sini perlu di kritik.


" Kebetulan satpam yang jaga sedang ijin cuti hari ini, kami mohon maaf atas kelalaian kami" balas salah satu petugas dengan wajah tegas.


emang sekuat apa korban itu, dia perempuan kan? " tanya sedikit cerewet, karena rasa penasaran ku.


" Kami benar benar tidak bisa menyangka akan terjadi demikian, maafkan atas keteledoran kami" petugas administrasi itu dengan sopan meminta maaf padaku. ya sudahlah.. aku juga tidak terlalu peduli, yang penting urusannya sudah selesai sekarang. bathin ku merasa lega akan hal ini.


Aku berlalu begitu saja ketika ku Terima kembali kartu ATM ku.

__ADS_1


" Pulang pak, masalah nya sudah selesai! " ucapku menyuruh pak Tarjo untuk pulang ke rumah.


" Bilang sama ibu, tidak usah di pikirkan " lanjut ku kemudian sembari mulai menyetater motorku.


" Baik Den" jawab Pak Tarjo, kemudian orang tua itu masuk ke dalam mobil catering kami.


" Aden gak ikut pulang " teriak pak Tarjo ketika aku melajukan motor dengan berlawanan arah dengan nya.


" Ke kampus " jawabku ringan sambil lalu.


*****


pov Hyla


"Rasanya kepalaku begitu pusing, apa aku sanggup melaju sampai kampus." aku merintih saat baru menempuh separuh perjalanan dari puskesmas ke kampus, merasakan sakit di sekujur tubuhku sekarang_ akibat kecelakaan tadi. Seharusnya , aku tetap berada di puskesmas saja tadi, tapi...aku tidak ingin bolos kuliah, lagian tugas tugas ini susah payah aku kerjakan, aku tidak mau dapat nilai D kalo sampai telat mengumpulkannya. Aku ...masih dengan keras kepalaku....


Aku memaksakan diri untuk tetap kuat dan tegar, ku coba bertahan ,sampai akhirnya aku tiba di kampus dengan selamat. Walaupun sesudah jam kuliah pertamaku usai, aku langsung pamit ke unit pelayanan kesehatan kampus, rasanya aku tak sanggup dengan rasa pusing juga nyeri di pergelangan kakiku, apa aku terkilir?...


" Hyla... kamu kenapa?, " Rizky, temanku dulu sekolah yang juga kuliah dan mengambil mata pelajaran sama dengan ku_ bertanya disaat aku mengambil tas .


Aku tak menjawabi pertanyaannya, karena rasa pusing ini dikepalaku ini begitu sangat menusukku, seakan.... ah.. tiba tiba saja semuanya menjadi gelap.....


***


"jangan kamu tunda amanah itu!"...


seolah suara itu berteriak mengingatkan padaku,...pesan dari guru pembimbingku waktu itu. Disusul kemudian ,suara lain bergema keras sesudahnya, menggantikan suara pembimbing ku yang ku dengar tadi. Suara itu penuh dengan kesedihan juga penyesalan, nadanya merintih memohon padaku... , membuat hatiku terkoyak tak tega mendengarnya.


" Tolong Bapak Nak,...Bapak sedih di sini, tolong selamatkan anak Bapak.... "


Ah.. bukankah ini suara yang sudah sering menggangu ku setiap malam,... kenapa, kenapa suara ini berteriak lagi padaku.. padahal dua hari ini suara itu tidak lagi menggangguku, suara pak Burhan... suami bu Siska yang telah meninggal dunia.


Aku celingukan mencari sumber suara itu, jantung ku berdebar sangat kerasa dan kencang, peluh tiba tiba bermunculan dalam sekejap membasahi sekujur tubuhku, aku takut tetapi aku juga ingin bertemu dengan beliau, aku ingin berterus terang bahwa aku tak akan sanggup untuk menjalankan amanahnya, ya... aku menyerah.. aku mengaku kalah dengan keangkuhan anaknya.


Aku berlari aku mencari sosok beliau, tapi tak ku temukan di manapun..


" Pak... Bapak... , Anda di mana.... maaf kan saya pak,... saya gagal... saya .... saya takut dengan anak bapak.... "


Airmataku kini deras mengalir sampai tersedu, aku merasa sedih dan bersalah, tapi aku tak tau lagi harus dengan cara apa aku membujuk anaknya untuk berhijrah agar kelak mau mendoakan orang tuanya, mau berbakti untuk membuat beliau tenang di alam kuburnya.


Tiba tiba muncul di hadapan ku, orang yang selama ini membuat aku putus asa, dan bersalah, membuat aku lemah seolah-olah hanya berhadapan dengan nya saja aku lemas tak berdaya, seolah mata itu berhasil membunuh ku.


"Hey....!! " suara barithon ini....


Aku tersadar dan langsung berhadapan dengan sosok yang menjadi momok bagiku...

__ADS_1


" Lutfi? "..


( bersambung)


__ADS_2