
" Lutfi" sekilas aku termenung.
Seolah nama itu pernah aku dengar sebelumnya, tapi dimana. Aku melamun, berusaha mengingat beberapa memori yang mungkin terlupakan oleh otakku. Tetapi belum berhasil ku temukan ingatan itu, Rina sudah mengganggu ku.
" La, lo ngelamun? " ucap Rina sembari menepuk bahuku ringan.
" Ah" aku terlonjak, spontan menarik nafas, mengembalikan kesadaran ku.
"Hehehe" kekeh ku santai, sekilas menoleh pada Rina.
" ngelamunin apa sih, entar kesurupan kamu. " goda Rina .
" Bukan apa apa, gak penting kok, yuk kita cabut" balas ku, kemudian mengajak temanku itu untuk segera naik ke motorku.Tak lama kemudian aku mulai melaju, membelah jalanan, mengantar Rina pulang sampai ke rumahnya.
***
Jam di tanganku masih menunjukkan pukul 11 lebih 10 menit siang, ketika aku mulai melajukan sepeda motor ku, meninggalkan rumah Rina.
"Hahhh.."
Aku menguap, sebentar lagi aku akan menghadapi kebosanan ,begitu aku tiba di rumah, bathinku mulai kesal. Waktu yang masih panjang untukku, sembari menunggu kegiatan ku di sore hari.
Sebetulnya, di rumah ada banyak pekerjaan yang bisa aku lakukan, tetapi aku tidak begitu suka dengan pekerjaan itu. Yah.. ibuku seorang penjahit, dan namanya sudah lumayan dikenal di kompleks perumahan yang kami tinggali, jadi setiap hari, pekerjaannya tidak akan ada habisnya.
Ibu sering memintaku untuk membantu memasang kancing baju, membelikan barang yang habis, atau terkadang barang yang belum ada, yang ibu butuhkan, ke toko alat dan perlengkapan Jahit Menjahit ,di pasar. Jadi aku sengaja melaju dengan santai dan sedikit pelan.
Setelah berjalan agak lama, sebuah tulisan dengan ukuran besar , yang terpampang di depan Mall, langsung membuat diriku tak segan membelokkan sepeda motor ku ke Mall pinggir jalan, terbesar di kota ini.
Cuci Gudang Baju Wanita dan Aksesoris, berlaku hari ini.
begitu tulisan yang terpajang di mmt nya.
Segera ku parkir sepeda motorku, dan bergegas gabung dengan para kaum hawa yang sedang berdiri menjejalkan tubuhnya, berebut masuk ke Mall tersebut.
__ADS_1
Bahkan aku terpaksa mendorong orang di depanku, berusaha membuka celah supaya cepat aku bisa masuk ke dalam.
" Dek jangan dorong dorong! " ternyata perbuatan ku di ketahui , dan segera mendapatkan peringatan dari Satpam yang sedang mengawasi.
Aku tersenyum kaku, sedikit merasa bersalah juga, atas kelakuan jahat ku. Yah... memang terkadang suka berbuat jail terhadap orang orang di sekitarku. Walaupun aku seorang perempuan, kelakuan ku badung.
Dulu waktu kecil ,aku suka berkelahi dengan anak laki laki yang tidak ku sukai, bahkan tak jarang membuat anak laki laki menangis. Seolah merasa puas ,jika aku bisa mengalahkan kaum mereka, yah... aku memang tomboy dan sedikit bandel, ibu sering memarahiku dan mengurung ku ke dalam kamar, tetapi Ayah selalu membelaku.
***
Setelah susah payah, akhirnya aku bisa masuk ke dalam mall tersebut, tak heran orang orang rela berebut untuk masuk, karena barang barang yang di obralkan ,masih bagus dan merk terkenal.
" Wah... mall ini apa tidak bangkrut " gumamku dalam hati.
Mataku jelalatan melihat barang barang itu, dan akhirnya menemukan sebuah aksesoris yang sedang aku gemari, sebuah aksesoris lampu belajar dengan bentuk karakter karakter yang lucu. Segera ku raih barang itu dengan susah payah, karena untuk mendapatkannya, aku harus membelah kerumunan yang begitu banyak. Ku bawa barang itu ke kasir, segera ku bayar. Harganya lumayan murah , tidak menguras isi Dompetku.
Aku keluar Mall dengan bersiul, rasanya bahagia sekali ketika sesuatu yang aku inginkan bisa ku dapatkan.
Aku memasukan barang itu ke dalam jok, lalu segera memasang kontak dan memutar arah sepeda motor ku, berniat untuk pulang. Baru saja aku melaju untuk keluar, tiba tiba datang sebuah mobil tanpa permisi, masuk ke halaman Mall tersebut, membuat aku terlonjak kaget, dan segera menekan rem depan dengan gesit ,hingga hampir saja akan membuat ku terjungkal.
Aku memarkir kembali sepeda motor ku, tanpa mengubah posisi, persis di tengah jalan akses masuk Mall tersebut. kemudian aku turun dan akan menyusul nya. Dengan emosi yang meluap aku akan memarahinya.
bip.. bip..
bunyi klakson yang ku dengar membuat langkahku urung menyusul pria pengemudi yang sudah masuk ke dalam Mall. Aku menoleh ke belakang, dan mendapati pak Satpam sedang berusaha memindahkan sepeda motor ku yang menghalangi jalan masuk. Aku merasa bersalah lalu bergegas lari menghampiri mereka.
" Maaf Pak" ucapku dengan sopan dan juga senyum kaku, lagi lagi Pak Satpam membelalakkan mata padaku. Aku segera membawa motorku minggir dari jalan, dan mobil itu bisa masuk dengan leluasa.
" Lain kali jangan parkir sembarangan dek, mengganggu jalan! " ucap Pak Satpam menceramahi ku. kemudian dirinya kembali mengatur mobil yang hendak parkir. Aku hanya memandang kegiatan itu, dan kini merasa malas menyusul pria menyebalkan itu ke dalam.
***
Malam hari tiba, rasanya tubuhku merinding jika waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku berniat begadang, tidak ingin membawa tubuhku berbaring di atas kasur. Aku tau mataku sudah sangat mengantuk, tapi aku juga merasa takut mimpi yang sama seperti beberapa hari terakhir ini.
__ADS_1
" Apa aku tidur sama Ibu aja ya" niat itu terlintas dalam otakku seketika. Aku bangun dan segera pergi ke kamar ibu.
Pintu kamar ibu sudah tertutup, bahkan terkunci dari dalam. Ibu pasti sudah tertidur karena kelelahan dengan aktifitas nya di siang hari. Aku tidak tega membangun ibu, terpaksa aku kembali ke kamar dan selalu berdoa sembari membaringkan badan.
" Aku juga lelah, semoga saja Pak Burhan tidak menemuiku malam ini. "
***
Ku dengar orang berteriak minta tolong, aku tergugah dan terbangun , kudapati sekarang aku berada di sebuah tanah yang lapang.
" Tolong... tolong aku...! " suara itu masih bisa aku dengar, aku menolehkan kepala ,bergantian ke segala arah. lalu mengayukan kaki mencari sumber suara itu berasal. ke depan lalu menoleh ke samping, kanan, kiri dan ke belakang.
" Tolong...! " suara itu terdengar lagi olehku. Aku tak sabar, sengaja aku berteriak menjawab suara permohonan itu.
" Kamu di mana..! " tanya ku dengan berteriak.
Tak lama ku dengar lagi suara reruntuhan, seolah terjadi longsor. Aku berlari was was, tanpa tau asal suara longsor itu. Tiba tiba aku terpeleset, dan masuk ke dalam lubang yang tidak terlalu dalam. Aku berusaha memanjat, dan akhirnya sampai diatas. Aku menghela nafas lega, akhirnya aku selamat. Aku kemudian berdiri dan hendak melangkah. Mataku menangkap sesosok bayangan dari arah yang gelap, bayangan itu mendekat menghampiri ku.
Jantungku berdebar, aku takut dan juga ngeri, sampai bulu remangku berdiri. Bayangan itu menjelma menjadi paK Burhanuddin. aku terlonjak kaget, hingga mulutku ternganga sempurna.
" Tolong anakku Nak! " ucap Pak Burhanuddin, jemarinya menunjuk ke samping. mata bapak itu seolah memberi kode untuk ku mendekat ke lubang yang sejak kapan ada di depanku. Aku mengikuti keinginan bapak itu, melihat ke dalam lubang.
"Astaghfirullah" pekikku kaget.
" Lutfi? " ujarku kemudian.
***
Aku terlonjak dan segera bangun dari tidurku. peluhku membanjiri sekujur tubuhku, nafasku tak beraturan, segera ku raih handphone yang ada di nakas, melihat jam yang tercantum di layar.
" jam 3"
Terpaksa aku bangun, dan segera kuseret langkah ku keluar kamar, menuju dapur untuk mengambil air minum.
__ADS_1
( bersambung)